Kapanlagi.com - Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, Yesus Kristus tidak berhenti bekerja bagi umat manusia. Yesus masih sangat aktif bekerja bagi kita di surga, dan salah satu pelayanan terpenting-Nya adalah mendoakan setiap orang percaya di hadapan Allah Bapa.
Peran Yesus yang terus mendoakan manusia di surga merupakan doktrin penting dalam iman Kristen yang memberikan penghiburan luar biasa. Ibrani 7:25 menegaskan bahwa Yesus sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia, sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka dan berdiri mewakili kita di hadapan Allah Bapa.
Dilansir dari BibleStudyTools.com, Robert Murray M'Cheyne, seorang pendeta Skotlandia abad ke-19, pernah berkata, "Jika aku bisa mendengar Kristus berdoa untukku di ruangan sebelah, aku tidak akan takut pada sejuta musuh. Namun jarak tidak membuat perbedaan; Ia sedang berdoa untukku!" Pernyataan ini menggambarkan betapa kuatnya jaminan yang dimiliki setiap orang percaya karena peran Yesus yang terus mendoakan manusia di surga tanpa henti.
Advertisement
Doa syafaat atau intercession secara harfiah berarti tindakan seseorang yang berdoa atau memohon kepada Allah demi kepentingan orang lain. Makna syafaat mencakup tindakan campur tangan atas nama orang percaya untuk menyediakan pengampunan dosa. Dalam konteks pelayanan Yesus, syafaat yang Ia lakukan bersifat sempurna karena didasarkan pada kekudusan dan karya penebusan-Nya di kayu salib. Sebagaimana disampaikan Compelling Truth, syafaat Yesus di surga menggenapi pola Perjanjian Lama tentang para pengantara yang berdoa bagi orang lain, seperti Abraham, Musa, dan Samuel, tetapi Ia melakukannya secara sempurna dan kekal sebagai Imam Besar yang tanpa dosa.
Kata yang digunakan dalam bahasa Yunani untuk menggambarkan peran Yesus sebagai pembela adalah parakletos. Kata ini secara harfiah berarti seseorang yang membela perkara atas nama orang lain, atau seorang penasihat yang dekat dan menolong. Istilah yang sama juga digunakan oleh Yesus untuk merujuk kepada Roh Kudus dalam Injil Yohanes. Hal ini menunjukkan bahwa orang percaya memiliki dua pembela sekaligus: Yesus Kristus di surga dan Roh Kudus di bumi.
Mengutip Catholic Answers, ada keunikan mendalam dalam pelayanan syafaat Yesus. Ia telah menghendaki bahwa meskipun kita tidak selalu meminta hal-hal yang kita butuhkan — yang Ia berikan kepada kita bagaimanapun juga — Ia akan selalu meminta, selalu berdoa, dan selalu menyafaatkan kebutuhan kita. Inilah yang menjadi "pekerjaan utama" Yesus di surga: terus-menerus berdoa bagi umat-Nya dengan penuh kasih.
Konsep ini berbeda dengan doa manusia biasa karena syafaat Yesus memiliki otoritas ilahi dan bersifat kekal. Berbeda dengan imam manusia yang hanya dapat menyafaatkan untuk waktu terbatas, Yesus sebagai Imam Besar menyafaatkan selamanya bagi umat-Nya. Tidak ada jeda dalam pelayanan-Nya, dan tidak ada pergantian imam yang diperlukan sebagaimana dalam sistem Perjanjian Lama. Bagi umat Kristiani yang ingin menguatkan iman melalui kata-kata mutiara Kristen, pemahaman tentang syafaat Yesus merupakan fondasi yang sangat penting.
Peran Yesus yang terus mendoakan manusia di surga memiliki landasan yang kuat dalam Kitab Suci. Berdasarkan GotQuestions.org, setelah Yesus naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Ia kembali kepada kemuliaan yang Ia miliki sebelum inkarnasi-Nya untuk menjalankan peran-Nya sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan. Berikut adalah ayat-ayat utama yang menjadi dasar doktrin ini:
Baca juga: Kata bijak Alkitab hari ini yang menguatkan iman dan memberikan inspirasi
Salah satu dimensi terpenting dari peran Yesus yang terus mendoakan manusia di surga adalah kedudukan-Nya sebagai Imam Besar. Mengacu pada Billy Graham Evangelistic Association, salah satu peran yang dimainkan Yesus adalah sebagai Imam Besar, dan ini merupakan salah satu tema yang kuat dalam Kitab Ibrani, di mana Yesus Kristus disebut sebagai Imam Besar Agung kita sebanyak sebelas kali. Skip Heitzig, seorang pendeta dan pengajar Alkitab, menjelaskan bahwa kata "imam" dalam bahasa Latin adalah pontifex, yang secara harfiah berarti pembangun jembatan. Yesus adalah pembangun jembatan sejati yang menghubungkan manusia dengan Allah.
Kebanyakan umat Kristiani mengenal konsep bahwa Yesus Kristus memenuhi peran sebagai nabi, imam, dan raja, namun dari ketiganya, konsep Yesus sebagai imam kemungkinan besar adalah yang paling kurang dipahami. Padahal pemahaman ini sangat krusial bagi kehidupan rohani setiap orang percaya. Dalam sistem Perjanjian Lama, imam besar bertugas masuk ke Ruang Mahakudus setahun sekali untuk mempersembahkan darah korban bagi pengampunan dosa bangsa Israel. Yesus adalah korban yang sempurna untuk dosa sekaligus Imam Besar yang sempurna yang dapat mendamaikan manusia berdosa dengan Allah Bapa.
Sebagaimana dilaporkan Ligonier Ministries, setelah bangkit dari kematian dan naik ke surga, Yesus bertahan sebagai imam selamanya. Tidak akan pernah ada jeda dalam pekerjaan syafaat-Nya sebagaimana terjadi ketika ada pergantian dari satu imam besar ke imam besar lainnya di bawah perjanjian lama. Keunggulan Yesus sebagai Imam Besar terletak pada beberapa aspek: Ia tanpa dosa sehingga tidak perlu mempersembahkan korban untuk diri-Nya sendiri, pengorbanan-Nya bersifat sekali untuk selamanya, dan keimamatan-Nya bersifat kekal berdasarkan tatanan Melkisedek. Peristiwa Kamis Putih dan Perjamuan Terakhir menjadi titik awal dari pengorbanan-Nya yang kemudian digenapi di kayu salib.
Merujuk jurnal HTS Teologiese Studies/Theological Studies, teolog Howard Griffith berpendapat bahwa "Kitab Ibrani bersifat khas dalam identifikasinya terhadap Yesus sebagai imam besar," dan ia berargumen bahwa "pelayanan imam besar surgawi Kristus merupakan inti utama dari kitab tersebut." Pekerjaan Yesus sebagai korban penebusan di kayu salib telah selesai, tetapi pelayanan-Nya sebagai pembela dan penyempurna iman orang percaya terus berlangsung di surga. Ia menggabungkan dua peran sekaligus: Anak Domba Allah yang telah menjadi korban dan Imam Besar yang mempersembahkan darah-Nya di hadapan takhta surgawi.
Baca juga: Ayat Alkitab tentang Paskah yang membahas pengorbanan dan kebangkitan Kristus
Sebagaimana dikutip dari GotQuestions.org, Yohanes 17 memberikan gambaran konkret tentang isi doa syafaat Yesus. Doa ini dimulai dengan permohonan bagi diri-Nya sendiri, berlanjut kepada murid-murid-Nya, kemudian meluas kepada seluruh orang percaya sepanjang zaman. Yesus berdoa agar orang percaya dapat mengenal Allah dan Anak-Nya, dilindungi dari kemurtadan, menjadi satu dalam roh, dipenuhi sukacita-Nya, dipelihara dari si jahat, dikuduskan melalui firman Allah, tetap bersatu dalam Kristus sepanjang generasi, dan pada akhirnya bergabung dengan-Nya di surga untuk selama-lamanya. Berikut penjelasan lebih rinci tentang hal-hal yang Yesus doakan:
Baca juga: Ucapan syukur pagi hari Kristen untuk memulai hari dengan berkat
Pemahaman tentang peran Yesus yang terus mendoakan manusia di surga memberikan dampak yang sangat nyata bagi kehidupan rohani setiap orang percaya. Keyakinan akan kasih Yesus bagi kita, akan apa yang telah Ia lakukan dan terus Ia lakukan, serta syafaat-Nya bagi kita, membawa kita pada keyakinan bahwa janji-janji-Nya akan digenapi. Dampak pertama dan paling mendasar adalah jaminan keselamatan. Keselamatan orang percaya bukan bergantung pada kemampuan sendiri untuk taat, melainkan pada syafaat Kristus yang sempurna dan terus-menerus di hadapan Bapa. Seperti yang ditegaskan The Gospel Coalition, "Setiap doa Yesus dijawab dan dibayar dengan darah."
Dampak kedua adalah keberanian dalam menghadapi dosa dan pencobaan. Bahkan ketika kita lupa berdoa, kita dapat mengambil penghiburan dengan mengetahui bahwa Yesus Kristus ada di surga, menyafaatkan kita. Orang percaya tidak perlu hidup dalam ketakutan atau keputusasaan ketika jatuh dalam dosa, karena Yesus hadir sebagai Pembela yang setia. Hal ini bukan berarti dosa diperbolehkan, tetapi bahwa ada jalan pemulihan melalui syafaat Kristus. Memulai setiap hari dengan ucapan syukur dan doa merupakan respons yang tepat terhadap kasih karunia ini.
Dampak ketiga adalah dorongan untuk menjadi pendoa syafaat bagi sesama. Jika Yesus sendiri mendoakan umat-Nya, orang percaya juga dipanggil untuk mendoakan orang lain. Mengetahui bahwa Yesus menyafaatkan kita seharusnya mendorong kita untuk menjalani kehidupan doa, di mana percakapan kita dengan Tuhan bukan sekadar ritual atau rutinitas, melainkan pertukaran hati yang tulus. Yesus adalah teladan sempurna kita, baik ketika Ia di bumi maupun sekarang saat Ia terus berdoa bagi kita. Peran Yesus di surga seharusnya menginspirasi orang percaya untuk terlibat dalam pelayanan doa, baik bagi keluarga, jemaat, maupun bangsa. Momen-momen seperti Jumat Agung dan Paskah menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan panggilan ini.
Dampak keempat adalah kedamaian dan pengharapan yang teguh di tengah pergumulan hidup. Mengetahui bahwa Yesus terus-menerus mengawasi dan membela kita — untuk kebutuhan kita — seharusnya memberikan kekuatan bagi kita untuk menghadapi apa pun yang ada di depan. Orang percaya tidak berjalan sendirian dalam menghadapi penyakit, kehilangan, tekanan ekonomi, atau konflik relasi. Yesus yang memahami kelemahan manusia karena pernah dicobai dalam segala hal — namun tanpa dosa — sedang aktif berdoa bagi setiap pergumulan yang dihadapi umat-Nya. Kebenaran ini memberikan motivasi dan penguatan iman yang melampaui segala keadaan duniawi. Dalam setiap momen kehidupan — termasuk saat memberikan penghiburan kepada yang berduka atau mengucapkan berkat ulang tahun bagi orang terkasih — orang percaya dapat menyertakan keyakinan bahwa Yesus mendoakan mereka dari surga.
Baca juga: Ayat Alkitab Jumat Agung untuk renungan pengorbanan dan kasih Yesus Kristus
Doa syafaat Yesus di surga adalah pelayanan-Nya yang terus-menerus sebagai Imam Besar dan Pengantara, di mana Ia berdoa kepada Allah Bapa demi kepentingan setiap orang percaya. Tidak semua pekerjaan Kristus telah selesai, karena Ia sekarang terus menyafaatkan kita di surga.
Dasar utama terdapat dalam Ibrani 7:25 yang menyatakan bahwa Yesus hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara, Roma 8:34 yang menyebut-Nya sebagai Pembela, dan 1 Yohanes 2:1 yang menyebut-Nya sebagai Pembela di hadapan Bapa. Yohanes 17 juga memberikan contoh konkret doa syafaat Yesus.
Meskipun Yesus adalah Allah yang berkuasa penuh, Ia memilih untuk mendoakan manusia sebagai ungkapan kasih dan kerendahan hati. Ia berdoa bagi kita untuk mengungkapkan kerinduan besar jiwa-Nya yang mahakudus akan kebahagiaan dan keselamatan kita. Pelayanan ini menunjukkan kedalaman kasih-Nya yang melampaui segala pengertian manusia.
Syafaat Yesus di surga ditujukan bagi semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Yesus menyafaatkan secara terus-menerus bagi semua orang yang percaya kepada-Nya, menjamin pengampunan, perlindungan, dan pertumbuhan rohani mereka. Jangkauan syafaat-Nya mencakup setiap orang percaya dari segala bangsa dan generasi.
Pengorbanan Yesus di salib dan syafaat-Nya di surga merupakan dua aspek dari satu pelayanan keimamatan yang utuh. Pengorbanan-Nya merupakan karya yang telah selesai, sedangkan syafaat-Nya adalah penerapan berkelanjutan dari buah pengorbanan tersebut. Ibarat seorang pengacara yang telah membayar utang kliennya, Yesus terus membela orang percaya berdasarkan darah penebusan-Nya. Pemahaman tentang makna pengorbanan di Jumat Agung memperdalam penghayatan kita tentang hal ini.
Allah menyediakan dua advokasi bagi orang percaya: Tuhan Yesus Kristus yang menyafaatkan di surga dan Roh Kudus yang menghibur di bumi. Roh Kudus membantu orang percaya berdoa dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan, sementara Yesus menyampaikan permohonan itu di hadapan takhta Bapa. Keduanya bekerja bersama untuk memastikan keselamatan dan pertumbuhan rohani orang percaya.
Respons yang tepat adalah menjalani kehidupan doa yang aktif, hidup dalam kekudusan, dan meneladani Yesus dengan mendoakan orang lain. Mengetahui bahwa Yesus menyafaatkan kita seharusnya mendorong kita untuk menjalani kehidupan doa, dan mengingat bahwa percakapan kita dengan Tuhan bukan sekadar ritual atau rutinitas melainkan pertukaran hati yang tulus. Membangun kebiasaan renungan harian dan hidup dalam persekutuan menjadi bentuk konkret dari respons tersebut.
Daftar Referensi
(kpl/fed)