Rano Karno Ungkap Risiko AI di Produksi Serial Rimba Raya

Rano Karno Ungkap Risiko AI di Produksi Serial Rimba Raya
Rano Karno (credit: KapanLagi.com/Fikri Alfi Rosyadi)

Kapanlagi.com - Rano Karno, Wakil Gubernur DKI Jakarta, blak-blakan membahas pemakaian kecerdasan buatan (AI) dalam proses produksi serial Rimba Raya garapan Karnos Visual Magic. Ia mengaku mulai mempelajari teknologi ini dari titik nol setelah menghadiri sebuah forum di Bali yang memprediksi dalam enam tahun ke depan dunia akan dilanda AI.

"Nah saya belajar. Saya mau tahu AI itu apa sih sebetulnya. Walaupun memang terdengar banyak para kreator, AI ini menjadi satu handicap," ujar Rano Karno saat ditemui di Karang Tengah, Jakarta Selatan, Sabtu (15/8/2026).

"Banyak tenaga-tenaga kerja yang termotong habis dengan AI ini. Tapi AI ini adalah satu teknologi yang tidak bisa kita pungkiri dia akan merajalela," sambungnya.

1. Belajar AI Usai Forum di Bali

Rano Karno menceritakan keterlibatannya bermula ketika ia diundang berbicara di sebuah forum di Bali. Dari sana, ia mendapat gambaran mengenai percepatan adopsi AI yang diperkirakan akan melanda berbagai sektor dalam enam tahun mendatang.

Sepulang dari forum tersebut, Rano memilih terjun langsung. Ia memutuskan mempelajari cara kerja AI untuk memahami dampaknya terhadap proses kreatif, mulai dari alur produksi hingga pengaruhnya pada jenis pekerjaan di industri konten.

Pernyataan itu ia sampaikan di Karang Tengah, Jakarta Selatan, pada Sabtu (15/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Rano menegaskan proses belajar yang ia lakukan bertujuan agar keputusan kreatif di proyek Rimba Raya tetap berangkat dari kebutuhan cerita dan konteks lokal.

2. AI Keliru Menyajikan Hutan Indonesia

Rano Karno (credit: KapanLagi.com/Fikri Alfi Rosyadi)

Di lapangan, tantangan besar muncul saat tim mulai memanfaatkan AI untuk kebutuhan visual. Alih-alih memunculkan lanskap yang sesuai, sistem justru menghasilkan hutan Amazon ketika tim membutuhkan referensi hutan Indonesia.

Rano menilai ketidaksesuaian itu terjadi karena representasi hutan Indonesia tidak tersedia di basis data yang dirujuk model AI global. Kondisi ini membuat kebutuhan produksi tersendat, terutama ketika visual yang dibutuhkan harus akurat secara konteks geografis.

"Ini hutan bukan hutan Indonesia. Ini hutan Amazon. Saya mau hutan Indonesia. Ternyata dari AI yang ada di dunia, itu tidak ada hutan Indonesia. Yang ada hutan-hutan Afrika, Amazon. Bagaimana caranya supaya ada? Kita harus buat," kata Rano.

3. Membangun AI Engine Karnos Visual Magic

Masalah serupa terjadi saat tim mencari elemen budaya Indonesia. Item seperti batik, blangkon, dan konde tidak muncul sesuai kebutuhan karena tidak tersedia di database AI yang mereka akses.

Menjawab kekosongan tersebut, tim kemudian mengembangkan sistem sendiri yang mereka sebut AI Engine. Inisiatif ini diarahkan untuk melahirkan aset visual yang merepresentasikan Indonesia dan Asia, sehingga kebutuhan produksi dapat terpenuhi tanpa melewati bias dataset global.

"Nah jadi kita sekarang mempunyai apa namanya? AI Engine. Jadi Karnos Visual Magic punya AI Engine. Untuk apa? Kita lahirkan teknik atau gambar-gambar Asia. Karena kalau kita cari batik di AI yang ada, itu nggak ada," jelas Rano.

4. Biaya Prompt Jadi Pertaruhan

Selain akurasi visual, biaya juga menjadi tantangan. Menurut Rano, kesalahan saat memasukkan perintah atau prompt berdampak langsung pada biaya penggunaan layanan AI yang tidak bisa dikembalikan.

"Nah jadi artinya ini menjadi 'Oh', saya bilang ternyata ini AI ini kalau kita salah nge-prompt-nya udah nggak bisa dibuang lagi. Begitu kita nge-prompt jadi, pulsa udah kesedot," ungkap Rano.

Rimba Raya dikerjakan Karnos Visual Magic bersama Vidio dan Artha Graha Peduli. Serial ini dijadwalkan tayang eksklusif di Vidio mulai Senin, 17 Agustus 2026, dengan total 10 episode yang akan dirilis satu per bulan.

(kpl/far/pit)

Rekomendasi

Trending