Pengertian Haji Wada dan Sejarah Haji Perpisahan Terakhir Nabi Muhammad SAW

Pengertian Haji Wada dan Sejarah Haji Perpisahan Terakhir Nabi Muhammad SAW
pengertian haji wada (credit: Ilustrasi AI)

Kapanlagi.com - Haji wada (Ḥijjat al-Wadaʿ) merupakan peristiwa ibadah haji yang sangat bersejarah dalam Islam, yakni ibadah haji yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 10 Hijriyah. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu momen paling terdokumentasi dalam kehidupan Rasulullah karena setiap gerak-gerik beliau diamati oleh para sahabat dan menjadi sunnah yang diikuti umat Islam di seluruh dunia.

Pengertian haji wada secara ringkas adalah haji terakhir dan satu-satunya yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Madinah, tepatnya pada tahun 632 Masehi. Peristiwa ini disebut "haji perpisahan" karena terjadi di tahun terakhir kehidupan Rasulullah, dan beliau sendiri berpamitan kepada umatnya dalam khutbah yang mengharukan di Padang Arafah.

Menurut Encyclopaedia Britannica, haji wada disebut sebagai "the precedent for all future Muslim pilgrimages" atau preseden bagi seluruh ziarah haji umat Islam di masa mendatang. Ketika Nabi Muhammad mengumumkan niatnya untuk berhaji, sekitar 100.000 sahabat berkumpul di Madinah untuk menunaikan ibadah bersama beliau, dan Nabi melaksanakan jenis Hajj al-Qiran, yaitu haji yang menggabungkan umrah dan haji sekaligus.

1. Pengertian Haji Wada dalam Bahasa Arab dan Istilah Islam

Suasana di Tanah Suci (credit: Unsplash)

Istilah haji wada berasal dari bahasa Arab, "Ḥajjat al-Wada" yang secara harfiah berarti "haji perpisahan". Kata "wada" sendiri merupakan kosakata Arab yang bermakna perpisahan atau pamitan. Pengertian haji wada dalam konteks sejarah Islam merujuk pada ibadah haji yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW pada bulan Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah, yang bertepatan dengan Maret 632 Masehi.

Peristiwa ini dinamai haji perpisahan karena terjadi di tahun terakhir kehidupan Nabi, dan beliau berpamitan kepada umatnya dalam perjalanan tersebut. Haji wada terbukti menjadi kunjungan terakhir Nabi Muhammad ke Mekah, sehingga kemudian dikenal sebagai "Haji Perpisahan". Tidak lama setelah kembali ke Madinah, Rasulullah jatuh sakit dan menghembuskan napas terakhir.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah), Nabi Muhammad menyampaikan Khutbah Wada di atas Bukit Arafah. Haji Nabi Muhammad ini mendefinisikan banyak ritual dan tata cara haji yang kemudian ditransmisikan melalui para sahabat dan menjadi preseden yang diikuti umat Islam di seluruh dunia. Melansir dari Liputan6.com, ketika Nabi Muhammad melaksanakan haji pertama sekaligus terakhirnya ini, beliau diiringi oleh sekitar 125.000 umat Muslim.

Para ulama menaruh perhatian besar pada peristiwa haji wada dan menyarikan banyak hukum darinya, baik terkait tata cara haji maupun persoalan lainnya. Nabi SAW sendiri bersabda, "Ambillah tata cara haji dariku." Pelajaran dari pengertian haji wada tidak hanya bersifat ritual, melainkan juga mencakup prinsip-prinsip moral dan sosial yang sangat fundamental bagi kehidupan umat Islam.

Baca juga: Haji Wada artinya haji perpisahan dan prinsip dasarnya

2. Nama Lain dan Konteks Sejarah Haji Wada

Selain dikenal dengan sebutan Haji Wada, peristiwa bersejarah ini memiliki beberapa nama lain yang masing-masing mencerminkan dimensi berbeda dari ibadah tersebut. Sejumlah ulama bahkan menulis kitab khusus yang membahas haji perpisahan ini secara mendalam. Berikut nama-nama lain haji wada beserta konteks historisnya:

  1. Ḥajjat al-Wadāʿ (Haji Perpisahan) - Nama ini diberikan karena ibadah haji tersebut terjadi di tahun terakhir kehidupan Nabi, dan beliau secara langsung berpamitan kepada umatnya.
  2. Hajjat al-Balagh (Haji Penyampaian) - Nama ini muncul karena ayat tentang penyampaian risalah (al-Tabligh Verse) diturunkan kepada Nabi dalam perjalanan pulang dari haji tersebut.
  3. Hajjat al-Islam (Haji Islam Pertama) - Sebutan ini digunakan karena haji wada merupakan satu-satunya haji Nabi selama masa pemerintahan Islam, dan seluruh ritualnya dilaksanakan sesuai syariat Islam tanpa keikutsertaan kaum musyrik.
  4. Hajjatu Rasulillah (Haji Rasulullah) - Nama ini merujuk pada haji wajib yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana dicatat dalam kitab Jawami as-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hazm al-Andalusi.
  5. Tahun terakhir kaum musyrik ikut haji - Pada tahun sebelumnya (9 H), kaum musyrik masih diizinkan ikut haji. Namun setelah berakhirnya masa gencatan suci empat bulan, semua yang belum masuk Islam atau belum membuat perjanjian khusus akan diperlakukan sebagai musuh. Tahun 10 H menjadi tahun pertama haji dilaksanakan murni oleh umat Islam.
  6. Firasat perpisahan Nabi - Sebelum berangkat haji, Nabi telah merasakan firasat perpisahan. Beliau berkata kepada Mu'adz bin Jabal yang diutus ke Yaman, "Wahai Mu'adz! Kamu mungkin tidak akan melihatku setelah tahun ini."

Baca juga: Sejarah peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW

3. Kronologi Lengkap Perjalanan Haji Wada

Potret jamaah haji (credit: Unsplash)

Perjalanan haji wada merupakan rangkaian peristiwa yang sangat terperinci dan menjadi pedoman urutan ibadah haji hingga saat ini. Menurut catatan dalam Encyclopaedia Britannica, haji wada menjadi preseden bagi seluruh pelaksanaan haji umat Islam di masa depan. Berikut kronologi lengkapnya:

  1. Keberangkatan dari Madinah (25 Dzulqa'dah 10 H / Februari 632 M) - Nabi Muhammad menunjuk Abu Dujana al-Ansari sebagai Gubernur Madinah selama beliau tidak ada, lalu berangkat pada tanggal 25 Dzulqa'dah ditemani seluruh istrinya.
  2. Ihram di Dzulhulaifah - Sebelum meninggalkan Mekah, Nabi singgah di miqat Dzulhulaifah dan mengajarkan tata cara mengenakan ihram kepada kaum Muslim. Beliau melakukan ghusl terlebih dahulu sebelum mengenakan ihram, yang terdiri dari dua helai kain katun putih tanpa jahitan dari Yaman.
  3. Tiba di Mekah (4 Dzulhijjah) - Perjalanan ditempuh selama delapan hari, dan Nabi tiba di Mekah dengan menunggangi untanya yang bernama Al-Qaswa', disertai rombongan yang semakin besar di sepanjang perjalanan.
  4. Tawaf dan Sa'i - Nabi mengelilingi Ka'bah (tawaf), menyentuh dan mencium Hajar Aswad, kemudian meminum air Zamzam dan melanjutkan sa'i di antara bukit Safa dan Marwah.
  5. Berangkat ke Mina (8 Dzulhijjah) - Menjelang terbenamnya matahari pada tanggal 8 Dzulhijjah, Nabi berangkat ke Mina dan melaksanakan seluruh shalat dari Zuhur hingga Subuh di sana.
  6. Wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) - Keesokan harinya, Nabi berjalan menuju Bukit Arafah diiringi ribuan jamaah yang membaca talbiyah dan takbir. Beliau memerintahkan agar didirikan tenda di sisi timur Arafah di tempat bernama Namirah, lalu menyampaikan Khutbah Wada di hadapan lebih dari 100.000 sahabat.
  7. Bermalam di Muzdalifah - Setelah matahari terbenam pada 9 Dzulhijjah, Nabi tiba di Muzdalifah untuk melaksanakan shalat Maghrib dan Isya sebelum beristirahat, lalu berdoa hingga fajar tiba.
  8. Melempar Jumrah dan Berkurban di Mina - Nabi kembali ke Mina dan melakukan ritual melempar jumrah sambil membaca takbir, kemudian menyembelih hewan kurban. Daging kurban sebagian dimakan dan sisanya disedekahkan.
  9. Hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah) - Nabi menghabiskan tiga hari berikutnya di Mina untuk melanjutkan ritual melempar tiga jumrah pada hari-hari Tasyrik.
  10. Tawaf Wada dan Kembali ke Madinah - Nabi melaksanakan Tawaf Wada (tawaf perpisahan) dan memerintahkan para sahabat untuk melakukan hal serupa, lalu segera bertolak kembali menuju Madinah.

4. Isi Khutbah Wada dan Pesan Rasulullah di Padang Arafah

Khutbah Wada (Khutbatul Wadaʿ) adalah pidato terakhir Nabi Muhammad SAW yang disampaikan pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah di Lembah Uranah, Bukit Arafah. Bukit Arafah, yang juga dikenal sebagai "Jabal Ar-Rahmah" (Gunung Rahmat) dengan ketinggian sekitar 70 meter, menjadi saksi bisu pidato bersejarah tersebut. Imam Ahmad bin Hanbal mencatat versi paling lengkap dari khutbah ini dalam kitab Musnad-nya (hadis no. 19774). Rasulullah membuka pidatonya dengan kalimat yang sangat menyentuh. Terjemahan dari pembukaan khutbah tersebut kurang lebih bermakna, "Wahai manusia! Dengarkanlah perkataanku, karena aku tidak tahu apakah setelah tahun ini aku masih akan bertemu kalian lagi di tempat ini."

Khutbah ini menekankan prinsip-prinsip utama Islam dan kewajiban manusia terhadap sesama serta terhadap Allah SWT. Nabi menyampaikan pesan-pesan kunci tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan umat Islam, serta kesetaraan yang melarang rasisme yang umum terjadi pada masa itu. Di antara pesan terpenting adalah kesucian jiwa dan harta setiap Muslim, penghapusan riba dan tradisi jahiliah, serta perintah untuk memperlakukan perempuan dengan baik dan adil.

Menurut riset yang dipublikasikan dalam Webology Journal, piagam hak asasi manusia yang termuat dalam Khutbah Wada telah disampaikan 1.400 tahun sebelum Piagam PBB yang baru disusun pada abad ke-20. Khutbah ini memuat prinsip kesetaraan antarmanusia, perlindungan hak milik, keadilan gender, dan larangan penindasan yang menjadi fondasi etika universal dalam Islam.

Menurut Al-Mubarakpuri, setelah Nabi menyampaikan khutbahnya, turunlah ayat ketiga dari Surat Al-Maidah yang bermakna, "Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu untukmu, telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu." Menjelang akhir khutbah, atas permintaan Nabi, saudara Safwan yang bernama Rabiah yang memiliki suara lantang mengulangi pidato tersebut kalimat demi kalimat agar terdengar oleh seluruh jamaah. Nabi kemudian bertanya kepada umatnya apakah beliau telah menyampaikan risalah, dan ribuan jamaah menjawab serentak, "Allahumma Na'm" (Ya Allah, benar).

Baca juga: Ucapan lebaran haji yang menyentuh hati dan penuh makna

5. Hikmah dan Prinsip yang Terkandung dalam Haji Wada

Jamaah haji sedang menjalankan ibadah di Tanah Suci (credit: Unsplash)

Pengertian haji wada tidak lengkap tanpa memahami hikmah dan prinsip-prinsip agung yang terkandung di dalamnya. Peristiwa Hajjatul Wida menyoroti kesucian kehidupan, harta, dan kehormatan, sekaligus menjadi panduan pelaksanaan ibadah haji tahunan. Ajaran-ajaran dalam Khutbah Wada memberikan dampak signifikan pada praktik haji, menjadikannya lebih dari sekadar kewajiban keagamaan. Berikut prinsip-prinsip utamanya:

  1. Kesakralan jiwa, darah, dan harta - Nabi menegaskan bahwa jiwa, harta, dan kehormatan setiap Muslim adalah suci, sebagaimana sucinya hari, bulan, dan tanah suci tempat mereka berkumpul saat itu.
  2. Penghapusan riba dan tradisi jahiliah - Seluruh praktik riba dinyatakan terhapus, dimulai dari riba yang menjadi hak Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi). Semua tuntutan darah dari masa jahiliah juga dinyatakan tidak berlaku lagi.
  3. Hak-hak perempuan - Rasulullah memerintahkan agar kaum perempuan diperlakukan dengan baik, dan menekankan bahwa hak-hak suami istri bersifat timbal balik.
  4. Kesetaraan antarmanusia - Tidak ada keunggulan bangsa Arab atas non-Arab, atau sebaliknya, kecuali berdasarkan ketakwaan dan amal perbuatan.
  5. Kewaspadaan terhadap setan - Nabi mengingatkan umatnya untuk berhati-hati terhadap setan demi keselamatan agama mereka, karena setan telah kehilangan harapan untuk menyesatkan dalam perkara besar, namun tetap berbahaya dalam perkara kecil.
  6. Berpegang pada Al-Quran dan Sunnah - Nabi meninggalkan dua pegangan, yakni Al-Quran dan Sunnah, yang jika dipegang teguh maka umatnya tidak akan pernah tersesat.
  7. Penetapan tata cara haji yang baku - Seluruh tata cara yang dilakukan Nabi selama haji wada menjadi preseden dan sunnah bagi pelaksanaan haji umat Islam di seluruh dunia hingga hari ini.
  8. Tanggung jawab menyampaikan pesan - Nabi berpesan agar setiap orang yang mendengar perkataannya menyampaikannya kepada yang lain, dan berharap penerima pesan berikutnya memahami lebih baik dari yang mendengar langsung.

Tiga bulan setelah haji wada, Nabi Muhammad jatuh sakit dan tinggal di rumah Aisyah. Beliau mengalami demam dan sakit kepala, lalu wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah. Peristiwa haji wada dengan seluruh khutbah dan ajarannya tetap hidup dalam kitab-kitab hadis dan menjadi panduan abadi bagi umat Islam.

Baca juga: Mengenal keluarga besar Rasulullah dan para paman Nabi Muhammad

6. FAQ Seputar Pengertian Haji Wada

1. Apa pengertian haji wada?

Haji wada adalah ibadah haji terakhir yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 10 Hijriyah (632 Masehi). Kata "wada" berasal dari bahasa Arab yang berarti perpisahan, sehingga sering disebut sebagai haji perpisahan.

2. Mengapa disebut haji perpisahan?

Disebut haji perpisahan karena ibadah haji ini terjadi di tahun terakhir kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan beliau secara langsung berpamitan kepada umatnya. Sekitar tiga bulan setelah haji wada, Rasulullah wafat di Madinah.

3. Kapan haji wada dilaksanakan?

Nabi Muhammad berangkat dari Madinah pada tanggal 25 Dzulqa'dah tahun 10 Hijriyah, yang bertepatan dengan sekitar Februari 632 Masehi. Puncak ibadah haji berupa wukuf di Arafah berlangsung pada 9 Dzulhijjah.

4. Berapa jumlah jamaah yang mengikuti haji wada?

Ketika Nabi mengumumkan niatnya untuk berhaji, sekitar 100.000 sahabat berkumpul di Madinah. Berbagai sumber menyebutkan jumlah total jamaah berkisar antara 100.000 hingga 140.000 orang dari seluruh Jazirah Arab.

5. Apa saja nama lain dari haji wada?

Haji wada juga dikenal sebagai Hajjat al-Balagh (Haji Penyampaian) karena turunnya ayat tabligh, serta Hajjat al-Islam karena merupakan satu-satunya haji Nabi yang dilaksanakan sepenuhnya menurut syariat Islam. Sebagian sahabat juga menyebutnya Hajjatu Rasulillah.

6. Apa yang dimaksud dengan Khutbah Wada?

Khutbah Wada adalah pidato terakhir yang disampaikan Nabi Muhammad SAW pada 9 Dzulhijjah di Lembah Uranah, Bukit Arafah. Khutbah ini berisi pesan-pesan tentang hak asasi manusia, kesetaraan, dan kewajiban berpegang pada Al-Quran serta Sunnah.

7. Apa jenis haji yang dilaksanakan Nabi Muhammad saat haji wada?

Nabi Muhammad melaksanakan jenis Hajj al-Qiran, yaitu haji yang menggabungkan umrah dan haji secara bersamaan. Jenis haji ini mengharuskan jamaah tetap dalam keadaan ihram dari awal hingga seluruh rangkaian ibadah selesai.

Baca juga: Panduan lengkap cara daftar haji reguler dan haji plus di Indonesia · Arti mimpi naik haji dalam pandangan Islam · Doa untuk orang berangkat umroh dalam bahasa Arab · Arti mimpi ke Tanah Suci menurut Islam · Arti nama Ahmad dalam Islam dan keutamaannya · Kisah Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Nabi Muhammad SAW

Ikuti kabar tips dan trik hanya di Kapanlagi.com. Kalau bukan sekarang, KapanLagi?

Rekomendasi

Trending