Sejarah Bulan Muharram: Asal-usul, Peristiwa Penting, dan Keutamaannya dalam Islam

Sejarah Bulan Muharram: Asal-usul, Peristiwa Penting, dan Keutamaannya dalam Islam
sejarah bulan muharram (h)

Kapanlagi.com - Sejarah bulan Muharram membentang jauh melampaui lahirnya kalender Hijriyah, mengakar hingga ke tradisi masyarakat Arab pra-Islam yang telah mengenal bulan ini sebagai salah satu bulan suci. Sebagai bulan pertama dalam penanggalan Hijriah, Muharram menjadi penanda dimulainya tahun baru bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Dilansir dari Islamic Relief UK, bulan Muharram disebut sebagai Syahrullah atau "bulan Allah" dalam hadis — sebuah kehormatan yang tidak diberikan kepada bulan mana pun lainnya dalam kalender Islam. Kedudukan istimewa ini menjadikan Muharram bukan sekadar penanda waktu, melainkan bulan yang penuh berkah dan keutamaan spiritual.

Mendalami sejarah bulan Muharram berarti menelusuri proses panjang penetapan kalender Hijriyah pada masa Khalifah Umar bin Khattab serta memahami berbagai peristiwa monumental yang mewarnainya. Dari tradisi pra-Islam hingga kisah para nabi, bulan ini menyimpan khazanah sejarah yang sangat kaya karena banyak peristiwa historis penting terjadi di dalamnya.

1. Pengertian dan Asal Kata Bulan Muharram

(c)Ilustrasi AIBerdasarkan World History Edu, kata Muharram berasal dari akar kata Arab yang bermakna "terlarang" (forbidden), mencerminkan larangan peperangan yang berlaku pada bulan tersebut. Secara lebih lengkap, kata ini merupakan bentuk turunan dari harrama-yuharrimu-tahriiman yang berarti diharamkan atau dimuliakan. Makna ini menunjukkan bahwa Muharram telah dianggap sebagai waktu yang dimuliakan bahkan sebelum Islam datang, ketika suku-suku Arab pra-Islam memberlakukan larangan konflik bersenjata selama bulan ini berlangsung.

Dalam Islam, Muharram memiliki kedudukan yang sangat tinggi sebagai salah satu dari empat bulan haram (al-asyhur al-hurum) yang disucikan secara khusus. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36 tentang empat bulan haram ini:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan haram tersebut meliputi tiga bulan berurutan — Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Muharram — ditambah Rajab. Selama bulan-bulan ini, segala tindakan yang berpotensi menumpahkan darah seperti peperangan dan pencurian dilarang keras di Jazirah Arab, dan aturan ini dipatuhi secara ketat.

Selain statusnya sebagai bulan haram, Muharram juga mendapat sebutan khusus Syahrullah yang berarti "bulan Allah." Penyandaran langsung kepada lafaz jalalah ini menunjukkan keagungan yang luar biasa, sebagaimana umat Islam menyebut Ka'bah sebagai Baitullah. Bahkan Muharram dipandang sebagai bulan tersuci kedua setelah Ramadan, menjadikannya waktu yang sangat istimewa untuk meningkatkan ibadah dan refleksi spiritual.

Baca juga: Panduan Lengkap 12 Bulan Hijriah dan Makna Spiritualnya

2. Kedudukan Muharram dalam Tradisi Arab Sebelum Islam

(c)Ilustrasi AIJauh sebelum kalender Hijriyah ditetapkan secara resmi, bangsa Arab telah mengenal dua belas bulan dalam siklus lunar mereka — termasuk Muharram, Safar, Rabiul Awal, dan seterusnya. Nama-nama bulan ini sudah digunakan di Jazirah Arab, meskipun masyarakat waktu itu tidak memiliki sistem penomoran tahun yang baku. Tahun-tahun hanya dinamai berdasarkan peristiwa besar yang terjadi, seperti Amul Fil (tahun gajah) untuk menandai kelahiran Rasulullah SAW, atau tahun berdasarkan perang tertentu.

Konsep empat bulan haram — Rajab, Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Muharram — merupakan tradisi yang sudah mapan di kalangan suku-suku Arab pra-Islam. Selama empat bulan ini, pertumpahan darah dan peperangan dilarang secara ketat demi menjaga stabilitas perdagangan dan aktivitas haji. Bahkan kronikawan Bizantium turut mencatat adanya masa gencatan senjata yang dihormati oleh suku-suku Arab pada periode tertentu, menegaskan bahwa kesucian bulan-bulan ini diakui melampaui batas internal komunitas Arab sendiri.

Sebagaimana dikutip dari Yaqeen Institute, fakta bahwa bangsa Arab pra-Islam sudah menjalankan puasa di hari Asyura menunjukkan bahwa tradisi ini "merupakan warisan dari ajaran Nabi Ibrahim yang mereka pertahankan, serupa dengan ritual haji."

Menariknya, bangsa Arab juga mengenal praktik yang disebut Nasi' — sebuah sistem penundaan atau pergeseran bulan-bulan suci. Praktik ini memungkinkan penggandaan nama bulan tertentu setiap dua atau tiga tahun sekali, sehingga urutan bulan-bulan suci bergeser demi kepentingan perdagangan atau jadwal haji. Islam kemudian melarang tegas praktik Nasi' melalui wahyu yang turun pada tahun ke-10 Hijriyah (QS. At-Taubah: 37), memastikan bahwa urutan dan kesucian bulan-bulan haram termasuk Muharram tetap terjaga sebagaimana aslinya.

Baca juga: Mengenal 12 Bulan dalam Kalender Tradisional Nusantara

3. Sejarah Penetapan Kalender Hijriyah oleh Khalifah Umar

(c)Ilustrasi AIKalender Hijriyah yang digunakan umat Islam hingga saat ini tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses musyawarah yang cermat di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Proses ini bermula dari persoalan administratif yang semakin mendesak seiring meluasnya wilayah kekuasaan Islam ke berbagai penjuru.

Mengacu pada catatan Islamic Relief Australia, penetapan kalender ini bermula ketika gubernur Basrah, Abu Musa al-Asy'ari, menuliskan surat yang menyoroti kesulitan dalam mengidentifikasi tanggal pada dokumen-dokumen yang masuk. Kalender Islam kemudian diperkenalkan secara resmi pada sekitar tahun 638 Masehi (17 Hijriyah).

Berikut tahapan-tahapan penting dalam penetapan kalender Hijriyah:

  1. Surat Abu Musa al-Asy'ari kepada Khalifah Umar. Gubernur Basrah ini mengeluhkan kesulitan dalam mengarsipkan dokumen karena surat-surat yang beredar hanya mencantumkan bulan dan tanggal tanpa keterangan tahun. Ketidakjelasan ini menyebabkan kebingungan serius dalam administrasi negara.
  2. Pembentukan tim musyawarah. Menindaklanjuti persoalan tersebut, Khalifah Umar mengumpulkan para sahabat terkemuka untuk bermusyawarah, termasuk Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Waqqas, dan Thalhah bin Ubaidillah.
  3. Usulan tahun kelahiran Nabi ditolak. Sebagian sahabat mengusulkan agar tahun pertama dihitung dari kelahiran Rasulullah, namun pendapat ini ditolak. Begitu pula usulan tahun wafat Nabi, karena para sahabat tidak ingin mengaitkan awal kalender dengan momen kesedihan mendalam.
  4. Usulan tahun pengangkatan Nabi sebagai Rasul. Ada juga yang mengusulkan tahun turunnya wahyu pertama sebagai titik awal. Namun pendapat ini kurang mendapat dukungan karena pada masa itu belum terjadi perubahan signifikan dalam perkembangan dakwah Islam.
  5. Ali bin Abi Thalib mengusulkan tahun hijrah. Ali mengajukan gagasan agar kalender dimulai dari tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Umar dan seluruh anggota musyawarah menyetujui usulan ini.
  6. Hijrah ditetapkan sebagai titik awal. Pendapat ini dianggap paling tepat karena "peristiwa hijrah diketahui secara pasti waktunya." Sejak saat itu, tahun hijrah menjadi tahun pertama kalender Islam dan bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pembukanya.

Baca juga: Pengertian Migrasi, Jenis, dan Faktor Penyebabnya

4. Alasan Muharram Ditetapkan sebagai Bulan Pertama Tahun Islam

(c)Ilustrasi AISetelah para sahabat menyepakati peristiwa hijrah sebagai titik awal penanggalan, muncul pembahasan lanjutan yang tak kalah penting: bulan mana yang akan dijadikan pembuka tahun Hijriyah? Sejumlah usulan diajukan, masing-masing dengan argumen yang kuat dan berlandaskan peristiwa bersejarah.

Salah satu usulan yang sempat muncul adalah menjadikan bulan Rabiul Awal sebagai bulan pertama, karena perjalanan hijrah Rasulullah SAW ke Madinah memang terjadi pada bulan tersebut. Ada pula yang mengusulkan bulan Ramadan karena keistimewaannya. Namun, Khalifah Umar justru memilih bulan Muharram, dan keputusan ini didukung oleh Utsman bin Affan.

Mengacu pada en.muhammadiyah.or.id, bulan Muharram memiliki signifikansi khusus bagi umat Muslim karena menandai tahun baru dalam kalender Islam. Di bulan ini terdapat dua momen yang sangat dihormati: Tahun Baru Islam pada tanggal 1 Muharram dan Hari Asyura pada tanggal 10 Muharram, yang menjadi ajang refleksi bagi seluruh umat.

Alasan utama pemilihan Muharram terletak pada kronologi peristiwa hijrah itu sendiri. Meskipun Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal, wacana dan persiapan hijrah justru dimulai sejak bulan Muharram — yakni setelah selesainya Baiat Aqabah II yang berlangsung di penghujung bulan Dzulhijjah. Bulan Muharram juga secara alami mengikuti bulan Dzulhijjah, sehingga ketika umat Islam kembali dari ibadah haji, mereka membawa semangat baru memasuki tahun yang baru pula. Selain itu, kesucian bulan Muharram sudah diakui sejak era pra-Islam dan dipertegas oleh Al-Quran serta hadis, menjadikannya pilihan paling tepat sebagai bulan pembuka kalender umat Islam.

Baca juga: Ucapan Menyambut Tahun Baru Islam yang Penuh Makna

5. Peristiwa Bersejarah dan Tradisi Puasa Asyura di Bulan Muharram

(c)Ilustrasi AISejarah bulan Muharram tidak bisa dipisahkan dari deretan peristiwa luar biasa yang diyakini terjadi di dalamnya, khususnya pada hari ke-10 atau yang dikenal sebagai Hari Asyura. Banyak kitab klasik Islam mencatat berbagai kejadian monumental yang menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang Allah kepada para nabi dan hamba-Nya.

Mengutip Britannica, tradisi puasa pada hari Asyura sudah dikenal sebelum Islam lahir. Sejumlah hadis menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menjalankan puasa Asyura mengikuti tradisi pra-Islam setempat, sementara riwayat lain menyatakan beliau mengadopsinya dari kaum Yahudi di Madinah yang berpuasa pada Yom Kippur.

Berikut peristiwa-peristiwa bersejarah yang diyakini terjadi di bulan Muharram berdasarkan catatan ulama:

  1. Diterimanya taubat Nabi Adam AS. Setelah diturunkan dari surga, taubat Nabi Adam AS diterima oleh Allah SWT pada bulan Muharram. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertobat.
  2. Berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS di Bukit Judi. Menurut riwayat, kapal Nabi Nuh AS mendarat dengan selamat di Bukit Judi pada tanggal 10 Muharram setelah banjir besar yang menenggelamkan bumi. Nabi Nuh AS berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur.
  3. Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari api Raja Namrud. Ketika dibakar karena menghancurkan berhala-berhala kaumnya, Allah memerintahkan api agar menjadi dingin dan membawa keselamatan bagi Nabi Ibrahim AS.
  4. Nabi Musa AS dan Bani Israil diselamatkan dari Fir'aun. Peristiwa paling masyhur di bulan Muharram adalah dibelahnya Laut Merah oleh Allah bagi Nabi Musa AS, sementara Fir'aun dan pasukannya tenggelam di dalamnya.
  5. Nabi Yunus AS dikeluarkan dari perut ikan. Setelah bertaubat di dalam perut ikan Nun, Nabi Yunus AS dikeluarkan dalam keadaan selamat pada bulan Muharram.
  6. Nabi Ayyub AS disembuhkan dari penyakit. Setelah bertahun-tahun menderita dan tetap bersabar, Allah SWT menyembuhkan Nabi Ayyub AS pada bulan ini sebagai simbol kesabaran dan keikhlasan.
  7. Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara. Kemampuannya menafsirkan mimpi raja Mesir menjadi titik awal kejayaan Nabi Yusuf AS di Mesir.
  8. Nabi Isa AS diangkat ke langit. Para ulama berpendapat bahwa Nabi Isa AS diangkat ke langit oleh Allah SWT pada bulan Muharram, sebagai bentuk penyelamatan dari upaya pembunuhan oleh kaumnya.
  9. Tragedi Karbala (61 Hijriyah). Pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H, Sayyidina Husain bin Ali — cucu Rasulullah SAW — gugur dalam peristiwa Karbala. Bagi Muslim Sunni maupun Syiah, penderitaan dan kesyahidan Husain menjadi simbol pengorbanan dalam perjuangan kebenaran melawan kezaliman.
  10. Puasa Asyura dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kaum Quraisy sudah berpuasa pada hari Asyura bahkan sebelum Islam datang. Nabi Muhammad SAW, selama masih di Mekkah, juga menjalankan puasa ini hingga kemudian diwajibkan puasa Ramadan. Setelah kewajiban puasa Ramadan ditetapkan, puasa Asyura berubah statusnya menjadi sunah.

Terkait puasa Asyura, Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar umat Islam juga berpuasa pada tanggal 9 Muharram (puasa Tasu'a) untuk membedakan diri dari kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10. Rasulullah SAW bersabda, "Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya" (HR. Muslim). Keutamaan ini menjadikan puasa di bulan Muharram sebagai salah satu amalan paling utama setelah Ramadan, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram." (HR. Muslim)

Baca juga: Puasa Arafah Menghapus Dosa Apa Saja? Penjelasan Lengkap Menurut Ulama

6. FAQ Seputar Sejarah Bulan Muharram

(c)Ilustrasi AI1. Mengapa bulan Muharram disebut "bulan Allah" (Syahrullah)?

Bulan Muharram mendapat julukan Syahrullah karena disebutkan demikian dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Gelar ini merupakan penyandaran langsung kepada nama Allah sebagai bentuk penghormatan tertinggi, menunjukkan bahwa Muharram sangat istimewa dan agung di sisi-Nya. Tidak ada bulan lain dalam kalender Hijriyah yang mendapat kehormatan serupa. Masyarakat Jawa pun mengenal bulan ini sebagai bulan Suro yang sangat disakralkan.

2. Siapa yang pertama kali menetapkan kalender Hijriyah?

Kalender Hijriyah ditetapkan secara resmi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, sekitar tahun 17 Hijriyah (638 Masehi). Penetapan ini dipicu oleh kebutuhan administratif untuk membuat sistem penanggalan yang seragam. Setelah musyawarah dengan para sahabat utama, disepakati bahwa kalender dimulai dari tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, dan Ali bin Abi Thalib menjadi pencetus gagasan brilian tersebut.

3. Apa saja amalan utama yang dianjurkan di bulan Muharram?

Amalan paling utama di bulan Muharram adalah memperbanyak puasa sunah, terutama puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram yang memiliki janji penghapusan dosa setahun. Selain itu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak sedekah, membaca Al-Quran, melakukan muhasabah diri, serta berdoa agar tahun yang baru membawa keberkahan. Terdapat pula riwayat yang menyatakan, "Barang siapa yang bermurah hati kepada keluarganya pada Hari Asyura, maka Allah akan bermurah hati kepadanya sepanjang tahun."

Menelusuri sejarah bulan Muharram memberikan pemahaman bahwa bulan ini bukan sekadar penanda pergantian tahun Hijriyah. Dari tradisi Arab pra-Islam yang mengharamkan peperangan, penetapan kalender Hijriyah oleh Khalifah Umar, hingga deretan peristiwa monumental para nabi — semuanya menegaskan bahwa Muharram adalah bulan yang dipenuhi hikmah, kedamaian, dan peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Daftar Referensi

  1. Britannica. Ashura | Islam, Muharram, Shi'i and Sunni, Martyrdom of Husayn. Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://www.britannica.com/topic/Ashura-Islamic-holy-day
  2. Islamic Relief UK. Muharram 2026 - The Month of Allah. Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://www.islamic-relief.org.uk/resources/islamic-calendar/muharram/
  3. Yaqeen Institute. Fasting Ashura: What Is Ashura and Why Is It Important? Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://yaqeeninstitute.org/read/blog/fasting-ashura-what-is-ashura-and-why-is-it-important
  4. World History Edu. History of the Islamic Calendar: When and How Did It Start? Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://worldhistoryedu.com/history-of-the-islamic-calendar-when-and-how-did-it-start/
  5. en.muhammadiyah.or.id. The Historical Context of Tasu'a and Ashura Fasting. Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://en.muhammadiyah.or.id/the-historical-context-of-tasua-and-ashura-fasting/

(kpl/fed)

Rekomendasi

Trending