CLOSE

Ratna Sarumpaet Membenci Dikotomi Laki Dan Perempuan

Kapanlagi.com - Penulis naskah drama Ratna Sarumpaet paling benci jika ada dikotomi antara laki-laki dan perempuan. "Saya paling tidak suka jika ada dikotomi laki-laki dan wanita dalam bidang apa saja, apalagi soal pementasan teater," kata Ratna di Nusa Dua, Bali, Minggu malam.

Di sela penutupan Konferensi Internasional Perempuan Penulis Naskah Drama (WPI), Ratna yang sudah kenyang dengan berbagai intimidasi dari pemerintah bahkan hingga masuk bui terkait pementasan dramanya, mengatakan, sudah bukan saatnya lagi ada dikotomi laki-laki dan wanita.

Dengan lantang ia mengatakan, apa jadinya dunia ini tanpa ada wanita. Wanita yang melahirkan anak, wanita pula yang lebih berperan dalam mendidik anak.

"Karena wanita lah dunia ini bisa muncul generasi-generasi maju. Karena wanita lah yang melahirkan mereka," katanya.

Ketika membicarakan soal perkembangan teater drama di Indonesia, Ratna mengaku saat ini perkembangannya lebih demokratis bahkan dibanding di negara maju sekalipun.

"Di Indonesia untuk pementasan teater drama, saya melihat lebih demokratis dibanding di negara lain, seperti di Australia misalnya," katanya.

Ketika dirinya mementaskan teater drama Pelacur dan Sang Presiden misalnya, pihak pemerintah sama sekali tidak melancarkan protes atau menyensor naskah yang dimainkan.

"Padahal melalui drama itu saya mengkritik pedas soal pelacuran yang saat ini berkembang di Tanah Air," katanya

Sementara di Australia, katanya, "Saya tahu masih ada batas-batasan penyensoran untuk drama yang akan ditampilkan dan bahkan tidak bisa ditampilkan," katanya.

Artinya, kata Ratna Sarumpaet, drama di Indonesia sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat dan demokratis. Tapi tentunya jangan sampai pementasan drama kebablasan sehingga tidak terkontrol.

(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)

(*/dar)

Rekomendasi

Trending