Kapanlagi.com - Istilah mania sering kali muncul dalam pembahasan kesehatan mental, namun tidak semua orang memahami dengan jelas apa arti mania sebenarnya. Mania merupakan kondisi gangguan suasana hati yang ditandai dengan peningkatan energi dan aktivitas yang ekstrem.
Kondisi ini bukan sekadar perasaan senang atau bersemangat biasa, melainkan suatu keadaan mental yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam membuat keputusan rasional. Pemahaman tentang apa arti mania menjadi penting untuk mengenali gejala dan mencari penanganan yang tepat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mania didefinisikan sebagai kekacauan pikiran yang hebat, kegilaan, atau keinginan yang berlebihan dan tidak masuk akal. Dalam konteks psikologi, mania merujuk pada gangguan jiwa dengan ciri gejala kemarahan, kegelisahan, dan kebingungan yang berlebihan.
Mania adalah kondisi gangguan suasana perasaan yang membuat seseorang mengalami peningkatan mood yang ekstrem, energi berlebihan, dan aktivitas yang tidak terkendali. Kondisi ini merupakan salah satu fase dalam gangguan bipolar yang dapat berlangsung selama beberapa hari hingga minggu.
Dalam dunia medis, mania didefinisikan sebagai episode dengan karakteristik khusus yang meliputi perasaan euforia berlebihan, penurunan kebutuhan tidur, dan peningkatan aktivitas yang signifikan. Orang yang mengalami episode manik seringkali menunjukkan perilaku impulsif dan membuat keputusan yang tidak rasional.
Berdasarkan buku Mengenal Kesehatan Jiwa karya Anta Samsara, mania dicirikan dengan naiknya alam perasaan, mudah tersinggung, energi dan impuls yang melimpah, serta berkurangnya kebutuhan untuk tidur. Kondisi ini berbeda dengan hipomania yang merupakan bentuk yang lebih ringan dari mania.
Etimologi kata mania berasal dari bahasa Yunani "manÃa" yang berarti kegilaan atau kegembiraan yang berlebihan. Dalam perkembangannya, istilah ini telah diadopsi dalam berbagai bahasa dan menjadi terminologi medis yang digunakan secara internasional untuk menggambarkan kondisi gangguan suasana hati tertentu.
Mania dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan tingkat keparahan dan karakteristik gejalanya. Pemahaman tentang klasifikasi ini penting untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) dalam buku Keperawatan Jiwa karya H. Tukatman dkk, gangguan suasana perasaan yang meningkat disebut dengan mania dan ditandai dengan suasana hati yang sangat bersemangat baik secara fisik maupun mental.
Mengenali gejala mania sangat penting untuk mendapatkan penanganan yang tepat waktu. Gejala-gejala ini dapat bervariasi dari ringan hingga berat dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan penderita.
Gejala-gejala ini harus berlangsung setidaknya selama satu minggu atau memerlukan rawat inap untuk dapat didiagnosis sebagai episode manik penuh. Dalam kasus hipomania, gejala berlangsung minimal empat hari berturut-turut.
Mania tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa sebab. Terdapat berbagai faktor yang dapat memicu terjadinya episode manik, mulai dari faktor biologis hingga lingkungan.
Berdasarkan informasi dari buku Mengenal Kesehatan Jiwa, telah diketahui secara baik bahwa stres, kecemasan, dan penggunaan alkohol atau narkoba yang terus menerus meningkatkan risiko kekambuhan penyakit ini.
Episode mania yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan penderita dan orang-orang di sekitarnya. Pemahaman tentang komplikasi ini penting untuk motivasi pengobatan.
Komplikasi-komplikasi ini menekankan pentingnya penanganan dini dan pengobatan yang konsisten untuk mencegah dampak jangka panjang yang merugikan.
Tidak, mania berbeda dengan kebahagiaan normal. Mania adalah kondisi patologis yang ditandai dengan energi ekstrem, perilaku impulsif, dan gangguan fungsi sehari-hari yang berlangsung minimal satu minggu atau memerlukan rawat inap.
Ya, mania dapat terjadi akibat kondisi medis lain seperti gangguan otak, efek samping obat-obatan, atau penggunaan zat tertentu. Namun, episode mania berulang biasanya menunjukkan adanya gangguan bipolar.
Episode mania tanpa pengobatan dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Dengan pengobatan yang tepat, durasi episode dapat diperpendek dan keparahan gejala dapat dikurangi.
Mania sebagai bagian dari gangguan bipolar tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, namun dapat dikelola dengan baik melalui pengobatan dan terapi yang konsisten. Banyak penderita dapat menjalani kehidupan normal dengan penanganan yang tepat.
Tetap tenang, jangan berargumen dengan delusi mereka, dorong untuk mencari bantuan medis, dan pastikan keamanan mereka. Jika perilaku membahayakan diri sendiri atau orang lain, segera hubungi layanan darurat.
Ya, stres merupakan salah satu pemicu utama episode mania. Manajemen stres yang baik, pola tidur teratur, dan dukungan sosial dapat membantu mencegah kekambuhan episode.
Rawat inap diperlukan jika penderita menunjukkan perilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, mengalami gejala psikotik berat, atau tidak mampu merawat diri sendiri dengan baik selama episode mania.