Emha Ainun Nadjib-Leo Kristi Sentil Pemimpin yang Permainkan Rakyat
Kapanlagi.com - Konser kolaborasi antara budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan penyanyi balada Leo Kristi yang diiringi ensambel Kyai Kanjeng, Senin malam, menyentil pemimpin negara yang masih bermain-main dalam soal kesejahteraan rakyat.
Konser yang digelar untuk menandai pembukaan Lustrum ke-9 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu dipadati ratusan penonton dari kalangan kampus dan masyarakat sekitar.
Panggung konser diberi tulisan sebaris kalimat 'Kanjeng-Leo Tidak Percaya' dengan latar belakang serba hitam. Pentas diawali dengan lagu anak-anak berirama riang bertajuk 'Gundul-Gundul Pacul'.
"Lagu itu tak sekadar untuk membuat anak-anak menjadi riang, tetapi mengandung pesan politik. Para pemimpin jangan mempunyai karakter gembelengan atau suka bermain-main jika tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan secara substansial," kata Cak Nun selaku pemimpin komunitas Kyai Kanjeng.
Advertisement
Cak Nun pun merunut bait berikutnya dari lagu anak-anak itu. "Kalau Anda sudah menjadi pejabat dan dibayar oleh rakyat berarti posisi anda berada di bawah bakul rakyat. Anda harus menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat di atas martabat anda sendiri," katanya.
"Kalau Anda bermain-main, maka bakul anda akan gelimpang (jatuh berserakan). Kalau nasinya sudah bertebaran ke mana-mana dan tidak terorganisasi, maka akhirnya berbagai masalah di masyarakat akan muncul. Sekarang belum gelimpang, tapi sudah diambil sedikit-sedikit, BUMN dijual," katanya.
Tentang alasan melakukan konser bersama Leo Kristi, suami artis Novia Kolopaking itu mengatakan konser dengan Leo Kristi merupakan bagian dari ihtiar memaknai puisi-puisi yang selama ini diciptakan Leo.
"Sudah lebih dari 30 tahun tidak ada yang memberi makna terhadap puisi-puisi Leo, maka kini saatnya saya mencoba untuk memberi makna," katanya.
Dalam kaitan itu, katanya, dirinya berencana akan mengadakan pertunjukan keliling Indonesia dari satu kampus ke kampus lain di Tanah Air. "Di ITS merupakan pertunjukan kedua setelah konser serupa di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta," katanya.
Dalam konser Senin malam itu, setiap lagu yang dinyanyikan Leo Kristi di atas panggung diuraikan secara lugas oleh Cak Nun, termasyk tiga lagu yang dibawakan Leo Kristi yakni Salam dari Desa, Nyanyian Fajar, dan Sayur Asem Kacang Panjang.
Coba simak syair Salam dari Desa yang antara lain berisi bait Kalau ke kota esok pagi. Sampaikan salam rinduku. Katakan padanya padi-padi telah kembang. Ani-ani seluas padang, roda lori berputar-putar siang malam. Tapi bukan kami punya.
Menurut Cak Nun, lagu itu menggambarkan betapa banyak hal yang seharusnya menjadi milik rakyat, tetapi tidak seperti kenyataannya. Sebagai salah satu contoh, penguasaan sumber daya air yang kini banyak dikuasai pemilik modal asing melalui privatisasi. "Itu dimungkinkan dalam Undang-Undang Sumber Daya Air," katanya.
Tentang lagu Sayur Asem Kacang Panjang, Cak Nun menuturkan bahwa betapa kaya negeri Indonesia dengan berbagai bahan pangan dan makanan, namun ia tidak berdaya menghadapi serbuan makanan cepat saji lewat gerai-gerai restoran global.
"Anda akan merasa belum modern kalau tidak mengonsumsi berbagai hidangan itu," katanya.
Menanggapi celoteh Cak Nun itu, Rektor ITS Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA mengaku, pertunjukan-pertunjukan seni semacam itu dapat menambah modal atau bekal hidup yang kini hanya cukup dengan satu modal saja yakni globalisasi.
"Globalisasi menuntut kita untuk bisa memiliki modal apa saja untuk bisa hidup dan survive. Kesenian merupakan salah satunya," katanya.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
(*/erl)
Advertisement
D Academy 8
- Fashion SelebritiPotret Seru Soimah di Dangdut Academy 8, Selfie Hingga Joget Bareng










































