Cara Menanam Sorgum: Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Serealia Alternatif
Persiapan Lahan untuk Penanaman Sorgum
Kapanlagi.com - Sorgum merupakan tanaman serealia alternatif yang semakin diminati karena ketahanannya terhadap kekeringan dan nilai nutrisinya yang tinggi. Cara menanam sorgum sebenarnya tidak terlalu rumit dan dapat dilakukan oleh petani pemula maupun berpengalaman.
Tanaman ini memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat pengganti beras dan jagung, terutama di daerah dengan curah hujan terbatas. Budidaya sorgum juga tidak memerlukan perawatan intensif seperti tanaman pangan lainnya.
Dengan teknik penanaman yang tepat, sorgum dapat menghasilkan panen melimpah dan memberikan nilai ekonomis yang menguntungkan. Pemahaman mengenai cara menanam sorgum yang benar akan membantu memaksimalkan produktivitas tanaman ini.
Advertisement
1. Mengenal Tanaman Sorgum dan Potensinya
Sorgum atau Sorghum bicolor (L.) Moench adalah tanaman serealia yang berasal dari Afrika dan telah dibudidayakan di berbagai belahan dunia. Tanaman ini memiliki karakteristik unik dengan batang yang kokoh, daun memanjang, dan malai biji di bagian puncak yang menjadi hasil utama panen. Sorgum dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi kekeringan, sehingga cocok ditanam di lahan marginal atau daerah dengan keterbatasan air.
Nilai nutrisi biji sorgum cukup tinggi dengan kandungan karbohidrat, protein, serat, dan mineral yang baik untuk kesehatan. Selain bijinya, batang sorgum juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau bahan baku industri. Tanaman ini memiliki sistem perakaran yang dalam dan kuat, memungkinkannya menyerap air dari lapisan tanah yang lebih dalam dibandingkan tanaman serealia lainnya.
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), sorgum merupakan tanaman pangan penting kelima di dunia setelah gandum, padi, jagung, dan jelai. Tanaman ini menjadi sumber pangan utama bagi lebih dari 500 juta orang di wilayah semi-arid di Afrika dan Asia, terutama karena kemampuannya bertahan dalam kondisi iklim yang keras.
Di Indonesia, pengembangan sorgum mulai digalakkan sebagai upaya diversifikasi pangan dan antisipasi perubahan iklim. Berbagai varietas sorgum telah dikembangkan untuk disesuaikan dengan kondisi agroklimat Indonesia, baik untuk konsumsi manusia maupun pakan ternak. Potensi ekonomi sorgum juga semakin meningkat seiring dengan berkembangnya industri pangan olahan berbasis sorgum seperti tepung, sirup, dan produk fermentasi.
2. Persiapan Lahan untuk Penanaman Sorgum
Persiapan lahan merupakan tahap krusial dalam budidaya sorgum yang akan menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman. Langkah pertama adalah memilih lokasi yang mendapat sinar matahari penuh, karena sorgum membutuhkan cahaya matahari optimal untuk fotosintesis dan pembentukan biji. Lahan yang ideal memiliki drainase baik untuk mencegah genangan air yang dapat merusak akar tanaman.
Pengolahan tanah dimulai dengan pembajakan atau pencangkulan sedalam 20-30 cm untuk menggemburkan tanah dan memperbaiki aerasi. Tanah yang gembur memudahkan penetrasi akar sorgum yang akan tumbuh dalam dan kuat. Setelah dibajak, lahan dibiarkan selama 1-2 minggu agar sisa-sisa tanaman sebelumnya terdekomposisi dan tanah teroksidasi dengan baik.
Tahap selanjutnya adalah pembuatan bedengan atau guludan jika lahan memiliki drainase kurang baik. Bedengan dibuat dengan lebar 100-120 cm dan tinggi 20-30 cm, dengan jarak antar bedengan sekitar 40-50 cm. Sistem bedengan ini membantu mengatur kelembaban tanah dan memudahkan perawatan tanaman serta pemanenan.
Pemberian pupuk dasar sangat penting untuk menyediakan nutrisi awal bagi pertumbuhan sorgum. Pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang diberikan dengan dosis 5-10 ton per hektar, dicampur merata dengan tanah saat pengolahan lahan. Pupuk anorganik dasar seperti Urea, SP-36, dan KCl juga dapat diberikan sesuai hasil analisis tanah untuk memastikan ketersediaan unsur hara yang cukup bagi tanaman.
3. Pemilihan dan Penyiapan Benih Sorgum
Pemilihan benih berkualitas merupakan faktor penentu keberhasilan budidaya sorgum. Benih yang baik berasal dari varietas unggul yang telah teruji adaptasinya terhadap kondisi lingkungan setempat. Beberapa varietas sorgum yang populer di Indonesia antara lain Numbu, Kawali, Super 1, Super 2, dan varietas lokal yang telah beradaptasi dengan baik di wilayah tertentu.
Benih sorgum yang berkualitas memiliki ciri-ciri fisik yang mudah dikenali. Biji harus berukuran seragam, bernas atau berisi penuh, berwarna cerah sesuai varietasnya, dan bebas dari kerusakan fisik atau serangan hama. Daya kecambah benih yang baik minimal 80%, yang dapat diuji dengan metode uji kecambah sederhana sebelum penanaman massal dilakukan.
Sebelum ditanam, benih sorgum perlu melalui proses seleksi dan perlakuan khusus. Seleksi dilakukan dengan merendam benih dalam air, kemudian membuang benih yang mengapung karena kemungkinan besar tidak bernas. Benih yang tenggelam kemudian ditiriskan dan siap untuk perlakuan selanjutnya guna meningkatkan daya kecambah dan melindungi dari serangan hama penyakit.
Perlakuan benih dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya adalah perendaman dalam larutan fungisida atau bakterisida organik untuk mencegah penyakit benih. Metode lain adalah dengan melapisi benih menggunakan pupuk hayati atau rhizobium yang dapat meningkatkan pertumbuhan akar dan penyerapan nutrisi. Setelah perlakuan, benih dikeringanginkan di tempat teduh sebelum siap ditanam, dengan kebutuhan benih sekitar 10-15 kg per hektar tergantung jarak tanam yang digunakan.
4. Teknik Penanaman Sorgum yang Tepat
Waktu penanaman sorgum sangat mempengaruhi produktivitas tanaman. Periode terbaik untuk menanam sorgum adalah di akhir musim hujan atau awal musim kemarau, ketika kelembaban tanah masih cukup untuk perkecambahan namun tidak terlalu basah. Kondisi ini memungkinkan tanaman tumbuh optimal dengan risiko serangan penyakit yang lebih rendah dibandingkan penanaman di puncak musim hujan.
Jarak tanam sorgum disesuaikan dengan varietas dan tujuan budidaya. Untuk produksi biji, jarak tanam yang umum digunakan adalah 60-75 cm antar baris dan 20-25 cm dalam baris, menghasilkan populasi sekitar 130.000-160.000 tanaman per hektar. Jarak tanam yang lebih rapat dapat digunakan untuk produksi hijauan pakan ternak, sedangkan jarak lebih lebar cocok untuk varietas yang berbatang besar.
Cara menanam sorgum dilakukan dengan membuat lubang tanam sedalam 3-5 cm pada jarak yang telah ditentukan. Setiap lubang diisi dengan 3-4 biji sorgum, kemudian ditutup tipis dengan tanah gembur atau pupuk organik halus. Penanaman beberapa biji per lubang bertujuan untuk mengantisipasi benih yang tidak tumbuh, dan nantinya akan dilakukan penjarangan menyisakan 1-2 tanaman terbaik per lubang setelah tanaman berumur 2-3 minggu.
Kedalaman tanam yang tepat sangat penting untuk keberhasilan perkecambahan. Penanaman terlalu dalam akan menghambat kemunculan kecambah, sementara terlalu dangkal membuat benih mudah kering atau dimakan burung. Setelah penanaman, lahan dapat disiram ringan jika kondisi tanah terlalu kering, namun hindari penyiraman berlebihan yang dapat menyebabkan benih membusuk sebelum berkecambah.
5. Perawatan dan Pemeliharaan Tanaman Sorgum
- Penyiraman: Sorgum tergolong tanaman tahan kering, namun tetap membutuhkan air cukup terutama pada fase awal pertumbuhan hingga umur 30 hari dan saat pembungaan. Penyiraman dilakukan jika tidak ada hujan, dengan frekuensi disesuaikan kondisi tanah. Setelah tanaman dewasa, sorgum dapat bertahan dengan air minimal karena sistem perakarannya yang dalam.
- Penyiangan: Gulma merupakan kompetitor utama tanaman sorgum dalam memperebutkan nutrisi, air, dan cahaya. Penyiangan pertama dilakukan saat tanaman berumur 2-3 minggu, bersamaan dengan penjarangan. Penyiangan kedua dilakukan pada umur 5-6 minggu. Lahan harus dijaga bebas gulma terutama pada 60 hari pertama pertumbuhan yang merupakan fase kritis.
- Pemupukan Susulan: Pemupukan susulan diberikan secara bertahap untuk mendukung pertumbuhan optimal. Pemupukan pertama dilakukan saat tanaman berumur 3-4 minggu dengan Urea dan KCl, dibenamkan di samping barisan tanaman dengan jarak 10 cm dari batang. Pemupukan kedua diberikan saat tanaman berumur 6-7 minggu atau menjelang pembungaan dengan komposisi yang sama.
- Pembumbunan: Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan pemupukan susulan kedua, yaitu dengan menimbun pangkal batang tanaman dengan tanah gembur. Tindakan ini bertujuan memperkuat berdirinya tanaman, merangsang pertumbuhan akar adventif, dan mencegah tanaman rebah terutama saat malai mulai berisi biji yang memberatkan bagian atas tanaman.
- Pengendalian Hama dan Penyakit: Hama utama sorgum meliputi ulat grayak, kutu daun, dan burung pemakan biji. Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis, biologis, atau kimiawi sesuai tingkat serangan. Penyakit yang sering menyerang adalah bulai, karat daun, dan busuk batang. Pencegahan dilakukan dengan sanitasi lahan, rotasi tanaman, dan penggunaan varietas tahan penyakit.
- Pengairan dan Drainase: Meskipun tahan kering, sorgum membutuhkan pengaturan air yang baik. Pada fase vegetatif awal dan pembungaan, kebutuhan air meningkat. Sistem drainase harus berfungsi baik untuk mencegah genangan yang dapat menyebabkan busuk akar. Di musim kemarau, pengairan tambahan dapat meningkatkan produktivitas hingga 30-40%.
Perawatan tanaman sorgum relatif lebih mudah dibandingkan tanaman serealia lainnya karena sifatnya yang adaptif dan tahan terhadap cekaman lingkungan. Namun, perhatian khusus tetap diperlukan pada fase-fase kritis pertumbuhan untuk memastikan hasil panen yang optimal.
6. Pemanenan dan Pasca Panen Sorgum
Penentuan waktu panen yang tepat sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil sorgum. Tanaman sorgum umumnya siap dipanen pada umur 90-120 hari setelah tanam, tergantung varietas yang ditanam. Ciri-ciri sorgum siap panen adalah daun bendera dan daun di bawahnya sudah menguning, biji sudah mengeras dan tidak dapat dipecahkan dengan kuku, serta kadar air biji mencapai 20-25%.
Pemanenan dilakukan dengan memotong malai beserta tangkainya menggunakan sabit atau pisau tajam. Pemotongan sebaiknya dilakukan pada pagi hari setelah embun kering atau sore hari untuk menghindari rontoknya biji akibat panas terik. Malai yang telah dipotong dikumpulkan dan diikat dalam bentuk bundel-bundel kecil untuk memudahkan penanganan selanjutnya.
Proses pengeringan merupakan tahap penting dalam pasca panen sorgum. Malai yang telah dipanen dijemur di bawah sinar matahari selama 3-5 hari hingga kadar air biji mencapai 12-14%, yang merupakan kadar air aman untuk penyimpanan. Penjemuran dilakukan di atas terpal atau lantai jemur yang bersih, dengan pembalikan secara berkala agar pengeringan merata.
Setelah kering, biji sorgum dirontokkan dari malainya secara manual dengan cara dipukul-pukul atau menggunakan mesin perontok. Biji hasil perontokan kemudian dibersihkan dari kotoran, tangkai, dan biji hampa menggunakan tampah atau mesin pembersih. Biji bersih siap untuk disimpan dalam karung atau wadah kedap udara, ditempatkan di ruangan yang kering dan berventilasi baik untuk mencegah serangan hama gudang dan pertumbuhan jamur.
7. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menanam sorgum hingga panen?
Waktu tanam hingga panen sorgum berkisar antara 90-120 hari tergantung varietas yang ditanam. Varietas genjah atau cepat panen dapat dipanen pada umur 90-100 hari, sedangkan varietas dalam memerlukan waktu 110-120 hari. Faktor lingkungan seperti suhu, ketersediaan air, dan kesuburan tanah juga mempengaruhi kecepatan pertumbuhan tanaman.
2. Apakah sorgum bisa ditanam di lahan kering?
Ya, sorgum sangat cocok ditanam di lahan kering karena memiliki toleransi tinggi terhadap kekeringan. Sistem perakaran sorgum yang dalam memungkinkan tanaman menyerap air dari lapisan tanah yang lebih dalam. Namun, untuk hasil optimal, sorgum tetap membutuhkan air cukup terutama pada fase awal pertumbuhan dan saat pembungaan.
3. Berapa jarak tanam yang ideal untuk budidaya sorgum?
Jarak tanam ideal untuk sorgum adalah 60-75 cm antar baris dan 20-25 cm dalam baris untuk produksi biji. Jarak ini menghasilkan populasi sekitar 130.000-160.000 tanaman per hektar. Untuk produksi hijauan pakan ternak, jarak tanam dapat lebih rapat yaitu 40-50 cm x 15-20 cm agar menghasilkan biomassa lebih banyak.
4. Pupuk apa yang dibutuhkan untuk menanam sorgum?
Sorgum membutuhkan pupuk organik sebagai pupuk dasar dengan dosis 5-10 ton per hektar. Pupuk anorganik yang dibutuhkan meliputi Urea 200-300 kg/ha, SP-36 100-150 kg/ha, dan KCl 75-100 kg/ha. Pemberian pupuk dilakukan secara bertahap, yaitu pupuk dasar saat pengolahan lahan dan pupuk susulan pada umur 3-4 minggu dan 6-7 minggu setelah tanam.
5. Bagaimana cara mengatasi hama burung pada tanaman sorgum?
Hama burung dapat dikendalikan dengan beberapa cara seperti memasang jaring pelindung di atas pertanaman, menggunakan orang-orangan sawah atau pita reflektif yang bergerak tertiup angin, dan melakukan pengusiran secara manual terutama saat biji mulai masak. Penanaman varietas dengan kandungan tanin tinggi juga dapat mengurangi serangan burung karena rasanya yang kurang disukai.
6. Apakah sorgum bisa ditanam di polybag atau pot?
Sorgum dapat ditanam di polybag atau pot untuk skala kecil atau keperluan penelitian. Gunakan polybag berukuran minimal 40x40 cm dengan media tanam campuran tanah, kompos, dan sekam dengan perbandingan 2:1:1. Tanam 2-3 biji per polybag sedalam 3-5 cm, kemudian lakukan perawatan rutin seperti penyiraman dan pemupukan sesuai kebutuhan tanaman.
7. Apa saja manfaat dari tanaman sorgum?
Sorgum memiliki banyak manfaat mulai dari bijinya yang dapat diolah menjadi tepung, nasi, sirup, dan pakan ternak dengan kandungan nutrisi tinggi. Batang sorgum dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau bahan baku industri seperti pembuatan kertas dan bioetanol. Tanaman ini juga berperan dalam konservasi lahan karena sistem perakarannya yang kuat dapat mencegah erosi tanah di lahan marginal.
(kpl/fds)
Advertisement
D Academy 8
-
Ulang Tahun Selebritis Ulang Tahun Soimah Dirayakan di Panggung Dangdut Academy 8