6 Cara Membuat Pupuk dari Kulit Pisang, Mudah dan Bisa Bikin Tanaman Lebih Subur

Kapanlagi.com - Kapanlagi.com - Kulit pisang yang biasanya langsung masuk tempat sampah ternyata masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan berkebun. Sisa buah ini dapat diolah menjadi pupuk organik sederhana yang bisa menjadi tambahan nutrisi bagi tanaman. Cara membuat pupuk dari kulit pisang pun cukup mudah dan tidak selalu membutuhkan bahan yang sulit ditemukan, sehingga cocok dicoba oleh pemula maupun orang yang gemar merawat tanaman di rumah.

Kulit pisang mengandung berbagai unsur mineral, termasuk kalium, serta bahan organik yang dapat kembali ke tanah setelah mengalami proses penguraian. Namun, kulit pisang sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti seluruh kebutuhan nutrisi tanaman. Pupuk dari kulit pisang lebih tepat digunakan sebagai salah satu sumber bahan organik atau tambahan nutrisi, sementara kebutuhan tanaman tetap perlu disesuaikan dengan jenis, kondisi media tanam, dan fase pertumbuhannya.

Menariknya, kulit pisang dapat diolah dengan beberapa cara, mulai dari dikeringkan dan dijadikan bubuk, direndam untuk membuat ekstrak atau pupuk cair, hingga dikomposkan bersama bahan organik lainnya. Setiap metode memiliki cara penggunaan dan waktu pengolahan yang berbeda. Lantas bagaimana cara membuat pupuk dari kulit pisang yang mudah dan bisa bikin tanaman lebih subur? Melansir dari berbagai sumber, Minggu (23/8/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Pupuk Kulit Pisang Kering

Cara paling sederhana adalah mengeringkan kulit pisang terlebih dahulu. Cuci kulit pisang untuk menghilangkan sisa kotoran, kemudian potong kecil-kecil agar proses pengeringan berlangsung lebih cepat. Letakkan potongan kulit di atas nampan dan jemur di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering. Jika cuaca tidak mendukung, kulit pisang dapat dikeringkan menggunakan oven dengan suhu rendah, tetapi pastikan tidak sampai gosong.

Setelah kering, kulit pisang bisa dihancurkan menggunakan blender atau ditumbuk hingga menjadi potongan kecil atau bubuk. Semakin halus hasilnya, semakin mudah bahan tersebut bercampur dengan media tanam dan terurai. Pastikan kulit benar-benar kering sebelum disimpan karena sisa kelembapan dapat memicu pertumbuhan jamur. Simpan bubuk kulit pisang dalam wadah kering dan tertutup jika belum langsung digunakan.

Untuk menggunakannya, campurkan sedikit bubuk kulit pisang ke lapisan atas media tanam atau masukkan ke dalam tanah ketika melakukan penanaman. Jangan memberikan dalam jumlah berlebihan karena bahan organik yang belum sepenuhnya terurai dapat memengaruhi kondisi media. Metode ini cocok bagi pemilik tanaman rumahan yang ingin memanfaatkan kulit pisang tanpa harus melakukan proses fermentasi yang memerlukan waktu lebih lama.

2. Pupuk Cair dari Kulit Pisang

Kulit pisang juga dapat diolah menjadi pupuk atau ekstrak cair dengan cara perendaman. Potong kulit pisang menjadi bagian kecil, kemudian masukkan ke dalam wadah berisi air. Gunakan wadah yang bersih dan jangan mengisinya terlalu penuh agar masih tersedia ruang. Setelah itu, tutup wadah dan biarkan campuran selama beberapa waktu sesuai metode yang digunakan. Jika ingin membuat pupuk cair hasil fermentasi, prosesnya membutuhkan formulasi dan waktu yang lebih terkontrol dibandingkan sekadar merendam kulit pisang.

Perlu diperhatikan bahwa air rendaman kulit pisang yang dibuat secara sederhana tidak otomatis memiliki komposisi nutrisi yang konsisten seperti pupuk komersial. Jumlah unsur hara yang larut sangat bergantung pada jenis pisang, jumlah kulit, volume air, lama proses, dan kondisi pengolahan. Karena itu, hasil rendaman sebaiknya dianggap sebagai ekstrak bahan organik sederhana, bukan pupuk lengkap yang dapat menggantikan kebutuhan nutrisi tanaman.

Sebelum diberikan ke tanaman, saring cairannya agar tidak ada potongan kulit yang ikut terbawa. Untuk mengurangi risiko terlalu pekat, cairan dapat diencerkan dengan air bersih terlebih dahulu. Hindari memberikan larutan dalam jumlah berlebihan atau terlalu sering, terutama pada tanaman dalam pot dengan drainase kurang baik. Jika muncul bau busuk yang sangat menyengat, pertumbuhan jamur yang tidak diinginkan, atau perubahan kondisi tanaman setelah aplikasi, sebaiknya hentikan penggunaan dan evaluasi kembali proses pembuatannya.

3. Kulit Pisang Dijadikan Kompos

Mengolah kulit pisang menjadi kompos merupakan salah satu pilihan yang lebih baik jika ingin mengembalikan bahan organik ke tanah. Potong kulit pisang menjadi bagian kecil agar lebih cepat terurai, lalu campurkan dengan bahan kaya karbon seperti daun kering, jerami, atau bahan tanaman kering lainnya. Keseimbangan antara bahan basah dan bahan kering penting agar tumpukan kompos tidak terlalu basah dan menghasilkan bau tidak sedap.

Tumpukan kompos perlu memiliki kelembapan yang cukup, tetapi tidak sampai becek. Sirkulasi udara juga penting karena pengomposan aerob membutuhkan oksigen. Aduk atau balik tumpukan secara berkala untuk membantu memasukkan udara ke bagian dalam. Kulit pisang yang dicampurkan bersama bahan organik lainnya secara bertahap akan mengalami penguraian sehingga bentuk aslinya semakin sulit dikenali.

Kompos yang sudah matang dapat digunakan sebagai pembenah media tanam atau sumber bahan organik. Ciri umumnya adalah warna lebih gelap, tekstur remah, suhu tumpukan sudah mendekati lingkungan sekitar, dan aroma lebih menyerupai tanah daripada bahan organik yang membusuk. Jangan terburu-buru menggunakan kompos yang masih mentah karena proses penguraian yang belum selesai dapat mengganggu kondisi media dan tanaman.

4. Pupuk Kulit Pisang Fermentasi

Metode lain yang dapat dicoba adalah mengolah kulit pisang melalui proses fermentasi. Kulit pisang dicuci dan dipotong kecil-kecil terlebih dahulu, kemudian dimasukkan ke wadah bersama bahan pendukung fermentasi sesuai resep yang digunakan. Proses ini membutuhkan perhatian lebih karena fermentasi bukan sekadar menyimpan kulit pisang di dalam air. Komposisi bahan, kadar air, kebersihan wadah, serta kondisi selama fermentasi dapat memengaruhi hasil akhirnya.

Selama proses berlangsung, perubahan aroma, warna, dan kondisi bahan perlu diperhatikan. Fermentasi yang berjalan dengan baik tidak seharusnya menghasilkan kondisi yang sangat busuk atau menunjukkan kontaminasi yang tidak terkendali. Wadah juga jangan ditutup secara sembarangan jika proses fermentasi menghasilkan gas, karena tekanan dapat meningkat. Gunakan metode dan bahan fermentasi yang jelas takarannya apabila ingin memperoleh hasil yang lebih konsisten.

Setelah proses selesai, bagian padat dan cair dapat dipisahkan jika metode yang digunakan memang menghasilkan keduanya. Cairannya perlu digunakan secara hati-hati dan sebaiknya diencerkan sebelum diaplikasikan ke tanah. Sementara itu, bagian padat dapat diproses lebih lanjut atau dimasukkan ke kompos. Karena konsentrasi nutrisi pupuk fermentasi rumahan sulit dipastikan tanpa pengujian laboratorium, jangan menjadikannya satu-satunya sumber pemupukan tanaman.

5. Kulit Pisang Dicacah dan Ditanam Langsung ke Tanah

Jika tidak ingin mengeringkan atau memfermentasi kulit pisang, cara paling sederhana berikutnya adalah mencacahnya dan memasukkannya ke dalam tanah. Potong kulit pisang menjadi bagian kecil agar luas permukaannya semakin besar sehingga mikroorganisme tanah lebih mudah menguraikannya. Cara ini pada dasarnya memanfaatkan kulit pisang sebagai bahan organik yang akan terurai secara bertahap di dalam media tanam.

Sebaiknya kulit pisang tidak diletakkan begitu saja di permukaan tanah dalam jumlah banyak. Selain dapat mengundang lalat atau serangga tertentu, sisa kulit yang menumpuk juga bisa menimbulkan bau ketika membusuk. Campurkan potongan kulit dengan tanah atau masukkan ke area kompos agar proses penguraian berlangsung lebih terkendali. Hindari menempelkan kulit pisang langsung pada batang atau akar tanaman karena bahan organik segar yang membusuk dapat menciptakan kondisi yang kurang ideal di sekitar pangkal tanaman.

Metode ini lebih cocok diterapkan pada kebun atau area tanam yang memiliki media cukup luas dibandingkan pot kecil. Untuk tanaman dalam pot, gunakan potongan dalam jumlah terbatas dan pastikan drainasenya baik. Cara ini memang membutuhkan waktu karena tanaman tidak langsung mendapatkan seluruh unsur dari kulit pisang. Namun, bahan organik yang terurai secara bertahap dapat membantu menambah bahan organik pada media sekaligus mengurangi limbah dapur.

6. Kulit Pisang Dijadikan Bahan Tambahan pada Pupuk Kompos

Kulit pisang juga bisa dipadukan dengan berbagai limbah organik lain untuk membuat pupuk kompos yang lebih beragam. Selain kulit pisang, bahan yang dapat digunakan antara lain sisa sayuran, daun kering, rumput, dan bahan tanaman lainnya yang sesuai untuk pengomposan. Kulit pisang termasuk bahan organik yang relatif kaya air dan mudah terurai, sehingga sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya bahan dalam tumpukan kompos.

Agar proses berjalan lebih seimbang, kombinasikan bahan yang lebih basah dan kaya nitrogen dengan bahan kering yang kaya karbon. Potong bahan berukuran besar menjadi lebih kecil dan susun secara berlapis atau campurkan secara merata. Kelembapan perlu dijaga seperti kondisi spons yang lembap, bukan basah kuyup. Jika tumpukan terlalu basah dan padat, tambahkan bahan kering serta balik kompos agar sirkulasi udara membaik.

Setelah matang, kompos campuran tersebut dapat digunakan sebagai bahan pembenah tanah atau dicampurkan ke media tanam. Keuntungan metode ini adalah kandungan bahan organiknya tidak hanya berasal dari kulit pisang, tetapi juga dari berbagai bahan tanaman lain. Dengan demikian, hasil akhirnya lebih sesuai digunakan sebagai bagian dari pengelolaan kesuburan tanah secara menyeluruh. Tetap perhatikan kebutuhan spesifik tanaman karena setiap jenis tanaman membutuhkan komposisi dan jumlah nutrisi yang berbeda.

7. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Membuat Pupuk dari Kulit Pisang

1. Apakah kulit pisang bisa dijadikan pupuk untuk tanaman?

Bisa. Kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk tanaman karena mengandung sejumlah mineral, termasuk kalium. Namun, pupuk dari kulit pisang sebaiknya digunakan sebagai tambahan nutrisi atau sumber bahan organik, bukan sebagai satu-satunya pupuk karena kebutuhan tanaman mencakup berbagai unsur hara.

2. Bagaimana cara membuat pupuk dari kulit pisang yang paling mudah?

Cara paling sederhana adalah dengan mengeringkan kulit pisang, kemudian menghancurkannya menjadi potongan kecil atau bubuk. Kulit pisang juga dapat dicacah dan dimasukkan ke kompos bersama bahan organik lainnya. Metode tersebut tidak membutuhkan proses fermentasi yang rumit sehingga cukup mudah dilakukan di rumah.

3. Apakah kulit pisang bisa dijadikan pupuk cair?

Bisa. Kulit pisang dapat dipotong kecil-kecil kemudian diolah menjadi ekstrak atau larutan melalui proses perendaman maupun fermentasi. Namun, kandungan nutrisi hasil olahan rumahan tidak memiliki takaran yang pasti, sehingga sebaiknya tidak dianggap sebagai pupuk lengkap dan penggunaannya perlu dilakukan secara bijak.

4. Apakah pupuk kulit pisang bisa langsung diberikan ke tanaman?

Tergantung cara pengolahannya. Kulit pisang segar sebaiknya tidak ditumpuk begitu saja di sekitar tanaman karena dapat mengundang serangga dan menimbulkan bau ketika membusuk. Jika ingin dimasukkan langsung ke tanah, kulit sebaiknya dicacah kecil dan digunakan dalam jumlah terbatas.

5. Apa manfaat pupuk dari kulit pisang untuk tanaman?

Olahan kulit pisang dapat menjadi sumber bahan organik dan memberikan sejumlah mineral, termasuk kalium. Bahan organik yang sudah terurai juga dapat membantu mendukung kondisi media tanam. Namun, manfaat yang diperoleh bergantung pada metode pengolahan, kondisi tanah, jenis tanaman, dan jumlah yang diberikan.

(kpl/iya)

Rekomendasi

Trending