Kapanlagi.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah gengsi yang digunakan dalam berbagai konteks. Apa arti gengsi sebenarnya dan mengapa hal ini menjadi topik yang penting untuk dipahami?
Gengsi merupakan salah satu aspek psikologis yang berkaitan erat dengan harga diri dan martabat seseorang. Pemahaman yang tepat tentang apa arti gengsi dapat membantu kita mengelola perilaku dan hubungan sosial dengan lebih baik.
Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gengsi adalah kehormatan dan pengaruh, harga diri, serta martabat. Dalam konteks psikologi, gengsi dapat menjadi motivator positif namun juga berpotensi merugikan jika berlebihan.
Untuk memahami apa arti gengsi secara mendalam, kita perlu melihat definisi dari berbagai perspektif. Menurut KBBI, gengsi memiliki beberapa makna yaitu sanak keluarga atau hubungan keturunan, kehormatan dan pengaruh, harga diri, serta martabat.
Dalam konteks psikologi sosial, gengsi dapat didefinisikan sebagai persepsi seseorang tentang bagaimana ia ingin dipandang oleh orang lain. Hal ini berkaitan erat dengan konsep harga diri dan kebutuhan akan pengakuan sosial.
Mengutip dari jurnal Pengaruh Gaya Hidup, Prestise dan Kelompok Referensi Terhadap Keputusan Pembelian, Kuenzel dan Halliday menjelaskan bahwa gengsi adalah persepsi orang lain, pendapat yang dihargai, dihormati, dikagumi atau terkenal. Sementara Atmodjo mendefinisikan gengsi sebagai keadaan di mana seseorang merasa mempunyai kebanggaan tersendiri pada saat mengkonsumsi barang dan jasa tertentu.
Kata gengsi sendiri berasal dari bahasa Hokkien yaitu "Kuan-si" yang memiliki makna relasi atau hubungan. Istilah ini kemudian masuk ke Indonesia melalui bahasa Melayu dan berkembang maknanya menjadi lebih luas seperti yang kita kenal sekarang.
Memahami ciri-ciri perilaku gengsi penting untuk mengenali apakah seseorang memiliki kecenderungan gengsi yang berlebihan. Berikut adalah karakteristik utama dari perilaku gengsi:
Melansir dari Psychology Today, gengsi yang berlebihan sering dibentuk sebagai benteng terluar untuk menutupi kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Pada sebagian orang, hal ini bahkan dapat memicu perilaku berbohong atau menipu demi mempertahankan citra.
Perilaku gengsi yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan mental dan kehidupan sosial seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa gengsi berlebihan dapat memicu perilaku antisosial atau defensif karena individu merasa harus mempertahankan citra baiknya.
Dampak psikologis yang dapat timbul antara lain stres kronis akibat tekanan untuk tampil sempurna, depresi ketika ekspektasi tidak tercapai, dan konsumsi impulsif yang berujung pada masalah finansial. Selain itu, gengsi berlebihan juga dapat menyebabkan perfeksionisme yang tidak sehat, hubungan interpersonal yang rapuh, dan burnout akibat upaya berlebihan mempertahankan status sosial.
Dalam konteks keperawatan jiwa, menurut buku Keperawatan Jiwa oleh H. Tukatman dkk, harga diri rendah dapat terjadi ketika seseorang terlalu bergantung pada pengakuan eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa gengsi berlebihan justru dapat berkaitan dengan masalah harga diri yang mendasar.
Dampak lainnya termasuk kurangnya otonomi dalam pengambilan keputusan, risiko pola narsistik, perilaku defensif yang berlebihan, dan gangguan dalam pengambilan keputusan moral. Semua ini dapat mengganggu kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis seseorang.
Untuk memahami apa arti gengsi secara komprehensif, penting juga mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya gengsi berlebihan. Faktor-faktor ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori:
Mengutip dari buku Sadar Penuh Hadir Utuh oleh Adjie Silarus, kecenderungan untuk terlalu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang kita, ketimbang bagaimana kita sendiri dapat jujur pada diri sendiri, sering menjadi akar dari masalah gengsi berlebihan.
Dalam memahami apa arti gengsi, penting untuk memahami hubungannya dengan konsep harga diri dan konsep diri secara keseluruhan. Menurut buku Keperawatan Jiwa, konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui oleh individu tentang dirinya dan memengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.
Harga diri merupakan salah satu komponen penting dari konsep diri. Harga diri yang sehat berbeda dengan gengsi berlebihan. Harga diri yang sehat didasarkan pada penerimaan diri yang realistis, sementara gengsi berlebihan sering kali didasarkan pada kebutuhan akan validasi eksternal.
Ketika seseorang memiliki harga diri yang rendah, ia mungkin menggunakan gengsi sebagai mekanisme kompensasi. Namun, hal ini justru dapat memperburuk masalah karena menciptakan ketergantungan pada pengakuan orang lain untuk merasa berharga.
Dalam konteks ini, penting untuk membedakan antara gengsi yang sehat sebagai motivator untuk berkembang, dengan gengsi berlebihan yang justru menghambat pertumbuhan personal dan hubungan sosial yang autentik.
Setelah memahami apa arti gengsi dan dampaknya, langkah selanjutnya adalah mengetahui cara mengatasi gengsi berlebihan. Berikut adalah strategi yang dapat diterapkan:
Jika gengsi berlebihan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari dan menyebabkan masalah serius seperti depresi, kecanduan belanja, atau gangguan hubungan, sebaiknya mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.
Gengsi lebih fokus pada bagaimana orang lain memandang kita dan cenderung bergantung pada validasi eksternal, sedangkan harga diri yang sehat didasarkan pada penerimaan diri yang realistis dan tidak bergantung sepenuhnya pada penilaian orang lain.
Tidak selalu. Gengsi dalam porsi yang wajar dapat menjadi motivator positif untuk berkembang dan meningkatkan diri. Namun, gengsi berlebihan dapat merugikan diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.
Gengsi yang sehat mendorong perbaikan diri tanpa merugikan orang lain atau diri sendiri, sementara gengsi berlebihan sering melibatkan kebohongan, pemaksaan diri, dan ketergantungan berlebihan pada pengakuan orang lain.
Tanda-tandanya meliputi sering membandingkan diri dengan orang lain, takut dinilai remeh, cenderung berbohong tentang prestasi atau harta, sulit menerima kritik, dan selalu ingin tampil sempurna di depan orang lain.
Ya, dengan kesadaran diri yang tinggi dan komitmen untuk berubah, gengsi berlebihan dapat diatasi melalui berbagai strategi seperti menerima diri sendiri, berhenti membandingkan dengan orang lain, dan fokus pada pengembangan diri yang autentik.
Bantuan profesional sebaiknya dicari ketika gengsi berlebihan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, menyebabkan masalah finansial, depresi, kecemasan berlebihan, atau merusak hubungan interpersonal.
Lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan gengsi. Keluarga, teman sebaya, media sosial, dan budaya masyarakat dapat mempengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya dan kebutuhan akan pengakuan sosial.