Cara Pakai Kain Ihram yang Benar untuk Laki-Laki dan Perempuan, Panduan Lengkap Jamaah Haji dan Umrah

cara pakai kain ihram (image by AI)
Kapanlagi.com - Kain ihram merupakan pakaian khusus yang wajib dikenakan oleh setiap jamaah haji dan umrah sebagai simbol kesucian di hadapan Allah SWT. Memahami cara pakai kain ihram yang benar adalah langkah penting agar ibadah berjalan sesuai tuntunan syariat Islam.
Bagi jamaah laki-laki, kain ihram terdiri dari dua lembar kain putih yang tidak berjahit: satu kain untuk menutup tubuh bagian bawah (izar) dan satu lagi untuk menutupi bagian atas (rida'). Sementara itu, perempuan mengenakan pakaian sederhana yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Ihram bukan sekadar mengganti pakaian biasa, melainkan memasuki kondisi sakral yang menandai dimulainya seluruh rangkaian ibadah. Cara pakai kain ihram yang tepat akan membantu jamaah menjaga kekhusyukan dan menghindari kesalahan yang dapat mengurangi kesempurnaan ibadah.
Advertisement
Pakaian ihram putih dimaksudkan agar semua orang tampak sama, yang melambangkan bahwa di hadapan Tuhan tidak ada perbedaan antara pangeran dan orang miskin. Kain ihram juga memupuk rasa persatuan di antara para jamaah yang berkumpul di Makkah.
1. 1. Cara Pakai Kain Ihram Bagian Bawah (Izar) untuk Laki-Laki
Langkah pertama dalam memahami cara pakai kain ihram adalah mengenakan kain bagian bawah yang disebut izar. Kain ini berfungsi menutup area dari pusar hingga mata kaki, layaknya mengenakan sarung. Berikut langkah-langkahnya:
Siapkan kain izar: Ambil satu lembar kain putih yang bersih, tidak transparan, dan tidak berjahit. Pastikan ukuran kain cukup panjang untuk menutup area dari pusar hingga mata kaki.
Lilitkan di pinggang: Bungkus kain mengelilingi pinggang hingga menutupi area pusar sampai mata kaki secara sempurna. Pastikan lilitan tidak terlalu ketat agar tetap nyaman saat bergerak, tetapi juga tidak terlalu longgar agar tidak melorot.
Kencangkan dengan sabuk ihram: Gunakan sabuk atau ikat pinggang khusus ihram untuk menahan posisi kain agar tetap aman dan kokoh. Sabuk ini juga bisa digunakan untuk menyimpan paspor, uang, atau barang penting lainnya.
Periksa kerapatan kain: Pastikan aurat tetap tertutup sempurna dalam berbagai posisi, termasuk saat duduk, jongkok, atau berjalan. Kain yang terlalu pendek harus diganti dengan ukuran yang lebih sesuai.
Menurut Muslim Aid, kain izar diamankan dengan sabuk, dan jamaah laki-laki menambahkan sepasang sandal sebagai alas kaki.
2. 2. Cara Pakai Kain Ihram Bagian Atas (Rida') Sesuai Sunnah

Setelah kain izar terpasang, langkah selanjutnya dalam cara pakai kain ihram adalah mengenakan rida' atau selendang untuk menutupi tubuh bagian atas. Kain ini diselimutkan ke bahu dan dada sesuai tuntunan sunnah.
Ambil kain rida': Gunakan lembar kain putih kedua yang juga bersih dan tidak berjahit. Kain ini memiliki ukuran yang cukup untuk menyelimuti bahu dan dada.
Selimutkan di kedua bahu: Dalam kondisi normal di luar tawaf, letakkan kain rida' sehingga menutupi kedua bahu secara sempurna. Biarkan kedua ujung kain terurai di bagian dada.
Atur posisi kain dengan rapi: Pastikan rida' tidak terlalu kendor dan tetap menutupi punggung serta dada. Kaitkan ujung kain agar tidak mudah lepas saat beraktivitas.
Jaga agar kedua bahu tertutup: Membiarkan satu atau kedua bahu terbuka secara terus-menerus di luar waktu tawaf qudum tidaklah sesuai sunnah. Bahu kanan hanya dibuka saat tawaf qudum.
Baca juga: Bacaan Niat Haji dan Umrah Lengkap dengan Artinya
3. 3. Cara Pakai Kain Ihram Saat Tawaf dengan Teknik Idhtiba'
Saat melaksanakan tawaf qudum (tawaf pertama di Makkah), terdapat perbedaan khusus dalam cara pakai kain ihram bagian atas. Teknik ini disebut idhtiba', yaitu membuka bahu kanan sebagai sunnah yang dianjurkan selama tawaf.
Letakkan bagian tengah rida' di bawah ketiak kanan: Ambil bagian tengah selendang dan posisikan di bawah ketiak sebelah kanan sehingga bahu kanan menjadi terbuka.
Lempar kedua ujung kain ke bahu kiri: Kedua ujung selendang diletakkan di atas bahu kiri, sehingga bahu kanan terekspos sementara bahu kiri tetap tertutup.
Pertahankan posisi selama tawaf: Jaga agar kain tetap pada posisinya selama mengelilingi Ka'bah. Pastikan kain tidak melorot atau mengganggu gerakan.
Kembalikan posisi rida' setelah tawaf selesai: Setelah tawaf qudum usai, kembalikan rida' ke posisi normal yang menutupi kedua bahu sebelum melaksanakan shalat dua rakaat tawaf.
Menurut panduan Accor Makkah-Madinah, kain izar dililitkan di pinggang untuk menutup tubuh bagian bawah, sementara rida' menutupi "punggung dan dada" jamaah.
4. 4. Cara Pakai Kain Ihram untuk Perempuan
Berbeda dengan laki-laki, ketentuan cara pakai kain ihram untuk perempuan jauh lebih fleksibel. Jamaah perempuan tidak diwajibkan mengenakan kain tanpa jahitan, melainkan cukup memakai pakaian yang menutup aurat sesuai syariat.
Pilih pakaian yang longgar dan sederhana: Kenakan pakaian yang longgar, menutupi seluruh tubuh, dan tidak mencolok. Warna putih dianjurkan namun tidak wajib; warna netral seperti hitam atau biru tua juga diperbolehkan.
Pastikan bagian bawah menutup hingga tumit: Gunakan bawahan panjang yang menutupi kaki hingga tumit. Dianjurkan pula menggunakan kaos kaki panjang untuk memastikan kaki tetap tertutup.
Kenakan kerudung panjang yang menutup dada: Bagian atas tubuh harus tertutup sepenuhnya, termasuk lengan hingga pergelangan tangan. Gunakan kerudung yang menutup hingga dada.
Jangan tutup wajah dan telapak tangan: Perempuan dilarang mengenakan cadar (niqab) yang menempel pada wajah atau sarung tangan selama dalam keadaan ihram. Wajah dan telapak tangan harus tetap terbuka.
Hindari pakaian bermotif mencolok atau berlebihan: Pakaian ihram perempuan sebaiknya sederhana, tanpa hiasan atau bordiran yang menarik perhatian berlebihan.
5. 5. Cara Pakai Kain Ihram di Pesawat Menuju Tanah Suci
Banyak jamaah yang perlu mengenakan kain ihram saat masih berada di dalam pesawat karena rute penerbangan melewati titik miqat. Berikut panduan praktis cara pakai kain ihram di pesawat agar prosesnya lebih nyaman.
Kenakan kain ihram sebelum naik pesawat: Disarankan untuk sudah mengenakan kain ihram sebelum boarding agar tidak kesulitan berganti pakaian di kabin pesawat yang sempit. Beberapa bandara dan maskapai menyediakan fasilitas untuk persiapan ihram.
Siapkan pakaian cadangan di kabin: Bawa kain ihram cadangan di tas kabin untuk berjaga-jaga apabila kain kotor atau perlu diganti selama perjalanan.
Perhatikan pengumuman miqat: Saat penerbangan mendekati titik miqat, biasanya akan ada pengumuman dari awak kabin. Pada saat itulah jamaah harus membaca niat ihram dan talbiyah.
Pastikan niat dan talbiyah diucapkan tepat waktu: Meskipun kain ihram sudah dipakai sejak awal, yang menentukan masuknya jamaah ke dalam keadaan ihram adalah niat, bukan saat mengenakan pakaian.
Menurut Muslim Aid, beberapa maskapai dan bandara menyediakan "fasilitas untuk bersiap dan menunaikan salat" bagi jamaah yang singgah dalam perjalanan menuju Makkah.
6. 6. Cara Pakai Kain Ihram untuk Anak-Anak
Jamaah yang membawa anak-anak juga perlu memahami cara pakai kain ihram yang sesuai untuk mereka. Aturan untuk anak lebih fleksibel dibandingkan orang dewasa, namun tetap harus memperhatikan ketentuan dasar.
Anak laki-laki mengenakan kain ihram seperti orang dewasa: Anak laki-laki menggunakan dua lembar kain putih yang sama, yaitu izar dan rida'. Pastikan ukurannya sesuai dengan tubuh anak agar nyaman dipakai.
Gunakan sabuk ihram ukuran anak: Sediakan sabuk ihram berukuran kecil untuk menjaga kain tetap terpasang dengan aman dan tidak mudah terlepas saat anak bergerak aktif.
Anak perempuan mengenakan pakaian sederhana: Anak perempuan dapat menggunakan gamis panjang atau abaya dengan penutup kepala. Seperti perempuan dewasa, wajah dan tangan tidak boleh ditutup.
Wali berniat atas nama anak: Untuk anak di bawah usia tujuh tahun, wali wajib membacakan niat ihram atas nama anak dan menjaga mereka dari hal-hal yang dilarang selama ihram.
7. Persiapan Sebelum Mengenakan Kain Ihram

Sebelum mempraktikkan cara pakai kain ihram, ada sejumlah persiapan penting yang perlu dilakukan. Persiapan ini merupakan bagian dari sunnah ibadah haji dan umrah yang sangat dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah.
Mandi besar (ghusl): Disunnahkan melakukan mandi besar sebelum mengenakan kain ihram sebagai bentuk pembersihan diri secara menyeluruh. Apabila tidak memungkinkan, berwudhu sudah cukup sebagai gantinya.
Memotong kuku dan merapikan diri: Potong kuku tangan dan kaki, rapikan kumis (bagi laki-laki), serta bersihkan rambut di ketiak dan area kemaluan sebelum memasuki keadaan ihram.
Menggunakan wewangian pada tubuh: Disunnahkan memakai wangi-wangian pada badan sebelum niat ihram. Namun, wewangian tidak boleh dioleskan pada kain ihram itu sendiri.
Memilih kain yang tepat: Pilih kain ihram yang bersih, berwarna putih, tidak transparan, dan berbahan nyaman serta menyerap keringat. Kain yang breathable sangat disarankan mengingat iklim panas di Arab Saudi.
Menyiapkan kain ihram cadangan: Membawa kain ihram cadangan merupakan langkah bijak untuk mengantisipasi kain yang kotor, robek, atau perlu dicuci selama ibadah berlangsung.
Berlatih mengenakan kain ihram: Bagi jamaah yang baru pertama kali, berlatih mengenakan kain ihram di rumah sangat dianjurkan agar lebih terbiasa dan percaya diri saat tiba di miqat.
Baca juga: Panduan Lengkap Pendaftaran Haji Reguler di Indonesia
8. Sunnah yang Dianjurkan Saat Berihram
Selain memahami cara pakai kain ihram yang benar, jamaah juga perlu mengetahui amalan sunnah yang menyempurnakan proses ihram. Amalan-amalan ini telah diajarkan dalam tuntunan sunnah dan dipraktikkan para ulama sejak generasi awal Islam.
Shalat sunnah ihram dua rakaat: Setelah mandi dan berpakaian ihram, dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum membaca niat ihram.
Membaca niat ihram di miqat: Niat ihram diucapkan saat berada di miqat yang telah ditentukan. Untuk umrah, jamaah mengucapkan "Labbayka 'Umratan", sedangkan untuk haji, "Labbayka Hajjan".
Membaca talbiyah dengan suara jelas: Setelah berniat, jamaah laki-laki dianjurkan membaca talbiyah dengan suara keras, sementara perempuan cukup dengan suara pelan yang terdengar oleh diri sendiri.
Memperbanyak dzikir dan doa: Selama dalam keadaan ihram, jamaah dianjurkan memperbanyak talbiyah, membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa kepada Allah SWT.
Menjaga kesederhanaan dan kerendahan hati: Ihram mengajarkan kesederhanaan dan kerendahan hati sebagai bagian dari transformasi spiritual jamaah selama ibadah.
9. Larangan Selama Berihram yang Wajib Diketahui
Setelah mengenakan kain ihram dan membaca niat, jamaah memasuki keadaan ihram yang membawa sejumlah larangan ketat. Pelanggaran terhadap larangan ini bisa dikenai denda (dam) atau bahkan membatalkan ibadah. Berikut larangan-larangan penting yang wajib dipahami:
Mengenakan pakaian berjahit (laki-laki): Laki-laki dilarang memakai pakaian berjahit seperti kemeja, celana, atau pakaian dalam selama berihram. Larangan ini tidak berlaku untuk perempuan.
Menutup kepala (laki-laki) dan wajah (perempuan): Laki-laki tidak boleh memakai topi, peci, atau penutup kepala apa pun. Perempuan dilarang mengenakan niqab atau cadar yang menempel di wajah serta sarung tangan.
Menggunakan wewangian setelah ihram: Dilarang memakai parfum, sabun wangi, deodoran beraroma, atau produk wewangian apa pun pada tubuh maupun kain ihram setelah niat diucapkan. Jamaah bisa menggunakan sabun tanpa aroma sebagai pengganti.
Memotong kuku atau rambut: Jamaah tidak boleh memotong kuku, mencukur rambut, atau mencabut bulu badan selama berihram.
Memburu hewan darat: Dilarang berburu, membunuh, atau membantu proses perburuan hewan darat yang halal dimakan.
Melakukan hubungan intim: Suami istri dilarang berhubungan intim atau melakukan pendahuluan yang disertai syahwat selama ihram.
Menikah atau menikahkan: Pelaksanaan akad nikah, menjadi wali nikah, atau melamar dalam keadaan ihram tidak diperbolehkan.
Bertengkar dan berkata kasar: Jamaah harus menjaga lisan dari perdebatan, pertengkaran, atau ucapan kotor selama berihram.
Jika melanggar larangan tersebut, jamaah wajib membayar dam berupa menyembelih kambing, berpuasa tiga hari, atau memberi makan enam orang miskin, tergantung jenis pelanggarannya.
10. Makna Spiritual Kain Ihram sebagai Simbol Kesucian dan Kesetaraan

Memahami cara pakai kain ihram tidak lengkap tanpa menyelami makna spiritual yang mendalam di baliknya. Kain ihram putih yang sederhana menyimpan pesan filosofis kuat yang relevan bagi setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji atau umrah.
Kain ihram putih melambangkan kesucian, kesetaraan, dan kerendahan hati di hadapan Allah SWT. Dengan mengenakan pakaian yang sama, seluruh perbedaan status sosial, kekayaan, dan jabatan terhapus. Seorang raja dan rakyat biasa tampak setara saat berdiri di hadapan Baitullah. Ihram juga memupuk "rasa persatuan di antara para jamaah" yang merasa sebagai saudara yang bersatu untuk beribadah.
Kain ihram putih juga sering dikaitkan dengan pengingat akan kain kafan yang akan dipakai saat meninggal dunia. Mengenakan kain putih sederhana ini menjadi refleksi atas sifat sementara kehidupan dunia dan mengingatkan jamaah untuk mempersiapkan diri menghadap Allah. Kesadaran ini mendorong jamaah untuk meninggalkan kemewahan duniawi dan fokus pada tujuan ibadah yang sesungguhnya.
Lebih dari sekadar pakaian, ihram adalah transformasi jiwa. Dengan menanggalkan pakaian sehari-hari dan menggantinya dengan kain putih tanpa jahitan, jamaah secara simbolis melepaskan segala atribut duniawi. Proses ini mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, dan ketundukan total kepada perintah Allah SWT.
Baca juga: Ucapan Doa untuk Orang Berangkat Haji Bahasa Arab
11. Kesalahan Umum Saat Memakai Kain Ihram dan Solusinya
Banyak jamaah, terutama yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji atau umrah, melakukan kesalahan saat mengenakan kain ihram. Mengenali kesalahan-kesalahan ini akan membantu memperbaiki cara pakai kain ihram agar sesuai syariat.
Melilit kain izar terlalu longgar: Kain yang terlalu longgar mudah melorot saat berjalan, tawaf, atau sa'i. Gunakan sabuk ihram untuk mengamankan posisi kain.
Memakai pakaian dalam di balik kain ihram: Beberapa jamaah laki-laki tetap mengenakan celana dalam karena merasa kurang nyaman. Hal ini melanggar ketentuan ihram karena termasuk pakaian berjahit.
Membiarkan bahu kanan terbuka sepanjang waktu: Membuka bahu kanan hanya disunnahkan saat tawaf qudum, bukan di sepanjang waktu ihram. Setelah tawaf, rida' harus dikembalikan menutupi kedua bahu.
Lupa berniat di miqat: Beberapa jamaah terlalu fokus pada pakaian sehingga lupa membaca niat ihram di miqat. Yang menentukan masuknya seseorang ke keadaan ihram adalah niat, bukan kain yang dipakai.
Perempuan mengenakan pakaian ketat atau mencolok: Meskipun tidak ada pakaian khusus untuk perempuan, pakaian yang ketat atau bermotif mencolok tidak sesuai dengan adab ihram.
Tidak menutup aurat dengan sempurna saat tidur: Kain ihram sering tersingkap saat tidur tanpa disadari. Jamaah perlu memastikan kain tetap terpasang dengan benar dan segera mengenakan kembali jika terlepas.
12. Tips Praktis Merawat Kain Ihram Selama di Tanah Suci
Selama menunaikan ibadah di Tanah Suci, jamaah mungkin perlu merawat atau bahkan mengganti kain ihram. Berikut beberapa tips praktis yang perlu diperhatikan:
Jamaah diperbolehkan mencuci kain ihram jika kotor atau berkeringat, dan tidak ada larangan untuk berganti kain ihram selama masih dalam keadaan ihram. Menurut Muslim Aid, "diperbolehkan mengganti pakaian ihram sebanyak yang diperlukan," asalkan jamaah tidak secara sengaja mengotori kain ihram.
Jamaah juga diperbolehkan mandi saat berihram, namun harus menggunakan produk tanpa aroma seperti sabun dan sampo yang tidak beraroma. Saat mandi, hindari menggosok kulit terlalu keras agar rambut tidak rontok secara sengaja.
Menjaga hidrasi tubuh juga sangat penting mengingat iklim panas di Arab Saudi. Minum cukup air dan makan secara teratur untuk menjaga stamina selama aktivitas ibadah yang padat. Kenakan alas kaki yang nyaman seperti sandal terbuka yang mudah dilepas dan dipasang, terutama saat masuk dan keluar masjid.
Hal penting lainnya, jamaah yang memerlukan alat bantu kesehatan seperti kacamata, alat bantu dengar, atau lensa kontak tetap diperbolehkan menggunakannya selama ihram. Penggunaan payung atau pelindung matahari juga diizinkan selama tidak menutupi kepala secara langsung bagi laki-laki.
Baca juga: Ucapan Doa untuk Orang Berangkat Umroh Bahasa Arab
13. Kapan Memakai dan Melepas Kain Ihram

Mengetahui waktu yang tepat untuk mengenakan dan melepas kain ihram merupakan bagian penting dari pemahaman cara pakai kain ihram secara menyeluruh. Berikut penjelasannya:
Waktu mengenakan kain ihram: Kain ihram dipakai saat jamaah hendak memasuki keadaan ihram dari miqat yang telah ditentukan. Jamaah dapat mengenakan kain ihram sebelum sampai di miqat, namun niat baru diucapkan saat berada di titik miqat.
Miqat berdasarkan rute perjalanan: Terdapat beberapa titik miqat yang ditetapkan berdasarkan arah kedatangan jamaah. Bagi yang datang dari Madinah, miqatnya adalah Dzul Hulaifah.
Waktu melepas kain ihram (tahallul): Kain ihram dilepas setelah jamaah melakukan tahallul, yang ditandai dengan memotong atau mencukur rambut setelah rangkaian ibadah selesai. Untuk laki-laki, dianjurkan mencukur seluruh rambut kepala, sedangkan perempuan cukup memotong ujung rambut.
Haji tamattu': Bagi jamaah haji tamattu', kain ihram boleh dilepas setelah selesai umrah dan sebelum kembali berihram untuk haji pada tanggal 8 Dzulhijjah.
14. Hal yang Diperbolehkan Selama Mengenakan Kain Ihram
Selain memahami larangan, jamaah juga perlu mengetahui hal-hal yang tetap diperbolehkan selama dalam keadaan ihram. Pemahaman ini akan membuat ibadah lebih tenang tanpa rasa khawatir yang berlebihan dalam menjalankan cara pakai kain ihram.
Memakai sabuk atau ikat pinggang: Jamaah diperbolehkan menggunakan sabuk untuk mengamankan kain ihram dan menyimpan barang-barang penting.
Mandi dan membersihkan diri: Mandi saat berihram diperbolehkan selama tidak menggunakan produk beraroma. Sabun dan sampo tanpa wewangian dapat digunakan untuk menjaga kebersihan.
Menggunakan alat bantu kesehatan: Kacamata, alat bantu dengar, lensa kontak, gigi palsu, dan alat bantu medis lainnya tetap boleh digunakan.
Menggunakan payung: Jamaah boleh menggunakan payung atau benda pelindung matahari selama tidak ditempatkan langsung di atas kepala bagi laki-laki.
Mengganti kain ihram: Kain ihram boleh dicuci atau diganti dengan kain baru kapan saja selama masih dalam keadaan ihram, asalkan kain pengganti memenuhi syarat yang sama.
Memakai sandal terbuka: Alas kaki berupa sandal yang membiarkan jari-jari kaki dan pergelangan kaki terlihat diperbolehkan.
15. Perbedaan Kain Ihram untuk Haji dan Umrah

Jamaah yang belum berpengalaman sering bertanya apakah ada perbedaan dalam cara pakai kain ihram untuk ibadah haji dan umrah. Hal ini wajar mengingat kedua ibadah tersebut memiliki rangkaian ritual yang berbeda.
Secara praktis, tidak ada perbedaan dalam hal jenis kain, warna, atau cara mengenakan kain ihram antara haji dan umrah. Ketentuan pakaian ihram berlaku sama untuk kedua ibadah. Yang membedakan hanyalah niat yang diucapkan dan durasi penggunaan kain ihram. Untuk umrah, jamaah mengucapkan "Labbayka 'Umratan", sedangkan untuk haji, mengucapkan "Labbayka Hajjan".
Pada ibadah haji, kain ihram dikenakan lebih lama karena rangkaian ritualnya lebih panjang, mulai dari tawaf qudum, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, hingga melempar jumrah. Sementara pada umrah, ihram hanya berlangsung dari miqat hingga selesai tawaf dan sa'i yang diakhiri dengan tahallul.
Durasi mengenakan kain ihram juga bervariasi tergantung jenis haji yang dilakukan. Menurut Wikipedia, "jumlah hari yang tepat" seorang jamaah harus mengenakan ihram berbeda sesuai "jenis ibadah haji yang dilaksanakan."
Menguasai cara pakai kain ihram adalah langkah awal penting menuju kesempurnaan ibadah haji atau umrah. Dengan memahami setiap langkah mulai dari mengenakan izar dan rida', mempraktikkan idhtiba' saat tawaf, hingga mengetahui larangan selama berihram, jamaah dapat fokus sepenuhnya pada dimensi spiritual perjalanan suci ini. Semoga panduan ini bermanfaat bagi seluruh calon jamaah dalam mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
16. FAQ
Apakah kain ihram harus berwarna putih?
Kain ihram untuk laki-laki disunnahkan berwarna putih sebagai simbol kesucian dan kesetaraan. Meskipun putih adalah warna yang sangat dianjurkan, yang terpenting kain tersebut bersih, tidak transparan, dan tidak berjahit. Untuk perempuan, pakaian ihram boleh berwarna apa saja selama sopan, sederhana, dan menutup aurat.
Bolehkah memakai sabuk saat mengenakan kain ihram?
Ya, memakai sabuk atau ikat pinggang saat berihram diperbolehkan. Sabuk berguna untuk menjaga kain izar tetap kokoh dan tidak melorot, serta dapat digunakan untuk menyimpan barang-barang penting seperti paspor dan uang. Pastikan sabuk yang digunakan tidak termasuk pakaian berjahit yang dilarang.
Bagaimana cara pakai kain ihram yang benar agar tidak mudah lepas?
Cara pakai kain ihram agar tidak mudah lepas adalah dengan melilitkan kain izar secara rapat di pinggang dan mengamankannya dengan sabuk ihram. Lipat bagian atas kain jika terlalu panjang, dan pastikan lilitan cukup erat namun tetap nyaman untuk bergerak. Berlatih di rumah sebelum berangkat sangat disarankan.
Apakah perempuan wajib memakai kain ihram khusus?
Tidak, perempuan tidak diwajibkan memakai kain ihram khusus. Perempuan mengenakan pakaian biasa yang menutup seluruh aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Pakaian harus longgar, sederhana, dan tidak mencolok. Yang dilarang adalah memakai niqab yang menyentuh wajah dan sarung tangan.
Kapan waktu yang tepat untuk mengenakan kain ihram?
Kain ihram dikenakan sebelum atau saat jamaah sampai di titik miqat yang telah ditentukan. Jamaah boleh mengenakan kain ihram terlebih dahulu, misalnya di hotel atau bandara, namun niat ihram baru diucapkan saat berada di miqat. Bagi yang naik pesawat, kain ihram bisa dikenakan sebelum boarding.
Apakah boleh mengganti kain ihram yang sudah kotor?
Ya, jamaah diperbolehkan mencuci atau mengganti kain ihram yang kotor dengan kain baru selama masih dalam keadaan ihram. Pastikan kain pengganti juga memenuhi syarat yang sama, yaitu putih, bersih, tidak berjahit, dan tidak transparan. Membawa kain ihram cadangan merupakan persiapan yang bijak.
Apa yang harus dilakukan jika tidak mampu memakai kain ihram karena sakit?
Bagi jamaah yang tidak mampu mengenakan kain ihram karena alasan kesehatan atau kondisi fisik tertentu, diperbolehkan memakai pakaian biasa yang nyaman. Namun, jamaah tersebut wajib membayar fidyah sebagai kompensasi, berupa menyembelih kambing, berpuasa tiga hari, atau memberi makan enam orang miskin sesuai ketentuan syariat.
(kpl/mda)
Advertisement
D Academy 8
- Fashion SelebritiPotret Seru Soimah di Dangdut Academy 8, Selfie Hingga Joget Bareng











































