Kapanlagi.com - Dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, kita sering mendengar kalimat "tabarakallah" yang diucapkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan atau indah. Kalimat ini telah menjadi bagian dari ungkapan yang populer di kalangan Muslim, baik dalam percakapan langsung maupun di media sosial.
Namun, apakah kita benar-benar memahami apa arti tabarakallah dan kapan waktu yang tepat untuk mengucapkannya? Pemahaman yang mendalam tentang makna dan penggunaan kalimat ini sangat penting agar kita dapat menggunakannya dengan benar sesuai tuntunan agama.
Mengutip dari Ensiklopedi Budaya Islam Nusantara, kata "berkah" atau "barokah" berasal dari bahasa Arab al-barakah yang memiliki arti pertumbuhan, pertambahan, dan kebaikan. Ar-Raghib al-Asfihânî mendefinisikan al-barakah sebagai "tsubût al-khair al-ilâhî fî syai" yang berarti tetapnya kebaikan Tuhan di dalam sesuatu.
Tabarakallah (ØªÙØ¨ÙارÙÙ٠اÙÙÙÙ) secara harfiah berarti "Maha Berkah Allah" atau "Allah Maha Suci". Kalimat ini merupakan bentuk pujian yang ditujukan kepada Allah SWT atas keagungan dan keberkahan-Nya. Dalam konteks penggunaan sehari-hari, tabarakallah sering diartikan sebagai ungkapan kekaguman terhadap ciptaan Allah yang menakjubkan.
Kata tabarakallah berasal dari akar kata "baraka" (برÙ) yang bermakna berkah atau keberkahan. Menurut para ulama tafsir, kalimat ini mengandung makna agung, melimpah, dan terus-menerus, yakni keberkahan yang bersifat kekal dari Allah SWT kepada makhluk-Nya.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: "ØªÙØ¨ÙارÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙ Ø±ÙØ¨Ù٠اÙÙØ¹ÙاÙÙÙ ÙÙÙÙ" (TabÄrakallÄhu rabbul-'ÄlamÄ«n) yang artinya "Maha Berkah Allah, pemelihara sekalian alam" (QS. Al-A'raf: 54). Ayat ini menunjukkan bahwa tabarakallah adalah bentuk pujian yang sangat mulia kepada Allah SWT.
Melansir dari Tradisi & Kebudayaan Nusantara, arti barokah adalah adanya nilai lebih dari apa yang dimiliki. Disebut barokah ketika apa yang ada pada diri seseorang tidak hanya sebatas nilai materi semata, namun juga memiliki nilai kebaikan lebih yang tidak menyebabkan pemiliknya menjadi terhina di hadapan Allah SWT maupun manusia.
Banyak orang yang masih keliru membedakan antara tabarakallah dan barakallah. Kedua kalimat ini memiliki makna dan penggunaan yang berbeda meskipun sama-sama berkaitan dengan keberkahan.
Tabarakallah (ØªÙØ¨ÙارÙÙ٠اÙÙÙÙ) artinya "Allah Maha Berkah" dan merupakan bentuk pujian kepada Allah SWT. Kalimat ini digunakan ketika kita kagum atau takjub terhadap sesuatu sebagai bentuk pengagungan kepada Allah. Sedangkan barakallah (Ø¨ÙØ§Ø±ÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙ) artinya "semoga Allah memberkahi" dan merupakan bentuk doa yang ditujukan kepada seseorang.
Penggunaan yang tepat adalah mengucapkan barakallah ketika hendak mendoakan seseorang, misalnya "barakallah fiik" (semoga Allah memberkahimu). Sementara tabarakallah diucapkan ketika kita kagum dengan keindahan ciptaan Allah sebagai bentuk dzikir dan pujian.
Contoh penggunaan barakallah: "Selamat atas kelahiran putramu, barakallah." Contoh penggunaan tabarakallah: "Tabarakallah, pemandangan ini sangat indah sekali."
Tabarakallah dapat diucapkan dalam berbagai situasi sebagai bentuk pujian kepada Allah SWT. Berikut adalah waktu-waktu yang tepat untuk mengucapkan kalimat ini:
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim, Rasulullah SAW bersabda: "Jika salah satu dari kalian melihat pada diri saudaranya sesuatu yang menakjubkan, maka doakanlah keberkahan untuknya, karena mata 'ain itu nyata." Hadits ini menunjukkan pentingnya mengucapkan doa keberkahan ketika melihat sesuatu yang mengagumkan.
Kalimat tabarakallah dan turunannya disebutkan dalam berbagai ayat Al-Qur'an sebagai bentuk pujian kepada Allah SWT. Berikut adalah beberapa ayat yang mengandung kalimat tabarakallah:
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa penggunaan kalimat tabarakallah memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur'an sebagai bentuk pujian dan pengagungan kepada Allah SWT.
Ketika seseorang mengucapkan tabarakallah kepada kita, Islam mengajarkan untuk membalasnya dengan ucapan yang baik. Berikut adalah beberapa cara yang tepat untuk menjawab ucapan tabarakallah:
Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian, maka balaslah dia. Jika kalian tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah dia" (HR. Abu Dawud). Hadits ini menunjukkan pentingnya membalas kebaikan dengan kebaikan pula.
Mengucapkan tabarakallah memiliki banyak manfaat dan keutamaan dalam kehidupan seorang Muslim. Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh:
Mengutip dari kitab Aqidah, kalimat thayyibah seperti tabarakallah termasuk ke dalam al-Baqiyat ash-Shalihat (amalan kekal yang saleh). Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: "Mengucapkan subhana Allah, wa-Alhamdu li-Allah, La ilah illa-Allah, wa-Allah Akbar adalah benar-benar lebih aku sukai dari pada sesuatu yang matahari terbit kepadanya (dunia dan seisinya)" (HR. Muslim, Tirmidzi).
Tidak persis sama, meskipun keduanya merupakan bentuk pujian kepada Allah. Masyaallah bermakna "apa yang dikehendaki Allah", sedangkan tabarakallah berarti "Allah Maha Berkah". Keduanya sering digunakan bersamaan sebagai ungkapan kekaguman.
Ya, boleh mengucapkan tabarakallah sebagai bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan kepada diri sendiri. Namun lebih utama jika disertai dengan rasa syukur dan tidak menimbulkan kesombongan.
Tabarakallah dapat diucapkan kapan saja, terutama ketika melihat sesuatu yang menakjubkan, ingin mendoakan keberkahan, atau sebagai dzikir sehari-hari. Tidak ada batasan waktu khusus untuk mengucapkannya.
Ya, ada perbedaan makna. Tabarakallah berarti "Allah Maha Berkah", sedangkan subhanallah berarti "Maha Suci Allah". Keduanya adalah bentuk pujian kepada Allah dengan penekanan yang berbeda.
Ajarkan anak-anak dengan memberikan contoh langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ketika melihat sesuatu yang indah, ucapkan tabarakallah dan jelaskan maknanya dengan bahasa yang mudah dipahami anak.
Ya, berdasarkan hadits Rasulullah SAW, mengucapkan doa keberkahan seperti tabarakallah ketika melihat sesuatu yang menakjubkan dapat melindungi dari penyakit 'ain atau mata jahat.
Tentu boleh, bahkan dianjurkan untuk menyebarkan kalimat-kalimat thayyibah di media sosial sebagai bentuk dakwah dan pengingat kebaikan. Namun pastikan penggunaannya sesuai dengan konteks dan tidak berlebihan.