Kapanlagi.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kata "meremehkan" yang digunakan untuk menggambarkan sikap negatif terhadap orang lain. Sikap ini dapat merusak hubungan interpersonal dan menciptakan konflik yang tidak perlu dalam berbagai situasi sosial.
Memahami apa arti meremehkan menjadi penting untuk membangun komunikasi yang lebih baik dengan orang lain. Sikap meremehkan tidak hanya merugikan orang yang menjadi target, tetapi juga dapat mencerminkan karakter negatif dari pelakunya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), meremehkan memiliki arti merendahkan, mengabaikan, atau memandang remeh terhadap sesuatu atau seseorang. Kata ini berasal dari kata dasar "remeh" yang berarti tidak penting atau tidak berharga, kemudian mendapat imbuhan "me-kan" yang menjadikannya sebagai kata kerja.
Meremehkan adalah tindakan atau sikap yang menunjukkan ketidakpedulian, pengabaian, atau penilaian negatif terhadap kemampuan, prestasi, atau keberadaan orang lain. Sikap ini melibatkan penurunan nilai atau martabat seseorang melalui kata-kata, tindakan, atau ekspresi yang merendahkan.
Dalam konteks psikologi komunikasi, meremehkan dapat dikategorikan sebagai bentuk agresi verbal yang bertujuan untuk menurunkan harga diri orang lain. Sikap ini sering muncul dari perasaan superioritas, ketidakamanan, atau keinginan untuk mendominasi dalam suatu hubungan sosial.
Mengutip dari buku Ungkapan-Ungkapan Diskriminasi karya Dr. Nunun Tri Widarwati, sikap meremehkan sering kali muncul dalam bentuk ungkapan diskriminasi yang dapat merendahkan martabat seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa meremehkan bukan hanya masalah komunikasi biasa, tetapi dapat berkembang menjadi bentuk diskriminasi sosial yang lebih serius.
Sikap meremehkan dapat diekspresikan melalui berbagai cara, mulai dari komentar sarkastik, pandangan merendahkan, hingga pengabaian total terhadap pendapat atau kontribusi seseorang. Dalam era digital saat ini, meremehkan juga dapat terjadi melalui media sosial dalam bentuk cyberbullying atau komentar negatif yang merendahkan.
Menurut buku Lentera Literasi Digital Indonesia karya Siswantini Amihardja dkk, sikap meremehkan dalam konteks digital dapat berkembang menjadi bentuk perundungan atau bullying yang lebih serius. Perundungan verbal yang meremehkan dapat menyebabkan korban merasa tidak nyaman, tertekan, bahkan mengalami trauma psikologis.
Sikap meremehkan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang signifikan, baik bagi korban maupun pelaku. Dampak-dampak ini dapat mempengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, dan produktivitas dalam berbagai aspek kehidupan.
Mengutip dari buku Keperawatan Jiwa karya H. Tukatman dkk, dampak psikologis dari sikap meremehkan dapat menyebabkan seseorang mengalami harga diri rendah kronik. Kondisi ini ditandai dengan perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah, merendahkan martabat diri, dan pandangan hidup yang pesimistis.
Sikap meremehkan tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal yang membentuk pola pikir dan perilaku seseorang. Memahami faktor-faktor ini penting untuk mencegah dan mengatasi sikap meremehkan.
Menurut buku Perempuan, Masyarakat Patriarki & Kesetaraan Gender karya Lusia Palulungan dkk, sikap meremehkan sering kali muncul dalam konteks diskriminasi gender dan sosial. Sistem budaya yang menempatkan kelompok tertentu sebagai superior dapat menciptakan pola pikir yang meremehkan kelompok lain yang dianggap inferior.
Mengatasi sikap meremehkan memerlukan pendekatan yang komprehensif, baik dari sisi pencegahan maupun penanganan ketika sikap tersebut sudah terlanjur muncul. Strategi yang efektif melibatkan pengembangan kesadaran diri, keterampilan komunikasi, dan empati.
Mengutip dari buku Akhlak karya BISRI, M.FIL.I, sikap rendah hati merupakan lawan dari sikap meremehkan. Rendah hati berarti bersikap merendahkan diri untuk tidak bersikap sombong, dan termasuk dalam kategori akhlak terpuji yang perlu dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kritik konstruktif bertujuan untuk membantu perbaikan dengan memberikan masukan yang spesifik dan solusi, sementara meremehkan bertujuan untuk merendahkan tanpa memberikan nilai tambah atau solusi yang membangun.
Tetap tenang dan jangan terpancing emosi. Sampaikan dengan tegas bahwa Anda tidak menerima perlakuan tersebut, fokus pada fakta dan pencapaian Anda, serta jika perlu, batasi interaksi dengan orang yang sering meremehkan.
Tidak selalu. Banyak orang yang meremehkan tanpa menyadari dampak negatif dari kata-kata atau tindakan mereka. Hal ini sering terjadi karena kurangnya kesadaran diri dan empati terhadap perasaan orang lain.
Ya, terapi atau konseling dapat membantu seseorang memahami akar penyebab sikap meremehkan, mengembangkan empati, dan mempelajari pola komunikasi yang lebih sehat dan konstruktif.
Dampak jangka panjang dapat berupa harga diri rendah kronik, kecemasan sosial, depresi, kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal, dan penurunan motivasi untuk berkembang atau berprestasi.
Berikan contoh perilaku yang menghargai orang lain, ajarkan empati melalui cerita dan diskusi, hindari membandingkan anak dengan orang lain secara negatif, dan berikan pujian ketika anak menunjukkan sikap menghargai terhadap orang lain.
Ya, meremehkan dapat menjadi salah satu bentuk bullying verbal. Ketika dilakukan secara berulang dan sistematis dengan tujuan menyakiti atau menekan orang lain, sikap meremehkan dapat dikategorikan sebagai perundungan yang memerlukan penanganan serius.