Cara Menghilangkan Tahi Lalat dengan Aman, dari Medis hingga Alami

Cara Menghilangkan Tahi Lalat dengan Aman, dari Medis hingga Alami
cara menghilangkan tahi lalat (©Ilustrasi dibuat AI)

Kapanlagi.com - Cara menghilangkan tahi lalat yang paling aman adalah lewat tindakan medis oleh dokter kulit, misalnya bedah eksisi, bedah cukur (shave removal), laser, atau krioterapi. Bahan alami seperti cuka apel atau bawang putih memang sering dicoba, tapi hasilnya belum terbukti secara ilmiah.

Sebelum memilih cara menghilangkan tahi lalat, pastikan dulu tahi lalat Anda jinak dengan memeriksakannya ke dokter. Langkah ini penting karena sebagian kanker kulit bisa terlihat mirip tahi lalat biasa.

Sebagaimana dikutip dari Cleveland Clinic, kebanyakan tahi lalat tidak berbahaya, tapi dokter bisa menyarankan pengangkatan bila bentuknya mencurigakan. Tahi lalat juga boleh diangkat dengan alasan kosmetik. Baik lewat bedah eksisi maupun pencukuran, prosedurnya cepat dan tidak terasa sakit setelah area kulit dibius. Setelah itu, area bekas tindakan mungkin terasa perih atau panas selama beberapa hari.

1. 1. Cara Menghilangkan Tahi Lalat dengan Bedah Eksisi dan Bedah Cukur

Kalau Anda mencari cara menghilangkan tahi lalat yang hasilnya paling bisa diandalkan, bedah adalah pilihan utama. Dalam praktiknya, ada dua teknik yang paling sering dipakai dokter kulit, yaitu eksisi (memotong) dan cukur (shave removal). Jaringan yang diangkat dari kedua teknik ini juga bisa diperiksa di laboratorium.

  1. Konsultasi dan pemeriksaan awal: Dokter akan melihat ukuran, warna, bentuk, dan lokasi tahi lalat. Dari pemeriksaan ini, dokter menentukan apakah tahi lalat cukup dicukur atau perlu dipotong sampai ke lapisan yang lebih dalam.

  2. Pembiusan lokal: Area kulit dibersihkan, lalu disuntik obat bius lokal. Anda tetap sadar selama tindakan, tapi area tahi lalat tidak terasa sakit.

  3. Bedah eksisi untuk tahi lalat besar atau mencurigakan: Dokter memotong tahi lalat dengan pisau bedah. Tergantung jenis tahi lalatnya, dokter juga mengambil sedikit kulit sehat di sekitarnya untuk memastikan semua sel abnormal terangkat. Luka kemudian ditutup dengan jahitan.

  4. Bedah cukur untuk tahi lalat kecil yang menonjol: Dokter mencukur bagian tahi lalat yang menonjol di permukaan kulit memakai pisau kecil. Tindakan ini biasanya tidak perlu dijahit, dan bekasnya bisa berupa bercak merah muda yang lama-lama memudar.

  5. Pemeriksaan jaringan (biopsi): Tahi lalat yang sudah diangkat dikirim ke laboratorium untuk diperiksa di bawah mikroskop. Hasilnya menunjukkan apakah ada tanda kanker kulit atau tidak.

  6. Lepas jahitan dan kontrol: Kalau Anda menjalani eksisi, Anda akan diminta kembali beberapa hari kemudian untuk melepas jahitan sekaligus mengecek proses penyembuhan.

Perlu Anda tahu, kedua teknik ini punya kelebihan masing-masing. Bedah cukur biasanya meninggalkan bekas yang lebih ringan, tapi tahi lalat lebih mungkin tumbuh lagi karena sel pigmen di lapisan dalam masih tersisa. Bedah eksisi meninggalkan bekas jahitan berbentuk garis, tapi peluang tahi lalat muncul kembali jauh lebih kecil.

Tips: Tanyakan ke dokter teknik mana yang paling cocok untuk lokasi tahi lalat Anda, terutama kalau letaknya di wajah, karena posisi bekas luka bisa memengaruhi hasil akhirnya.

2. 2. Cara Menghilangkan Tahi Lalat dengan Laser, Krioterapi, dan Kauterisasi

Selain bedah, ada beberapa prosedur lain yang bisa jadi cara menghilangkan tahi lalat, terutama untuk tahi lalat kecil, datar, dan jinak. Metode ini umumnya dipilih untuk area yang sulit dijangkau atau untuk alasan estetika, dan tetap harus dikerjakan oleh tenaga medis.

  1. Laser: Dokter menembakkan sinar laser ke tahi lalat untuk menghancurkan sel-sel pigmennya. Metode ini cocok untuk tahi lalat datar dan berukuran kecil. Kadang Anda perlu menjalani 2-3 sesi supaya hasilnya maksimal, dan ada risiko hiperpigmentasi (kulit menggelap) atau tahi lalat muncul kembali.

  2. Krioterapi (bedah beku): Dokter menyemprotkan atau mengoleskan nitrogen cair bersuhu sangat dingin ke tahi lalat sampai jaringannya membeku dan rusak. Setelah itu biasanya muncul lepuhan kecil yang akan sembuh sendiri dalam satu sampai beberapa minggu. Efek sampingnya bisa berupa bekas luka atau warna kulit yang tidak merata.

  3. Kauterisasi (bedah listrik): Setelah area kulit dibius, dokter mengalirkan arus listrik lewat alat logam untuk "membakar" lapisan tahi lalat. Kulit di area itu akan mengering, lalu bercak cokelatnya terlepas. Kadang tindakan ini perlu diulang.

  4. Perawatan luka setelah tindakan: Apa pun metodenya, jaga luka tetap bersih dan tertutup. Risiko yang paling umum adalah infeksi, jaringan parut, dan perubahan warna kulit di area bekas tindakan.

Ada satu hal yang perlu Anda ingat. Laser, krioterapi, dan kauterisasi menghancurkan jaringan tahi lalat, jadi tidak ada sampel yang bisa diperiksa di laboratorium. Karena itu, dokter biasanya hanya menyarankan metode ini untuk tahi lalat yang sudah dipastikan jinak.

3. 3. Cara Menghilangkan Tahi Lalat secara Alami dan Risikonya

Banyak orang mencoba cara menghilangkan tahi lalat dengan bahan dapur karena murah dan mudah didapat. Masalahnya, klaim manfaat bahan-bahan ini sebagian besar belum didukung penelitian. Kalau Anda tetap ingin mencoba, pakai hanya pada tahi lalat kecil, datar, dan sudah dipastikan jinak oleh dokter.

  1. Lakukan tes alergi dulu: Oleskan sedikit bahan di siku bagian dalam, lalu tunggu 24 jam. Kalau muncul gatal, kemerahan, ruam, atau bengkak, jangan oleskan bahan itu ke wajah atau area tahi lalat.

  2. Cuka apel: Cuka apel mengandung asam yang dipercaya bisa memudarkan tahi lalat. Biasanya cuka dioleskan dengan kapas, didiamkan sebentar, lalu dibilas. Namun belum ada penelitian yang membuktikannya, dan cuka apel bisa mengiritasi bahkan melukai kulit sensitif.

  3. Bawang putih: Ada penelitian yang menyebut senyawa cycloalliin dalam bawang putih bisa menghambat enzim tirosinase, yaitu enzim yang berperan dalam pembentukan melanin. Meski begitu, temuan ini masih perlu diteliti lebih lanjut, dan bawang putih bisa menimbulkan rasa terbakar di kulit.

  4. Minyak jarak dan soda kue: Campuran ini biasanya dibuat seperti pasta lalu dioleskan pada malam hari. Lagi-lagi, belum ada bukti ilmiah soal efektivitasnya.

  5. Hentikan kalau terjadi iritasi: Kalau kulit terasa perih, melepuh, atau memerah, segera hentikan pemakaian. Jangan pernah mengerok, menggunting, atau mencungkil tahi lalat sendiri.

Kalau penasaran dengan bahan alami lain yang sering disebut-sebut, Anda bisa membaca ulasan cara alami tanpa operasi. Meski begitu, tetap utamakan saran dokter.

Hati-hati juga dengan krim, salep, atau "pen" penghilang tahi lalat yang dijual bebas. Merujuk Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), saat ini belum ada obat resep maupun obat bebas yang disetujui FDA untuk mengobati tahi lalat, keratosis seboroik, atau skin tag. Produk yang dijual dalam bentuk salep, gel, stik, dan cairan ini bisa mengandung asam salisilat berkadar tinggi atau bahan berbahaya lainnya.

Deborah S. Sarnoff, MD, Presiden The Skin Cancer Foundation, dikutip dari Skin Cancer Foundation menyatakan, "Ini tidak seperti memotong rambut sendiri. Ada risiko yang sangat serius ketika mencoba menghilangkan tahi lalat sendiri." Masalah utamanya, Anda tidak bisa memastikan apakah yang diangkat itu lesi jinak atau ganas.

4. Hal Penting Sebelum dan Sesudah Menghilangkan Tahi Lalat

Memilih metode saja tidak cukup. Langkah pertama memahami cara menghilangkan tahi lalat yang aman adalah mengenali kapan tahi lalat perlu diperiksa dan bagaimana merawat kulit setelah tindakan. Berikut poin-poin yang bisa Anda jadikan pegangan.

Sebagaimana diungkapkan American Academy of Dermatology, menggunakan produk penghilang tahi lalat di rumah sama saja dengan melakukan operasi sendiri, yang bisa cepat berujung buruk tanpa diduga. Mencoba menghilangkan tahi lalat sendiri bisa memicu infeksi serius, bahkan perdarahan hebat yang butuh penanganan di IGD.

  • Kenali tanda bahaya dengan metode ABCDE: Perhatikan bentuk yang tidak simetris (Asymmetry), tepi yang tidak rata (Border), warna yang tidak seragam (Color), ukuran yang makin besar (Diameter), dan perubahan seiring waktu (Evolving). Kalau ada salah satu tanda ini, segera periksakan ke dokter kulit.

  • Waspadai tahi lalat yang berdarah atau nyeri: Tahi lalat yang tumbuh, berubah, berdarah, atau terasa sakit sebaiknya langsung ditangani tenaga medis dan jangan diobati sendiri.

  • Jangan merusak "bukti" untuk diagnosis: Amelia K. Hausauer, MD, dokter kulit di Campbell, California, dikutip dari NewBeauty menjelaskan, "Tahi lalat pada dasarnya adalah kumpulan sel pembuat pigmen yang berkumpul jauh di dalam kulit." Rachel Nazarian, MD, dokter kulit di New York, dikutip dari sumber yang sama menyatakan, "Tahi lalat berawal jauh di bawah kulit, dan banyak tahi lalat yang terlihat polos mungkin menyimpan kanker kulit tahap awal."

  • Jaga luka tetap bersih dan kering: Pada 24-48 jam pertama, hindari membasahi luka terlalu lama. Setelah itu, bersihkan perlahan dengan sabun lembut dan air, lalu keringkan dengan cara ditepuk.

  • Jangan mengelupas keropeng: Biarkan keropeng lepas dengan sendirinya. Mengelupasnya bisa memperlambat penyembuhan dan memperbesar risiko bekas luka.

  • Lindungi bekas luka dari sinar matahari: Bekas luka yang masih baru lebih mudah menggelap kalau terkena sinar UV. Pakai tabir surya atau tutup area tersebut saat beraktivitas di luar.

  • Bersabar dengan hasil akhirnya: Bekas luka biasanya masih berwarna merah muda selama beberapa minggu dan terus membaik selama berbulan-bulan, bahkan sampai sekitar satu tahun.

  • Periksakan kalau tahi lalat tumbuh kembali: Kalau muncul pigmen lagi di bekas tindakan, terutama setelah bedah cukur, segera kontrol ke dokter supaya bisa dipastikan tidak ada perubahan yang berbahaya.

Contoh sederhananya, bayangkan Anda punya tahi lalat kecil di pipi yang tidak berubah selama bertahun-tahun. Dokter mungkin menyarankan bedah cukur atau laser untuk alasan estetika. Lain ceritanya kalau tahi lalat itu tiba-tiba membesar dan warnanya tidak rata. Dokter biasanya akan memilih eksisi supaya jaringannya bisa diperiksa secara menyeluruh.

Tahi lalat berwarna merah juga perlu dibedakan dari tahi lalat biasa. Penjelasannya bisa Anda baca di ulasan tentang tahi lalat merah secara medis.

5. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tahi Lalat

Apakah tahi lalat bisa hilang dengan sendirinya?

Bisa, tapi tidak selalu. Ada tahi lalat yang memudar seiring bertambahnya usia, ada juga yang menetap seumur hidup. Kalau tahi lalat tidak berubah dan tidak mengganggu, umumnya tidak perlu dihilangkan.

Apakah tahi lalat bisa tumbuh lagi setelah dihilangkan?

Bisa, tergantung metodenya. Setelah bedah cukur atau laser, sel pigmen di lapisan kulit yang lebih dalam kadang masih tersisa sehingga tahi lalat muncul kembali. Setelah eksisi penuh, kemungkinannya jauh lebih kecil.

Apakah menghilangkan tahi lalat terasa sakit?

Selama tindakan medis biasanya tidak terasa sakit karena area kulit sudah dibius lokal. Setelah biusnya habis, area bekas tindakan mungkin terasa perih atau nyeri ringan selama satu sampai beberapa hari.

(kpl/rsp)

Rekomendasi

Trending