Cara Fermentasi Pakan untuk Ternak Sehat Tanpa Produk Bikinan Pabrik

Cara Fermentasi Pakan untuk Ternak Sehat Tanpa Produk Bikinan Pabrik
Cara Fermentasi Pakan untuk Ternak Sehat Tanpa Pakan Pabrik (h)

Kapanlagi.com - Cara fermentasi pakan untuk ternak sehat tanpa pakan pabrik merupakan solusi praktis bagi peternak yang ingin menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas nutrisi pakan. Teknik ini memanfaatkan aktivitas mikroorganisme seperti bakteri asam laktat dan ragi untuk mengubah bahan pakan lokal menjadi pakan bernutrisi tinggi yang mudah dicerna oleh hewan ternak.

Menerapkan cara fermentasi pakan untuk ternak sehat tanpa pakan pabrik memungkinkan peternak mengolah limbah pertanian seperti jerami, dedak, rumput gajah, hingga ampas tahu menjadi pakan berkualitas. Bakteri asam laktat dan mikroba menguntungkan lainnya yang berkembang selama fermentasi menciptakan sistem pengawetan alami yang memperpanjang daya simpan pakan tanpa bahan pengawet buatan.

Proses fermentasi telah digunakan untuk mengawetkan makanan selama ribuan tahun dan terbukti meningkatkan rasa, aroma, serta daya cerna berbagai bahan pangan. Dilansir dari Feed Strategy, kemampuan fermentasi dalam meningkatkan kualitas nutrisi bahan baku pakan terbukti empat kali lipat: meningkatkan kadar lemak, menurunkan kadar serat, meningkatkan ketersediaan protein dan asam amino, serta mengurangi faktor anti-nutrisi. Prinsip yang sama berlaku ketika peternak menerapkannya pada pakan ternak mereka.

1. 1. Cara Fermentasi Hijauan dan Rumput Gajah untuk Pakan Ternak

1. Cara Fermentasi Hijauan dan Rumput Gajah untuk Pakan Ternak (c) Ilustrasi AI

Bahan pakan hijauan seperti rumput gajah sangat bergantung pada ketersediaan musim hujan. Memahami cara fermentasi pakan untuk ternak sehat tanpa pakan pabrik dari bahan hijauan memungkinkan peternak menyimpan persediaan pakan untuk jangka panjang, bahkan hingga satu tahun, tanpa kehilangan nutrisi penting. Fermentasi pakan tidak hanya mengawetkan bahan pakan berkualitas tinggi untuk penggunaan jangka panjang, tetapi juga mendegradasi toksin, faktor anti-nutrisi, dan mikroorganisme berbahaya dalam bahan pakan berkualitas rendah.

Sebelum memulai, rumput gajah segar perlu dikeringkan hingga kadar air mencapai sekitar 60%. Proses pengeringan bisa dilakukan dengan alat pengering atau dijemur di bawah terik matahari untuk menekan biaya. Berikut langkah-langkah fermentasi hijauan secara lengkap.

(c)Ilustrasi AI

  1. Siapkan bahan utama dan pendukung: Kumpulkan rumput gajah atau hijauan lain sebagai bahan utama. Sediakan pula molase (tetes tebu) sebanyak 3% dari berat bahan, dedak halus 5%, onggok 3%, dan menir 3,5%. Siapkan silo atau kantong plastik tebal sebagai wadah fermentasi pakan.

  2. Potong hijauan menjadi ukuran kecil: Cacah rumput gajah menggunakan parang atau mesin chopper agar lebih mudah dipadatkan ke dalam silo. Ukuran potongan 2-5 cm sangat ideal untuk mempercepat proses fermentasi.

  3. Campurkan seluruh bahan pendukung: Aduk rata semua bahan pendukung yaitu molase, dedak halus, onggok, dan menir dengan hijauan yang sudah dicacah. Pastikan distribusi bahan merata agar proses fermentasi berjalan optimal di seluruh bagian campuran.

  4. Masukkan ke dalam silo dan padatkan: Isi campuran ke dalam silo sambil memadatkan setiap lapisan untuk meminimalkan rongga udara. Isi hingga melebihi permukaan silo sebagai antisipasi penyusutan selama proses fermentasi berlangsung.

  5. Tutup rapat dan beri pemberat: Lapisi permukaan silo dengan plastik tebal, kemudian tutup dengan rapat. Beri pemberat berupa batu atau kantong plastik berisi tanah agar tidak ada celah udara masuk yang bisa merusak proses fermentasi anaerob.

  6. Simpan selama 6-8 minggu: Diamkan silo dalam kondisi tertutup rapat selama 6 hingga 8 minggu. Jangan membuka tutup selama masa penyimpanan agar kondisi anaerob tetap terjaga dan bakteri fermentasi bekerja maksimal.

  7. Buka silo dan angin-anginkan sebelum diberikan ke ternak: Setelah masa fermentasi selesai, buka silo dan ambil pakan sesuai kebutuhan untuk 3-5 hari. Angin-anginkan terlebih dahulu sebelum diberikan pada hewan ternak, lalu tutup kembali silo dengan rapat.

Mengacu pada riset yang dipublikasikan Frontiers in Veterinary Science, mikroorganisme menguntungkan dalam pakan fermentasi, seperti bakteri asam laktat, menurunkan pH usus dengan memproduksi asam organik dan menghambat kolonisasi patogen usus melalui aktivitas antagonis, eksklusi kompetitif, dan produksi bakteriosin. Hal ini menjelaskan mengapa ternak yang diberi pakan fermentasi cenderung lebih sehat dan jarang mengalami gangguan pencernaan.

2. 2. Cara Fermentasi Jerami Padi sebagai Pakan Ternak Tanpa Pakan Pabrik

2. Cara Fermentasi Jerami Padi sebagai Pakan Ternak Tanpa Pakan Pabrik (c) Ilustrasi AI

Jerami padi merupakan limbah pertanian yang ketersediaannya melimpah di hampir setiap daerah, terutama saat musim panen tiba. Sayangnya, sebagian besar jerami masih dibakar begitu saja. Padahal, dengan menguasai cara fermentasi pakan untuk ternak sehat tanpa pakan pabrik dari bahan jerami, peternak bisa mengolahnya menjadi pakan alternatif yang bernilai nutrisi tinggi.

Jerami padi mengandung protein kasar sekitar 3,6% dan serat kasar 32%. Tanpa fermentasi, kandungan silika dan lignin yang tinggi pada jerami akan menghambat penyerapan nutrisi oleh hewan ternak. Fermentasi berperan mengurai serat kompleks tersebut sehingga nutrisi jerami dapat dicerna dengan baik. Berikut langkah praktisnya.

  1. Siapkan tempat yang aman dan teduh: Pilih lokasi yang terlindung dari sinar matahari langsung, curahan air hujan, dan genangan air. Kondisi ini penting untuk menjaga stabilitas suhu dan kelembapan selama proses fermentasi.

  2. Potong jerami kering menjadi ukuran kecil: Cacah jerami kering menggunakan parang atau mesin pencacah untuk mempercepat proses penguraian serat. Ukuran potongan yang lebih kecil memperluas permukaan kontak antara mikroba dan bahan pakan.

  3. Buat larutan fermentasi: Campurkan air bersih dengan molase atau gula pasir dan SOC (Suplemen Organik Cair) seperti EM4 dalam ember. Aduk hingga merata. Agar proses fermentasi berhasil, dibutuhkan kehangatan dan mikroorganisme menguntungkan, serta proses yang ketat untuk menghindari kontaminasi mikroorganisme lain.

  4. Gelar jerami dan semprotkan larutan: Hamparkan jerami dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian semprotkan larutan fermentasi secara merata sambil diinjak-injak hingga jerami benar-benar basah. Ulangi proses ini untuk setiap lapisan.

  5. Tutup rapat dengan plastik tebal atau terpal: Setelah semua jerami tersusun dan tersemprot larutan, tutup dengan plastik tebal atau terpal. Ikat dengan kuat agar udara tidak masuk dan kondisi anaerob tercipta dengan sempurna.

  6. Diamkan selama 12-15 hari: Biarkan proses penguraian serat jerami terjadi secara alamiah. Waktu ini dibutuhkan agar jerami benar-benar lapuk dan nutrisinya bertambah, sehingga kualitasnya meningkat sebagai pakan ternak berkualitas.

  7. Angin-anginkan sebelum diberikan ke ternak: Setelah melewati masa fermentasi, buka penutup dan angin-anginkan hasil fermentasi sebentar sebelum disajikan kepada hewan ternak. Langkah ini menguapkan sisa gas yang terbentuk selama fermentasi.

Berdasarkan laporan Feed Strategy, pakan fermentasi meningkatkan kesehatan usus melalui pengasaman saluran pencernaan bagian atas, yang terkait dengan pH pakan yang lebih rendah dan konsentrasi laktobasili serta asam organik yang lebih tinggi. Para peneliti mencatat bahwa konsentrasi bakteri asam laktat yang tinggi dan pH rendah menyebabkan penurunan jumlah enterobakteria pada unggas yang diberi pakan fermentasi.

3. 3. Cara Fermentasi Dedak Padi dan Ampas Tahu untuk Ternak Sehat

3. Cara Fermentasi Dedak Padi dan Ampas Tahu untuk Ternak Sehat (c) Ilustrasi AI

Selain hijauan dan jerami, limbah penggilingan padi berupa dedak serta limbah industri tahu berupa ampas tahu juga merupakan bahan pakan potensial. Kedua bahan ini mudah ditemukan dan harganya terjangkau. Mempraktikkan cara fermentasi pakan untuk ternak sehat tanpa pakan pabrik dari bahan-bahan ini memungkinkan peternak memperkaya variasi pakan dengan kandungan protein yang cukup tinggi.

Dedak padi mengandung serat kasar 11,4% dan protein kasar 12,9%, sementara ampas tahu memiliki protein mencapai 24,5%. Tantangan utama dedak padi adalah tidak tahan lama karena aktivitas enzim yang menyebabkan ketengikan. Dengan fermentasi, dedak padi bisa bertahan hingga 3 bulan dan kualitasnya justru meningkat. Baca juga: cara menghemat pakan petelur dengan probiotik.

Fermentasi Dedak Padi dengan EM4:

  1. Siapkan dedak padi segar sebanyak 20 kg: Pastikan dedak dalam kondisi segar dan belum tengik. Dedak halus atau bekatul memiliki kandungan protein lebih tinggi dibanding dedak kasar, sehingga bisa dipilih sesuai kebutuhan.

  2. Buat larutan EM4 dan molase: Campurkan 3% EM4 dan 3% molase dari berat dedak dengan 25% air dari berat dedak (sekitar 10 liter). Aduk hingga merata dan diamkan sebentar agar mikroba aktif.

  3. Campurkan larutan dengan dedak secara bertahap: Tuangkan larutan ke dalam dedak padi sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai merata. Pastikan seluruh bagian dedak terkena larutan secara homogen.

  4. Masukkan ke dalam wadah kedap udara: Tuang campuran ke dalam drum atau kantong plastik, lalu tutup rapat agar tercipta kondisi anaerob. Simpan selama 2-3 hari di suhu ruang dan hindari paparan sinar matahari langsung.

Fermentasi Ampas Tahu:

  1. Peras ampas tahu hingga kering: Peras ampas tahu sampai tidak mengeluarkan air saat dikepal. Kadar air yang berlebihan akan menghambat proses fermentasi dan menyebabkan pembusukan. Baca juga: khasiat menakjubkan bakteri baik dalam makanan fermentasi.

  2. Kukus ampas tahu selama 30 menit: Masukkan ampas tahu ke dalam kukusan saat air sudah mendidih. Pengukusan bertujuan mensterilkan ampas dari bakteri patogen yang mungkin sudah berkembang.

  3. Dinginkan lalu campurkan ragi dan mineral: Setelah dikukus, dinginkan ampas tahu kemudian uraikan di lantai bersih. Taburkan ragi tape yang sudah dihaluskan (5-7 butir untuk 25 kg ampas tahu) dan mineral B12 sebanyak 0,5 kg, lalu aduk hingga rata.

  4. Masukkan ke wadah dan peram selama 2-3 hari: Masukkan campuran ke dalam drum, ember, atau plastik kedap udara. Tutup rapat dan diamkan selama 2-3 hari. Fermentasi berhasil jika tercium bau harum khas tape.

  5. Keringkan untuk penyimpanan jangka panjang: Jika ingin menyimpan lebih lama hingga 2 bulan, keringkan hasil fermentasi terlebih dahulu setelah diperam. Pakan bisa langsung diberikan ke ternak atau disimpan dalam kondisi kering.

Sebagaimana dikutip dari ScienceDirect, dibandingkan dengan fermentasi cair, fermentasi padat (solid-state fermentation) memiliki keunggulan menghasilkan lebih sedikit limbah air, stabilitas produk lebih besar, penggunaan energi lebih rendah selama fermentasi, serta kemudahan transportasi produk fermentasi. Teknik fermentasi padat inilah yang paling cocok diterapkan oleh peternak skala kecil hingga menengah di Indonesia.

4. 4. Manfaat Ilmiah Fermentasi Pakan bagi Kesehatan dan Produktivitas Ternak

4. Manfaat Ilmiah Fermentasi Pakan bagi Kesehatan dan Produktivitas Ternak (c) Ilustrasi AI

Keberhasilan cara fermentasi pakan untuk ternak sehat tanpa pakan pabrik tidak hanya soal penghematan biaya, tetapi juga didukung oleh bukti ilmiah yang kuat terkait peningkatan kesehatan ternak. Riset dari universitas pertanian mengonfirmasi bahwa kawanan dan kelompok ternak yang diberi pakan fermentasi mengalami lebih sedikit penyakit pernapasan dan pencernaan. Hal ini secara langsung menjawab kekhawatiran konsumen mengenai resistensi antibiotik dalam produksi daging. Fermentasi membuat nutrisi lebih mudah dicerna dan mengurangi senyawa anti-nutrisi, mendukung kesehatan dan performa yang lebih baik. Proses ini juga mendorong pertumbuhan bakteri usus yang menguntungkan, memperkuat imunitas, dan mengurangi mikroba berbahaya. Secara keseluruhan, pakan fermentasi berpotensi mengurangi penggunaan antibiotik dan mendukung produksi peternakan yang lebih berkelanjutan.

Dari sisi produktivitas, pakan fermentasi terbukti meningkatkan efisiensi konversi pakan secara signifikan. Peningkatan efisiensi pakan berarti lebih sedikit limbah yang dihasilkan per satuan daging, susu, atau telur. Hewan ternak mengekstrak lebih banyak nutrisi dari pakan fermentasi, menghasilkan output kotoran 20-30% lebih sedikit dibandingkan metode pemberian pakan konvensional. Pengurangan ini menurunkan biaya pengelolaan limbah peternakan dan meminimalkan dampak lingkungan. Selain itu, pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam peternakan, sehingga penghematan melalui fermentasi sangat berdampak pada profitabilitas usaha.

Khusus untuk unggas, manfaat pakan fermentasi terasa sangat nyata. Sebuah studi dalam Journal of British Poultry Science menyimpulkan bahwa ayam yang diberi pakan fermentasi menunjukkan peningkatan berat telur, ketebalan cangkang, dan kekakuan cangkang. Temuan ini berarti ayam lebih kecil kemungkinannya menghasilkan telur bercangkang lunak. Ketika biji-bijian direndam dalam air untuk difermentasi, volumenya mengembang sehingga hewan ternak merasa kenyang lebih cepat, namun bukan karena pakan rendah nutrisi. Mereka justru mendapatkan lebih banyak nutrisi dari sebelumnya dan tetap merasa puas lebih lama. Pada pakan fermentasi, ayam makan minimal sepertiga lebih sedikit per hari. Baca juga: langkah ternak ayam untuk penuhi gizi keluarga.

Penelitian modern juga menunjukkan peran pakan fermentasi dalam memperbaiki komposisi mikrobiota usus ternak. Diet pakan fermentasi meningkatkan kelimpahan bakteri asam laktat, Bacillus, dan ragi serta kadar asam organik di dalam rumen. Perubahan mikroba ini menunjukkan potensi peningkatan sistem imun dan kesehatan keseluruhan hewan ternak. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa fermentasi dapat meningkatkan bioavailabilitas nutrisi pakan melalui proses berikut: meningkatkan kandungan protein kasar, menurunkan kadar serat, meningkatkan pemanfaatan vitamin, memperbaiki pola asam amino dan kelarutan protein, serta mendegradasi faktor anti-nutrisi dengan enzim seperti fitase, xilanase, selulase, dan glukanase. Prof. David S. Ludwig dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, dikutip dari Kapanlagi.com menegaskan, "Hampir seluruh masyarakat di dunia dan sepanjang sejarah telah memasukkan makanan fermentasi sebagai bagian dari pola makan mereka."

Selain manfaat nutrisi langsung, fermentasi pakan juga berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan peternakan. Ketika pakan fermentasi digunakan, biaya secara signifikan berkurang dengan memaksimalkan efisiensi pakan dan mengurangi jumlah feses yang diproduksi karena tingginya pencernaan dan penyerapan nutrisi. Berkurangnya kotoran ternak juga berarti bau lingkungan peternakan menjadi lebih terkendali. Limbah kotoran dan urine dari hewan yang diberi pakan fermentasi umumnya lebih berkualitas, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau biogas alami. Pendekatan ini selaras dengan tren peternakan berkelanjutan yang semakin digalakkan secara global.

Berikut ciri-ciri fermentasi pakan ternak yang berhasil agar peternak dapat memverifikasi kualitas hasilnya:

  • Berbau wangi asam segar menyerupai tape, bukan berbau busuk atau amonia.

  • Terjadi perubahan warna bahan pakan menjadi lebih kecokelatan secara merata.

  • Terjadi peningkatan suhu selama proses fermentasi berlangsung.

  • Tekstur pakan menjadi lebih lapuk, empuk, dan mudah diuraikan oleh tangan.

  • Tidak ditemukan jamur berwarna hitam, hijau, atau biru pada permukaan pakan.

  • Ternak menunjukkan minat makan yang baik saat pakan disajikan.

Untuk hewan ternak yang baru pertama kali menerima pakan fermentasi, biasanya perlu waktu adaptasi. Berbagai jenis hewan ternak memerlukan pendekatan berbeda dalam hal pengenalan pakan baru. Peternak disarankan memulai dengan mencampurkan 25% pakan fermentasi dengan 75% pakan biasa, lalu meningkatkan proporsinya secara bertahap. Fermentasi paling mudah dilakukan dengan ransum biji-bijian utuh atau yang sudah dipotong; pakan pelet akan berubah menjadi bubur jika difermentasi. Jika ingin bereksperimen dengan fermentasi, mulailah dengan bahan sederhana seperti dedak, jagung giling, atau biji-bijian lokal yang tersedia di sekitar Anda. Baca juga: panduan ternak ayam di lahan sempit.

Mengacu pada riset yang dipublikasikan di jurnal MDPI Fermentation, faktor anti-nutrisi (ANF) adalah senyawa yang diproduksi tanaman sebagai mekanisme pertahanan, dan dalam konsentrasi tinggi, senyawa ini menghambat sifat nutrisi. Mengurangi ANF ini meningkatkan keberadaan protein, antioksidan, dan vitamin, yang sangat penting untuk mengoptimalkan pakan ternak, terutama di negara-negara berkembang di mana metode tradisional mungkin mahal. Fermentasi padat (solid-state fermentation) dengan bakteri asam laktat terbukti sebagai metode yang efektif dan mudah untuk mengurangi faktor anti-nutrisi sekaligus memperkaya kandungan protein.

5. FAQ

FAQ (c) Ilustrasi AI

Berapa lama pakan fermentasi bisa disimpan tanpa mengurangi kualitas nutrisinya?

Daya simpan pakan fermentasi sangat bergantung pada jenis bahan dan teknik penyimpanan. Pakan fermentasi hijauan dalam silo yang tertutup rapat bisa bertahan hingga 1-2 tahun. Fermentasi dedak padi bisa disimpan hingga 3 bulan dalam kondisi kering, sedangkan fermentasi ampas tahu bertahan sekitar 2 bulan jika dikeringkan. Kunci utamanya adalah menjaga wadah tetap kedap udara dan menyimpan di tempat teduh yang tidak terkena sinar matahari langsung. Selalu periksa aroma dan kondisi visual pakan sebelum diberikan ke ternak.

Apakah cara fermentasi pakan untuk ternak sehat tanpa pakan pabrik cocok untuk semua jenis hewan ternak?

Pakan fermentasi pada dasarnya cocok untuk berbagai jenis ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba, serta unggas seperti ayam dan bebek. Namun komposisi bahan dan proporsi pemberian perlu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi masing-masing jenis ternak. Untuk puyuh petelur misalnya, pakan fermentasi bisa meningkatkan efisiensi pencernaan dan penyerapan nutrisi. Penting diingat bahwa pakan fermentasi sebaiknya dijadikan suplemen, bukan pengganti total pakan utama.

Bagaimana cara mengetahui fermentasi pakan gagal dan apa yang harus dilakukan?

Tanda fermentasi gagal sangat mudah dikenali: pakan mengeluarkan bau busuk menyengat seperti bangkai, berwarna kehitaman, berlendir, atau ditumbuhi jamur biru dan hijau. Jika menemukan ciri-ciri tersebut, jangan pernah memberikan pakan tersebut ke ternak karena mengandung toksin berbahaya yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan serius. Buang seluruh bahan dan ulangi proses fermentasi dengan memastikan kadar air tepat sekitar 40-60%, wadah benar-benar kedap udara, dan probiotik atau starter yang digunakan masih segar serta belum kedaluwarsa.

Daftar Referensi

  1. Feed Strategy. Fermented feed: Improve animal performance, ingredients. Diakses pada 21 Mei 2026, dari https://www.feedstrategy.com/animal-feed-manufacturing/article/15441991/fermented-feed-improve-animal-performance-ingredients
  2. Frontiers in Veterinary Science. Effects of fermented feed on growth performance, serum biochemical indexes, antioxidant capacity, and intestinal health of lion-head goslings. Diakses pada 21 Mei 2026, dari https://www.frontiersin.org/journals/veterinary-science/articles/10.3389/fvets.2023.1284523/full
  3. National Center for Biotechnology Information (NCBI). Effect of Fermented Concentrate on Ruminal Fermentation, Ruminal and Fecal Microbiome, and Growth Performance of Beef Cattle. Diakses pada 21 Mei 2026, dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10705080/
  4. ScienceDirect. Fermentation techniques in feed production. Diakses pada 21 Mei 2026, dari https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/feed-fermentation
  5. MDPI Fermentation. Solid-State Fermentation as a Biotechnological Tool to Reduce Antinutrients and Increase Nutritional Content in Legumes and Cereals for Animal Feed. Diakses pada 21 Mei 2026, dari https://www.mdpi.com/2311-5637/11/7/359

(kpl/fed)

Rekomendasi
Trending