Kapanlagi.com - Majas metafora merupakan salah satu gaya bahasa yang paling sering digunakan dalam karya sastra dan percakapan sehari-hari. Penggunaan majas ini membantu penulis atau pembicara menyampaikan makna dengan cara yang lebih hidup dan menarik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan seperti "kutu buku", "buah hati", atau "tikus kantor" yang sebenarnya bukan bermakna harfiah. Ungkapan-ungkapan tersebut adalah contoh dari apa arti majas metafora dalam praktik penggunaan bahasa Indonesia.
Memahami apa arti majas metafora sangat penting untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan mengapresiasi karya sastra. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metafora adalah pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.
Majas metafora adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau kelompok kata untuk mengacu pada suatu objek tertentu, tetapi tidak dengan arti yang sebenarnya. Majas ini termasuk dalam kategori majas perbandingan yang membandingkan dua hal secara langsung tanpa menggunakan kata penghubung seperti "seperti", "bagaikan", atau "bak".
Dalam proses membandingkan atau menyamakan suatu objek, majas metafora memiliki karakteristik langsung menuju kata kiasan tersebut. Berbeda dengan majas simile yang menggunakan kata pembanding, metafora langsung menyatakan perbandingan secara implisit.
Majas metafora dapat dijelaskan sebagai gaya bahasa yang menggambarkan sesuatu dengan perbandingan secara langsung dan tepat atas dasar sifat yang hampir mirip atau sama. Penggunaan majas ini bertujuan untuk memperindah bahasa dan memberikan kesan yang lebih kuat kepada pembaca atau pendengar.
Menurut Ensiklopedi Budaya Islam Nusantara yang diterbitkan oleh Tim Kementerian Agama, dalam tradisi Arab, perumpamaan atau metafora dikenal dengan istilah al-matsal yang merupakan bagian dari al-hikmah (kebijaksanaan). Konsep ini menunjukkan bahwa penggunaan perumpamaan telah lama dikenal dalam berbagai budaya sebagai cara menyampaikan makna yang mendalam.
Untuk mengenali majas metafora dalam sebuah kalimat, terdapat beberapa ciri-ciri yang dapat diamati:
Majas metafora dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan cara penyampaiannya:
Penggunaan majas metafora memiliki beberapa fungsi penting dalam komunikasi dan karya sastra. Fungsi utamanya adalah memperindah bahasa dan memberikan kesan yang lebih hidup pada kalimat atau ungkapan.
Majas metafora membantu mempermudah pemahaman konsep yang abstrak dengan menggunakan perumpamaan yang konkret. Seperti yang dijelaskan dalam buku Filsafat Pendidikan Islam oleh A. Heris Hermawan, dalam metafora, benda-benda nyata digunakan untuk memfasilitasi pemahaman konsep yang sedang diperhatikan.
Selain itu, majas metafora berfungsi untuk memberikan efek dramatis pada kalimat dan membuat ide yang biasa menjadi memiliki kesan yang lebih kuat. Efek dramatis ini terletak pada kontras perbandingan yang dilakukan antara dua objek yang berbeda.
Dalam karya sastra, penggunaan majas metafora dapat menambah nilai estetis dan membantu pembaca mengimajinasikan cerita atau sosok yang digambarkan. Majas ini juga memungkinkan penulis untuk menyampaikan kritik atau sindiran dengan cara yang lebih halus dan artistik.
Berikut adalah contoh-contoh majas metafora yang sering digunakan beserta artinya:
Majas metafora sering dikacaukan dengan majas simile karena keduanya sama-sama melakukan perbandingan. Namun, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Majas simile menggunakan kata pembanding seperti "seperti", "bagaikan", atau "bak", sedangkan metafora tidak menggunakan kata-kata tersebut.
Contoh majas simile: "Wajahnya cantik bagaikan bidadari." Sementara dalam metafora: "Dia adalah bidadari yang turun dari surga." Perbedaan ini menunjukkan bahwa metafora memberikan perbandingan yang lebih langsung dan tegas.
Majas metafora juga berbeda dengan majas personifikasi. Personifikasi memberikan sifat manusia kepada benda mati, sedangkan metafora membandingkan dua hal yang berbeda berdasarkan kesamaan sifat atau karakteristik tertentu.
Dalam konteks penggunaan, majas metafora dapat berdiri sendiri sebagai ungkapan yang bermakna, sementara beberapa majas lain memerlukan konteks kalimat yang lebih lengkap untuk dipahami maknanya.
Majas metafora adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau kelompok kata bukan dengan arti sebenarnya, melainkan sebagai perbandingan atau perumpamaan untuk menggambarkan suatu objek berdasarkan kesamaan sifat atau karakteristik.
Perbedaan utamanya terletak pada penggunaan kata pembanding. Majas simile menggunakan kata seperti "bagaikan", "seperti", atau "bak", sedangkan metafora tidak menggunakan kata pembanding dan langsung menyatakan perbandingan.
Fungsi utama majas metafora adalah memperindah bahasa, memberikan kesan yang lebih hidup, membantu pemahaman konsep abstrak, dan menambah nilai estetis dalam karya sastra serta komunikasi sehari-hari.
Terdapat tiga jenis majas metafora: metafora eksplisit (in praesentia) yang menyampaikan perbandingan secara jelas, metafora implisit (in absentia) yang menyampaikan perbandingan secara tersembunyi, dan metafora lama atau usang yang sudah lazim digunakan masyarakat.
Tidak, majas metafora juga sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, media massa, pidato, dan berbagai bentuk komunikasi lainnya untuk membuat bahasa lebih menarik dan ekspresif.
Untuk membuat kalimat dengan majas metafora, pilih dua objek yang memiliki kesamaan sifat, kemudian bandingkan secara langsung tanpa menggunakan kata pembanding. Contoh: "Dia adalah bintang kelas" untuk menggambarkan siswa berprestasi.
Majas metafora disebut "ratunya" majas karena dalam proses pembentukannya, banyak jenis majas lainnya yang dapat dikelompokkan ke dalam jenis majas ini, menunjukkan fleksibilitas dan keluasan penggunaannya dalam bahasa.