Dari Novel ke Musikal, Perahu Kertas Hadir dengan Napas Baru

Dari Novel ke Musikal, Perahu Kertas Hadir dengan Napas Baru
Musikal Perahu Kertas © KapanLagi.com/Mathias Purwanto

Kapanlagi.com - Adaptasi musikal Perahu Kertas bukan sekadar memindahkan kisah populer ke atas panggung, melainkan upaya menghadirkan kembali cerita yang relevan dengan kegelisahan anak muda hari ini. Drama musikal ini mengangkat ulang kisah Kugy dan Keenan dengan pendekatan emosional yang lebih intim melalui musik dan gerak.

Bagi para pemerannya, keterlibatan dalam proyek ini menghadirkan kesan tersendiri. Dewara Zaqqi yang memerankan Keenan mengaku sempat memiliki keraguan ketika pertama kali mendengar kabar Perahu Kertas akan dijadikan musikal. Bayangan tentang cerita yang terlalu melankolis sempat muncul di benaknya.

"Jujur ya, awal aku dengar Perahu Kertas mau dibuat musikal, aku bingung," kata Dewara Zaqqi saat berkunjung ke Kantor KLY Youniverse, Jakarta Pusat, Jum'at (19/12).

Keraguan itu perlahan sirna setelah ia membaca naskah yang ditulis Widya Arifianti. Menurutnya, adaptasi ini justru terasa hidup dan memberi ruang eksplorasi karakter yang lebih dalam, terutama sisi rapuh Keenan yang jarang terucap.

Berbeda dengan Zaqqi, Alya Syahrani yang memerankan Kugy justru menyambut proyek ini dengan antusias sejak awal. Ia menilai Perahu Kertas menawarkan genre yang berbeda dibandingkan musikal yang selama ini dikenal publik Indonesia.

"Aku merasa belum pernah ada musikal yang mengambil genre seperti ini," ujar Alya Syahrani.

Baca juga berita lainnya di Liputan6.com!

1. Pendalaman Karakter & Proses di Balik Layar

Konferensi Pers Musikal Perahu Kertas di KLY © KapanLagi.com/Mathias Purwanto

Pendalaman karakter menjadi proses penting bagi kedua pemeran utama. Zaqqi memilih membaca novel berulang kali tanpa menonton versi filmnya, demi menjaga interpretasi tetap murni. Sementara Alya justru harus belajar menjadi lebih ekspresif demi menghidupkan karakter Kugy yang meledak-ledak.

"Aku harus belajar untuk bisa se-ekspresif Kugy," ungkap Alya Syahrani.

Di balik layar, Widya Arifianti mengakui tekanan besar saat mengadaptasi karya idolanya. Namun kepercayaan yang diberikan oleh Dee Lestari membuatnya lebih leluasa menggali ulang makna cerita, termasuk pesan-pesan yang sebelumnya luput terbaca.

"Perahu Kertas itu magical," tutur Widya Arifianti.

(Vidi Aldiano meninggal dunia setelah 6 tahun berjuang lawan kanker.)

2. Ungkap Tantangan Terbesar

Perahu Kertas Dari Novel Jadi Musikal © KapanLagi.com/Mathias Purwanto

Musikal ini akan menampilkan total 22 lagu yang dirancang untuk menerjemahkan konflik batin para tokohnya. Musik menjadi medium utama untuk menyampaikan dialektika antara pasrah pada keadaan dan keberanian menulis ulang jalan hidup.

Bagi Billy Gamaliel selaku produser, tantangan terbesar adalah menjaga stamina dan konsistensi kualitas pertunjukan. Dengan jadwal 21 kali pementasan, latihan intensif dilakukan selama berbulan-bulan tanpa jeda panjang.

"Kami harus menjaga stamina pemain karena ini pertunjukan panjang," ujar Billy Gamaliel.

Lebih dari sekadar hiburan, musikal Perahu Kertas membawa pesan tentang keberanian berdamai dengan diri sendiri. Kisah ini mengajak penonton untuk kembali mengingat mimpi-mimpi yang sempat tertunda, sekaligus merayakan proses pendewasaan yang tak selalu mudah.

Dengan pendekatan segar dan napas baru, Perahu Kertas versi musikal diharapkan mampu menyentuh generasi lama maupun baru, serta menjadi salah satu tonggak penting perkembangan teater musikal di Indonesia.

(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)

Rekomendasi
Trending