Hayoung Minta Maaf Soal Kakek Buyut Pro-Jepang Lewat Surat Tulisan Tangan

Hayoung Minta Maaf Soal Kakek Buyut Pro-Jepang Lewat Surat Tulisan Tangan
Hayoung Minta Maaf Soal Kakek Buyut Pro-Jepang (credit: instagram.com/havv_y)

Kapanlagi.com - Hayoung merilis surat permintaan maaf tulisan tangan melalui Instagram pribadinya terkait jejak pro-Jepang kakek buyutnya, Ahn Sang Ho, pada masa pendudukan Jepang di Korea. Surat itu diunggah pada Rabu (12/8/202), sehari setelah agensinya mengonfirmasi kebenaran catatan sejarah yang dimaksud.

Dalam pernyataannya, Hayoung menyampaikan permohonan maaf kepada publik sebagai keturunan atas kekecewaan dan luka yang muncul akibat kontroversi ini. Ia mengakui selama ini hanya mengenal sosok kakek buyutnya dari cerita keluarga dan tanpa sadar kerap membanggakannya di ruang publik.

Setelah isu mencuat, ia menelusuri sendiri catatan sejarah terkait dan menemukan jejak pro-Jepang tersebut. Hayoung menyesalkan pernah menyinggung sejarah keluarganya secara ringan tanpa pemahaman memadai tentang periode penjajahan Jepang yang menjadi masa kelam bagi Korea.

1. Kontroversi Bermula dari Cerita di Acara Televisi

Surat Tulisan Tangan Hayoung (credit: instagram.com/havv_y)

Pemicunya adalah penampilan Hayoung di program variety show KBS2, Oktapbangui Munjeadeul. Dalam tayangan itu, ia bercerita tentang keluarganya sebagai keluarga medis empat generasi. Ia menyebut kakek buyutnya belajar kedokteran barat di Jepang, membuka klinik pengobatan barat di Hanyang, dan pernah menangani Kaisar Gojong.

Setelah episode tersebut tayang, warganet menelusuri identitas kakek buyut yang dimaksud dan mengaitkannya dengan Ahn Sang Ho. Ia dikenal sebagai orang Korea pertama yang meraih lisensi dokter Jepang.

Dalam penelusuran itu juga ditemukan catatan bahwa nama Ahn Sang Ho tercantum sebagai anggota dewan penasihat Daejeong Chinmokhoe, sebuah organisasi yang dikenal sebagai kelompok pro-Jepang, pada tahun 1916. Temuan inilah yang kemudian memicu kontroversi luas.

2. Pernyataan Agensi Berubah dan Konfirmasi Catatan 1916

Agensi Hayoung, Beasters Entertainment, semula membenarkan bahwa kakek buyut yang dimaksud adalah Ahn Sang Ho. Namun pada tahap awal, agensi menyatakan tuduhan jejak pro-Jepang itu "tidak berdasar".

Sehari berselang, setelah penelusuran lebih lanjut, agensi menarik kembali pernyataan tersebut. Pada 11 Agustus, Beasters Entertainment mengonfirmasi bahwa nama Ahn Sang Ho benar tercantum dalam daftar dewan penasihat Daejeong Chinmokhoe tahun 1916.

Agensi juga meminta maaf karena sempat menyebut "tidak berdasar" tanpa verifikasi memadai, yang berujung pada kebingungan publik. Di sisi lain, Hayoung dalam suratnya mengakui tanggung jawab atas pernyataan awal yang keliru itu, menyebut dirinya belum mengetahui fakta sebenarnya saat pernyataan itu dirilis, dan mengakui kurangnya verifikasi sebagai kelalaiannya.

3. Isi Surat Hayoung dan Janji Setelah Polemik

Dalam surat yang diunggah, Hayoung menyampaikan permintaan maaf langsung kepada publik atas kekecewaan dan luka yang timbul terkait sosok kakek buyutnya. Ia menegaskan selama ini hanya mengetahui sepotong-sepotong kisah hidup Ahn Sang Ho dari cerita keluarga.

Ia mengungkap baru menelusuri sendiri catatan sejarah setelah kontroversi mencuat dan kemudian menemukan jejak pro-Jepang tersebut. Hayoung menyatakan penyesalan karena pernah menyinggung sejarah keluarga secara ringan tanpa benar-benar memahami konteks penjajahan Jepang sebagai periode kelam bagi Korea.

Hayoung turut menyinggung waktu kemunculan kontroversi ini yang berdekatan dengan Gwangbokjeol atau Hari Kemerdekaan Korea. Ia menyampaikan permintaan maaf tambahan karena isu ini muncul menjelang momen yang menurutnya seharusnya dihormati sebagai bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan.

Ia menegaskan bahwa ketidaktahuannya atas jejak sejarah kakek buyutnya bukan alasan untuk mengabaikan atau meremehkan sejarah tersebut. Hayoung menyebut menerima kesalahan itu dengan berat hati dan mengutarakan permintaan maaf tulus sebagai keturunan.

Ke depan, Hayoung berjanji mempelajari sejarah keluarganya dan sejarah bangsanya secara lebih mendalam, serta akan lebih berhati-hati saat membicarakan sejarah di ruang publik. Ia juga menyampaikan komitmen untuk menghormati para pejuang kemerdekaan dan pihak-pihak yang berjasa bagi kemerdekaan Korea, dan menegaskan niat itu akan diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar ucapan.

Rekomendasi

Trending