Ciri Orang yang Sering Diremehkan Orang Tuanya Saat Kecil, 10 Tandanya Menurut Psikolog

Ciri Orang yang Sering Diremehkan Orang Tuanya Saat Kecil (Pexels/Karola G)
Kapanlagi.com - Pernahkah kamu merasa pendapatmu jarang didengar di rumah sejak kecil? Pengalaman itu bisa membentuk ciri orang yang sering diremehkan orang tuanya, yaitu kebiasaan dan cara pandang yang terbawa hingga dewasa.
Melansir Parade, psikolog positif Reena B. Patel menyebut perasaan sebagai anak sering menjadi bagian dari siapa seseorang ketika dewasa. Center on the Developing Child, Universitas Harvard, juga menegaskan bahwa hubungan yang responsif antara anak dan orang dewasa penting bagi perkembangan otak, sementara ketiadaan hubungan itu dapat menjadi ancaman bagi tumbuh kembang anak.
Sebelum masuk ke daftar, ada satu catatan istilah. Dalam kajian psikolog yang dikutip Parade, kata yang dipakai adalah overlooked, yakni anak yang kurang dilihat, didengar, dan dihargai. Itulah yang dalam artikel ini disebut diremehkan atau diabaikan. Perlu diingat pula, orang tua tidak selalu bermaksud buruk. Psikolog Hannah Yang menyebut orang tua yang kekurangan sumber daya dan sering stres, atau memiliki banyak anak sehingga waktunya terbagi, bisa menjadi salah satu faktor.
Advertisement
Nah, KL Lovers, bukan berarti semua orang dengan ciri-ciri ini pasti mengalaminya, ya. Berikut adalah sepuluh tanda yang dirangkum Kapanlagi.com dari berbagai sumber, Jumat (2/10/2026).
1. Sangat Sensitif

Ciri orang yang sering diremehkan orang tuanya yang pertama adalah sensitivitas tinggi. Orang seperti ini mudah merasakan emosi dengan intens, menganggap kritik sebagai serangan pribadi, dan gampang kewalahan oleh rangsangan di sekitarnya.
Menurut psikolog Jennifer Dragonette, orang yang sensitif sering peka terhadap perasaan orang lain, tetapi justru mengabaikan perasaannya sendiri. Jadi, KL Lovers yang merasa mudah tersentuh bukan berarti lemah. Yang penting, kenali pola ini tanpa menyalahkan diri sendiri.
2. Pemalu dan Sulit Membuka Diri

Rasa malu yang berlebihan bisa menjadi salah satu tandanya. Dr. Hannah Yang menjelaskan bahwa anak yang jarang dilatih bersuara dan dipandang positif cenderung memilih diam, menjauh, dan melindungi diri dari penolakan.
Kebiasaan ini sering terbawa sampai dewasa. Saat berada di lingkungan baru, mereka mungkin lebih nyaman mengamati dari pinggir daripada ikut menonjol.
3. Sering Mencari Perhatian
Anak yang melewatkan momen penting tanpa ada yang melihat dan menghargai bisa berusaha mengejar perhatian dengan berbagai cara. Reena B. Patel mencontohkan anak yang kurang diperhatikan orang tua mungkin menunjukkan perilaku menantang agar akhirnya dilirik.
Pada orang dewasa, wujudnya bisa berupa kebutuhan terus-menerus untuk tampil atau dibicarakan. Perilaku ini sebenarnya sinyal kebutuhan akan pengakuan yang belum terpenuhi.
4. Merasa Rendah Diri
Menurut Parade, ciri ini mungkin tidak mengejutkan. Dragonette menjelaskan, anak kecil cenderung menyalahkan diri sendiri atas gangguan dalam keluarga karena itu terasa lebih aman secara emosional daripada menyadari bahwa orang tuanya mungkin belum mampu memberi perhatian yang dibutuhkan.
Akibatnya, perasaan bersalah, malu, dan tidak berharga bisa tumbuh sejak dini dan terbawa dalam cara memandang diri sendiri.
5. Sulit Membuat Keputusan

Bagi sebagian orang, memilih terasa seperti ujian besar. Patel mengatakan, kesulitan mengambil keputusan dapat berkaitan dengan kecemasan yang tumbuh sejak kecil, sehingga setiap pilihan terasa seperti penentu atau penghancur segalanya.
Contohnya, memilih menu makan siang pun bisa memakan waktu lama karena takut salah atau takut dinilai.
6. Perfeksionis
Dragonette menyebut orang yang merasa diabaikan saat kecil mungkin berusaha mendapat perhatian lewat pencapaian tinggi, misalnya selalu mengejar nilai sempurna. Dorongan itu berasal dari keinginan mendalam untuk diterima, merasa memiliki, dan diperhatikan.
Meski tampak membanggakan dari luar, dorongan ini bisa jadi melelahkan jika seseorang sulit merasa cukup dengan hasil kerjanya sendiri.
7. Tidak Konfrontatif
Orang yang kurang diberi ruang bersuara cenderung menjaga suasana tetap damai. Dr. Yang menjelaskan bahwa mereka sering tidak sempat berlatih menyampaikan pendapat yang berbeda dan diterima dengan baik, sehingga lebih aman bagi mereka untuk diam atau setuju.
Di tempat kerja atau pertemanan, KL Lovers dengan ciri ini mungkin kerap berkata "terserah" meski sebenarnya punya pilihan sendiri.
8. Takut Ditinggalkan

Anak yang merasa orang tuanya tidak hadir secara emosional bisa tumbuh dengan kekhawatiran akan ditinggal orang terdekat. Dragonette mengingatkan, ketakutan ini bersama rasa tidak percaya kepada orang lain bahkan dapat membuat seseorang menghindari hubungan sama sekali.
Dalam kehidupan sehari-hari, rasa takut ini bisa terasa saat seseorang sangat khawatir ditinggal sahabat atau pasangan, bahkan memilih menjauh dari hubungan dekat.
9. Ingin Mencoba Banyak Hal yang Tidak Lazim
Dr. Yang menyebut bahwa anak yang jarang diberi kesempatan menjelajah pengalaman beragam, saat dewasa bisa terdorong mencoba hal-hal baru, seolah memberontak terhadap masa kecilnya. Ia mengakui poin ini cukup luas, dan pengalaman itu bisa jadi tidak umum bagi sebagian masyarakat.
Mereka juga mungkin merasa cocok dengan orang yang sama-sama pernah merasa tidak diperhatikan dan sedang mencari tempat yang pas.
10. Selalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain

Ketika persetujuan dan kasih sayang sulit didapat di masa kecil, seseorang bisa berusaha berlebihan menyenangkan orang lain. Menurut Dragonette, kebiasaan ini sering membuat perasaan dan kebutuhan diri sendiri dikesampingkan.
Ia juga mengingatkan risiko yang lebih serius, seperti mudah terpengaruh tekanan teman sebaya atau bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Jadi, belajar berkata tidak itu penting, KL Lovers.
11. Ciri Lain yang Disebut Psikolog
Selain sepuluh tanda di atas, Parade mencatat beberapa ciri lain. Pertama, ingin selalu bicara lebih dulu atau memegang kata terakhir karena takut kembali tidak didengar. Kedua, sulit membela kebutuhan diri sendiri. Ketiga, cenderung memendam emosi karena yakin mengungkapkannya tidak akan membuahkan dukungan.
Ciri-ciri ini bukan alat diagnosis dan tidak otomatis berarti seseorang diremehkan orang tuanya. Banyak faktor lain dapat memengaruhi kepribadian, sehingga ciri-ciri tersebut lebih baik dipakai sebagai bahan refleksi, bukan vonis.
Cara Berdamai dan Memulihkan Diri
Kabar baiknya, pola lama bisa berubah. Dr. Hannah Yang, seperti dikutip Parade, menyarankan beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba.
Jika kamu cenderung pemalu, mulailah dengan menulis jurnal tentang hal yang kamu suka dan tidak suka. Latihan ini membantu mengenali preferensi diri. Setelah itu, praktikkan menyampaikan pendapat kepada orang yang terbukti peduli dan terbuka pada pikiranmu.
Jika kamu cenderung berlebihan, berhentilah sejenak dan tarik napas. Hubungkan diri dengan bagian dirimu yang dulu merasa tidak dilihat, lalu katakan bahwa kini kamu mendengarkannya. Kamu juga bisa membuat daftar situasi dan orang yang saat ini membuatmu merasa dilihat serta didengar.
Dalam kedua kasus, Dragonette menyebut terapi profesional dapat membantu memahami akar masalah dan memutus siklusnya, termasuk dalam pengasuhan di masa depan. Jika perasaan cemas, rendah diri, atau takut ditinggalkan mengganggu keseharianmu, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan jiwa. Informasi dalam artikel ini bukan pengganti konsultasi profesional.
Pesan untuk Para Orang Tua
KL Lovers yang sudah menjadi orang tua pun bisa mulai dari hal kecil. Center on the Developing Child Harvard menjelaskan bahwa interaksi saling berbalas antara anak dan orang dewasa, yang disebut serve and return, membantu membentuk koneksi di otak anak. Ketika bayi atau anak kecil mengoceh, memberi isyarat, atau menangis, lalu orang dewasa menanggapi dengan tatapan, kata-kata, atau pelukan, fondasi penting itu terbentuk.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Surabaya melalui artikel pengasuhan positif di laman SIAP PPAK juga mendorong orang tua mendengarkan anak secara aktif, memahami perasaan mereka, dan menjaga hubungan yang hangat serta responsif. Pengasuhan seperti ini disebut membantu kelekatan emosional antara orang tua dan anak.
Pada akhirnya, ciri orang yang sering diremehkan orang tuanya bukan untuk mencari siapa yang salah. Tujuannya agar kita lebih memahami diri, lebih lembut kepada diri sendiri, dan tidak mengulang pola yang sama kepada generasi berikutnya.
12. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Sering Diremehkan Orang Tuanya Saat Kecil
1. Apakah memiliki ciri-ciri ini pasti berarti diremehkan orang tua?
Tidak. Ciri-ciri ini bukan alat diagnosis dan bisa muncul karena banyak faktor selain pola asuh.
2. Apakah orang tua selalu sengaja meremehkan anaknya?
Tidak selalu. Orang tua yang kelelahan, penuh tekanan, atau memiliki banyak anak kadang tidak sempat memberi perhatian yang cukup.
3. Bisakah dampak masa kecil ini dipulihkan saat dewasa?
Bisa. Dengan kesadaran diri, latihan menyuarakan kebutuhan, dukungan orang terpercaya, dan terapi bila perlu, pola lama dapat berubah.
4. Apa langkah pertama yang bisa dilakukan?
Mulailah dengan mengakui perasaanmu dan menulis jurnal tentang hal yang kamu sukai dan tidak kamu sukai.
5. Kapan sebaiknya menemui psikolog?
Ketika perasaan cemas, rendah diri, atau takut ditinggalkan mengganggu aktivitas dan hubungan sehari-hari.
(kpl/ibr)
Advertisement
D Academy 8
- Lesti Kejora Berita TerbaruPotret Lesti Kejora - Alexa di Panggung Dangdut Academy 8, Cantik dan Glamor












































