Kapanlagi.com - Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam usaha peternakan, bahkan bisa mencapai 60–70% dari total biaya produksi. Bagi peternak skala kecil hingga menengah di Indonesia, ketergantungan pada pakan pabrik yang harganya terus naik menjadi ancaman serius terhadap profitabilitas usaha. Fermentasi pakan hadir sebagai solusi ilmiah yang telah terbukti mampu mengubah limbah pertanian menjadi pakan bernutrisi tinggi dengan biaya yang jauh lebih terjangkau.
Mengacu pada riset yang dipublikasikan Feed Strategy, kemampuan fermentasi dalam meningkatkan kualitas nutrisi bahan baku pakan mencakup empat aspek utama: meningkatkan ketersediaan protein dan asam amino, menurunkan kadar serat, meningkatkan kadar vitamin B, serta mengurangi faktor anti-nutrisi yang menghambat penyerapan mineral. Prinsip-prinsip ini menjadi fondasi mengapa semakin banyak peternak beralih ke teknik fermentasi mandiri.
Lisa Steele, penulis buku terlaris dan pakar peternakan ayam generasi ke-5, dikutip dari Kapanlagi.com menyatakan, "Fermentasi menciptakan probiotik yang membantu pencernaan dan kesehatan usus dengan mempromosikan bakteri 'baik' di dalam usus." Baca juga: fermentasi pakan ayam modal 30 ribu yang terbukti hemat.
Advertisement
Proses ini bukan sekadar pengawetan tradisional. Berdasarkan data dari NCBI (National Center for Biotechnology Information), saat pakan difermentasi, tingkat keasaman meningkat karena kadar bakteri asam laktat dan ragi pada awalnya rendah. Selama periode stabilisasi, populasi Lactobacillus meningkat dan keasaman menurun, menciptakan lingkungan yang optimal untuk pengembangan nutrisi sekaligus menekan pertumbuhan patogen berbahaya.
Sebagaimana dikutip dari jurnal MDPI Fermentation, faktor anti-nutrisi (ANF) adalah senyawa yang diproduksi tanaman sebagai mekanisme pertahanan, dan dalam konsentrasi tinggi, senyawa ini menghambat sifat nutrisi pakan. Fermentasi padat (solid-state fermentation) dengan bakteri asam laktat terbukti sebagai metode yang efektif untuk mengurangi faktor anti-nutrisi ini sekaligus memperkaya kandungan protein.
Baca juga: khasiat menakjubkan bakteri baik dalam makanan fermentasi untuk tubuh.
Mengutip laporan dari NCBI, riset menunjukkan bahwa fermentasi dapat meningkatkan bioavailabilitas nutrisi pakan melalui beberapa mekanisme: meningkatkan kandungan protein kasar, menurunkan kadar serat, meningkatkan pemanfaatan vitamin, memperbaiki pola asam amino dan kelarutan protein, serta mendegradasi faktor anti-nutrisi dengan enzim seperti fitase, xilanase, selulase, dan glukanase. Fermentasi juga meningkatkan kadar vitamin B termasuk asam folat, riboflavin, niasin, dan tiamin yang tidak ada sebelum proses fermentasi.
Pakan fermentasi mengandung konsentrasi tinggi bakteri asam laktat yang menurunkan pH saluran pencernaan bagian atas. Kondisi asam ini menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi bakteri patogen seperti Salmonella dan E. coli, sementara bakteri menguntungkan berkembang pesat. Sebagaimana dilaporkan Feed Strategy, konsentrasi bakteri asam laktat yang tinggi dan pH rendah menyebabkan penurunan jumlah enterobakteria pada unggas yang diberi pakan fermentasi.
Baca juga: cara ternak ayam petelur untuk telur setiap hari tanpa beli pakan mahal.
Salah satu temuan paling signifikan dari riset modern adalah potensi pakan fermentasi dalam menggantikan antibiotik. Merujuk riset dari Frontiers in Veterinary Science, pakan fermentasi telah muncul sebagai strategi efektif untuk mengurangi atau menggantikan penggunaan antibiotik dalam pakan ternak. Peternak yang menerapkan sistem pakan fermentasi melaporkan pengurangan penggunaan antibiotik yang signifikan karena ternak secara alami lebih tahan terhadap penyakit pernapasan dan pencernaan.
Ketika pakan difermentasi, volume dan ketersediaan nutrisinya meningkat secara bersamaan. Ternak mengekstrak lebih banyak nutrisi dari setiap gram pakan fermentasi, sehingga mengonsumsi lebih sedikit pakan untuk hasil yang sama atau bahkan lebih baik. Pada unggas misalnya, ayam yang diberi pakan fermentasi makan sepertiga lebih sedikit per hari sambil tetap mendapat nutrisi yang cukup.
Berdasarkan riset yang dipublikasikan NCBI PMC, pakan fermentasi menghasilkan antioksidan termasuk vitamin, enzim, peptida, dan senyawa molekul kecil yang mampu menetralisir radikal bebas dalam tubuh ternak, mengurangi stres oksidatif, dan melindungi sel dari kerusakan. Hal ini menjadikan pakan fermentasi bukan sekadar sumber energi, tetapi juga pelindung kesehatan ternak secara menyeluruh.
Ketersediaan bahan pakan lokal di Indonesia sangat melimpah, mulai dari jerami padi, dedak, rumput gajah, hingga ampas tahu. Dengan teknik fermentasi yang tepat, semua bahan ini bisa diubah menjadi pakan bernutrisi tinggi. Berikut panduan lengkap untuk tiga jenis bahan pakan yang paling mudah ditemukan.
Hijauan segar seperti rumput gajah sangat bergantung pada musim hujan. Dengan fermentasi, peternak bisa menyimpan persediaan pakan hingga satu tahun tanpa kehilangan nutrisi penting. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Baca juga: langkah ternak ayam di atap rumah untuk penuhi gizi keluarga.
Jerami padi merupakan limbah pertanian yang ketersediaannya melimpah namun sering dibuang atau dibakar. Tanpa fermentasi, kandungan silika dan lignin yang tinggi menghambat penyerapan nutrisi. Fermentasi mengurai serat kompleks tersebut sehingga nutrisi jerami dapat dicerna dengan baik oleh ternak ruminansia.
Dedak padi mengandung protein kasar 12,9% namun tidak tahan lama karena aktivitas enzim penyebab ketengikan. Dengan fermentasi, dedak bisa bertahan hingga 3 bulan dan kualitasnya justru meningkat. Sementara ampas tahu memiliki protein mencapai 24,5%, menjadikannya bahan pakan potensial yang sangat ekonomis.
Untuk dedak padi: Campurkan 20 kg dedak segar dengan larutan 3% EM4, 3% molase, dan 25% air dari berat dedak. Aduk rata, masukkan ke wadah kedap udara, simpan 2–3 hari di suhu ruang.
Untuk ampas tahu: Peras hingga kering, kukus 30 menit untuk sterilisasi, dinginkan, campurkan ragi tape (5–7 butir per 25 kg) dan mineral B12 0,5 kg, masukkan ke wadah kedap udara selama 2–3 hari. Fermentasi berhasil jika tercium bau harum khas tape.
Baca juga: cara bikin tempe sendiri untuk lauk bergizi.
Sebagaimana diungkapkan NCBI, ketika pakan fermentasi digunakan, biaya secara signifikan berkurang dengan memaksimalkan efisiensi pakan dan mengurangi jumlah feses yang diproduksi karena tingginya pencernaan dan penyerapan nutrisi. Ternak yang diberi pakan fermentasi menghasilkan output kotoran 20–30% lebih sedikit dibandingkan metode pemberian pakan konvensional. Pengurangan ini menurunkan biaya pengelolaan limbah peternakan dan meminimalkan dampak lingkungan.
Riset dari ResearchGate menunjukkan bahwa fermentasi padat berdampak positif pada komposisi nutrisi pakan, performa ternak, status biokimia darah, morfologi usus, mikrobiota usus, serta berpotensi mengurangi emisi gas metana enterik dari ternak ruminansia. Temuan ini sangat relevan mengingat emisi gas rumah kaca dari peternakan menjadi perhatian global.
Limbah kotoran dari ternak yang diberi pakan fermentasi umumnya lebih berkualitas sebagai bahan pupuk organik atau biogas alami. Pendekatan ini selaras dengan tren peternakan berkelanjutan yang semakin digalakkan di seluruh dunia. Baca juga: cara budidaya lele untuk stok protein tanpa modal besar.
Resistensi antibiotik menjadi salah satu ancaman kesehatan publik terbesar abad ini. Penggunaan antibiotik secara berlebihan dalam pakan ternak berkontribusi signifikan terhadap masalah ini. Pakan fermentasi menawarkan jalan keluar yang menjanjikan.
Berdasarkan riset NCBI PMC, tren global saat ini mengarah pada pelarangan antibiotik dalam pakan ternak (ban of antibiotics), yang mendorong penelitian intensif terhadap alternatif seperti probiotik, peptida antimikroba, aditif herbal, serta asam organik. Pakan fermentasi yang kaya probiotik muncul sebagai salah satu alternatif paling praktis dan ekonomis, terutama bagi peternak di negara berkembang.
Prof. David S. Ludwig dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, dikutip dari Kapanlagi.com menegaskan, "Hampir seluruh masyarakat di dunia dan sepanjang sejarah telah memasukkan makanan fermentasi sebagai bagian dari pola makan mereka."
Prinsip yang sama berlaku untuk nutrisi ternak. Pakan fermentasi menciptakan lingkungan asam alami dengan pH 4,0–4,5 yang efektif menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk tanpa memerlukan bahan pengawet kimia atau antibiotik buatan. Baca juga: 5 makanan fermentasi yang menjadi solusi krisis gizi Indonesia.
Ciri fermentasi yang berhasil:
Tanda fermentasi gagal:
Jika menemukan tanda-tanda kegagalan, buang seluruh bahan dan ulangi proses fermentasi. Pastikan kadar air tepat 40–60%, wadah benar-benar kedap udara, dan starter yang digunakan masih segar. Agar proses berhasil, diperlukan kehangatan, mikroorganisme menguntungkan, serta proses yang ketat untuk menghindari kontaminasi.
Baca juga: ternak ayam petelur modal 500 ribu untuk hemat belanja telur.
Pakan fermentasi cocok untuk berbagai jenis ternak, namun komposisi dan proporsi pemberian perlu disesuaikan. Untuk ternak yang baru pertama kali menerima pakan fermentasi, mulailah dengan mencampurkan 25% pakan fermentasi dengan 75% pakan biasa, lalu tingkatkan proporsinya secara bertahap selama 1–2 minggu.
Jenis Ternak Proporsi Pakan Fermentasi Bahan Utama yang Direkomendasikan Sapi dan kerbau 30–50% dari total pakan Jerami fermentasi, rumput gajah silase Kambing dan domba 25–40% dari total pakan Hijauan fermentasi, dedak fermentasi Ayam kampung 10–30% dari total pakan harian Dedak, jagung giling, ampas tahu fermentasi Ayam petelur 5–10% dari total pakan Biji-bijian utuh fermentasi basah Ayam pedaging 10–20% dari total pakan Campuran dedak dan jagung fermentasi
Perlu diingat bahwa fermentasi paling mudah dilakukan dengan biji-bijian utuh atau yang sudah dipotong kasar. Pakan pelet akan berubah menjadi bubur jika difermentasi, sehingga kurang ideal. Baca juga: 13 jenis hewan ternak yang aman dan menguntungkan di Indonesia.
Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam peternakan. Bagi peternak unggas skala kecil, pakan bahkan bisa merepresentasikan lebih dari 70% dari total biaya produksi. Dengan memanfaatkan bahan lokal yang murah atau bahkan gratis seperti jerami, dedak, dan ampas tahu, peternak bisa menekan biaya pakan secara signifikan.
Berikut perkiraan penghematan berdasarkan skala usaha:
Selain penghematan langsung dari pakan, ada penghematan tersembunyi lainnya: biaya obat berkurang karena ternak lebih sehat, produksi telur dan daging meningkat, serta kotoran yang lebih kering mempermudah pengelolaan kandang.
Lisa Steele juga menegaskan, dikutip dari Kapanlagi.com, "Fermentasi memperkenalkan vitamin, khususnya vitamin B (asam folat, riboflavin, niasin, dan tiamin), yang tidak ada sebelum fermentasi."
Daya simpan pakan fermentasi sangat bergantung pada jenis bahan dan teknik penyimpanan. Hijauan fermentasi dalam silo tertutup rapat bisa bertahan 1–2 tahun. Dedak padi fermentasi bertahan hingga 3 bulan dalam kondisi kering, sedangkan ampas tahu fermentasi sekitar 2 bulan jika dikeringkan. Kunci utamanya adalah menjaga wadah tetap kedap udara dan menyimpan di tempat teduh. Selalu periksa aroma dan kondisi visual pakan sebelum diberikan ke ternak.
Pakan fermentasi sebaiknya dijadikan suplemen, bukan pengganti total pakan utama. Proporsi idealnya bervariasi tergantung jenis ternak: 10–30% untuk unggas dan 30–50% untuk ruminansia. Kombinasi pakan fermentasi dengan pakan utama memastikan ternak mendapat nutrisi lengkap dan seimbang. Baca juga: ternak 5 ekor ayam di lahan 2x3 meter untuk telur setiap hari.
Hampir semua limbah pertanian bisa difermentasi, antara lain: jerami padi, rumput gajah, dedak padi atau bekatul, ampas tahu, kulit singkong, daun singkong, batang jagung, ampas bir, dan sisa sayuran pasar. Pilihlah bahan yang tersedia melimpah di sekitar Anda dan pastikan kondisinya masih segar, bersih, serta bebas dari kontaminasi jamur atau bahan kimia berbahaya.
Pakan fermentasi yang dibuat dengan benar aman untuk ternak bunting karena kandungan probiotik dan nutrisinya justru mendukung kesehatan induk dan janin. Namun, pastikan pakan tidak mengandung alkohol berlebih (tanda fermentasi tidak sempurna) dan berikan dalam proporsi yang moderat. Konsultasikan dengan petugas penyuluh peternakan setempat untuk mendapatkan rekomendasi dosis yang tepat sesuai kondisi ternak Anda.
Mulailah dari bahan sederhana seperti dedak padi yang paling mudah ditemukan dan prosesnya paling singkat (2–3 hari). Gunakan starter EM4 yang tersedia di toko pertanian dengan harga terjangkau. Buat dalam jumlah kecil terlebih dahulu untuk bereksperimen, lalu tingkatkan skala setelah menguasai teknik dasarnya. Baca juga: panduan lengkap fermentasi pakan untuk ternak sehat.
Fermentasi pakan bukan sekadar tren sesaat, melainkan teknik yang telah dibuktikan secara ilmiah mampu meningkatkan kesehatan ternak, menekan biaya produksi, dan mendukung keberlanjutan lingkungan peternakan. Dengan memanfaatkan bahan lokal yang melimpah di Indonesia, setiap peternak kini memiliki akses untuk memproduksi pakan berkualitas tinggi secara mandiri. Mulailah dari skala kecil, konsisten dalam praktik, dan saksikan sendiri bagaimana ternak Anda tumbuh lebih sehat dan produktif tanpa harus bergantung pada pakan pabrik yang mahal.
Baca juga: budidaya lele di ember modal 150 ribu untuk hemat belanja ikan.
Daftar Referensi
(kpl/fed)