Makna Jumat Agung bagi Umat Kristiani Lengkap dengan Sejarah dan Tradisi Perayaannya

Makna Jumat Agung bagi Umat Kristiani Lengkap dengan Sejarah dan Tradisi Perayaannya
makna jumat agung (h)

Kapanlagi.com - Setiap tahun, umat Kristiani di seluruh dunia memperingati Jumat Agung sebagai hari suci yang mengenang penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Peristiwa ini diyakini sebagai bentuk pengorbanan tertinggi demi penebusan dosa umat manusia.[1]

Jumat Agung merupakan bagian dari Tri Hari Suci Paskah yang terdiri dari Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci. Rangkaian perayaan sakral ini menjadi momen puncak dalam kalender liturgi sebelum umat merayakan kebangkitan Kristus pada Hari Paskah.[6]

Memahami makna Jumat Agung mengajak setiap orang beriman untuk merefleksikan kasih, pengampunan, dan pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari. Hari ini bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan undangan untuk menyelami inti iman Kristiani yang berpusat pada salib.[2]

Menurut Britannica, Jumat Agung adalah hari di mana umat Kristiani setiap tahun memperingati penyaliban Yesus Kristus, dan sejak masa awal kekristenan, hari ini telah dirayakan sebagai hari penuh duka, pertobatan, dan puasa.[1]

1. Pengertian Jumat Agung dalam Tradisi Kristiani

Pengertian Jumat Agung dalam Tradisi Kristiani (c) Ilustrasi AI

Jumat Agung, atau yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Good Friday, adalah hari suci umat Kristiani yang jatuh pada hari Jumat sebelum Minggu Paskah. Hari ini memperingati peristiwa penyaliban dan kematian Yesus Kristus di Bukit Golgota, Yerusalem.[1] Melansir dari Britannica, perayaan liturgi Jumat Agung telah mengalami berbagai perubahan sepanjang berabad-abad, namun esensi pemaknaan terhadap pengorbanan Kristus tetap menjadi inti perayaan ini.[1]

Berikut beberapa poin penting untuk memahami pengertian Jumat Agung secara lebih mendalam:

  1. Hari peringatan penyaliban Yesus — Jumat Agung secara khusus mengenang peristiwa ketika Yesus diadili, disiksa, kemudian disalibkan dan wafat di kayu salib di tempat yang disebut Golgota atau Kalvari.[3]
  2. Bagian dari Pekan Suci — Hari ini merupakan bagian dari rangkaian Pekan Suci (Holy Week) yang dimulai dari Minggu Palma dan berakhir pada Paskah, mencakup peristiwa-peristiwa terakhir kehidupan Yesus di dunia.[3]
  3. Elemen dari Triduum Paskah — Jumat Agung diamati sebagai bagian dari Paschal Triduum, tiga hari suci yang mencakup Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah pada Sabtu Suci.[3]
  4. Diperingati oleh berbagai denominasi — Umat Katolik, Ortodoks Timur, Lutheran, Anglikan, Metodis, dan berbagai denominasi Protestan lainnya sama-sama memperingati Jumat Agung dengan puasa dan ibadah gereja.[3]
  5. Hari tanpa Misa — Dalam tradisi Katolik, Jumat Agung adalah satu-satunya hari dalam tahun liturgi di mana Misa tidak dirayakan, sebagai penekanan atas duka dan ratapan Gereja atas kematian Kristus.[5]
  6. Dikenal dengan berbagai nama — Selain Good Friday, hari ini juga disebut Holy Friday, Great Friday, Great and Holy Friday, atau Friday of the Passion of the Lord di berbagai tradisi Kristiani.[3]
  7. Hari libur nasional di Indonesia — Di Indonesia, Jumat Agung dikenal juga sebagai Hari Wafat Isa Al-Masih dan merupakan hari libur nasional yang tanggalnya berubah setiap tahun mengikuti perhitungan tanggal Paskah.[6]

2. Sejarah Penyaliban Yesus Kristus pada Jumat Agung

Sejarah Penyaliban Yesus Kristus pada Jumat Agung (c) Ilustrasi AI

Kisah penyaliban Yesus Kristus yang menjadi dasar peringatan Jumat Agung tercatat dalam keempat Kitab Injil dalam Perjanjian Baru Alkitab. Menurut narasi Injil, rangkaian peristiwa dimulai setelah Perjamuan Terakhir yang diperingati sebagai Kamis Putih, di mana Yesus mengadakan makan malam bersama kedua belas murid-Nya. Malam itu, Yudas Iskariot mengkhianati Yesus dengan menerima tiga puluh keping perak sebagai imbalan untuk menunjukkan identitas-Nya kepada para penjaga.[3]

Yesus kemudian ditangkap di Taman Getsemani setelah berdoa. Ia diadili di hadapan Mahkamah Agama Yahudi, lalu dibawa kepada Pontius Pilatus, gubernur Romawi di Yudea. Meskipun Pilatus sempat meragukan kesalahan Yesus, tekanan politik dari para pemuka agama Yahudi membuat ia menjatuhkan hukuman mati melalui penyaliban.[2] Teolog Justin Holcomb menulis, "Penderitaan dan kematian Yesus, semengerikan apa pun peristiwa itu, menandai puncak dramatis dari rencana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."[2]

Penyaliban merupakan bentuk hukuman mati paling kejam pada masa Kekaisaran Romawi, umumnya dijatuhkan kepada para budak dan penjahat kelas berat. Sebelum disalibkan, Yesus dicambuk, dimahkotai duri, dan dipermalukan oleh para prajurit Romawi. Ia kemudian dipaksa memikul salib-Nya sendiri menuju Bukit Golgota — yang berarti "Tempat Tengkorak" — di mana tangan dan kaki-Nya dipaku pada kayu salib.[3] Menurut catatan Alkitab, seorang bernama Simon dari Kirene diminta membantu memikul salib karena Yesus sudah terlalu lemah akibat penyiksaan yang dialami-Nya.[3]

Menurut narasi Injil, kegelapan menyelimuti tanah selama tiga jam — dari tengah hari hingga pukul tiga sore — sebelum Yesus menghembuskan napas terakhir-Nya. Saat itu, tirai Bait Suci terbelah dua dari atas ke bawah dan terjadi gempa besar. Jenazah Yesus kemudian diturunkan dari salib oleh Yusuf dari Arimatea, yang membungkus-Nya dengan kain kafan bersih dan meletakkan-Nya dalam kubur batu baru miliknya sendiri.[3]

3. Makna Jumat Agung bagi Iman Umat Kristiani

Makna Jumat Agung bagi Iman Umat Kristiani (c) Ilustrasi AI

Secara teologis, makna Jumat Agung berpusat pada keyakinan bahwa kematian Yesus Kristus di kayu salib merupakan korban penebusan bagi seluruh dosa umat manusia. Dalam ajaran Kristiani, manusia dianggap tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari belenggu dosa, sehingga Allah mengutus Putra-Nya untuk menjadi jalan keselamatan melalui pengorbanan di salib.[2] Billy Graham, salah satu penginjil paling berpengaruh di abad ke-20, menegaskan, "Mengapa disebut Jumat 'Baik'? Karena melalui kematian-Nya, Yesus menjadi korban yang terakhir dan sempurna bagi dosa-dosa kita."[4]

Bagi umat Kristiani, peringatan hari ini memiliki beberapa dimensi makna yang saling berkaitan. Pertama, Jumat Agung menjadi simbol kasih tanpa syarat — Yesus rela menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan manusia yang Ia kasihi. Kedua, hari ini menandai penebusan dosa, di mana kematian-Nya diyakini sebagai korban pengganti yang menanggung hukuman atas dosa seluruh umat manusia. Ketiga, Jumat Agung mengajarkan teladan pengampunan yang luar biasa, sebab di tengah penderitaan penyaliban, Yesus masih berdoa, "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34).[2]

Di balik nuansa duka yang mendalam, makna Jumat Agung juga mengandung harapan dan awal yang baru. Salib bukanlah akhir dari cerita, melainkan jembatan menuju kebangkitan Kristus pada hari Paskah. Kematian Yesus membuka jalan menuju kehidupan kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Paradoks inilah yang menjadikan hari yang tampak sebagai kekalahan justru merupakan kemenangan terbesar dalam rencana keselamatan Allah.[2]

Melansir dari situs resmi Billy Graham Evangelistic Association, Billy Graham menjelaskan lebih lanjut bahwa pada hari itu, tampaknya segala harapan telah hilang dan kuasa kegelapan menang, namun hanya beberapa hari kemudian, kebenaran terungkap — "Kuasa kejahatan telah dikalahkan, kematian telah dihancurkan, dan sejak saat itu kehidupan manusia tidak akan pernah sama lagi."[4] Pemahaman ini menjadikan Jumat Agung bukan hanya hari duka, tetapi juga hari penuh pengharapan bagi seluruh umat Kristiani di dunia.

4. Mengapa Disebut Jumat "Agung" dan Asal Usul Nama Good Friday

Banyak orang bertanya mengapa hari yang mengenang kematian tragis Yesus Kristus justru disebut "Agung" atau "Good" dalam bahasa Inggris. Pertanyaan ini wajar mengingat peristiwa yang diperingati penuh dengan penderitaan dan kesakitan. Namun, di balik sebutan tersebut terkandung makna teologis yang sangat mendalam tentang rencana keselamatan Allah bagi umat manusia.[2]

Dalam tradisi berbahasa Inggris, asal usul istilah "Good Friday" masih menjadi perdebatan di kalangan ahli bahasa. Sebagian percaya bahwa kata "Good" berkembang dari istilah yang lebih tua, yaitu "God's Friday" (Jumat milik Tuhan). Namun menurut Britannica, istilah "Good" dalam konteks ini merujuk pada makna kuno dari kata tersebut, yaitu "suci" atau "kudus" — sama seperti penggunaan "Good Book" untuk menyebut Alkitab.[3] Di Jerman, hari ini disebut Karfreitag, yang berarti "Jumat Duka" — berasal dari kata kara dalam bahasa Jerman Kuno yang berarti "kesedihan."[1]

Sementara itu, dalam bahasa Inggris Kuno, hari ini disebut Long Friday (langa frigedæg), merujuk pada lamanya ibadah dan puasa yang dilakukan pada hari tersebut. Sebutan serupa masih digunakan hingga kini dalam bahasa-bahasa Skandinavia dan Finlandia.[3] Di berbagai negara, Jumat Agung juga dikenal sebagai Holy Friday (Jumat Suci) atau Great Friday (Jumat Agung), yang masing-masing menekankan aspek kesucian dan keagungan peristiwa ini bagi iman Kristiani.[3]

Pada hakikatnya, Jumat Agung disebut "agung" karena meskipun peristiwa penyaliban penuh derita, hari ini dipandang sebagai titik balik dalam sejarah keselamatan. Melalui kematian di kayu salib, Yesus menanggung murka Allah atas dosa sebagai korban pengganti yang sempurna, sehingga pengampunan dan keselamatan dapat dicurahkan kepada bangsa-bangsa.[2] Dengan kata lain, kebaikan tertinggi justru lahir dari hari yang tampak paling gelap — dan inilah alasan umat Kristiani menyebutnya "Agung." Poin unik ini menjadikan makna Jumat Agung tidak hanya bernuansa duka, tetapi juga penuh harapan akan kebangkitan yang mulia.

5. Tujuh Sabda Terakhir Yesus di Kayu Salib dan Maknanya

Tujuh Sabda Terakhir Yesus di Kayu Salib dan Maknanya (c) Ilustrasi AI

Salah satu aspek paling mendalam dari peringatan Jumat Agung adalah perenungan terhadap tujuh perkataan terakhir Yesus saat tergantung di kayu salib, yang sering disebut sebagai Seven Last Words. Setiap sabda mengandung makna teologis dan spiritual yang kuat, mencerminkan kasih, pengampunan, serta penyerahan diri Yesus kepada kehendak Bapa-Nya.[5] Dalam banyak tradisi gereja, ibadah Jumat Agung berlangsung selama tiga jam — dari pukul 12 siang hingga 3 sore — yang dikenal sebagai Service of the Great Three Hours' Agony, sesuai waktu kegelapan yang menyelimuti bumi menurut catatan Alkitab.[3]

Berikut tujuh sabda terakhir Yesus di kayu salib beserta maknanya:

  1. "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34) — Di tengah penderitaan luar biasa, Yesus justru mendoakan pengampunan bagi para penyiksa-Nya, mengajarkan kuasa pengampunan bahkan di saat ketidakadilan paling besar.[5]
  2. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-Ku di dalam Firdaus" (Lukas 23:43) — Yesus menjanjikan surga kepada pencuri yang bertobat di salib sebelah-Nya, menunjukkan bahwa belas kasih Allah tersedia bahkan di saat-saat terakhir kehidupan seseorang.[5]
  3. "Ibu, inilah anakmu... Inilah ibumu" (Yohanes 19:26-27) — Yesus mempercayakan ibunda-Nya, Maria, kepada murid yang dikasihi-Nya, Yohanes. Momen ini menetapkan Maria sebagai ibu rohani seluruh umat beriman dalam tradisi Kristiani.[5]
  4. "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46) — Seruan ini mengungkapkan pergumulan batin terdalam Yesus saat Ia menanggung beban dosa seluruh umat manusia, sekaligus mengutip Mazmur 22 yang secara profetis menggambarkan penderitaan-Nya.
  5. "Aku haus" (Yohanes 19:28) — Pernyataan singkat ini mengungkapkan penderitaan fisik nyata yang dialami Yesus, sekaligus menegaskan kemanusiaan-Nya yang sejati di tengah misi ilahi-Nya.
  6. "Sudah selesai" (Yohanes 19:30) — Sabda ini menandakan bahwa misi penebusan telah tergenapi secara sempurna. Hukuman atas dosa telah dibayar penuh dan kematian telah dikalahkan.[5]
  7. "Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Lukas 23:46) — Sabda terakhir sebelum Yesus menghembuskan napas, menunjukkan penyerahan diri total kepada kehendak Bapa yang menjadi teladan iman bagi seluruh umat Kristiani.

Baca juga: Ucapan Hari Jumat Agung Penuh Makna untuk Memperingati Pengorbanan Kristus

6. Tradisi Peringatan Jumat Agung di Berbagai Negara

Tradisi Peringatan Jumat Agung di Berbagai Negara (c) Ilustrasi AI

Peringatan Jumat Agung dirayakan dengan beragam tradisi yang unik di berbagai belahan dunia, mencerminkan kekayaan budaya sekaligus kedalaman iman umat Kristiani. Meskipun cara perayaannya berbeda-beda, tema sentral tetap sama — mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib dengan penuh kekhidmatan.[6] Melansir dari CNN, berbagai tradisi Jumat Agung di seluruh dunia menunjukkan betapa perayaan ini telah berakar mendalam dalam budaya masing-masing bangsa.[8]

Berikut beberapa tradisi peringatan Jumat Agung yang menarik dari berbagai negara:

  1. Yerusalem, Israel — Di kota tempat terjadinya peristiwa penyaliban, ribuan peziarah dari seluruh dunia berkumpul untuk berjalan menyusuri Via Dolorosa, rute tradisional yang dipercaya sebagai jalan yang dilalui Yesus menuju penyaliban. Prosesi ini berakhir di Golgota, tempat Yesus wafat.[8]
  2. Roma, Italia — Paus memimpin prosesi Via Crucis (Jalan Salib) dari Colosseum menuju Palatine Hill dengan obor menyala, berhenti di 14 perhentian yang menggambarkan perjalanan sengsara Yesus. Tradisi ini menjadi salah satu perayaan Jumat Agung paling megah di dunia.[8]
  3. Spanyol — Kota-kota seperti Seville terkenal dengan prosesi Jumat Agung yang spektakuler. Para anggota persaudaraan religius mengusung pasos — replika adegan penyaliban yang bisa berbobot beberapa ton — menyusuri jalanan kota diiringi saetas, nyanyian devosi spontan bergaya flamenco.[8]
  4. Filipina — Beberapa umat melakukan ritual penitensial yang unik, termasuk pencambukan diri dan bahkan reenakmen penyaliban secara literal, di mana peserta secara sukarela dipaku ke salib untuk waktu singkat sebagai bentuk pertobatan.[3]
  5. Bermuda — Penduduk setempat memiliki tradisi menerbangkan layang-layang pada Jumat Agung. Meskipun terkesan tidak biasa, tradisi ini berawal dari seorang guru sekolah Minggu yang menggunakan layang-layang untuk menggambarkan kenaikan Yesus ke surga kepada anak-anak.[8]
  6. London, Inggris — Setiap tahun di Trafalgar Square, pertunjukan drama The Passion of Jesus dipentaskan secara gratis dan terbuka untuk umum. Pertunjukan ini melibatkan lebih dari 100 pemain dan menampilkan rekonstruksi realistis dari peristiwa penyaliban.[8]
  7. Jerman — Jumat Agung dikenal sebagai Karfreitag dan ditetapkan sebagai Stiller Feiertag (hari libur hening). Terdapat peraturan ketat yang melarang aktivitas yang dianggap tidak menghormati umat Kristiani, termasuk larangan menari dan pembatasan pertunjukan film di bioskop.[3]
  8. Amerika Tengah — Di negara-negara seperti Honduras, El Salvador, dan Guatemala, jalanan dihiasi Alfombras — karpet seni dari serbuk kayu berwarna-warni bermotif religius — yang menjadi latar prosesi Jumat Agung.[8]

Baca juga: Makna Minggu Palma dan Cara Menghayati Perayaan Awal Pekan Suci

Di Indonesia sendiri, umat Kristiani memperingati Jumat Agung dengan mengikuti ibadah khusus di gereja yang meliputi liturgi sabda, penghormatan salib, dan komuni kudus. Banyak gereja juga mengadakan prosesi Jalan Salib dan drama Paskah sebagai sarana edukasi iman bagi jemaat.[7] Suasana ibadah umumnya khidmat, reflektif, dan penuh keheningan — sebuah kontras yang mencolok dengan sukacita Minggu Palma yang baru saja berlalu dan kebangkitan Paskah yang akan datang.[6]

Tradisi memakan ikan dan menghindari daging pada Jumat Agung juga umum dipraktikkan di banyak negara sebagai simbol pengendalian diri dan solidaritas terhadap penderitaan Yesus. Selain itu, hot cross buns — roti manis bertanda salib — telah menjadi tradisi kuliner Jumat Agung sejak setidaknya abad ke-16, khususnya di negara-negara berbahasa Inggris.[3] Setiap tradisi, baik yang sederhana maupun megah, pada dasarnya memiliki tujuan yang sama: mengajak umat merenungkan makna pengorbanan suci yang terjadi di atas kayu salib.

Baca juga: Panduan Warna Baju untuk Pekan Suci dari Minggu Palma hingga Paskah

7. FAQ tentang Makna Jumat Agung

FAQ tentang Makna Jumat Agung (c) Ilustrasi AI

1. Apa itu Jumat Agung?

Jumat Agung adalah hari suci umat Kristiani yang jatuh pada hari Jumat sebelum Paskah, memperingati penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di kayu salib di Bukit Golgota, Yerusalem. Hari ini merupakan bagian dari Tri Hari Suci Paskah dan dianggap sebagai salah satu peringatan paling sakral dalam kalender liturgi Kristiani.[1]

2. Kapan Jumat Agung 2026 diperingati?

Pada tahun 2026, Jumat Agung jatuh pada tanggal 3 April 2026. Tanggal peringatan Jumat Agung berubah setiap tahun karena mengikuti perhitungan tanggal Paskah yang berdasarkan kalender lunar, yaitu jatuh pada hari Jumat sebelum Minggu Paskah.[6]

3. Mengapa disebut "Good Friday" padahal mengenang kematian Yesus?

Sebutan "Good" dalam Good Friday dipercaya berasal dari makna kuno kata tersebut yang berarti "suci" atau "kudus." Meskipun mengenang peristiwa yang penuh derita, hari ini disebut "baik" karena melalui kematian Yesus, jalan keselamatan terbuka bagi umat manusia — sebuah kebaikan tertinggi yang lahir dari pengorbanan terbesar.[2]

4. Apa makna Jumat Agung bagi umat Kristiani?

Makna Jumat Agung bagi umat Kristiani mencakup tiga dimensi utama: sebagai simbol kasih tanpa syarat dari Tuhan, sebagai penebusan dosa umat manusia melalui pengorbanan Kristus, dan sebagai teladan pengampunan serta kerendahan hati. Hari ini juga menjadi pengingat bahwa dari kegelapan salib lahir harapan akan kebangkitan dan kehidupan kekal.[2]

5. Apa saja yang dilakukan umat Kristiani pada Jumat Agung?

Pada Jumat Agung, umat Kristiani umumnya mengikuti ibadah khusus di gereja, berdoa Jalan Salib (Stations of the Cross), berpuasa dan berpantang, serta melakukan refleksi pribadi tentang makna pengorbanan Yesus. Dalam tradisi Katolik, liturgi meliputi pembacaan kisah sengsara, penghormatan salib, dan penerimaan komuni kudus.[3]

6. Apa hubungan Jumat Agung dengan Paskah?

Jumat Agung dan Paskah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam iman Kristiani. Jumat Agung mengenang kematian Yesus di kayu salib, sementara Paskah merayakan kebangkitan-Nya pada hari ketiga. Tanpa penderitaan dan kematian di hari Jumat Agung, tidak akan ada kebangkitan yang penuh kemenangan di hari Paskah.[6]

7. Apakah Jumat Agung merupakan hari libur nasional di Indonesia?

Ya, Jumat Agung merupakan hari libur nasional di Indonesia yang dikenal dengan nama resmi Hari Wafat Isa Al-Masih. Tanggalnya berbeda setiap tahun karena mengikuti perhitungan kalender Paskah. Pada hari ini, umat Kristiani di seluruh Indonesia memperingatinya dengan ibadah dan doa bersama di gereja-gereja.[6]

Daftar Referensi

  1. Britannica. Good Friday | Christianity, Easter, Definition, History, Meaning, Traditions, & Facts. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.britannica.com/topic/Good-Friday
  2. Christianity.com. What Is Good Friday and Why Is It Called Good? Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.christianity.com/wiki/holidays/what-s-so-good-about-good-friday.html
  3. Wikipedia. Good Friday. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Good_Friday
  4. Billy Graham Evangelistic Association. Why Is the Day Jesus Was Crucified Called 'Good Friday'? Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://billygraham.org/answers/why-is-the-day-jesus-was-crucified-called-good-friday
  5. Franciscan Foundation for the Holy Land. The Meaning and Significance of Good Friday. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://ffhl.org/the-meaning-and-significance-of-good-friday/
  6. Kapanlagi.com. Mengenal Istilah Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://plus.kapanlagi.com/mengenal-istilah-kamis-putih-jumat-agung-dan-paskah-c95c7a.html
  7. Kapanlagi.com. 50 Ucapan Jumat Agung 2025 yang Menyentuh Hati dan Sarat Renungan. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://plus.kapanlagi.com/50-ucapan-jumat-agung-2025-yang-menyentuh-hati-dan-sarat-renungan-73ac6a25.html
  8. CNN. Observing Good Friday around the world. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.cnn.com/2019/04/19/world/good-friday-traditions-around-the-world-trnd

(kpl/fed)

Rekomendasi

Trending