Apa Arti Majas Personifikasi: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contoh Lengkap
FAQ (Frequently Asked Questions)
Kapanlagi.com - Majas personifikasi merupakan salah satu gaya bahasa yang paling sering digunakan dalam karya sastra Indonesia. Gaya bahasa ini memberikan kehidupan pada benda-benda mati dengan cara memberikan sifat-sifat manusia kepadanya.
Penggunaan majas personifikasi dapat membuat tulisan menjadi lebih hidup dan menarik. Benda-benda yang seharusnya tidak bernyawa digambarkan seolah-olah dapat berperilaku, berpikir, dan merasakan seperti manusia pada umumnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan majas personifikasi tanpa menyadarinya. Menurut Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), majas personifikasi adalah majas yang memunculkan karakteristik manusia pada benda mati, sehingga benda itu seolah mempunyai nyawa seperti layaknya manusia.
Advertisement
1. Pengertian Majas Personifikasi Menurut Para Ahli
Untuk memahami apa arti majas personifikasi secara mendalam, kita perlu melihat definisi dari berbagai ahli bahasa dan sastra. Setiap ahli memberikan perspektif yang sedikit berbeda namun saling melengkapi dalam menjelaskan konsep ini.
Menurut Tarigan, majas personifikasi merupakan gaya bahasa yang melekat pada sifat manusia terhadap benda yang sesungguhnya tidak nyata, juga memiliki ide yang abstrak. Sehingga, gaya bahasa personifikasi bisa membuat benda yang tidak bernyawa itu seolah memiliki sifat manusia. Definisi ini menekankan pada aspek pemberian sifat manusiawi kepada objek yang tidak memiliki kehidupan.
Gorys Keraf berpendapat bahwa majas personifikasi adalah bahasa kiasan yang digunakan dalam menggambarkan benda mati atau tak bernyawa atau makhluk selain dari manusia, seolah mempunyai sifat serta karakteristik seperti manusia. Keraf lebih menekankan pada fungsi majas ini sebagai alat untuk menggambarkan objek non-manusia dengan karakteristik manusiawi.
Sementara itu, Pitwanto dalam bukunya yang berjudul Ingin Jadi Penulis Best Seller mendefinisikan majas personifikasi sebagai gaya bahasa yang digunakan untuk memanusiakan atau seolah-olah membuat hidup benda mati. Definisi ini lebih sederhana namun langsung menunjukkan tujuan utama penggunaan majas ini.
Kata personifikasi sendiri berasal dari bahasa Yunani prosopopoeia yang memiliki arti memanusiakan. Dalam bahasa Inggris, kata person berarti orang, sehingga personifikasi dapat diartikan sebagai proses memberikan karakteristik orang atau manusia kepada objek lain.
2. Ciri-Ciri Majas Personifikasi
Majas personifikasi memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari jenis majas lainnya. Pemahaman tentang ciri-ciri ini akan membantu kita mengidentifikasi dan menggunakan majas personifikasi dengan tepat dalam karya tulis.
- Menggunakan kata yang menggambarkan sifat manusia - Ciri utama majas personifikasi adalah penggunaan kata-kata yang menggambarkan aktivitas, perasaan, atau karakteristik yang hanya dimiliki manusia. Kata-kata seperti "menangis", "tertawa", "marah", "berlari", atau "berbisik" sering digunakan untuk menggambarkan benda mati.
- Membandingkan benda mati layaknya benda yang hidup - Majas ini termasuk dalam kategori majas perbandingan karena membandingkan objek tak bernyawa dengan makhluk hidup. Benda mati digambarkan seolah-olah memiliki kemampuan untuk bergerak, berpikir, dan merasakan.
- Melibatkan panca indera - Penggunaan majas personifikasi sering melibatkan kelima panca indera manusia: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Hal ini menciptakan kedekatan emosional antara pembaca dengan objek yang digambarkan.
- Memiliki makna kiasan - Seperti majas lainnya, personifikasi tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah. Makna sebenarnya tersirat dalam perbandingan yang dibuat antara benda mati dengan sifat manusia.
- Menciptakan efek imajinatif - Penggunaan majas ini membantu pembaca membayangkan situasi atau suasana tertentu dengan lebih jelas dan menarik.
Melansir dari Buku PUEBI dan Pembentukan Kata, ciri-ciri majas personifikasi juga mencakup kemampuannya untuk menghilangkan batasan antara dunia manusia dan dunia benda, sehingga pembaca dapat lebih mudah berempati dengan objek yang digambarkan.
3. Fungsi dan Tujuan Majas Personifikasi
Penggunaan majas personifikasi dalam karya sastra memiliki berbagai fungsi penting yang berkontribusi pada kualitas dan daya tarik sebuah tulisan. Fungsi-fungsi ini menjadikan majas personifikasi sebagai alat yang sangat efektif dalam komunikasi sastra.
Fungsi pertama adalah menciptakan kesan imajinatif yang kuat. Ketika penulis menggambarkan "angin berbisik" atau "bulan tersenyum", pembaca dapat dengan mudah membayangkan suasana yang ingin disampaikan. Imajinasi ini membantu pembaca merasakan atmosfer cerita dengan lebih mendalam.
Majas personifikasi juga berfungsi memperindah susunan kalimat. Dibandingkan dengan kalimat datar seperti "angin bertiup kencang", kalimat "angin mengamuk dengan garang" terdengar lebih menarik dan berkesan. Keindahan bahasa ini membuat karya sastra lebih nikmat untuk dibaca dan diingat.
Fungsi lainnya adalah memberikan efek emosional dan menggambarkan suasana tertentu. Penulis dapat menggunakan majas ini untuk menciptakan suasana sedih, gembira, menegangkan, atau romantis sesuai dengan kebutuhan cerita. Misalnya, "langit menangis" untuk menggambarkan suasana sedih, atau "matahari tersenyum" untuk suasana ceria.
Mengutip dari penelitian dalam Journal of Language and Literature Studies, majas personifikasi juga berfungsi memperkuat hubungan emosional antara pembaca dengan objek dalam cerita. Ketika benda mati digambarkan memiliki perasaan, pembaca cenderung lebih mudah berempati dan terlibat secara emosional dengan narasi.
4. Jenis-Jenis Majas Personifikasi
Majas personifikasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan objek yang dipersonifikasikan dan cara penggambarannya. Pemahaman tentang jenis-jenis ini akan membantu dalam penggunaan yang lebih variatif dan tepat sasaran.
- Personifikasi Alam - Jenis ini menggambarkan unsur-unsur alam seperti angin, hujan, matahari, bulan, gunung, dan laut dengan sifat manusia. Contoh: "Gunung Merapi memuntahkan isi perutnya" atau "Ombak berkejar-kejaran ke pantai".
- Personifikasi Benda Mati - Memberikan sifat hidup pada benda-benda tak bernyawa seperti mobil, rumah, jam, atau peralatan lainnya. Contoh: "Mobil tua itu batuk-batuk mengeluarkan asap" atau "Jam dinding berdetak dengan sabar".
- Personifikasi Konsep Abstrak - Menggambarkan ide atau konsep abstrak seperti waktu, cinta, kematian, atau kebahagiaan sebagai sosok yang hidup. Contoh: "Waktu terus berlari meninggalkan kita" atau "Cinta datang tanpa permisi".
- Personifikasi Tumbuhan - Memberikan karakteristik manusia pada berbagai jenis tumbuhan. Contoh: "Pohon kelapa melambai-lambai menyapa" atau "Bunga mawar malu-malu mengintip".
- Personifikasi Fenomena - Menggambarkan peristiwa atau fenomena tertentu dengan sifat manusia. Contoh: "Gempa bumi menggoyang-goyangkan rumah dengan keras" atau "Badai mengamuk sepanjang malam".
Setiap jenis personifikasi memiliki keunikan dan efek tersendiri dalam menciptakan suasana dan makna dalam karya sastra. Penulis dapat memilih jenis yang paling sesuai dengan tujuan dan konteks tulisannya.
5. Contoh Majas Personifikasi dalam Berbagai Konteks
Untuk memahami penerapan majas personifikasi dengan lebih baik, berikut adalah berbagai contoh dalam konteks yang berbeda-beda. Contoh-contoh ini menunjukkan fleksibilitas dan keragaman penggunaan majas personifikasi dalam bahasa Indonesia.
Dalam konteks alam dan cuaca: "Angin malam berbisik lembut di telinga", "Hujan mengetuk-ngetuk jendela kamar", "Matahari pagi menyapa dengan hangat", "Awan hitam mengancam dari kejauhan", dan "Petir menggelegar marah di langit". Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana unsur alam digambarkan memiliki kemampuan berkomunikasi dan merasakan emosi layaknya manusia.
Dalam konteks benda sehari-hari: "Mobil tua itu mengeluh setiap kali dinyalakan", "Komputer bekerja keras sepanjang hari", "Lampu jalan berdiri tegak menjaga keamanan", "Buku-buku bercerita tentang petualangan", dan "Pensil menari-nari di atas kertas". Personifikasi benda-benda ini membuat narasi menjadi lebih hidup dan menarik.
Dalam konteks emosi dan perasaan: "Kesedihan memeluk hatiku erat-erat", "Kebahagiaan melompat-lompat dalam dada", "Kemarahan membakar seluruh tubuhnya", "Kerinduan datang di malam sunyi", dan "Harapan bersinar terang di mata". Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana konsep abstrak dapat dipersonifikasikan untuk memberikan gambaran yang lebih konkret.
Menurut Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, penggunaan majas personifikasi dalam puisi dapat membuat karya sastra menjadi penuh makna dan warna emosi. Hal ini terbukti dari banyaknya penyair Indonesia yang menggunakan majas ini dalam karya-karya mereka.
6. FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa perbedaan majas personifikasi dengan majas metafora?
Majas personifikasi secara khusus memberikan sifat manusia kepada benda mati atau makhluk non-manusia, sedangkan majas metafora adalah perbandingan langsung tanpa kata pembanding yang tidak harus melibatkan sifat manusia. Personifikasi selalu melibatkan "memanusiakan" objek, sementara metafora bisa membandingkan apa saja dengan apa saja.
Apakah majas personifikasi hanya digunakan dalam puisi?
Tidak, majas personifikasi dapat digunakan dalam berbagai jenis karya tulis seperti cerpen, novel, artikel, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Meskipun sering ditemukan dalam puisi, penggunaannya tidak terbatas pada genre sastra tertentu saja.
Bagaimana cara membedakan majas personifikasi dengan fabel?
Majas personifikasi adalah gaya bahasa yang memberikan sifat manusia pada objek dalam kalimat atau ungkapan, sedangkan fabel adalah cerita lengkap yang tokoh-tokohnya adalah hewan yang berperilaku seperti manusia. Personifikasi bersifat lokal dalam kalimat, sementara fabel adalah genre cerita secara keseluruhan.
Apakah penggunaan majas personifikasi membuat tulisan menjadi tidak ilmiah?
Penggunaan majas personifikasi dalam tulisan ilmiah memang tidak disarankan karena dapat mengurangi objektivitas. Namun, dalam tulisan populer, sastra, atau artikel yang bertujuan menghibur dan menginspirasi, penggunaan majas ini justru dapat meningkatkan daya tarik dan keterbacaan.
Bisakah satu kalimat mengandung lebih dari satu majas personifikasi?
Ya, satu kalimat dapat mengandung beberapa majas personifikasi sekaligus. Contohnya: "Angin berbisik kepada daun-daun yang menari riang di bawah sinar matahari yang tersenyum hangat." Dalam kalimat ini, angin, daun, dan matahari semuanya dipersonifikasikan.
Mengapa majas personifikasi sering digunakan dalam lagu dan puisi?
Majas personifikasi membantu menciptakan imagery atau gambaran yang kuat dalam benak pendengar atau pembaca. Dalam lagu dan puisi, hal ini penting untuk menyampaikan emosi dan suasana dengan cara yang lebih berkesan dan mudah diingat, sehingga karya tersebut dapat menyentuh perasaan audiens.
Apakah ada aturan khusus dalam menggunakan majas personifikasi?
Tidak ada aturan baku yang ketat, namun penggunaan majas personifikasi sebaiknya sesuai dengan konteks dan tidak berlebihan. Yang penting adalah kesesuaian antara sifat manusia yang diberikan dengan karakteristik objek yang dipersonifikasikan, serta relevansinya dengan pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan.
(kpl/fed)
Advertisement