Apa Arti Segawon dalam Bahasa Jawa: Memahami Makna dan Penggunaannya

Apa Arti Segawon dalam Bahasa Jawa: Memahami Makna dan Penggunaannya
apa arti segawon

Kapanlagi.com - Bahasa Jawa memiliki kekayaan kosakata yang mencerminkan tingkat kesopanan dan hierarki sosial dalam masyarakat. Salah satu kata yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari adalah "segawon" yang memiliki makna khusus dalam konteks budaya Jawa.

Kata segawon merupakan bagian dari sistem undha-usuk atau tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa. Pemahaman yang tepat tentang apa arti segawon sangat penting untuk berkomunikasi dengan sopan dalam budaya Jawa.

Penggunaan kata ini tidak bisa sembarangan karena terkait dengan tata krama dan norma sosial yang berlaku. Mari kita pelajari lebih dalam tentang makna dan penggunaan kata segawon dalam bahasa Jawa.

1. Pengertian dan Arti Segawon dalam Bahasa Jawa

Pengertian dan Arti Segawon dalam Bahasa Jawa (c) Ilustrasi AI

Secara harfiah, segawon dalam bahasa Jawa berarti anjing. Kata ini merupakan bentuk bahasa Krama atau bahasa halus yang digunakan untuk menunjukkan kesopanan dalam percakapan. Dalam sistem undha-usuk bahasa Jawa, segawon memiliki padanan kata lain seperti "asu" dalam bahasa Ngoko dan "kirik" yang merujuk pada anak anjing.

Menurut buku Belajar Bahasa Daerah Jawa untuk Mahasiswa PGSD dan Guru SD karya Rian Damariswara, kata asu merupakan bahasa Ngoko, sementara segawon masuk dalam kategori bahasa Krama. Perbedaan ini menunjukkan tingkat kesopanan yang berbeda dalam penggunaannya.

Bahasa Krama adalah bahasa Jawa yang memiliki tingkat kesopanan tinggi dan digunakan saat berbicara kepada orang yang lebih tua, orang yang derajatnya lebih tinggi, atau orang-orang yang dihormati. Sebaliknya, bahasa Ngoko memiliki tingkat kesopanan yang lebih rendah dan digunakan untuk orang yang sudah akrab atau dalam situasi informal.

Kata segawon juga dapat dikategorikan sebagai Krama Inggil atau Krama Alus, yaitu bahasa Jawa dengan derajat kesopanan paling tinggi. Penggunaan ini menunjukkan penghormatan yang mendalam terhadap lawan bicara, seperti dalam percakapan antara anak dengan orang tua atau murid dengan guru.

2. Tingkatan Bahasa dan Penggunaan Segawon

Tingkatan Bahasa dan Penggunaan Segawon (c) Ilustrasi AI

Sistem undha-usuk dalam bahasa Jawa membagi tingkatan bahasa menjadi beberapa kategori. Kata segawon termasuk dalam bahasa Krama yang memiliki aturan penggunaan khusus berdasarkan konteks sosial dan hubungan antara pembicara dengan lawan bicara.

Dalam buku Baboning Pepak Basa Jawa karya Budi Anwari dijelaskan bahwa pemilihan bahasa dalam bahasa Jawa tergantung pada penggunaannya. Bahasa Krama yang santun digunakan untuk menghormati diri sendiri dan orang lain atau lawan bicara.

Contoh penggunaan kata segawon dalam kalimat bahasa Krama Inggil adalah: "Pakdhe kagungan segawon kathah" yang berarti "Paman memiliki banyak anjing". Kalimat ini menunjukkan penggunaan bahasa yang sangat sopan dan menghormati.

Penggunaan kata segawon juga dapat ditemukan dalam Krama Madya, yaitu tingkatan bahasa Krama yang berada di bawah Krama Alus. Meskipun artinya sama, pemilihan kata dan struktur kalimatnya dapat berbeda sesuai dengan tingkat kesopanan yang diinginkan.

3. Konteks Budaya dan Makna Simbolis

Konteks Budaya dan Makna Simbolis (c) Ilustrasi AI

Dalam budaya Jawa, anjing atau segawon memiliki peran dan makna yang beragam. Di satu sisi, anjing dianggap sebagai hewan penjaga yang setia dan dapat diandalkan untuk menjaga rumah dari orang asing atau hewan liar. Keberadaan anjing di lingkungan rumah sering dianggap sebagai simbol perlindungan.

Namun, kata segawon juga dapat digunakan dalam konteks yang berbeda tergantung pada situasi dan intonasi yang digunakan. Dalam beberapa percakapan, kata ini bisa digunakan sebagai ungkapan ketidaksukaan atau rasa marah terhadap perilaku seseorang, meskipun penggunaan seperti ini harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat menyinggung perasaan.

Di beberapa daerah Jawa, segawon memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan. Anjing sering dilatih untuk berburu, menjaga kebun, atau bahkan menuntun ternak. Dalam konteks ini, segawon tidak hanya dilihat sebagai hewan peliharaan, tetapi juga sebagai mitra kerja yang membantu aktivitas sehari-hari.

Namun, penting untuk dicatat bahwa dalam beberapa kalangan masyarakat Jawa yang sangat religius, terdapat pandangan bahwa anjing adalah hewan yang najis atau kotor. Hal ini membuat interaksi dengan segawon menjadi lebih terbatas dibandingkan dengan hewan peliharaan lain seperti kucing.

4. Segawon dalam Sastra dan Kesenian Jawa

Segawon dalam Sastra dan Kesenian Jawa (c) Ilustrasi AI

Kata segawon sering muncul dalam berbagai karya sastra dan seni Jawa, termasuk cerita rakyat, paribasan (pepatah), dan tembang (lagu). Dalam cerita rakyat Jawa, anjing sering digambarkan sebagai simbol kesetiaan atau bahkan sebagai hewan yang memiliki kesaktian tertentu.

Salah satu contoh penggunaan segawon dalam paribasan Jawa adalah ungkapan "Segawon ora mangan daging" yang menggambarkan situasi di mana seseorang atau sesuatu tidak memperoleh apa yang seharusnya diperolehnya, meskipun berada dalam situasi yang mendukung atau seharusnya memudahkan.

Dalam tradisi lisan Jawa, terdapat berbagai cerita tentang anjing yang setia mengikuti tuannya dalam perjalanan panjang, bahkan hingga akhir hayatnya. Cerita-cerita ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa menghargai sifat kesetiaan yang dimiliki oleh anjing.

Penggunaan kata segawon dalam karya sastra Jawa juga mencerminkan pemahaman masyarakat tentang hubungan antara manusia dengan hewan, serta nilai-nilai moral yang dapat dipetik dari interaksi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Jawa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

5. Perkembangan Penggunaan Kata Segawon di Era Modern

Perkembangan Penggunaan Kata Segawon di Era Modern (c) Ilustrasi AI

Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan kata segawon mengalami perubahan dalam masyarakat Jawa modern. Kata ini kini sudah banyak diucapkan oleh anak-anak muda dalam percakapan sehari-hari, tidak hanya dalam konteks formal atau situasi yang memerlukan kesopanan tinggi.

Perubahan ini terjadi karena kata segawon mulai digunakan sebagai bahasa umpatan atau plesetan dalam percakapan informal. Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa dapat berkembang dan beradaptasi dengan perubahan sosial dan budaya masyarakat.

Meskipun demikian, pemahaman tentang tingkatan bahasa dan penggunaan yang tepat tetap penting untuk dijaga. Hal ini bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai budaya Jawa yang terkandung dalam sistem undha-usuk bahasa.

Dalam konteks pendidikan, pengajaran tentang penggunaan kata segawon dan kata-kata lain dalam bahasa Jawa menjadi penting untuk memastikan generasi muda memahami dan dapat menggunakan bahasa daerah dengan benar. Ini juga merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya dan identitas lokal di tengah arus globalisasi.

6. FAQ (Frequently Asked Questions)

FAQ (Frequently Asked Questions) (c) Ilustrasi AI

Apa arti segawon dalam bahasa Jawa?

Segawon dalam bahasa Jawa berarti anjing. Kata ini merupakan bentuk bahasa Krama atau bahasa halus yang digunakan untuk menunjukkan kesopanan dalam percakapan, berbeda dengan kata "asu" yang merupakan bahasa Ngoko.

Kapan sebaiknya menggunakan kata segawon?

Kata segawon sebaiknya digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, orang yang dihormati, atau dalam situasi formal yang memerlukan tingkat kesopanan tinggi. Ini sesuai dengan aturan bahasa Krama dalam sistem undha-usuk bahasa Jawa.

Apa perbedaan antara segawon, asu, dan kirik?

Ketiga kata tersebut memiliki arti yang sama yaitu anjing, namun berbeda dalam tingkat kesopanan. Segawon adalah bahasa Krama (halus), asu adalah bahasa Ngoko (kasar), sedangkan kirik merujuk pada anak anjing atau puppy.

Apakah kata segawon termasuk kata kasar?

Tidak, kata segawon tidak termasuk kata kasar. Sebaliknya, kata ini merupakan bentuk bahasa halus atau Krama yang menunjukkan kesopanan. Kata "asu" yang merupakan padanan dalam bahasa Ngoko lebih berpotensi dianggap kasar tergantung konteks penggunaannya.

Bagaimana cara menggunakan kata segawon dalam kalimat?

Contoh penggunaan kata segawon dalam kalimat adalah "Pakdhe kagungan segawon kathah" (Paman memiliki banyak anjing). Penggunaan ini menunjukkan bahasa Krama Inggil yang sangat sopan dan menghormati lawan bicara.

Apakah kata segawon masih relevan digunakan saat ini?

Ya, kata segawon masih relevan dan penting untuk dipahami sebagai bagian dari pelestarian bahasa dan budaya Jawa. Meskipun penggunaannya mengalami perubahan di era modern, pemahaman tentang tingkatan bahasa tetap penting untuk komunikasi yang sopan.

Mengapa penting memahami tingkatan bahasa dalam penggunaan kata segawon?

Memahami tingkatan bahasa penting karena mencerminkan nilai-nilai budaya Jawa tentang penghormatan dan kesopanan. Penggunaan yang tepat menunjukkan pemahaman terhadap norma sosial dan dapat mencegah kesalahpahaman atau perasaan tersinggung dalam komunikasi.

(kpl/fds)

Rekomendasi
Trending