Asal Usul Peringatan Maulid Nabi: Sejarah dan Perkembangannya di Dunia Islam

Asal Usul Peringatan Maulid Nabi: Sejarah dan Perkembangannya di Dunia Islam
asal usul peringatan maulid nabi (h)

Kapanlagi.com - Maulid Nabi adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal. Asal usul peringatan Maulid Nabi kerap ditelusuri hingga ke masa Dinasti Fatimiyah di Mesir.

Perayaan ini tidak dikenal pada zaman Rasulullah maupun para sahabat. Karena itu, memahami asal usul peringatan Maulid Nabi berarti menyusuri jejak sejarah Islam berabad-abad silam.

Mengutip kemenag.go.id, Maulid Nabi merupakan peristiwa peringatan yang jatuh pada 12 Rabiulawal Hijriah sebagai wujud cinta kasih umat Muslim kepada Nabi. Secara bahasa, kata maulid berasal dari bahasa Arab yang berarti hari lahir atau kelahiran.

1. Menelusuri Asal Usul Peringatan Maulid Nabi dari Masa ke Masa

Untuk memahami sebuah tradisi keagamaan secara utuh, kita perlu meletakkannya dalam garis waktu sejarah. Perayaan ini tidak muncul seketika, melainkan melewati beberapa fase penting, dan di sinilah asal usul peringatan Maulid Nabi dapat dirunut satu per satu. Berikut tahapannya.

  1. Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Rasulullah lahir di Makkah pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, sekitar 570-571 M, dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahb. Momen kelahiran inilah yang kelak dijadikan titik peringatan, meski pada masanya belum ada perayaan khusus.

  2. Ketiadaan perayaan di masa awal Islam: Pada zaman Rasulullah masih hidup, masa Khulafaur Rasyidin, para sahabat, tabi'in, hingga para imam mazhab, tidak ada satu pun catatan sejarah yang menunjukkan adanya perayaan hari kelahiran Nabi secara khusus.

  3. Kemunculan di era Dinasti Fatimiyah: Perayaan Maulid pertama kali dikenal di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah yang bermazhab Syiah Ismailiyah, sekitar abad ke-10 hingga ke-11 M. Mereka menggelar enam perayaan maulid sekaligus, yaitu maulid Nabi, maulid Ali, maulid Fatimah, maulid Hasan, maulid Husain, dan maulid khalifah yang berkuasa.

  4. Catatan tertua dari al-Maqrizi: Rujukan paling awal berasal dari sejarawan Mesir, al-Maqrizi, yang mengutip Ibn al-Ma'mun, putra wazir agung Khalifah al-Amir. Sebagaimana dilaporkan SoundVision, catatan itu mengungkap bahwa perayaan Maulid Nabi tahunan mulai digelar pada abad ke-12, tepatnya sekitar 517 H (1123-1124 M).

  5. Perayaan Sunni pertama di Irbil: Deskripsi rinci pertama perayaan Maulid di kalangan Sunni disponsori oleh Muzaffar al-Din Kokburi, penguasa Irbil sekaligus jenderal pada masa Salahuddin al-Ayyubi, pada awal abad ke-7 H. Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun Calendarr, ia menggelar jamuan raksasa, menyembelih ribuan hewan, dan konon menghabiskan sekitar 300.000 dirham; sejarawan Ibn Khallikan mencatat detail perayaan tersebut.

  6. Penyebaran melalui kaum Sufi: Setelah era Irbil, tradisi Maulid menyebar luas seiring berkembangnya tarekat Sufi yang meramaikan perayaan dengan zikir, samaa, serta pembacaan syair pujian kepada Nabi.

Jonathan A.C. Brown dalam buku Muhammad: A Very Short Introduction, dikutip dari Goodreads, menuliskan, "Maulid atau hari lahir Nabi kemungkinan berasal dari perayaan Syiah terdahulu atas hari lahir Ali, dan pada 1123 M Dinasti Fatimiyah Syiah di Mesir mulai menggelar perayaan publik hari lahir Muhammad dengan membagikan manisan serta sedekah kepada masyarakat."

2. Langkah Memahami Perkembangan Peringatan Maulid Nabi hingga ke Nusantara

Setelah mengetahui titik awalnya, langkah berikutnya adalah mengikuti bagaimana tradisi ini merambat ke berbagai penjuru. Di sinilah asal usul peringatan Maulid Nabi bertemu dengan dinamika politik, dakwah, dan budaya lokal yang membentuk wajahnya seperti sekarang. Berikut alur perkembangannya.

  1. Meluas ke dunia Arab dan Afrika Utara: Dari Mesir dan Irak, perayaan menyebar ke Syam, Hijaz, hingga Maghrib. Pengelana Ibn Jubayr bahkan mencatat perayaan Maulid di Makkah pada kisaran 614 H, dan di banyak daerah acara diisi pembacaan syair pujian seperti Qasida al-Burda karya Imam al-Busiri.

  2. Populer secara luas pada abad ke-13: Merujuk Encyclopaedia Britannica, Maulid Nabi baru dirayakan secara populer pada abad ke-13, meskipun Dinasti Fatimiyah di Mesir sudah memperingatinya sejak akhir abad ke-11, dan tradisi ini menyebar cepat bersama gerakan Sufi pada masa Ayyubiyah.

  3. Masuk ke Nusantara: Peringatan Maulid diperkenalkan oleh para ulama dan pedagang Muslim, lalu dikembangkan Wali Songo sekitar tahun 1404 M sebagai sarana menarik hati masyarakat agar memeluk Islam.

  4. Akulturasi dengan budaya lokal: Wali Songo memadukan dakwah dengan tradisi setempat sehingga lahir perayaan seperti Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Solo serta Sekaten yang diiringi gamelan. Ragam tradisi daerah lain pun bermunculan, dari Ampyang di Kudus hingga Walima di Gorontalo.

  5. Bentuk perayaan modern: Kini Maulid umumnya diisi pengajian, pembacaan kitab maulid seperti Barzanji dan Simtud Durar, lantunan shalawat, ceramah, hingga sedekah kepada fakir miskin. Beragam amalan baik saat Maulid Nabi menjadi cara umat mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah.

Dr. Attia Youseif, dikutip dari Muslim Voices Indiana University, menuliskan, "Kaum Fatimiyah, yang berkuasa atas sebagian Afrika Utara, merayakan kelahiran Nabi sebagai cara untuk memperkuat otoritas keagamaan dan politik mereka."

Di Indonesia, semangat memperingati kelahiran Rasulullah diwujudkan lewat berbagai bentuk. Umat memperbanyak bacaan sholawat Nabi, menyampaikan ucapan Maulid Nabi kepada kerabat, berbagi kata mutiara Maulid Nabi, hingga menyiapkan teks MC Maulid di masjid untuk acara di lingkungan mereka.

Baca juga: Kumpulan lirik sholawat Nabi

Baca juga: Caption Maulid Nabi penuh makna untuk media sosial

Baca juga: Kata-kata Maulid Nabi terbaik

Baca juga: Caption IG tentang Maulid Nabi

3. Pandangan Ulama dan Sejarawan tentang Peringatan Maulid Nabi

Meski asal usul peringatan Maulid Nabi sudah banyak dikaji, penilaian terhadapnya tidak seragam. Mayoritas sejarawan sepakat bahwa perayaan publik pertama berakar dari Dinasti Fatimiyah, dan pandangan ini nyaris menjadi konsensus di kalangan akademisi maupun para pengkaji agama. Menariknya, sejumlah ulama belakangan justru menisbatkan asal perayaan kepada Muzaffar al-Din Kokburi, seorang penguasa Sunni. Sebagian peneliti modern menilai penisbatan itu boleh jadi merupakan upaya menutupi latar belakang Syiah dari tradisi tersebut dan mengaitkannya dengan tokoh Sunni yang populer.

Konteks kemunculan Maulid juga menarik ditelaah. Perayaan ini berkembang pesat justru pada masa umat Islam menghadapi tekanan berat, mulai dari Perang Salib yang menguasai sebagian Timur Tengah sejak 1099 hingga ancaman gempuran bangsa Mongol dari arah timur. Dalam situasi krisis semacam itu, para penguasa memanfaatkan momentum kelahiran Nabi untuk mempersatukan umat dan membangkitkan semangat, sementara kalangan Sufi menjadikannya sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah.

Perdebatan hukum pun tak terhindarkan. Sebagian ulama menilai peringatan ini sebagai bidah karena tidak pernah dicontohkan generasi awal, sementara sebagian lain memandangnya boleh selama diisi kebaikan seperti pembacaan sirah, shalawat, dan sedekah. Yasir Qadhi, dikutip dari MuslimMatters, menyatakan, "Maulid pada mulanya merupakan perayaan Syiah Ismailiyah, meskipun pada akhirnya kehilangan corak asal-usul Syiahnya."

Terlepas dari perbedaan itu, banyak pihak memaknai Maulid sebagai momentum meneladani akhlak Nabi, bukan sekadar seremoni. Nilai yang ditekankan adalah kejujuran, kasih sayang, dan keteladanan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana beliau tunjukkan hingga haji wada di akhir hayatnya. Di berbagai negara, ekspresinya beragam; di Pakistan, misalnya, perayaan diawali dengan salvo tembakan kehormatan, sedangkan di Nusantara diwarnai gunungan hasil bumi. Sama seperti peringatan lain dalam kalender Islam seperti Tahun Baru Islam dan sejarah bulan Muharram, Maulid Nabi yang jatuh pada bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah pun menyimpan makna sejarah yang layak dipahami setiap Muslim.

4. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Maulid Nabi

Siapa yang pertama kali memperingati Maulid Nabi?

Menurut mayoritas sejarawan, perayaan Maulid pertama kali digelar secara publik oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir yang bermazhab Syiah Ismailiyah. Adapun perayaan besar pertama di kalangan Sunni umumnya dinisbatkan kepada Muzaffar al-Din Kokburi, penguasa Irbil pada masa Ayyubiyah.

Kapan peringatan Maulid Nabi pertama kali diadakan?

Catatan tertua menunjukkan perayaan Maulid tahunan mulai digelar pada awal abad ke-6 Hijriah, sekitar 1122-1124 M, pada masa Dinasti Fatimiyah. Tradisi ini kemudian berkembang pesat dan menjadi populer secara luas pada abad ke-13 M.

Apakah Nabi Muhammad dan para sahabat merayakan Maulid?

Tidak. Para ulama sepakat bahwa tidak ada perayaan Maulid pada masa Nabi, sahabat, maupun generasi salaf. Tradisi peringatan hari kelahiran Rasulullah baru muncul beberapa abad setelah beliau wafat dan berkembang menjadi tradisi keagamaan di berbagai wilayah.

Daftar Referensi

  1. Encyclopaedia Britannica. Mawlid: Meaning, Importance, Celebration, and Facts. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.britannica.com/topic/mawlid
  2. MuslimMatters. The Birth-Date of the Prophet and the History of the Mawlid. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://muslimmatters.org/2009/03/13/the-birth-date-of-the-prophet-and-the-history-of-the-mawlid-part-ii-of-iii/
  3. Indiana University - Muslim Voices. Al-Mawlid Al-Nabawi: A Global Celebration of the Prophet Muhammad's Birth. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://blogs.iu.edu/muslimvoices/2024/09/15/al-mawlid-al-nabawi-a-global-celebration-of-the-prophet-muhammads-birth-by-dr-attia-youseif/
  4. Goodreads. Muhammad: A Very Short Introduction Quotes (Jonathan A.C. Brown). Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.goodreads.com/work/quotes/13574791
  5. SoundVision. Mawlid Celebrations: Historical and Contemporary. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.soundvision.com/article/mawlid-celebrations-historical-and-contemporary

(kpl/ums)

Rekomendasi

Trending