Cara Pumping ASI yang Benar agar Hasil Melimpah dan Payudara Tetap Nyaman
cara pumping asi yang benar (h)
Kapanlagi.com - Cara pumping ASI yang benar dimulai dari tangan yang bersih, posisi tubuh yang rileks, dan pemijatan payudara sebelum memerah. Setelah itu, daya isap pompa diatur dari tingkat rendah lalu dinaikkan perlahan sampai batas yang tetap terasa nyaman.
Teknik memerah sebaiknya meniru pola isapan bayi, yakni cepat di awal lalu melambat begitu ASI mengalir. Menguasai cara pumping ASI yang benar membuat produksi tetap terjaga sekaligus mencegah puting lecet dan payudara bengkak.
Dilansir dari NHS, memijat payudara selama beberapa menit sebelum memerah membantu memicu refleks pengeluaran ASI atau let-down, sementara memompa kedua payudara sekaligus dapat menambah volume ASI dan mempersingkat waktu. Sebagai nutrisi terbaik, ASI perah tetap dihitung sebagai manfaat ASI eksklusif yang penuh antibodi, terlebih bila dilengkapi posisi menyusui yang nyaman saat bayi menyusu langsung.
Advertisement
1. Cara Pumping ASI dengan Pompa Elektrik dan Manual
Sebagian besar ibu mengandalkan alat untuk memerah, baik pompa ASI elektrik maupun pompa ASI manual. Agar hasilnya maksimal, langkah demi langkah cara pumping ASI yang benar berikut ini perlu diikuti dengan konsisten sejak persiapan hingga penyimpanan.
Mengacu pada panduan Medela, ukuran corong sangat menentukan kenyamanan dan aliran ASI. Corong yang tepat membuat puting bergerak bebas di dalam terowongan corong tanpa bergesekan, sedangkan corong yang terlalu kecil membuat puting rubbing dan yang terlalu besar akan menarik areola berlebihan ke dalam.
Cuci tangan dan sterilkan komponen: Bersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir, lalu pastikan corong, katup, selang, dan botol penampung dalam keadaan bersih serta steril sebelum dirakit.
Cari tempat yang tenang: Duduklah di ruangan yang hangat, sepi, dan bebas gangguan agar tubuh rileks. Menatap foto atau video bayi bisa membantu ASI cepat mengalir.
Pijat payudara terlebih dahulu: Lakukan pijatan lembut memutar selama beberapa menit untuk merangsang refleks let-down sehingga ASI lebih lancar keluar.
Pasang corong dengan tepat: Letakkan corong sehingga puting berada persis di tengah lubang tanpa celah udara. Corong tidak boleh mencubit, menarik, atau membuat payudara teriritasi.
Mulai dengan mode stimulasi: Nyalakan pompa dengan siklus cepat dan daya isap rendah untuk meniru isapan awal bayi. Fase ini bertujuan memancing ASI mulai menetes.
Beralih ke mode ekspresi: Setelah ASI mengalir, ubah ke ritme lebih lambat dan dalam, lalu naikkan daya isap sampai tingkat tertinggi yang masih nyaman, bukan yang paling kuat.
Ganti payudara saat aliran melambat: Pindah ke payudara satunya ketika ASI mulai berkurang, lalu kembali lagi karena biasanya masih ada sisa. Wajar bila satu payudara menghasilkan lebih banyak.
Tutup, simpan, dan bersihkan: Lepaskan corong, tutup botol rapat-rapat, simpan ASI, kemudian segera cuci semua bagian pompa yang bersentuhan dengan ASI.
Soal kekuatan isapan, Dawn Schindler, konsultan laktasi bersertifikat (IBCLC), dikutip dari Children's Health menyatakan, "Pompa ASI yang diatur terlalu tinggi dapat merusak puting, dan hal itu bisa memengaruhi jumlah produksi ASI." Jika muncul rasa nyeri, kemerahan, atau lecet, turunkan intensitas dan periksa ukuran corong seperti yang dibahas dalam panduan pumping elektrik untuk ibu menyusui. Agar rembesan ASI di sela sesi tidak membasahi pakaian, gunakan breast pad yang menyerap ASI dengan baik.
2. Cara Pumping ASI dengan Tangan
Cara pumping ASI yang benar tidak selalu membutuhkan alat karena memerah dengan tangan sering kali lebih praktis, terutama pada hari-hari pertama setelah melahirkan. Teknik ini bahkan kadang menghasilkan lebih banyak ASI kental (kolostrum) dan berguna sebagai keterampilan cadangan saat pompa tidak tersedia.
Para ahli laktasi menilai memerah dengan tangan mudah dipelajari dan hemat biaya, asalkan ritmenya konsisten. Kombinasi kompresi tangan dan isapan pompa dinilai paling menyerupai cara bayi menyusu, sehingga rangsangan pada payudara lebih optimal.
Cuci tangan dan siapkan wadah: Bersihkan tangan lalu siapkan wadah bermulut lebar yang bersih dan steril untuk menampung ASI perah.
Pijat dan rangsang payudara: Urut payudara dengan gerakan memutar lembut untuk membantu ASI mengalir sebelum mulai memerah.
Bentuk huruf C: Letakkan ibu jari di bagian atas dan jari-jari lain di bagian bawah payudara, tepat di luar areola, sehingga membentuk huruf C.
Tekan ke arah dada: Dorong jari dan ibu jari ke belakang menuju dada, kompres payudara sekitar dua detik, lalu lepaskan tanpa menggeser kulit.
Bangun ritme: Ulangi gerakan tekan dan lepas hingga tetesan muncul dan berubah menjadi aliran. Bila belum keluar, geser sedikit posisi jari.
Putar posisi dan ganti payudara: Saat aliran melambat, pindahkan jari ke bagian payudara lain dan berpindah ke payudara satunya. Lanjutkan hingga ASI berhenti mengalir, kira-kira 20-30 menit.
Teknik ini juga menjadi salah satu cara memperbanyak ASI secara alami karena payudara yang rutin dikosongkan akan terangsang memproduksi lebih banyak. Bagi ibu yang harus kembali bekerja, keterampilan memerah dengan tangan sangat membantu, seperti pengalaman yang dibagikan Duma Riris saat menyusui sambil menangani pekerjaan dari rumah.
3. Cara Power Pumping untuk Meningkatkan Produksi ASI
Ketika hasil perah dirasa kurang, power pumping bisa dijadikan sesi tambahan dalam menerapkan cara pumping ASI yang benar. Metode ini meniru cluster feeding, yaitu pola menyusu bayi yang lebih singkat tetapi lebih sering saat sedang dalam fase lonjakan pertumbuhan atau growth spurt.
Prinsipnya sederhana, produksi ASI bekerja atas dasar permintaan sehingga makin sering payudara dikosongkan, makin banyak pula ASI yang dibuat. Waktu terbaik melakukannya adalah pagi hari ketika persediaan ASI sedang optimal, dan sebaiknya luangkan waktu sekitar satu jam tanpa gangguan.
Sesi pertama: Perah kedua payudara selama 20 menit menggunakan pompa elektrik ganda, kemudian istirahat 10 menit.
Sesi kedua: Perah kembali kedua payudara selama 10 menit, lalu istirahat lagi 10 menit.
Sesi penutup: Perah sekali lagi selama 10 menit sehingga total satu jam pemompaan bergantian.
Variasi lebih singkat: Alternatifnya, perah 5 menit dan istirahat 5 menit sebanyak tiga kali, yang bisa diulang hingga lima kali sehari.
Lakukan rutin: Ulangi metode ini satu sampai dua kali sehari; peningkatan biasanya terlihat setelah 2-3 hari, meski ada yang baru terasa pada hari ke-4 hingga ke-7.
Katie McGee, konsultan laktasi bersertifikat (IBCLC), dikutip dari The Lactation Network menyatakan, "Payudara yang sedang menyusui tidak pernah benar-benar kosong, tetapi bila ASI masih menetes deras pada menit ke-15, penting untuk terus memompa." Perlu diingat, power pumping hanya disarankan bagi ibu yang mengalami penurunan produksi, bukan bagi yang pasokannya sudah cukup, agar terhindar dari risiko payudara bengkak akibat ASI berlebih. Metode ini juga bermanfaat bagi ibu dengan bayi yang lahir prematur dan belum bisa menyusu langsung.
4. Tips Menyimpan ASI Perah dan Menjaga Kualitasnya
Keberhasilan pumping tidak berhenti saat ASI keluar, tetapi juga bergantung pada cara menyimpannya. Penyimpanan yang tepat menjaga nutrisi ASI perah tetap utuh sehingga aman diberikan kepada bayi kapan pun dibutuhkan.
Sebagaimana disampaikan La Leche League International, menyimpan ASI sesuai rekomendasi yang berlaku membantu mempertahankan keamanan dan kualitasnya sekaligus meminimalkan hilangnya antibodi, nutrisi, serta zat antioksidan selama masa simpan. Berdasarkan pedoman CDC, berikut acuan lama penyimpanan ASI di berbagai suhu.
Lokasi PenyimpananASI Segar Hasil PerahASI Beku yang Dicairkan Suhu ruang (25 derajat Celsius atau lebih dingin)Hingga 4 jam1-2 jam Kulkas (4 derajat Celsius)Hingga 4 hariHingga 24 jam Freezer (-18 derajat Celsius atau lebih dingin)6 bulan (terbaik), maksimal 12 bulanJangan dibekukan ulang
Selain mematuhi tabel di atas, terapkan tips berikut agar hasil dan kualitas pumping tetap terjaga setiap hari:
Pompa sesering bayi menyusu: Idealnya perah setiap 2-3 jam atau setiap kali sesi menyusui langsung terlewat agar produksi tidak menurun.
Manfaatkan pagi hari: Banyak ibu menghasilkan ASI lebih banyak pada pagi hari setelah istirahat malam, jadi jadikan momen ini sebagai sesi utama.
Jaga hidrasi dan nutrisi: Minum cukup air putih serta perbanyak sayur, buah, ikan, dan kacang-kacangan untuk mendukung kelancaran ASI.
Kelola stres: Tenangkan pikiran karena kecemasan dapat menghambat refleks pengeluaran ASI.
Bagi porsi kecil dan beri label: Simpan dalam takaran 60-120 ml per wadah lalu tulis tanggal serta jam pemompaan untuk memudahkan rotasi.
Hindari pintu kulkas: Letakkan ASI di bagian belakang kulkas yang suhunya lebih stabil, bukan di pintu.
Jangan pakai microwave: Cairkan dan hangatkan ASI dengan air hangat, bukan microwave atau kompor, agar nutrisinya tidak rusak.
Sediakan pompa manual cadangan: Simpan pompa manual untuk situasi darurat seperti mati listrik atau pompa elektrik rusak.
Soal kapan mulai memompa, Jacqueline Kincer, konsultan laktasi bersertifikat (IBCLC), dikutip dari Milkology menyatakan, "Selama tidak ada alasan medis untuk memompa, penting menunggu hingga empat minggu pascamelahirkan sebelum memulai, dan biarkan bayi mengatur produksi ASI Anda secara alami." Setelah stok terkumpul, pelajari juga cara menyimpan ASI di kulkas maupun tanpa kulkas serta cara menggunakan ASI dari kulkas dengan sistem first in first out. Bila suatu saat perlu mengombinasikannya dengan susu formula, pastikan takarannya tepat, dan menjelang usia enam bulan siapkan pula makanan pendamping ASI (MPASI) yang aman.
Dukungan keluarga sangat memengaruhi keberhasilan pumping, misalnya peran pasangan sebagai ayah ASI yang aktif mendampingi. Perjalanan menyusui memang tidak selalu mulus, seperti cerita Tina Toon yang sempat stres saat ASI tak keluar, sehingga kesabaran dan konsistensi menjadi kunci. Baca juga: takaran susu formula sesuai usia bayi baru lahir.
5. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Pumping ASI
Berapa lama waktu ideal untuk pumping ASI dalam sekali sesi?
Waktu ideal umumnya sekitar 15-20 menit atau sampai payudara terasa lebih lembut dan aliran ASI berhenti. Bila menggunakan pompa ganda, mengosongkan kedua payudara sekaligus bisa mempersingkat durasi menjadi lebih efisien.
Berapa jam sekali sebaiknya memompa ASI?
Sebagai patokan umum, pompa ASI setiap 2-3 jam untuk meniru frekuensi menyusu bayi. Bagi ibu bekerja, perah setiap kali jadwal menyusui langsung terlewat agar produksi tetap stabil dan payudara tidak terlalu penuh.
Apakah pumping ASI yang terasa sakit itu normal?
Tidak, memompa yang benar seharusnya tidak menimbulkan rasa sakit. Nyeri biasanya menandakan ukuran corong tidak pas atau daya isap terlalu tinggi, sehingga sebaiknya sesuaikan ukuran corong dan turunkan tingkat isapan hingga terasa nyaman.
Daftar Referensi
- NHS. Expressing breast milk with a pump. Diakses pada 17 September 2026, dari https://www.nhs.uk/start-for-life/baby/feeding-your-baby/breastfeeding/expressing-your-breast-milk/expressing-breast-milk-with-a-pump/
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Human Milk Storage Guidelines. Diakses pada 17 September 2026, dari https://www.cdc.gov/breastfeeding/pdf/humanmilk-en-5x7-508.pdf
- Medela. A Step-by-step Guide to Measure Your Breast Shield Size. Diakses pada 17 September 2026, dari https://www.medela.com/en-us/breastfeeding-pumping/articles/pumping-tips/a-step-by-step-guide-to-breast-shield-sizes
- Children's Health. Tips to Increase Milk Supply When Pumping. Diakses pada 17 September 2026, dari https://www.childrens.com/health-wellness/how-to-increase-milk-supply-when-pumping
- La Leche League International. Storing Human Milk. Diakses pada 17 September 2026, dari https://llli.org/breastfeeding-info/storing-human-milk/
(kpl/rsp)
Advertisement
D Academy 8
-
Kisah Inspiratif Diva Dangdut Academy 8 Pernah Tidur di Peti Keyboard
-
Hobi Selebriti Indonesia Mila DA7 Awalnya Takut Berkuda, Kini Kian Tertarik
