Kapanlagi.com - Maulid Diba menjadi salah satu bacaan yang populer dilantunkan umat Islam ketika memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kitab ini memuat rangkaian syair pujian, shalawat, sekaligus kisah perjalanan hidup Rasulullah.
Banyak orang mencari teks Maulid Diba lengkap untuk diamalkan, baik sendiri maupun berjamaah di majelis. Bacaan ini tidak hanya dilafalkan pada 12 Rabiul Awal, tetapi juga rutin pada acara mingguan hingga bulanan.
Memahami teks Maulid Diba lengkap sebaiknya dibarengi dengan mengenal penyusun, isi, serta keutamaannya. Dengan begitu, pembacaannya terasa lebih bermakna dan tidak sekadar melafalkan bait.
Advertisement
Mengutip buku Kitab Shalawat Terbaik & Terlengkap karya Ustaz Rusdianto, Maulid Diba merupakan syair pujian dan sanjungan atas Nabi Muhammad SAW. Karya ini menjadikan cinta kepada Rasulullah sebagai ruh utama pada setiap baitnya.
Maulid Diba, atau kerap disebut Maulid Ad-Diba'i, adalah kitab maulid yang berisi kumpulan syair dan prosa untuk memuji Nabi Muhammad SAW. Karya ini merupakan kumpulan puisi yang memuji dan bershalawat kepada Nabi, dimulai dari kisah kelahiran beliau lalu berlanjut menggambarkan peristiwa-peristiwa teladan dalam kehidupannya. Nama "Diba" sendiri diambil dari nama pengarangnya, sehingga kitab ini lekat dengan sosok penyusunnya.
Tradisi membaca maulid seperti ini tidak muncul pada masa awal Islam, melainkan berkembang beberapa abad setelahnya. Jonathan A.C. Brown dalam buku Muhammad: A Very Short Introduction menuliskan, "Dinasti Fatimiyah Syiah di Mesir mulai menggelar perayaan publik hari lahir Muhammad." Dari sinilah tradisi tersebut kemudian meluas, dan pembaca dapat menelusuri lebih jauh melalui uraian tentang asal usul peringatan Maulid Nabi di dunia Islam.
Seiring waktu, pembacaan maulid berkembang menjadi bagian dari perayaan yang khidmat di berbagai belahan dunia. Dilansir dari The Pluralism Project Universitas Harvard, perayaan Maulid Nabi umumnya mencakup berbagi makanan, menghadiri ceramah tentang kehidupan dan keutamaan Nabi, majelis shalawat, serta pembacaan Al-Qur'an dan syair-syair pujian kepada Nabi. Pembacaan Maulid Diba termasuk dalam tradisi devosi semacam itu.
Di Indonesia, teks Maulid Diba lengkap sangat akrab di telinga masyarakat dan biasa dilantunkan pada bulan Rabiul Awal. Maulid Ad-Diba'i lazim dibacakan dengan suara keras saat perayaan Milad Nabi pada bulan Rabi'ul Awal, dan menjadi bacaan yang populer di kawasan Asia Tenggara. Maulid Nabi sendiri diperingati setiap 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah sebagai wujud rasa syukur seorang Muslim atas kelahiran Rasul-Nya.
Penyusun kitab ini adalah Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Ali ad-Diba'i asy-Syaibani, seorang ulama besar dari Yaman. Abd al-Rahman al-Zabidi yang dikenal sebagai Imam al-Daiba'i (1461-1537) atau Ibn al-Daiba'i adalah ulama dan ahli fikih dari mazhab Syafi'i, yang lahir di kota Zabid, Yaman, pada tahun 1461. Julukan "ad-Diba'i" inilah yang kemudian melekat pada nama kitab maulidnya.
Ibnu Diba dikenal sebagai ilmuwan dengan keahlian yang sangat luas. Ia adalah seorang muhaddith, sejarawan, ahli fikih, sekaligus penyair; ia belajar kepada lebih dari lima ratus ulama dan tergolong seorang hafiz yang menghafal seluruh Al-Qur'an serta menguasai ilmu hadits. Ia mengikuti mazhab Syafi'i dan dikenal sebagai muhaddith yang menghafal lebih dari 100.000 hadits lengkap dengan sanadnya.
Karya maulidnya lahir dari kecintaan mendalam kepada Rasulullah, bukan sekadar karya sastra. Ia menyusun teks maulidnya dalam tradisi puisi devosional Arab, memadukan isyarat Al-Qur'an, sirah nabawiyah, dan pujian yang tulus menjadi sebuah karya yang indah sekaligus dalam secara spiritual. Niatnya adalah sebuah ungkapan cinta, sebuah persembahan pujian kepada sosok yang ia anggap paling dicintai di antara makhluk Allah.
Isi kitabnya menyorot perjalanan hidup Nabi secara ringkas namun menyeluruh. Maulid Diba berisi kisah penciptaan, masa Nabi dalam kandungan Siti Aminah, mukjizat dan karamah kelahiran, kepribadian, perjuangan, serta dakwah Nabi Muhammad SAW. Bagi yang ingin mendalami sisi ini, tersedia pula ulasan tentang silsilah Nabi Muhammad SAW hingga kisah ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, serta gambaran perjalanan hidup Rasulullah yang sarat teladan.
Secara umum, teks Maulid Diba lengkap tersusun rapi dari bagian pembuka hingga doa penutup. Maulid Diba terdiri dari 29 bacaan berupa syair dan prosa yang disertai ayat dan hadits. Sebagaimana dikutip dari Quran NU Online, pembacaannya diawali dengan niat, lalu masuk ke rangkaian shalawat dan rawi kisah. Berikut gambaran urutan isinya.
Karena disusun dari banyak bagian, membaca teks Maulid Diba lengkap paling nyaman dilakukan langsung dari kitab cetak agar harakat dan urutannya terjaga. Bagi yang terbiasa dengan lantunan pujian, iramanya tidak asing seperti ketika melafalkan sholawat Jibril maupun berbagai kata-kata sholawat yang menyejukkan hati.
Meski hanya berupa ringkasan sirah, Maulid Diba menyimpan keutamaan yang luas bagi pembacanya. Pemahaman-pemahaman baru yang didapatkan pembaca merupakan bagian dari rahasia agung dalam Maulid Diba, seolah pembaca tidak hanya mendapat jaminan pahala, tetapi juga tambahan pengetahuan dan kecintaan kepada Rasulullah. Berikut beberapa keutamaannya.
Semangat memuliakan hari kelahiran Nabi ini dipandang istimewa oleh banyak ulama. Sayyid Muhammad ibn Alawi al-Maliki, dikutip dari New Age Islam, menyatakan, "hari kelahiran Rasulullah adalah hari yang lebih agung dan lebih utama daripada hari raya Id."
Keutamaan bershalawat sendiri berlaku luas di banyak amalan, sebagaimana dibahas dalam ulasan keutamaan bersholawat dan sholawat haji. Tidak sedikit pula umat yang menghias peringatan hari kelahiran Rasulullah dengan pembacaan maulid, ceramah, dan doa bersama.
Membaca Maulid Diba memiliki adab yang perlu dijaga karena berkaitan dengan penghormatan kepada Rasulullah. Sebagaimana disampaikan NU Online, ada beberapa tahapan dan etika yang dianjurkan agar pembacaannya lebih khidmat. Berikut poin-poinnya.
Dalam praktik di masyarakat, pembacaan teks Maulid Diba lengkap biasa menjadi inti sebuah acara yang dipandu pembawa acara, seperti terlihat pada panduan teks MC Maulid di masjid. Adab bersuci sebelum membaca pun serupa dengan persiapan dalam tata cara sholat, sehingga kekhusyukan lebih terjaga.
Selain di majelis, pembacaan maulid juga kerap dirangkai dengan amalan malam seperti sholat tahajud maupun sholat dhuha untuk menyempurnakan ibadah. Bagi yang ingin mengenal sosok Nabi lebih dekat, tontonan bertema film islami kisah nabi bisa menjadi pelengkap yang inspiratif.
Maulid Diba adalah kitab maulid berisi syair pujian, shalawat, dan kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, mulai dari penciptaan nur, kelahiran, sifat mulia, hingga dakwah beliau. Kitab ini banyak dibaca umat Islam pada peringatan Maulid Nabi maupun majelis rutin sebagai wujud cinta kepada Rasulullah.
Penyusunnya adalah Imam Abdurrahman bin Ali ad-Diba'i asy-Syaibani, ulama besar kelahiran Zabid, Yaman, yang hidup pada 1461-1537 M. Beliau dikenal sebagai muhaddith, sejarawan, sekaligus ahli fikih mazhab Syafi'i, dan nama kitab ini diambil dari julukannya, yaitu Ad-Diba'i.
Membaca Maulid Diba menjadi sarana memperbanyak shalawat sekaligus melafalkan ayat Al-Qur'an dan hadits yang tersisip di dalamnya. Selain itu, pembacaannya menumbuhkan kecintaan kepada Nabi, menambah pengetahuan tentang sirah, serta mempererat ukhuwah ketika dilakukan secara berjamaah.
Daftar Referensi
(kpl/cel)