Arti Perewangan: Makhluk Halus Pembantu dalam Tradisi Jawa
arti perewangan
Kapanlagi.com - Perewangan merupakan salah satu konsep mistis yang sangat dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa. Istilah ini merujuk pada makhluk halus yang dipercaya dapat membantu manusia dalam berbagai urusan kehidupan.
Dalam konteks budaya Jawa, arti perewangan tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan kejawen yang masih dianut sebagian masyarakat. Konsep ini mencerminkan hubungan antara dunia nyata dan dunia gaib yang saling berinteraksi.
Pemahaman tentang perewangan menjadi penting untuk memahami kekayaan budaya Nusantara. Meskipun bersifat mistis, tradisi ini telah menjadi bagian dari warisan leluhur yang perlu dipahami secara objektif.
Advertisement
1. Pengertian dan Makna Perewangan
Secara etimologis, kata perewangan berasal dari bahasa Jawa "rewang" yang berarti bantu atau membantu. Dengan demikian, arti perewangan adalah pembantu atau yang memberikan bantuan. Dalam konteks tradisi Jawa, perewangan merujuk pada makhluk halus yang berperan sebagai pembantu manusia dalam berbagai urusan kehidupan.
Perewangan dipahami sebagai roh halus yang diyakini hidup di dunia yang berbeda dengan manusia. Makhluk ini dapat masuk atau sengaja dimasukkan dalam tubuh seseorang untuk berbagai tujuan tertentu. Setelah berada dalam tubuh manusia, perewangan dapat berkomunikasi dengan orang lain yang masih hidup dan memberikan bantuan sesuai kebutuhan.
Dalam tradisi Jawa, perewangan dikaitkan dengan keberadaan makhluk halus yang hidup berdampingan dengan manusia dalam hubungan yang bersifat mutualis atau saling menguntungkan. Di satu sisi, perewangan mendapatkan "tempat" tinggal, sedangkan manusia yang didampinginya dapat menggunakan perewangan sesuai kebutuhan mereka.
Konsep perewangan juga sering disamakan dengan khodam dalam tradisi Islam, yaitu makhluk halus yang mendampingi manusia selama hidupnya. Namun dalam konteks kejawen, perewangan memiliki karakteristik dan fungsi yang lebih spesifik sesuai dengan kepercayaan lokal masyarakat Jawa.
2. Jenis-Jenis Perewangan dalam Tradisi Jawa
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, terdapat berbagai jenis perewangan dengan karakteristik dan fungsi yang berbeda-beda. Setiap jenis memiliki keunikan tersendiri dalam cara kerja dan tujuan penggunaannya.
- Thuyul - Perewangan yang paling dikenal masyarakat, berbentuk anak kecil cebol dengan kepala gundul dan kulit coklat kemerahan. Thuyul bertugas mengambil uang milik orang lain sedikit demi sedikit tanpa membekas. Ukuran tubuhnya sekitar 50-80 cm dan ada yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan.
- Setan Gundhul - Perewangan berbentuk manusia kerdil dengan kepala botak dan kulit kemerah-merahan. Pandangan matanya bersinar mengerikan dan bertugas mengambil uang dalam jumlah besar, bahkan seluruh uang milik tetangga beserta wadahnya.
- Buta Ijo - Perewangan untuk pesugihan yang berbentuk raksasa berwarna hijau dengan figur yang menakutkan. Tugas utamanya mengambil uang dalam jumlah besar, namun pemeliharaannya biasanya membutuhkan tumbal berupa nyawa seseorang.
- Dhenok Dheblong - Perewangan berupa hantu anak kecil yang membantu sebagai juru sembuh. Biasanya berasal dari anak yang meninggal saat masih bayi dan kembali membantu orang tuanya dalam pengobatan.
- Menthek - Perewangan sejenis anak kecil yang menghuni area persawahan dan gemar memakan belalang. Dapat memindahkan biji padi ke tempat sawah orang lain, sehingga padi yang dipindahkan menjadi kosong.
3. Cara Memperoleh Perewangan
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, terdapat beberapa cara untuk memperoleh perewangan. Proses ini umumnya melibatkan perantara dukun yang memiliki kemampuan khusus dalam berkomunikasi dengan dunia gaib.
Cara pertama adalah melalui warisan turun-temurun, di mana seseorang sudah memiliki perewangan sejak kecil tetapi tidak memiliki kuasa penuh terhadapnya. Jika orang tersebut kemudian mengetahui keberadaan perewangan dan ingin memilikinya sepenuhnya, ia dapat meminta bantuan dukun untuk memasukkan perewangan tersebut ke dalam tubuhnya secara resmi.
Cara kedua adalah melalui permintaan langsung kepada dukun bagi mereka yang dari awal tidak memiliki perewangan. Seorang dukun dapat mencarikan makhluk halus yang bersedia masuk dan tinggal dalam tubuh manusia, kemudian memasukkannya ke dalam tubuh orang yang meminta. Namun, tidak semua permintaan berhasil karena berbagai faktor tertentu.
Orang yang memiliki perewangan dan berkuasa untuk menyuruh-nyuruhnya kemudian disebut dukun perewangan. Dalam dunia bisnis seperti rumah makan, perewangan sering disebut sebagai "penglaris", yaitu makhluk gaib yang membantu melariskan dagangan pemiliknya.
4. Perewangan dalam Konteks Agama Islam
Dalam perspektif agama Islam, konsep perewangan yang melibatkan persekutuan dengan jin atau makhluk halus lainnya jelas bertentangan dengan ajaran tauhid. Persekutuan dengan selain Allah SWT dianggap sebagai perbuatan syirik yang dapat menjauhkan seseorang dari agama.
Namun, Islam juga mengenal konsep "perewangan" yang halal, yaitu perlindungan yang datang dari Allah SWT melalui malaikat-malaikat-Nya. Perewangan jenis ini dapat diperoleh dengan cara bertaqarrub kepada Allah melalui cara-cara yang telah disyariatkan seperti membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan melaksanakan riyadhoh.
Menurut buku Menguak Dunia Jin dan Khodam karya Egi Sugianto, perewangan dari bangsa malaikat datang dengan sendirinya karena diutus oleh Allah SWT. Di antara malaikat tersebut adalah malaikat Hafadhoh (penjaga) yang kehadirannya tidak dapat dilihat manusia, dengan jumlah mencapai 180 malaikat yang menjaga manusia secara bergiliran di waktu ashar dan subuh.
5. Perbedaan Perewangan dengan Pesugihan
Meskipun sering dianggap sama, perewangan dan pesugihan memiliki perbedaan mendasar dalam tujuan dan cara kerjanya. Perewangan memiliki fungsi yang lebih beragam, sementara pesugihan hanya berfokus pada perolehan harta kekayaan.
Pesugihan merupakan praktik yang secara khusus bertujuan untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk harta. Pelaku pesugihan biasanya ingin dagangannya laris atau kariernya lancar dengan meminta bantuan jin dan memutuskan untuk bersekutu dengannya. Pesugihan memiliki berbagai jenis seperti pesugihan tuyul, raksasa buto ijo, babi ngepet, siluman ular, dan siluman monyet.
Karena perjanjian pesugihan melibatkan campur tangan jin, manusia wajib memberikan imbalan yang telah disepakati. Menurut kepercayaan, manusia yang bersekutu dengan jin sepakat untuk menjadi budak jin atau setan setelah meninggal dunia sampai hari kiamat datang, sehingga mereka tidak masuk ke alam barzakh melainkan disandera di alam jin terlebih dahulu.
Sementara itu, perewangan tidak selalu memiliki konsekuensi yang sama dengan pesugihan. Beberapa perewangan dapat hadir sendiri tanpa diminta dan membantu manusia secara tulus tanpa terikat kontrak apapun. Perewangan jenis ini akan membantu manusia dan setelah selesai akan menghilang dengan sendirinya.
6. FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa yang dimaksud dengan perewangan?
Perewangan adalah makhluk halus pembantu dalam tradisi Jawa yang berasal dari kata "rewang" yang berarti bantu. Perewangan dipercaya sebagai roh halus yang dapat membantu manusia dalam berbagai urusan kehidupan, baik fisik maupun gaib.
Bagaimana cara mendapatkan perewangan?
Perewangan dapat diperoleh melalui dua cara: pertama, warisan turun-temurun dari nenek moyang; kedua, melalui permintaan kepada dukun perantara yang dapat mencarikan dan memasukkan makhluk halus ke dalam tubuh seseorang.
Apakah perewangan sama dengan pesugihan?
Tidak sama. Perewangan memiliki fungsi yang lebih beragam sebagai pembantu dalam berbagai urusan, sedangkan pesugihan hanya berfokus pada perolehan harta kekayaan. Perewangan juga tidak selalu membutuhkan tumbal seperti pesugihan.
Apa saja jenis-jenis perewangan yang dikenal masyarakat Jawa?
Jenis perewangan yang dikenal antara lain Thuyul (pengambil uang), Setan Gundhul (pencuri harta), Buta Ijo (pesugihan), Dhenok Dheblong (juru sembuh), dan Menthek (penghuni sawah yang dapat memindahkan padi).
Bagaimana pandangan Islam terhadap perewangan?
Islam melarang persekutuan dengan jin atau makhluk halus selain Allah SWT karena dianggap syirik. Namun, Islam mengenal perlindungan halal melalui malaikat Hafadhoh yang diutus Allah untuk menjaga manusia.
Apakah perewangan selalu membutuhkan tumbal?
Tidak selalu. Beberapa perewangan dapat hadir sendiri tanpa diminta dan membantu secara tulus tanpa membutuhkan tumbal. Namun, perewangan yang diperoleh melalui ritual tertentu biasanya membutuhkan imbalan atau tumbal.
Mengapa tradisi perewangan masih bertahan di masyarakat Jawa?
Tradisi perewangan bertahan karena merupakan bagian dari sistem kepercayaan kejawen yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Jawa. Kepercayaan ini diturunkan secara turun-temurun dan masih dianggap relevan oleh sebagian masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
(kpl/fds)
Advertisement