Muharram dalam Islam: Pengertian, Keutamaan, dan Amalan Sunnah yang Dianjurkan
muharram dalam islam (h)
Kapanlagi.com - Muharram dalam Islam menempati posisi istimewa sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Kehadirannya setiap tahun menjadi momentum bagi umat Muslim di seluruh dunia untuk memperbanyak ibadah, refleksi, dan kebaikan.
Sebagai penanda Tahun Baru Islam, bulan Muharram menyimpan segudang peristiwa bersejarah dan keutamaan spiritual yang luar biasa. Rasulullah SAW bahkan menyebutnya sebagai Syahrullah atau bulan Allah, menegaskan betapa mulianya kedudukan bulan ini di sisi-Nya.
Dilansir dari Islamic Relief UK, Muharram memiliki makna besar bagi umat Muslim karena selain termasuk bulan suci, di dalamnya terjadi banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam. Memahami Muharram dalam Islam secara mendalam akan membantu setiap Muslim menghayati keutamaannya dan mengoptimalkan ibadah sepanjang bulan penuh berkah ini.
Advertisement
1. Pengertian dan Makna Bulan Muharram dalam Islam
Mengutip Human Appeal, kata "Muharram" berasal dari bahasa Arab yang bermakna "terlarang" atau "suci". Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram dalam Islam bersama Rajab, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah, di mana peperangan secara tradisi dilarang. Status sakral ini mencerminkan suasana spiritual yang tinggi, sebuah ajakan dari Allah agar umat Muslim menjauhkan diri dari konflik dan mendekatkan diri pada ibadah, refleksi, serta rasa syukur. Bangsa Arab di masa jahiliah pun sudah mengenal dan menghormati bulan ini dengan tidak melakukan peperangan selama periodenya berlangsung.
Sebelum Khalifah Umar bin Khattab menetapkan sistem penanggalan Hijriah, bulan Muharram dikenal dengan sebutan Shafar Awal karena posisinya sebelum bulan Shafar. Sebagaimana termaktub dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, kata "Muharram" secara harfiah bermakna "terlarang", dan nama ini sendiri merujuk pada kesucian bulan tersebut. Tradisi memuliakan bulan ini sudah melekat dalam kehidupan bangsa Arab jauh sebelum Islam hadir dengan ajarannya.
Kalender Hijriah dan posisi Muharram sebagai bulan pertamanya berakar pada salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Islam: hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Perpindahan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan pengorbanan besar dan kepercayaan penuh kepada Allah. Hijrah menandai berdirinya komunitas Muslim sebagai sebuah umat yang bersatu dalam keimanan. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, kalender Hijriah secara resmi ditetapkan dengan tahun hijrah sebagai tahun pertama. Keputusan ini diambil setelah musyawarah dengan para sahabat terkemuka, termasuk Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.
Muharram dipilih sebagai bulan pertama karena menghubungkan kalender secara permanen dengan semangat awal baru dan keberanian hijrah yang penuh berkah. Sejak saat itu, kalender Hijriah menjadi identitas penanggalan umat Islam yang digunakan hingga saat ini, dengan Muharram sebagai pembuka tahun yang sarat makna spiritual dan historis.
Baca juga: Panduan Lengkap Puasa Muharram beserta Keutamaannya
2. Kedudukan Muharram sebagai Syahrullah atau Bulan Allah
Di antara empat bulan haram dalam Islam, Muharram memiliki kedudukan paling istimewa. Bulan suci ini disebut dalam hadis sebagai bulan Allah (Syahrullah), dan tidak ada bulan lain yang memperoleh kehormatan serupa. Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran dan hadis sahih, berikut adalah aspek-aspek keistimewaan kedudukan Muharram.
- Termasuk Empat Bulan Haram (Asyhurul Hurum)
Muharram disebutkan dalam Al-Quran sebagai salah satu bulan haram di mana peperangan dilarang. Kesucian bulan ini ditegaskan dalam Surah At-Taubah ayat 36. Allah SWT berfirman bahwa di antara dua belas bulan dalam ketetapan-Nya, terdapat empat bulan haram. Ketika memasuki bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, umat Islam diperintahkan untuk tidak berperang dan menghentikan pertempuran, kecuali diserang terlebih dahulu oleh musuh.
- Gelar Syahrullah (Bulan Allah)
Nabi Muhammad SAW menyebut Muharram sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyebutan yang menegaskan betapa tingginya nilai spiritual bulan ini. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, "Puasa terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram" (Sahih Muslim, Hadis 1163).
- Pahala Amal Saleh Dilipatgandakan
Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh yang dilakukan pada bulan-bulan haram termasuk Muharram mendapatkan pahala yang lebih besar. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menerangkan bahwa kebaikan di bulan haram pahalanya lebih agung dibandingkan kebaikan di bulan-bulan lainnya. Hal ini menjadikan Muharram sebagai kesempatan berharga untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
- Konsekuensi Dosa Lebih Berat
Sebanding dengan berlipat gandanya pahala, perbuatan dosa di bulan ini juga menanggung konsekuensi lebih berat. Kezaliman yang dilakukan pada bulan haram memiliki timbangan dosa yang lebih besar, sehingga umat Islam hendaknya lebih waspada menjaga lisan dan perilaku selama bulan-bulan yang dimuliakan Allah.
- Bulan Terbaik untuk Puasa Sunnah Setelah Ramadan
Hadis riwayat Imam Muslim secara tegas menyatakan bahwa puasa paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram. Keutamaan ini menjadikan bulan Muharram sebagai waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah puasa sunnah bagi setiap Muslim yang mampu menjalankannya.
- Penanda Awal Tahun Baru Hijriah
Tanggal 1 Muharram menandai dimulainya tahun baru dalam kalender Hijriah. Tahun Baru Islam disambut dengan refleksi sunyi, bukan perayaan. Banyak Muslim menggunakan hari ini untuk memanjatkan doa yang tulus, menetapkan niat spiritual untuk tahun mendatang, serta meningkatkan ibadah. Momen ini menjadi pengingat akan fana-nya waktu dan pentingnya mempersiapkan bekal akhirat.
Baca juga: Panduan Amalan di Bulan Suci yang Wajib Diketahui
3. Peristiwa Bersejarah yang Terjadi di Bulan Muharram
Bulan Muharram menjadi saksi berbagai peristiwa monumental yang membentuk sejarah keimanan umat manusia. Bagi umat Islam Sunni, hari Asyura (10 Muharram) memperingati hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israel dari tirani Fir'aun. Pada hari tersebut, Allah SWT membelah Laut Merah sehingga Nabi Musa dan kaumnya dapat melewatinya dengan selamat, sementara Fir'aun beserta pasukannya tenggelam. Sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, beliau menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak memuliakan Nabi Musa daripada mereka.
Selain kisah Nabi Musa, bulan Muharram juga dikaitkan dengan sejumlah peristiwa penting para nabi lainnya. Di antaranya berlabuhnya perahu Nabi Nuh AS setelah banjir besar yang melanda bumi, diselamatkannya Nabi Ibrahim AS dari kobaran api yang dinyalakan oleh Namrud, serta disembuhkannya Nabi Ayyub AS dari penyakit yang dideritanya. Nabi Yunus AS juga dikeluarkan dari perut ikan pada hari Asyura, dan Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan betapa agung rahmat dan kekuasaan Allah yang tercurah pada hari yang penuh keberkahan di bulan suci Muharram.
Dalam sejarah Islam pasca-kenabian, bulan Muharram mencatat peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah, tonggak lahirnya peradaban Islam sebagai komunitas yang terorganisir. Selain itu, Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, syahid pada tahun 61 H (680 M) di Karbala pada tanggal 10 Muharram. Peristiwa ini merepresentasikan bukan sekadar kejadian sejarah, melainkan pelajaran abadi tentang keberanian menegakkan kebenaran. Kisah keberanian dan pengorbanan melawan ketidakadilan ini terus bergema hingga saat ini.
Muharram bukan hanya awal dari tahun baru, melainkan kesempatan untuk memperbarui iman, menghormati sejarah Islam, dan memberikan kepada mereka yang membutuhkan. Setiap peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan ini mengandung pelajaran mendalam tentang keimanan, kesabaran, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah senantiasa berpihak pada orang-orang yang bertakwa.
Baca juga: Kata-Kata Mutiara Islam untuk Inspirasi dan Motivasi
4. Puasa Asyura dan Tasu'a sebagai Ibadah Utama Muharram
Di antara seluruh ibadah yang dianjurkan di bulan Muharram, puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram menempati kedudukan paling utama. Pada tanggal 10 Muharram terdapat hari Asyura, dan puasa pada hari ini awalnya bersifat wajib sebelum perintah puasa Ramadan diturunkan. Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari Asyura, dan ketika kewajiban puasa Ramadan ditetapkan, puasa Asyura berubah menjadi sunnah bagi siapa yang ingin mengerjakannya (Sahih al-Bukhari 1892). Meskipun kini berstatus sunnah, Rasulullah SAW tetap sangat menganjurkan pelaksanaannya.
Latar belakang puasa Asyura memiliki akar sejarah yang panjang. Kaum Quraisy di masa jahiliah telah berpuasa pada hari Asyura, dan Rasulullah SAW sendiri ikut berpuasa sebelum hijrah ke Madinah. Setelah tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi juga berpuasa pada hari tersebut untuk memperingati keselamatan Nabi Musa dari Fir'aun. Rasulullah SAW kemudian menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak memuliakan Nabi Musa, lalu berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa.
Imam Al-Nawawi, dikutip dari IslamQA, menyebutkan, "Para ulama menyebutkan beberapa alasan mengapa disunahkan berpuasa pada hari Tasu'a, di antaranya untuk membedakan diri dari kaum Yahudi yang hanya mengagungkan hari kesepuluh."
Terdapat beberapa tingkatan dalam melaksanakan puasa Asyura yang perlu dipahami setiap Muslim:
- Paling utama: berpuasa tiga hari, yaitu tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.
- Utama: berpuasa dua hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram (Tasu'a dan Asyura).
- Minimal: berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja (hari Asyura).
Mengacu pada nu.or.id, niat puasa Muharram adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shaumal Muharrami lillahi ta'ala.
Artinya, "Saya niat puasa Muharram karena Allah Ta'ala."
Keutamaan puasa ini sangat besar. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Asyura diharapkan menjadi penghapus dosa setahun sebelumnya (HR Muslim). Sebagai perbandingan, puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah menghapus dosa dua tahun, sedangkan puasa Asyura menghapus dosa satu tahun. Keduanya merupakan puasa sunnah dengan keutamaan luar biasa yang tidak boleh dilewatkan.
Baca juga: Bacaan Niat Puasa Lengkap Arab dan Latin
5. Amalan Sunnah Lain yang Dianjurkan di Bulan Muharram
Selain berpuasa, terdapat berbagai amalan sunnah lain yang dapat dilakukan untuk mengisi bulan Muharram dalam Islam dengan kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Kanzun Najah was Surur karya Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kudus, di bulan Muharram umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah, salah satunya menyantuni anak yatim dan mengusap kepalanya. Berikut beberapa amalan yang dianjurkan selama bulan Muharram.
- Membaca Doa Akhir dan Awal Tahun
Sebagai ungkapan rasa syukur atas diberinya umur panjang sampai akhir tahun dan menyambut tahun baru, umat Islam dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk berdoa. Doa akhir tahun dibaca sebelum Maghrib pada hari terakhir bulan Dzulhijjah, sebanyak tiga kali. Sedangkan doa awal tahun dibaca setelah Maghrib pada 1 Muharram atau awal tahun baru Hijriah, juga sebanyak tiga kali.
- Memperbanyak Sedekah dan Infak
Bulan Muharram menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan amalan sedekah dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang bermurah hati terhadap keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun. Memperbanyak ibadah dan berbagi di bulan suci merupakan salah satu cara terbaik untuk meraih keberkahan ilahi.
- Menyantuni Anak Yatim
Menyantuni anak yatim termasuk amalan yang sangat dianjurkan di bulan Muharram. Imam al-Nawawi dalam kitab Faidul Qadir menganjurkan untuk mengasihi anak yatim, salah satunya dengan mengusap kepalanya sebagai bentuk ekspresi kasih sayang, seraya membaca doa:
جَبرَ اللهُ يُتْمَكَ وَجَعَلَكَ خَلْفًا مِنْ أَبِيْكَ
Jabarallahu yutmaka wa ja'alaka khalfan min abiika.
- Memperbanyak Zikir dan Membaca Al-Quran
Bulan Muharram adalah waktu bagi umat Muslim untuk mencari kedamaian, terlibat dalam refleksi diri, serta meningkatkan ibadah dan amal kebaikan. Memperbanyak zikir, istighfar, dan tilawah Al-Quran merupakan cara efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah selama bulan suci ini. Di antara doa yang dianjurkan pada hari Asyura sebagaimana tercantum dalam kitab Hasyiyah Al-Jamal 'Ala Syarhil Manhaj adalah:
سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ
Subhanallahi mil-al miizaan wa muntahal 'ilmi wa mablaghar ridha wa 'adadan ni'am wa zinatal 'arsy.
- Melaksanakan Qiyamul Lail
Shalat malam atau qiyamul lail merupakan ibadah yang sangat dianjurkan di bulan Muharram. Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam (HR Muslim). Memperbanyak ibadah sunnah di bulan yang dimuliakan Allah ini merupakan investasi akhirat yang nilainya sangat besar.
- Muhasabah dan Introspeksi Diri
Makna Muharram melampaui sekadar awal kalender Islam; bulan ini melangkah ke dalam bulan yang sarat refleksi spiritual, makna historis, dan berkah ilahi. Muharram merupakan simbol keimanan, pengorbanan, dan pembaruan diri. Awal tahun Hijriah menjadi momentum tepat untuk mengevaluasi perjalanan ibadah selama setahun terakhir serta menyusun resolusi kebaikan di tahun yang baru.
- Meningkatkan Silaturahmi dan Kepedulian Sosial
Muharram dalam Islam mengajarkan semangat kebersamaan dan solidaritas sosial. Meningkatkan silaturahmi, menjenguk orang sakit, dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama merupakan amalan yang sangat bernilai untuk diamalkan sepanjang bulan ini.
6. FAQ Seputar Muharram dalam Islam
Apa yang dimaksud dengan Muharram dalam Islam?
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam (kalender lunar). Kata "Muharram" bermakna "terlarang" dan bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram di mana peperangan secara tradisi dilarang. Muharram merupakan waktu untuk beribadah, berdamai, dan mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai Syahrullah atau bulan Allah, menegaskan betapa tinggi kedudukannya dibandingkan bulan-bulan lain.
Mengapa puasa Asyura pada 10 Muharram sangat dianjurkan?
Puasa Asyura sangat dianjurkan karena pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israel dari tirani Fir'aun. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa pada hari Asyura diharapkan menjadi penghapus dosa setahun sebelumnya (HR Muslim). Keutamaan besar inilah yang menjadikan puasa Asyura sebagai salah satu puasa sunnah paling bernilai di luar bulan Ramadan.
Apakah ada ibadah khusus yang ditetapkan untuk tanggal 1 Muharram?
Para ulama sepakat bahwa tidak ada dalil khusus yang mengistimewakan puasa tepat pada tanggal 1 Muharram. Namun, meniatkan puasa sunnah di tanggal tersebut tetap diperbolehkan selama tidak disertai keyakinan bahwa hari itu lebih utama dibandingkan hari-hari lain di bulan Muharram. Yang dianjurkan adalah membaca doa awal tahun, memperbanyak puasa sunnah sepanjang bulan, bersedekah, dan melakukan muhasabah sebagai bentuk refleksi memasuki tahun baru Hijriah.
Bulan Muharram merupakan anugerah waktu yang penuh berkah dan peluang spiritual bagi setiap Muslim. Dengan memahami makna, keutamaan, dan amalan-amalannya, kita dapat menjadikan bulan suci ini sebagai titik tolak untuk memperbaiki diri, mempererat hubungan dengan Allah, dan memperbanyak kebaikan kepada sesama. Semoga setiap amal ibadah yang dilakukan di bulan Muharram diterima dan diberkahi oleh Allah SWT.
Daftar Referensi
- Islamic Relief UK. Muharram 2026 - The Month of Allah. Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://www.islamic-relief.org.uk/resources/islamic-calendar/muharram/
- Human Appeal. What is Muharram, and Why is it Significant? Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://humanappeal.org.uk/news/2026/04/what-is-muharram-and-why-is-it-significant
- IslamQA. Fasting on Ashura (Complete Guide). Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://islamqa.info/en/articles/64
- nu.or.id. Lafal Niat Puasa Muharram, Lengkap Arab, Latin, Terjemah, dan Keutamaannya. Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://www.nu.or.id/nasional/lafal-niat-puasa-muharram-lengkap-arab-latin-terjemah-dan-keutamaannya-f6SGy
(kpl/fed)
Advertisement
D Academy 8
-
Dangdut Academy Hasil Top 26 Dangdut Academy 8: Kadhafy Bangkalan Tersenggol
-
Dangdut Academy Lesti Kejora Rawat Karier Sejak Kecil, Ungkap Kunci Bertahan
-
Selebritis Pacaran Zahra DA7 dan Eby Rizta Bawakan Ulang 'Saat Bahagia' Versi Dangdut