Cara Mengatasi Bullying: Langkah Tepat untuk Korban, Orang Tua, dan Lingkungan Sekitar
cara mengatasi bullying (h)
Cara mengatasi bullying yang paling mendasar adalah tidak diam dan segera mencari bantuan orang yang dipercaya. Langkah cepat ini membuat korban merasa aman sekaligus memutus perilaku perundungan sebelum bertambah parah.
Selain melindungi korban, cara mengatasi bullying juga menuntut sikap tegas untuk menghentikan pelaku tanpa balas dendam. Penanganan yang tenang, konsisten, dan melibatkan banyak pihak terbukti jauh lebih efektif.
Dilansir dari StopBullying.gov, ketika orang dewasa merespons perundungan dengan cepat dan konsisten, penelitian menunjukkan bahwa perilaku tersebut dapat berhenti seiring waktu karena pelaku menerima pesan bahwa tindakannya tidak bisa diterima.
Advertisement
1. Cara Mengatasi Bullying yang Bisa Dilakukan Korban
Ketika perundungan menimpa diri sendiri, korban tetap memiliki kendali untuk melindungi diri. Beberapa cara mengatasi bullying berikut bisa langsung dipraktikkan agar pelaku kehilangan kepuasan dan situasi cepat mereda. Nathaniel Branden, psikolog, dikutip dari Everyday Power, menyatakan, "Pelaku perundungan menyembunyikan ketakutannya dengan keberanian palsu; itu justru kebalikan dari ketegasan diri."
Jangan Menyimpan Sendiri: Ceritakan yang kamu alami kepada orang tua, guru, atau teman dekat yang bisa dipercaya karena berbagi beban membuka jalan bantuan.
Tetap Tenang dan Jangan Terpancing: Pelaku mencari reaksi, sehingga sikap tenang tanpa membalas membuat mereka cepat kehilangan minat, dan kamu bisa lebih dulu belajar meredakan kecemasan.
Katakan "Stop" dengan Tegas: Tatap pelaku dan minta ia berhenti dengan suara jelas, atau segera tinggalkan lokasi bila situasi terasa tidak aman.
Bangun Rasa Percaya Diri: Fokus pada kelebihan, biasakan berpikir positif lewat afirmasi positif, dan teruslah membangun rasa percaya diri agar tidak tampak gentar.
Kumpulkan Bukti: Simpan pesan, tangkapan layar, atau catatan waktu kejadian sebagai bahan yang kuat saat melapor.
Laporkan dan Jaga Kesehatan Diri: Adukan kejadian ke pihak berwenang dan tetap lakukan hal yang kamu sukai agar kesehatan mental tetap terjaga.
Menurut para ahli, sebagian besar perundungan justru terjadi ketika tidak ada orang dewasa di dekat korban, sehingga berada dekat dengan teman atau guru menjadi salah satu strategi paling aman.
Baca juga: cara tampil percaya diri saat berbicara di depan umum serta cara berani menolak ajakan teman dengan sopan.
2. Cara Mengatasi Bullying di Sekolah dan Lingkungan Sekitar
Orang tua, guru, dan teman punya peran besar dalam menghentikan perundungan. Berikut sejumlah cara mengatasi bullying yang dapat dilakukan orang di sekitar korban. Marc Brackett, Direktur Yale Center for Emotional Intelligence, dikutip dari Crisis Prevention Institute, menyatakan, "Saya ingin kamu berhenti memperlakukan dia seperti itu; itu menyakitkan dan sama sekali tidak pantas."
Intervensi Segera: Hentikan perundungan saat itu juga, pisahkan pihak yang terlibat, dan pastikan semua orang dalam keadaan aman.
Tetap Tenang dan Dengarkan: Tenangkan semua pihak lalu dengarkan cerita dari berbagai sumber tanpa langsung menyalahkan siapa pun.
Tanamkan Empati: Ajak pelaku membayangkan perasaan korban, sebab menumbuhkan rasa empati menekan keinginan untuk menyakiti orang lain.
Berikan Konsekuensi yang Mendidik: Terapkan konsekuensi relevan yang mendorong pelaku memperbaiki kesalahan, seperti meminta maaf atau mengganti barang yang rusak.
Lindungi dan Dampingi Korban: Yakinkan korban bahwa ini bukan salahnya dan biasakan sikap saling menghormati di lingkungan tersebut.
Tindak Lanjuti Secara Berkala: Pantau perkembangan situasi karena perundungan tidak selalu berhenti dalam semalam.
J. Weichman, psikolog, dikutip dari BetterHelp, menyatakan, "Lihatlah para pelaku perundungan sebagaimana adanya; kemarahan dan agresi berasal dari luka serta rasa sakit yang tidak terungkapkan." Memahami akar penyebab anak menjadi pelaku bullying membantu orang dewasa memilih pendekatan yang tepat, sekaligus mendorong korban untuk memperluas pertemanan yang sehat.
3. Cara Menghadapi Cyberbullying di Dunia Maya
Cara mengatasi bullying di dunia digital sedikit berbeda dari perundungan tatap muka. Serangan lewat media sosial atau pesan menuntut langkah teknis yang cepat dan tepat. Berdasarkan survei UNICEF terhadap 170.000 anak muda di 30 negara, lebih dari sepertiga responden mengaku pernah mengalami cyberbullying.
Jangan Merespons atau Membalas: Pelaku mengincar reaksi, sehingga tidak menanggapi sering membuat mereka berhenti dengan sendirinya.
Blokir Pelaku: Manfaatkan fitur blokir agar akun pelaku tidak lagi bisa menghubungi atau melihat unggahanmu.
Simpan Bukti Digital: Ambil tangkapan layar dan catat tanggal kejadian sebelum menghapus atau memblokir pelaku.
Laporkan ke Platform: Adukan akun atau unggahan bermasalah melalui fitur pelaporan yang umumnya bersifat anonim.
Atur Privasi dan Minta Bantuan: Gunakan pengaturan privasi, dan bila perlu laporkan ke sekolah atau pihak berwenang.
Mengacu pada Cyberbullying Research Center, membalas pelaku hanya melanggengkan siklus kekerasan dan tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa membuatmu ikut terseret persoalan. Selain melapor, menyebarkan pesan positif untuk melawan perundungan dapat mengalihkan perhatian dari pelaku sekaligus menguatkan korban.
4. Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Menangani Bullying
Niat baik menolong korban kadang keliru arah dan justru memperburuk keadaan. Sejumlah penelitian menemukan bahwa beberapa pendekatan berikut sebaiknya dihindari agar penanganan tidak berujung sia-sia.
Kebijakan nol toleransi: Menskors atau mengeluarkan pelaku tidak terbukti menurunkan perundungan dan justru membuat orang enggan melapor.
Mediasi atau resolusi konflik: Perundungan bukan konflik antara dua pihak setara, sehingga mempertemukan korban dengan pelaku bisa menambah tekanan bagi korban.
Terapi kelompok bagi para pelaku: Menggabungkan pelaku dalam satu kelompok cenderung membuat mereka saling menguatkan perilaku negatif.
Memaksa korban berubah: Memindahkan kelas atau rute korban justru menghukum pihak yang tidak bersalah.
Main hakim sendiri: Membalas pelaku dengan kekerasan hanya menciptakan masalah baru dan memperpanjang konflik.
Menyuruh korban "kuat sendiri": Membiarkan korban memendam masalah memperparah dampak psikologis yang ia rasakan.
Alih-alih menuntut korban tegar seorang diri, ia justru perlu dibekali ketahanan mental. Dr. Donald Meichenbaum, pakar PTSD, dikutip dari Psychology Today, menyatakan, "Resiliensi mencerminkan kemampuan untuk bangkit kembali dan beralih dari korban menjadi penyintas, bahkan menjadi pribadi yang berkembang."
Menghentikan perundungan adalah tanggung jawab bersama, dan setiap tindakan kecil bisa menjadi pengingat bahwa korban tidak pernah sendirian. Maya Angelou, penyair, dikutip dari Talkspace, menyatakan, "Orang akan lupa apa yang kamu katakan dan apa yang kamu lakukan, tetapi tidak akan pernah lupa bagaimana perasaan mereka karenamu." Perlahan bangun kembali rutinitas positif dengan membangun kebiasaan baik, dan jadikan berbagai film tentang bullying maupun kisah korban bullying yang bangkit sebagai sumber semangat untuk pulih.
5. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Bullying
Apa yang harus dilakukan jika menjadi korban bullying?
Langkah pertama adalah tidak menyimpan masalah sendirian dan segera menceritakannya kepada orang yang dipercaya, seperti orang tua, guru, atau konselor. Tetaplah tenang, jangan membalas, kumpulkan bukti bila ada, lalu laporkan agar perundungan bisa ditangani dan kamu mendapat perlindungan.
Ke mana harus melaporkan tindakan bullying?
Perundungan bisa dilaporkan kepada pihak yang berwenang di lingkungan tempat kejadian, seperti guru, kepala sekolah, atau atasan di tempat kerja. Jika sudah mengarah pada kekerasan, ancaman serius, atau cyberbullying, laporan dapat diteruskan ke platform terkait maupun aparat penegak hukum.
Apakah korban bullying boleh melawan balik?
Membela diri dan bersikap tegas diperbolehkan, tetapi melawan dengan kekerasan atau balas dendam justru berisiko memperburuk situasi dan menimbulkan masalah baru. Cara yang lebih aman adalah bersikap tenang, menjauh dari bahaya, mencari dukungan orang dewasa, lalu menempuh jalur pelaporan resmi.
Daftar Referensi
- StopBullying.gov. Respond to Bullying. Diakses pada 4 September 2026, dari https://www.stopbullying.gov/prevention/on-the-spot
- UNICEF. Cyberbullying: What is it and how to stop it. Diakses pada 4 September 2026, dari https://www.unicef.org/eca/cyberbullying-what-it-and-how-stop-it
- Cyberbullying Research Center. Responding to Cyberbullying: Top Ten Tips for Teens. Diakses pada 4 September 2026, dari https://cyberbullying.org/responding-to-cyberbullying-top-ten-tips-for-teens
- Psychology Today. How to Bully-Proof Your Children by Building Their Resilience. Diakses pada 4 September 2026, dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/compassion-matters/201112/how-bully-proof-your-children-building-their-resilience
- Crisis Prevention Institute. What to Say to a Bully. Diakses pada 4 September 2026, dari https://www.crisisprevention.com/blog/education/what-to-say-to-a-bully/
(kpl/phi)
Advertisement
