'KUTUNGGU DI SUDUT SEMANGGI' Mengungkap Fakta Peristiwa Semanggi
Kapanlagi.com - Tak akan terlupa di benak bangsa Indonesia atas peristiwa Tragedi Semanggi November 1998. Sebuah tragedi kemanusiaan yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa ini. Peristiwa berdarah yang menjadi salah satu fragmen Reformasi di Tanah Air. Kini, tragedi yang menelan korban jiwa itu diangkat ke layar lebar dengan judul Kutunggu di Sudut Semanggi.
Film berdurasi sekitar 90 menit ini bercerita tentang fakta sebenarnya yang terjadi di Semanggi dan hal yang nyaris terlupakan. "Coba mengungkapkan sebuah fakta bahwa Reformasi tak begitu saja datang," ujar pemilik ide cerita sekaligus sutradara Lukmantoro D.S. saat berdialog dengan Eva Yunizar di Studio Liputan 6 SCTV, Jakarta, Ahad (2/5) pagi.
Menurut Lukmantoro, film ini hanya ingin mengungkapkan fakta sebenarnya tanpa muatan politis. Sejatinya, film ini hanya ingin memberitahukan pada bangsa Indonesia jika suatu Reformasi butuh pengorbanan yang benar. Sedangkan mengenai fakta, Lukmantoro mengungkapkan, sama halnya dengan yang dimuat di media massa lainnya. Soalnya, ia hanya berusaha membuat satu jalur cerita supaya menarik untuk ditonton. Itulah sebabnya, film tersebut tak begitu berat untuk disimak para penonton. "Cukup komunikatif," ujar Lukmantoro. Yang pasti, film ini membawa pesan bahwa kebebasan yang diraih sebaiknya dipergunakan buat bangsa Indonesia.
Terlepas dari itu semua, Lukmantoro mengakui, jika ide film ini adalah obsesinya mengingat setelah 25 tahun berkarya di bidang layar perak belum pernah membuat film yang sesuai dengan keinginannya.
Advertisement
Itulah sebabnya, ia sendiri yang menyutradarai film perpaduan antara dokumenter historis dan imajinasi tersebut. Kendati begitu, Lukmantoro mengungkapkan, sempat kesulitan menemukan produser yang mau membiayai film ini. Bahkan, harus sampai tiga kali ganti produser. Akhirnya, film tersebut diproduseri seorang pengusaha asal Jakarta Utara. Kondisi ini dianggap wajar mengingat orang hanya mau pada film yang berorientasi bisnis.
Film ini dimulai dengan Deklarasi Ciganjur yang diumumkan empat tokoh saat itu yakni Amien Rais, Megawati Sukarnoputri, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Saat itu, empat tokoh tersebut meminta mahasiswa untuk tak bertindak anarkis dalam menghadapi permasalahan.
Film yang menghabiskan biaya produksi sekitar Rp 1,3 miliar ini nantinya akan diputar pada akhir Mei mendatang dengan pemain utama Tengku Firmansyah, Slamet Rahardjo Djarot, Dede Yusuf, Berliana Febriyanti.
Tragedi Semanggi yang terjadi di depan Kampus Universitas Atmajaya, Jakarta Selatan, 11 November 1998, ini adalah buntut dari peristiwa yang meminta korban empat mahasiswa Universitas Trisakti, 12 Mei 1998. Kematian mereka akhirnya memicu gelombang demonstrasi mahasiswa yang akhirnya menumbangkan Presiden Soeharto.
Selanjutnya keempatnya disebut Pahlawan Reformasi. Sementara Tragedi Semanggi I sendiri mengakibatkan lima mahasiswa tewas tertembak. Sedangkan Insiden Semanggi II, 23 dan 24 September 1999, tercatat enam korban tewas, termasuk seorang aparat keamanan.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
(sct/erl)
Advertisement










































