Kapanlagi.com - Dunia sedang bergerak menuju dekade yang penuh ketidakpastian. Volatilitas ekonomi, krisis iklim, dan disrupsi teknologi sedang membentuk ulang tatanan kehidupan sehari-hari. Alih-alih menyerah pada kepanikan, semakin banyak orang di seluruh dunia justru menemukan jawaban di sebuah hobi yang dulu dianggap aneh: prepping.
Dilansir dari Fox Business, pasar alat survival global diproyeksikan mencapai 2,46 miliar dolar AS pada 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan lebih dari 7 persen sejak 2023. Angka ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bukan lagi aktivitas pinggiran, melainkan kebutuhan yang semakin diakui secara luas. Pertanyaannya bukan lagi apakah krisis akan datang, melainkan seberapa siap kamu menghadapinya.
Advertisement
Mengacu pada data United Nations, krisis iklim, pandemi COVID-19, dan meningkatnya konflik di berbagai belahan dunia telah menempatkan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dalam bahaya. Lebih dari empat tahun kemajuan dalam pengentasan kemiskinan telah terhapus, mendorong 93 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrem pada 2020.
Sementara itu, ITR Economics telah lama memperingatkan bahwa sebuah depresi ekonomi besar akan terjadi di dekade 2030-an. Tren yang mendorong proyeksi ini begitu masif sehingga sulit untuk diubah arahnya. Para pemimpin bisnis perlu merencanakan dari sekarang untuk periode ini, demi memaksimalkan ketahanan dan nilai usaha mereka.
Baca juga: Inside Job: Melihat dari Dekat Krisis Ekonomi 2008
Jason Bassett, seorang instruktur survival berpengalaman, dikutip dari Fox Business menyatakan, "Kesalahpahaman lainnya adalah bahwa prepping soal perlengkapan; kalau kamu punya gadget terbaru dan termahal, maka kamu akan selamat. Banyak orang baru di komunitas prepping menghabiskan ribuan dolar untuk perlengkapan tapi tidak pernah mengembangkan keterampilan yang memadai untuk bertahan hidup."
Inti dari prepping yang sesungguhnya justru ada pada pengembangan keterampilan, bukan penumpukan barang. Sebuah tas darurat atau bugout bag bisa dibangun dengan biaya kurang dari 100 dolar. Namun keterampilan dasar survival jauh lebih penting, karena seperti pepatah di kalangan prepper, "Ruang di tasmu akan habis, tapi ruang di pikiranmu tidak pernah."
Menanam sayuran dan herbal di rumah bukan sekadar hobi menenangkan — ini adalah fondasi kemandirian pangan keluarga. Ketika rantai pasokan terganggu atau harga pangan melonjak, kemampuan menghasilkan bahan makanan sendiri menjadi aset yang nilainya tak terhingga.
Berkebun juga memberikan manfaat psikologis. Penelitian di Swedia menemukan bahwa orang yang memiliki akses ke taman mengalami tingkat stres secara signifikan lebih rendah. Proses menyiram, memangkas, dan memanen tanaman menghubungkan kembali manusia modern dengan siklus alam.
Beberapa jenis berkebun yang bisa dimulai dari rumah:
Kim Holtan Lang, seorang psikoterapis yang bereksperimen dengan kehidupan primitif di alam liar selama sepuluh tahun, dikutip dari In These Times menyatakan, "Akan sangat positif melihat satu generasi belajar menggunakan tangan mereka dan terampil kembali dalam hal ketahanan — baik personal maupun komunitas. Aspek ini punya banyak hal untuk ditawarkan kepada anak muda."
Ketika pekerjaan formal lenyap akibat resesi atau otomatisasi, keterampilan praktis menjadi penyelamat sejati. Hobi menjahit, pertukangan, perbaikan peralatan rumah, memasak dari bahan mentah, hingga pertolongan pertama memiliki nilai tukar tinggi dalam situasi krisis.
Berikut hobi-hobi keterampilan tangan yang layak dipelajari:
Serangan siber terhadap jaringan listrik dan infrastruktur kritis diproyeksikan meningkat menjelang 2030. Ketergantungan total pada sistem energi konvensional tanpa rencana cadangan adalah kerentanan yang sering tidak disadari. Hobi prepping untuk kemandirian energi menjadi semakin relevan.
Panel surya kecil dengan kapasitas 100 watt sudah cukup untuk mengisi daya perangkat esensial. Kompor hemat energi berbahan bakar kayu, seperti kompor tungku roket, bisa menjadi pengganti LPG saat pasokan gas terganggu. Kompor rocket menggunakan 70 sampai 90 persen lebih sedikit kayu dibanding api terbuka untuk memasak hidangan yang sama.
Penampungan air hujan juga menjadi langkah krusial. Untuk wilayah tropis Indonesia dengan musim kering 4-6 bulan, tangki berkapasitas 2.000-5.000 liter sudah memadai untuk kebutuhan non-minum satu keluarga.
Rob Hopkins, aktivis permaculture pendiri Transition Network, dikutip dari In These Times menyatakan, "Model klasik lari-ke-bukit-dengan-empat-tahun-kacang-dan-tisu-toilet-dan-senjata-api itu bukan solusi. Keterampilan bertahan hidup itu penting. Tapi bagian dari pekerjaan besar ini adalah bertanya bagaimana kita bisa membawa orang lebih dekat satu sama lain."
Hopkins menambahkan bahwa keterampilan survival bisa dibawa ke tempat tinggal masyarakat dan merangsang munculnya usaha-usaha serta jaringan baru. Di Totnes, Inggris, komunitasnya telah menggalang dana untuk membangun infrastruktur penggilingan gandum lokal untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, menciptakan lapangan kerja sekaligus makanan berkualitas.
Mengutip laporan United Nations, krisis yang saling berkaitan membutuhkan solusi yang terintegrasi pula. Ketika tindakan diambil untuk memperkuat sistem perlindungan sosial dan berinvestasi dalam energi bersih, akar penyebab ketimpangan dan degradasi lingkungan dapat diatasi secara bersamaan.
Baca juga: Drama Korea Survival yang Mengajarkan Kekuatan Bertahan Hidup
Draculan, seorang pakar kesiapsiagaan bencana, dikutip dari The Earth and I menyatakan, "Sedikit latihan kekurangan bisa berguna, misalnya melewatkan satu kali makan atau mengurangi beberapa jam tidur, tapi tidak perlu menjadi Bear Grylls penuh — kecuali memang kamu mau. Sistem peringatan dini sering memberi waktu persiapan, tapi kebugaran adalah kunci untuk momen-momen ketika krisis datang mendadak."
Mempersiapkan diri menghadapi bencana tidak hanya membuat seseorang siap menghadapi keadaan darurat, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Aktivitas fisik memperbaiki suasana hati dan mengurangi stres, sementara kesiapan menumbuhkan rasa percaya diri dan ketenangan pikiran.
Beberapa hobi yang meningkatkan kebugaran sekaligus keterampilan survival:
Aturan dasar kesiapan finansial yang perlu diikuti:
Setiap keluarga perlu menyimpan minimal 3,8 liter air per orang per hari untuk kebutuhan minum, memasak, dan kebersihan dasar. Pasokan minimum yang direkomendasikan adalah untuk tiga hari, namun idealnya simpan persediaan dua minggu. Air adalah prioritas utama karena tubuh manusia hanya mampu bertahan tiga hari tanpa air dalam kondisi kritis.
Untuk stok pangan darurat, fokuslah pada makanan yang tidak mudah rusak, padat kalori, dan minim persiapan. Makanan kaleng, beras, mi instan, kacang-kacangan kering, dan selai kacang menjadi pilihan utama. Hindari makanan tinggi garam karena justru meningkatkan kebutuhan air minum.
Cara paling realistis membangun stok adalah secara bertahap. Setiap kali belanja bulanan, tambahkan beberapa item ekstra. Tidak perlu membeli segalanya sekaligus — konsistensi kecil jauh lebih efektif daripada pembelian panik yang menguras dompet.
Baca juga: Cara Tanam Padi di Pot untuk Panen Beras Tanpa Sawah
Dalam skenario krisis, jaringan telepon seluler dan internet bisa tumbang. Salah satu hobi prepping yang sering diabaikan namun sangat krusial adalah mempelajari radio komunikasi amatir atau ham radio. Perangkat ini menyediakan komunikasi yang andal bahkan saat terjadi pemadaman listrik atau tidak ada layanan seluler.
Christian Wagner, pakar isu Eropa dari Jerman, dikutip dari Global Times mengamati bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap masa depan terus meningkat. "Sejak sekitar 2015, ketakutan akan bencana yang mengancam telah menempati kesadaran publik, menghasilkan perasaan umum bahwa dunia berada di ambang keruntuhan."
Kesiapan digital sama pentingnya dengan kesiapan fisik. Langkah praktis yang bisa dilakukan meliputi menyimpan salinan dokumen penting secara offline, memahami cara berkomunikasi tanpa internet, dan menjaga keamanan data pribadi.
Menonton film survival bukan hanya hiburan — ini bisa menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran tentang ketahanan mental. Karakter seperti Mark Watney dalam The Martian yang memanfaatkan akal dan sains untuk bertahan di lingkungan yang tidak bersahabat mengajarkan prinsip dasar survival: berpikir jernih di bawah tekanan.
Drama Jepang bertema survival seperti Alice in Borderland dan drama China bertema survival juga menawarkan perspektif berbeda tentang bagaimana tekanan sosial dan keputusan individu saling berkaitan dalam situasi krisis.
Merujuk panduan FEMA, kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya pemerintah, melainkan setiap individu perlu terlibat dalam upaya sistematis menjaga keselamatan dan membangun ketahanan. Kabar baiknya, memulai tidak harus mahal atau rumit.
Persiapan terbaik bukan membangun benteng untuk satu jenis krisis tertentu, melainkan membangun kemampuan beradaptasi terhadap berbagai skenario. Penurunan ekonomi, bencana alam, gangguan rantai pasokan, atau kerusuhan sosial, semuanya membutuhkan fondasi ketahanan yang sama: stok kebutuhan dasar, keterampilan praktis, jaringan sosial kuat, kesehatan fisik-mental prima, dan fleksibilitas finansial.
Menunda persiapan sama dengan bentuk paling halus dari menyerah. Krisis tidak menunggu siapa pun, tetapi mereka yang siap akan selalu punya jalan keluar. Mulailah dari langkah terkecil hari ini — entah itu menanam satu polybag cabai, mengikuti kursus pertolongan pertama online, atau menyisihkan sebagian kecil penghasilan untuk dana darurat. Persiapan kecil yang konsisten jauh lebih berharga daripada rencana besar yang tidak pernah dieksekusi.
Daftar Referensi
(kpl/fed)