Kapanlagi.com - Cara membuat pupuk kandang yang benar pada dasarnya adalah proses mengomposkan kotoran ternak hingga matang dan aman bagi akar. Kuncinya ada pada pencampuran kotoran dengan bahan kaya karbon, pengaturan kelembaban, serta pembalikan tumpukan secara berkala.
Kotoran segar tidak boleh langsung ditebar karena kadar amonia dan nitrogennya masih tinggi sehingga berisiko membakar tanaman. Dengan menerapkan cara membuat pupuk kandang yang benar, limbah ternak berubah menjadi pupuk organik gembur yang menyuburkan tanah.
Para ahli pertanian sepakat bahwa pengomposan bekerja karena mikroorganisme aerob menguraikan bahan organik menjadi humus yang stabil. Proses tersebut memunculkan panas tinggi yang mampu membunuh biji gulma serta patogen sehingga pupuk lebih aman dipakai.
Advertisement
Cara membuat pupuk kandang yang benar paling cepat dilakukan melalui fermentasi dengan bantuan aktivator mikroba seperti EM4. Metode ini memangkas waktu pengomposan yang tadinya bisa dua bulan menjadi sekitar dua hingga empat minggu, sekaligus menghasilkan tekstur remah yang mirip pupuk kompos berkualitas.
Berdasarkan panduan Iowa State University Extension, pengomposan berjalan paling efisien ketika rasio karbon dan nitrogen (C:N) berada di kisaran ideal 25:1 hingga 30:1, meski rentang 20:1 sampai 40:1 masih dapat diterima. Prinsip yang sama berlaku pada praktik komposting rumahan yang mengandalkan keseimbangan bahan hijau dan cokelat.
Siapkan alat dan bahan: Kumpulkan kotoran ternak (sapi, kambing, atau ayam), bahan kaya karbon seperti sekam atau serbuk gergaji, dedak, molase atau gula merah, EM4, air, terpal, serta sekop. Bahan tambahan ini menjadi fondasi cara membuat pupuk kandang yang benar sejak awal.
Campurkan sumber nitrogen dan karbon: Aduk kotoran ternak (kaya nitrogen) dengan bahan cokelat seperti jerami cincang atau arang sekam hingga merata. Campuran seimbang mencegah tumpukan terlalu basah, berbau menyengat, dan lambat terurai.
Buat larutan aktivator: Larutkan molase atau gula merah dan EM4 ke dalam air, umumnya dengan dosis sekitar 5 ml per liter, lalu diamkan beberapa saat. Gula berfungsi sebagai sumber energi agar mikroba cepat berkembang biak.
Atur kelembaban tumpukan: Siramkan larutan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga kelembaban mencapai sekitar 40 sampai 60 persen. Uji dengan menggenggam bahan; jika tidak menetes tetapi terasa lembap seperti spons yang diperas, berarti kadar air sudah tepat.
Bentuk gundukan dan tutup rapat: Susun campuran menjadi tumpukan yang cukup besar, minimal berukuran sekitar satu meter kubik agar mampu menahan panas, lalu tutup dengan terpal. Ukuran yang terlalu kecil membuat tumpukan sulit memanas.
Pantau suhu dan balik tumpukan: Suhu tumpukan akan naik hingga sekitar 45 sampai 70 derajat Celsius dalam beberapa hari pertama. Mengacu pada riset North Dakota State University, pengomposan yang sehat berlangsung pada fase termofilik 45 sampai 71 derajat Celsius dengan sekitar 50 persen ruang pori berisi air dan sisanya udara, sehingga pembalikan penting untuk memasok oksigen.
Masuk tahap pematangan (curing): Setelah suhu mulai turun, biarkan tumpukan matang. Idealnya proses berlangsung 14 hingga 30 hari sebelum pupuk benar-benar stabil.
Uji kematangan pupuk: Pupuk siap dipakai ketika suhunya kembali sedingin suhu ruang, teksturnya remah, warnanya cokelat kehitaman, dan baunya seperti tanah, bukan amonia menyengat. Volumenya juga menyusut sekitar 30 hingga 40 persen dari berat awal.
Nick Andrews, spesialis sayuran organik, dikutip dari Oregon State University Extension menjelaskan, "Dibutuhkan setidaknya setengah yard kubik bahan organik segar agar tumpukan kompos memanas dan mencapai suhu yang dianjurkan untuk pengomposan panas; tumpukan juga harus memiliki rasio karbon-nitrogen yang seimbang serta kelembaban dan udara yang cukup."
Andrea Stroeve-Sawa, peternak sekaligus praktisi kompos, dikutip dari RealAgriculture menerangkan, "Semakin banyak jerami, semakin tinggi kandungan karbonnya; dan semakin banyak kotoran ternak, semakin tinggi kandungan nitrogennya." Untuk versi cair, Anda juga bisa mempelajari pupuk organik cair yang memakai prinsip fermentasi serupa.
Bila tidak memiliki EM4, cara membuat pupuk kandang yang benar tetap bisa ditempuh secara alami melalui metode terbuka maupun tertutup. Metode terbuka mengandalkan penguraian di udara bebas yang cenderung cepat, sedangkan metode tertutup memanfaatkan lubang tanah agar proses lebih terkendali dan minim bau.
Chryseis Modderman, penyuluh manajemen pupuk kandang, dikutip dari University of Minnesota Extension menegaskan, "Pupuk kandang yang sekadar dibiarkan menua bukanlah pupuk kandang yang dikomposkan." Artinya, timbunan yang hanya didiamkan bertahun-tahun tanpa pengelolaan aktif belum tentu menjadi pupuk matang yang aman.
Kurangi kadar air kotoran: Untuk metode terbuka, jemur kotoran ternak di bawah sinar matahari selama satu hingga dua hari agar airnya berkurang. Langkah ini mempercepat penguraian dan mengurangi bau.
Pilih dan siapkan lokasi: Gunakan tempat beratap tanpa dinding agar sirkulasi udara lancar, atau gali lubang tanah untuk metode tertutup. Lokasi sebaiknya lebih tinggi dari sekitarnya dan jauh dari sumber air agar tidak tergenang saat hujan.
Tumpuk atau masukkan kotoran: Susun kotoran secara berlapis pada metode terbuka, atau isi lubang tanpa sampai penuh pada metode tertutup. Dasar lubang dibiarkan tanah agar sisa air bisa meresap.
Taburkan kapur pertanian: Khusus metode tertutup, taburkan kapur pertanian atau dolomit tipis merata di atas permukaan kotoran. Kapur membantu menetralkan keasaman sekaligus mengurangi bau.
Tutup atau timbun: Tutup timbunan terbuka dengan terpal, atau timbun lubang dengan tanah pada metode tertutup. Penutupan menjaga kelembaban sekaligus melindungi dari hujan langsung.
Diamkan hingga matang: Metode terbuka umumnya matang dalam sekitar dua bulan, sementara metode tertutup butuh tiga hingga empat bulan sampai kotoran terdekomposisi sempurna.
Periksa hasil akhir: Pastikan pupuk sudah dingin, gembur, dan tidak berbau busuk sebelum digunakan. Timbunan yang masih panas dan berbau amonia menandakan proses belum selesai.
Bagi yang tidak punya lahan khusus pengomposan, memfermentasi pupuk langsung di area tanam bisa menjadi solusi praktis. Metode ini sekaligus menyiapkan lahan agar subur, dan tetap menjadi bagian dari cara membuat pupuk kandang yang benar selama tahapannya diikuti dengan disiplin.
Menurut para praktisi pertanian, penguraian yang berlangsung langsung di dalam tanah menuntut kelembaban dan waktu yang cukup agar panas serta amonia mereda sebelum bibit ditanam. Racikan tanah yang gembur juga bisa dipelajari lewat panduan membuat media tanam sendiri.
Olah tanah dan buat bedengan: Cangkul atau bajak tanah hingga gembur, lalu bentuk bedengan setinggi sekitar 50 sampai 60 cm dengan saluran drainase di sisinya. Struktur remah memudahkan pencampuran pupuk nantinya.
Tabur pupuk kandang di tengah bedengan: Buat alur memanjang di tengah, lalu tebarkan pupuk kandang dengan ketebalan sekitar 3 sampai 5 cm. Pada tahap ini pupuk dasar tambahan boleh diikutsertakan agar hara tersedia sejak awal.
Siramkan larutan dekomposer: Basahi pupuk dengan larutan dekomposer secara merata agar penguraian berjalan cepat dan stabil. Jaga kondisi lembap, tidak becek, agar tidak memicu pembusukan anaerob yang berbau.
Aduk bersama tanah: Campur pupuk dengan tanah bedengan supaya menyebar merata dan suhu fermentasi tidak terlalu panas di satu titik. Pengadukan juga menstabilkan proses.
Ratakan dan tutup mulsa: Rapikan permukaan bedengan, lalu tutup dengan mulsa plastik untuk menjaga kelembaban, meningkatkan suhu, sekaligus menekan gulma.
Diamkan sekitar 14 hari: Biarkan proses fermentasi berlangsung di bawah mulsa. Setelah dua minggu, mulsa dapat dilubangi untuk persiapan tanam.
Beri jeda sebelum menanam: Diamkan lagi sekitar satu minggu setelah dilubangi. Bedengan siap ditanami bila tanah tidak lagi terasa panas dan bau menyengat sudah hilang.
Selain langkah teknis, ada sejumlah prinsip yang memisahkan pupuk kandang matang dari kotoran yang belum layak pakai. Memahami poin-poin ini membantu Anda menghindari tanaman gosong, bau tak sedap, hingga risiko kesehatan.
Barbara Shea, seorang master gardener, dikutip dari Family Handyman mengingatkan, "Pupuk kandang segar bukanlah pilihan; kotoran itu mengandung nitrogen dalam jumlah berlebih dan dapat membakar tanaman." Sementara itu, Robyn Stewart, penyuluh dari University of Georgia, menuturkan, "Dari sudut pandang kebun pangan, kami selalu merekomendasikan pupuk kandang yang sudah dikomposkan."
Seimbangkan rasio karbon dan nitrogen: Dilansir dari Cornell University, rasio C:N ideal untuk pengomposan berkisar 30:1; jika terlalu rendah, nitrogen berlebih terlepas sebagai gas amonia dan memunculkan bau tak sedap.
Capai suhu yang cukup untuk sterilisasi: Sebagaimana dilaporkan USDA, memanaskan tumpukan hingga sekitar 63 derajat Celsius selama minimal tiga hari mampu membunuh sebagian besar biji gulma dan patogen di dalam kotoran.
Jaga kelembaban dan pasok oksigen: Tumpukan yang terlalu basah memicu bau, sedangkan yang terlalu kering menghambat mikroba. Balik tumpukan secara berkala agar udara masuk merata sampai ke bagian dalam.
Buat tumpukan berukuran memadai: Tumpukan yang terlalu kecil tidak mampu menahan panas, sehingga proses dekomposisi melambat dan sterilisasi tidak optimal.
Hindari kotoran berisiko tinggi: Kotoran anjing, kucing, dan babi sebaiknya tidak dipakai di kebun pangan karena berpotensi membawa parasit yang berbahaya bagi manusia.
Beri jeda sebelum panen: Merujuk panduan Colorado State University Extension, University of Idaho menyarankan mengaplikasikan pupuk kandang setidaknya 60 hari sebelum memanen sayuran yang dikonsumsi mentah untuk menekan risiko penyakit bawaan makanan.
Waspadai residu herbisida: Kotoran dari ternak yang memakan hijauan bekas semprotan herbisida persisten dapat merusak tanaman sensitif. Tanaman tomat sering menjadi indikator paling awal jika ada residu bahan kimia dalam pupuk.
Aplikasikan tipis dan jangan berlebihan: Sebarkan pupuk matang dalam lapisan tipis dan campurkan ke lapisan atas tanah. Pemberian berlebih tahun demi tahun bisa memicu penumpukan garam dan hara yang justru merugikan.
Kenali ciri pupuk matang: Pupuk siap pakai berwarna cokelat kehitaman, bertekstur remah, dingin, dan beraroma tanah. Jika masih panas dan berbau busuk, tundalah penggunaannya.
Setelah matang, pupuk kandang dapat dipadukan dengan pupuk NPK untuk melengkapi kebutuhan hara, atau digunakan tunggal sebagai pupuk organik pembenah tanah. Campuran pupuk kandang matang, tanah, dan sekam dengan perbandingan sekitar 2:1:1 terbukti cocok untuk banyak komoditas, mulai dari tanaman cabai hingga sayuran daun.
Baca juga: Panduan Menanam Kacang Panjang di Polybag agar Panen Melimpah
Baca juga: Cara Menanam Belimbing Manis dalam Pot agar Cepat Berbuah
Pupuk kandang juga cocok mendukung tanaman buah dan hias, seperti srikaya, sayuran daun katuk, hingga bunga kenanga di teras rumah. Bahkan untuk menyelamatkan tanaman hias yang hampir mati, penggantian media dengan campuran kaya kompos sering menjadi kunci pemulihan.
Di musim penghujan, aplikasikan pupuk secukupnya dan jaga drainase agar tanaman tidak mudah busuk saat musim hujan. Dengan nutrisi tanah yang terjaga, upaya membuat cabai berbuah lebat pun jadi lebih ringan, apalagi jika dipadukan dengan pupuk tambahan dari kulit pisang maupun cangkang telur.
Lamanya bergantung pada metode yang dipakai. Dengan bantuan aktivator seperti EM4, pupuk kandang umumnya matang dalam 2 sampai 4 minggu, sedangkan metode alami tanpa aktivator bisa memakan waktu 2 hingga 4 bulan tergantung suhu, kelembaban, dan seberapa rutin tumpukan dibalik.
Pupuk kandang matang memiliki suhu yang sudah dingin atau setara suhu ruang, tekstur remah dan gembur, warna cokelat tua hingga kehitaman, serta beraroma tanah, bukan bau amonia menyengat. Volumenya juga menyusut dan bahan kasarnya sudah terurai.
Sebaiknya tidak. Kotoran segar mengandung amonia, nitrogen larut, garam, biji gulma, dan patogen yang dapat membakar akar serta menimbulkan risiko kesehatan, sehingga perlu dikomposkan atau diberi jeda cukup lama sebelum diaplikasikan ke tanaman pangan.
Daftar Referensi
(kpl/cel)