Apa Arti Hama: Pengertian Lengkap Organisme Pengganggu dalam Kehidupan Manusia

Apa Arti Hama: Pengertian Lengkap Organisme Pengganggu dalam Kehidupan Manusia
apa arti hama

Kapanlagi.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah hama yang dikaitkan dengan berbagai organisme yang mengganggu aktivitas manusia. Apa arti hama sebenarnya menjadi pertanyaan penting untuk dipahami, terutama dalam konteks pertanian dan kehidupan rumah tangga.

Hama merupakan organisme yang dianggap merugikan dan tidak diinginkan kehadirannya dalam kegiatan manusia. Pemahaman yang tepat tentang apa arti hama akan membantu kita dalam mengidentifikasi dan menangani berbagai gangguan yang dapat merugikan secara ekonomi maupun kesehatan.

Melansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi hama mencakup berbagai organisme yang dapat menimbulkan kerugian pada tanaman, hewan ternak, bahkan manusia. Konsep ini menjadi dasar dalam memahami pentingnya pengendalian organisme pengganggu dalam berbagai aspek kehidupan.

1. Pengertian dan Definisi Hama Secara Umum

Pengertian dan Definisi Hama Secara Umum (c) Ilustrasi AI

Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun istilah "hama" dapat digunakan untuk semua organisme, tetapi istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan. Organisme yang bersifat invasif juga merupakan hama yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

Dalam konteks yang lebih luas, hama didefinisikan sebagai setiap makhluk hidup—baik tumbuhan, hewan, atau mikroorganisme—yang memiliki efek negatif terhadap manusia. Melansir dari Maine Department of Agriculture, Conservation and Forestry, hama dapat berupa tumbuhan yang tidak diinginkan (gulma), jamur, nematoda, mikroba (seperti bakteri atau virus), serangga, laba-laba, tungau, burung, ikan, hewan pengerat, atau bahkan rusa.

Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Contohnya adalah organisme yang menjadi vektor penyakit bagi manusia, seperti tikus dan lalat yang membawa berbagai wabah, atau nyamuk yang menjadi vektor malaria.

Pelabelan suatu organisme sebagai hama merupakan konsep yang sangat subjektif dan bervariasi tergantung pada sudut pandang setiap individu. Secara umum, hama dianggap tidak diinginkan atau merugikan karena dapat mengurangi ketersediaan, kualitas, atau nilai sumber daya manusia seperti makanan, pakan, air, atau ruang; melukai manusia, hewan, tanaman, struktur bangunan, dan harta benda; menyebarkan atau menyebabkan penyakit; atau mengganggu aktivitas manusia dengan menyebabkan gangguan, ketidaknyamanan, atau ketidakpraktisan.

2. Jenis-Jenis Hama Berdasarkan Klasifikasinya

Jenis-Jenis Hama Berdasarkan Klasifikasinya (c) Ilustrasi AI

Berdasarkan jenisnya, hama dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori utama yang masing-masing memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda terhadap kehidupan manusia.

  1. Hama Serangga (Insekta)
    Kelompok ini mencakup berbagai jenis serangga seperti semut, kecoa, lalat, dan tawon yang menjadi hama dalam kehidupan rumah tangga. Di bidang pertanian, aphids, belalang, jangkrik, dan berbagai larva serangga menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian. Beberapa serangga juga berperan sebagai vektor penyakit, seperti nyamuk yang dapat menularkan malaria dan demam berdarah.
  2. Hama Vertebrata
    Kategori ini meliputi hewan bertulang belakang seperti tikus, tikus tanah, dan rodentia lainnya yang menyerang tanaman pertanian dan hasil pertanian yang disimpan di lumbung. Mamalia lain seperti kera, rubah, opossum, rakun, dan beruang juga dapat mencuri hasil panen manusia. Bahkan hewan peliharaan seperti kucing dan anjing yang berkeliaran dapat menjadi hama karena berpotensi menyebabkan luka dan menjadi vektor penyakit.
  3. Hama Moluska
    Beberapa siput merupakan hama bagi usaha pertanian dan pekarangan. Deroceras reticulatum merupakan siput yang tersebar di seluruh dunia dan berperan sebagai hama. Selain itu, berbagai spesies dari genus Milax, Tandonia, Limax, dan Arion juga merupakan hama yang dapat merusak tanaman.
  4. Hama Nematoda
    Nematoda parasit seperti Meloidogyne menyerang akar berbagai tanaman pertanian, Heterodera glycines menyerang tanaman kedelai, dan Globodera menyerang tanaman kentang. Meskipun berukuran mikroskopis, dampak kerusakannya dapat sangat signifikan terhadap produktivitas tanaman.
  5. Hama Struktural
    Kelompok ini mencakup organisme yang menyebabkan kerusakan pada struktur bangunan, seperti rayap yang merusak kayu, Lepisma saccharina (silverfish), cacing kayu, dan semut kayu. Ada juga hama yang menyebabkan kerusakan non-struktural seperti kutu buku dan berbagai spesies dari famili Tineidae.

Mengutip dari Repository Kementerian Pertanian, hama merupakan organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia, dengan fokus khusus pada organisme pengganggu tanaman yang dapat menimbulkan kerusakan secara fisik pada tanaman dan aktivitasnya dapat menimbulkan kerugian secara ekonomis.

3. Hama dalam Konteks Pertanian dan Tanaman

Hama dalam Konteks Pertanian dan Tanaman (c) Ilustrasi AI

Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian. Konsep Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) mencakup hewan atau tumbuhan baik berukuran mikro ataupun makro yang mengganggu, menghambat, bahkan mematikan tanaman yang dibudidayakan.

Hama pertanian dapat hadir di pertanaman aneka kacang (kedelai, kacang tanah dan kacang hijau), baik pada fase vegetatif maupun fase generatif, bahkan juga dijumpai di gudang penyimpanan hasil pertanian. Keberadaan hama ini apabila dibiarkan akan dapat menimbulkan gagal panen dan kerugian secara ekonomi yang signifikan.

Serangan hama sangat terlihat dan dapat memberikan kerugian yang besar apabila terjadi secara masif. Namun serangan hama umumnya tidak memberikan efek menular, terkecuali apabila hama tersebut sebagai vektor suatu penyakit. Berbeda dengan penyakit tanaman yang umumnya memiliki efek menular yang sangat cepat dan sulit dibendung.

Melansir dari Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, hama terdapat beberapa jenis, diantaranya adalah insekta (serangga), moluska (bekicot, keong), rodenta (tikus), mamalia (babi), nematoda, dan lain-lain. Setiap jenis hama memiliki karakteristik serangan dan tingkat kerusakan yang berbeda-beda terhadap tanaman yang diserangnya.

4. Dampak dan Kerugian yang Ditimbulkan Hama

Dampak dan Kerugian yang Ditimbulkan Hama (c) Ilustrasi AI

Dampak yang ditimbulkan oleh hama sangat beragam dan dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari kerugian ekonomi hingga masalah kesehatan masyarakat.

  1. Kerugian Ekonomi dalam Pertanian
    Hama dapat menyebabkan penurunan produktivitas tanaman secara drastis, bahkan hingga menyebabkan gagal panen. Kerusakan yang ditimbulkan dapat berupa kerusakan fisik pada daun, batang, akar, buah, atau biji tanaman. Kerugian ekonomi tidak hanya terjadi pada saat tanaman masih di lapangan, tetapi juga dapat berlanjut hingga masa penyimpanan hasil panen.
  2. Penyebaran Penyakit
    Beberapa hama berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit yang dapat menginfeksi tanaman, hewan ternak, atau bahkan manusia. Nyamuk sebagai vektor malaria, tikus sebagai pembawa berbagai wabah, dan lalat sebagai penyebar bakteri patogen merupakan contoh nyata bagaimana hama dapat menjadi ancaman kesehatan masyarakat.
  3. Kerusakan Struktural
    Hama seperti rayap dapat menyebabkan kerusakan serius pada struktur bangunan kayu, yang dapat mengancam keamanan dan memerlukan biaya perbaikan yang besar. Cacing kayu dan semut kayu juga dapat merusak furniture dan komponen bangunan lainnya.
  4. Gangguan Kenyamanan Hidup
    Kehadiran hama di lingkungan rumah tangga dapat mengganggu kenyamanan hidup sehari-hari. Kecoa, semut, dan lalat tidak hanya mengganggu secara visual tetapi juga dapat mencemari makanan dan lingkungan hidup.
  5. Dampak Ekologis
    Hama invasif dapat mengganggu keseimbangan ekosistem alami dengan menyingkirkan spesies asli atau mengubah struktur komunitas organisme di suatu habitat. Hal ini dapat berdampak jangka panjang terhadap keanekaragaman hayati dan stabilitas ekosistem.

Mengutip dari Repository Kementerian Pertanian, keberadaan hama apabila dibiarkan akan dapat menimbulkan gagal panen dan kerugian secara ekonomi, namun apabila dilakukan pengendalian dengan cara yang tidak tepat dapat menyebabkan musnahnya musuh alami hama dan juga dapat menyebabkan resistensi hama terhadap pestisida.

5. Perbedaan Hama dengan Organisme Pengganggu Lainnya

Perbedaan Hama dengan Organisme Pengganggu Lainnya (c) Ilustrasi AI

Dalam konteks Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), penting untuk memahami perbedaan antara hama dengan organisme pengganggu lainnya seperti penyakit dan gulma, karena masing-masing memerlukan pendekatan pengendalian yang berbeda.

  1. Hama vs Penyakit Tanaman
    Hama adalah hewan yang merusak secara langsung pada tanaman dengan cara memakan, menghisap, atau merusak bagian tanaman secara fisik. Sementara itu, penyakit tanaman disebabkan oleh vektor penyakit atau organisme patogen seperti virus, bakteri, dan cendawan yang memberikan gejala sakit, menurunkan imunitas, atau mengganggu metabolisme tanaman. Serangan hama umumnya tidak memberikan efek menular, sedangkan penyakit memiliki efek menular yang sangat cepat.
  2. Hama vs Gulma
    Gulma adalah tumbuhan liar yang tidak dikehendaki tumbuhnya dan bersifat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dibudidayakan. Gulma memberikan pengaruh melalui kompetisi dalam penyerapan nutrisi, air, dan cahaya matahari, sedangkan hama menyebabkan kerusakan fisik langsung pada tanaman. Gulma biasanya tidak menimbulkan kematian langsung pada tanaman, berbeda dengan hama yang dapat menyebabkan kematian tanaman dalam waktu relatif singkat.
  3. Karakteristik Serangan
    Serangan hama sangat terlihat dan dapat memberikan kerugian yang besar apabila terjadi secara masif. Gejala serangan hama dapat berupa lubang pada daun, batang yang patah, buah yang rusak, atau bagian tanaman yang hilang. Sementara itu, gejala penyakit tanaman lebih berupa perubahan warna, layu, bercak, atau deformasi pada bagian tanaman.
  4. Metode Pengendalian
    Pengendalian hama dapat dilakukan melalui metode fisik, biologis, atau kimiawi yang langsung menargetkan organisme hama. Pengendalian penyakit lebih fokus pada pencegahan infeksi dan peningkatan daya tahan tanaman, sedangkan pengendalian gulma dilakukan melalui penyiangan, herbisida, atau penutupan tanah.

Melansir dari Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, berdasarkan jenis serangannya OPT dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu hama, vektor penyakit, dan gulma, dimana masing-masing memiliki karakteristik dan metode pengendalian yang spesifik.

6. Strategi Pengendalian dan Manajemen Hama

Pengendalian hama yang efektif memerlukan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, ekologi, dan keamanan lingkungan.

  1. Pengendalian Biologis
    Metode ini menggunakan musuh alami hama seperti predator, parasitoid, atau patogen untuk mengendalikan populasi hama. Setiap hama memiliki musuh alami atau pemangsanya masing-masing, sehingga musuh alami perlu dipertahankan secara alami di lahan atau dengan sengaja melepas musuh alami yang sudah dikembangbiakkan secara khusus. Pendekatan ini ramah lingkungan dan dapat memberikan pengendalian jangka panjang.
  2. Pengendalian Kultur Teknis
    Kultur teknis adalah suatu perlakuan pada teknis budidaya tanaman untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi dampak serangan hama atau penyakit. Kegiatan ini dilakukan mulai dari fase pembibitan tanaman hingga pemanenan, termasuk penggunaan jarak tanam yang lebar, melakukan bera untuk tanaman sejenis atau satu famili, dan rotasi varietas.
  3. Pengendalian Kimiawi Ramah Lingkungan
    Dalam konsep pertanian organik, pengendalian hama menggunakan pestisida nabati (pesnab) yang terbuat dari bahan-bahan organik dan ramah lingkungan. Berdasarkan kegunaannya, pesnab terbagi menjadi 3 jenis: yang bersifat repellant (penolak), attraktant (penarik/perangkap), dan antifeedant (mengurangi nafsu makan hama).
  4. Pengendalian Fisik dan Mekanis
    Metode ini meliputi penggunaan perangkap, penghalang fisik, atau teknologi lain untuk menghentikan penyebaran hama. Contohnya adalah pemasangan jaring pada tanaman, penggunaan perangkap feromon, atau penyiangan manual untuk menghilangkan gulma.
  5. Manajemen Hama Terpadu (MHT)
    Pendekatan ini mengkombinasikan berbagai metode pengendalian secara sinergis untuk mencapai pengendalian hama yang optimal dengan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. MHT menekankan pada pencegahan, monitoring, dan penggunaan berbagai taktik pengendalian secara bersamaan.

Mengutip dari Repository Kementerian Pertanian, dalam pengendalian hama diperlukan pengetahuan dan pemahaman terhadap hama, baik tentang jenis, perilaku dan gejala yang ditimbulkan, agar pengendalian dapat dilakukan secara efektif tanpa menyebabkan resistensi hama terhadap pestisida atau musnahnya musuh alami hama.

7. FAQ (Frequently Asked Questions)

FAQ (Frequently Asked Questions) (c) Ilustrasi AI

1. Apa perbedaan antara hama dan pest?

Hama dan pest pada dasarnya memiliki arti yang sama, yaitu organisme yang merugikan dan tidak diinginkan. Istilah "pest" merupakan kata dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan menjadi "hama" dalam bahasa Indonesia. Keduanya merujuk pada organisme yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi, kesehatan, atau kenyamanan bagi manusia.

2. Apakah semua serangga termasuk hama?

Tidak semua serangga termasuk hama. Lebih dari 97 persen serangga di dalam dan sekitar rumah sebenarnya bermanfaat atau tidak berbahaya. Banyak serangga yang berperan penting dalam ekosistem, seperti lebah yang membantu penyerbukan, atau predator alami yang membantu mengendalikan hama lainnya.

3. Bagaimana cara membedakan hama dengan organisme bermanfaat?

Hama dapat diidentifikasi dari dampak negatif yang ditimbulkannya, seperti kerusakan fisik pada tanaman, penyebaran penyakit, atau gangguan terhadap aktivitas manusia. Sebaliknya, organisme bermanfaat memberikan kontribusi positif seperti penyerbukan, pengendalian hama alami, atau dekomposisi bahan organik.

4. Mengapa pengendalian hama penting dalam pertanian?

Pengendalian hama penting untuk mencegah kerugian ekonomi yang dapat mencapai gagal panen, menjaga kualitas dan kuantitas hasil pertanian, serta memastikan keamanan pangan. Tanpa pengendalian yang tepat, hama dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi petani dan mengancam ketahanan pangan.

5. Apa yang dimaksud dengan hama invasif?

Hama invasif adalah organisme yang berasal dari luar ekosistem asli dan dapat menyebar dengan cepat, mengganggu keseimbangan ekosistem lokal, serta menyebabkan kerugian ekonomi atau lingkungan. Hama invasif seringkali tidak memiliki musuh alami di habitat barunya, sehingga populasinya dapat berkembang dengan sangat cepat.

6. Bisakah hewan peliharaan menjadi hama?

Ya, hewan peliharaan seperti kucing dan anjing yang berkeliaran atau tidak terkontrol dapat menjadi hama karena berpotensi menyebabkan luka, menyebarkan penyakit, atau mengganggu aktivitas manusia. Namun, dengan pengelolaan yang baik, hewan peliharaan dapat tetap memberikan manfaat tanpa menjadi hama.

7. Apa peran teknologi dalam pengendalian hama modern?

Teknologi modern berperan penting dalam pengendalian hama melalui pengembangan sistem monitoring otomatis, penggunaan feromon sintetis untuk perangkap, aplikasi pestisida yang lebih presisi, dan pengembangan varietas tanaman tahan hama. Teknologi juga membantu dalam identifikasi hama yang lebih akurat dan prediksi serangan hama berdasarkan data cuaca dan lingkungan.

(kpl/fds)

Rekomendasi
Trending