HOME » KOREA

[KapanLagi Cerita Korea Ep 4] 'Ppalli Ppalli!', Kehidupan di Korea Yang Selalu Dikejar Waktu

Jum'at, 27 November 2020 16:00
[KapanLagi Cerita Korea Ep 4] 'Ppalli Ppalli!', Kehidupan di Korea Yang Selalu Dikejar Waktu Budaya Ppalli ppalli di Korea © Dokumentasi Pribadi Irfan Rulianto

Kapanlagi.com - Aku berdiri di depan gedung asramaku. Sabtu pagi di komplek universitas UNIST selalu kalem. Sudah mendekati musim panas, tapi udara masih dingin, embun masih pekat. Penghuni asrama yang lain pun masih nyenyak di kasur. Ada dua laki-laki sedang jogging di seberang jalan, rajinnya pagi-pagi. Padahal jogging track di UNIST lumayan panjang. Kuambil handphone dari saku celanaku dan ku tekan tombol angka di layar. Nada sambung otomatis berbunyi.

"Call taxi Ulsan," ujar suara perempuan setelah nada itu berhenti.

"Yeoboseyo (halo)," sapaku. "Saya ada di UNIST, boleh kirim satu taksi?"

"Baik, sebentar," diikuti suara ketikan keyboard. "Mohon tunggu tiga menit, terimakasih."

Setelah kujawab kembali dengan terimakasih, panggilan ku putus. Aku buka aplikasi Kakaotalk di handphoneku, 'aku berangkat dari UNIST', pesanku ke Anar, sahabatku. Kita belum ketemu sejak wisuda SMA, karena aku kuliah di Kota Ulsan dan dia di Kota Daejeon, ratusan kilometer dari kampusku. Mumpung ada waktu, aku pergi main ke Daejeon pagi itu.

Di seberang jalan para pelari tadi sudah kelihatan lagi. Buru-buru amat, macam dikejar saja. Sewaktu mataku ikuti mereka, tiba-tiba terlihat taksi melesat ke arahku. Papan display di kaca depan bertuliskan yeyak, yang artinya pesanan, berkedip merah. Sudah datang ternyata. Mobil abu-abu itu berhenti di depanku, kaca sisi pengemudi turun.

"Call taxi?" tanya ajusshi pengemudi taksi, kacamata hitam besar bertengger di hidungnya.

"Iya," jawabku sambil buka pintu belakang dan masuk. "Stasiun Ulsan ya, pak."

Jarak dari UNIST ke Stasiun Ulsan sekitar 6 kilometer, jadi ku perkirakan perjalanan akan makan waktu 20 menit, kalau traffic normal. Rencanaku naik kereta yang berangkat 40 menit lagi, jadi bisa santai. Ajusshi segera tancap gas dan melaju kami ke Stasiun Ulsan. Ngebut orang ini, pikirku, padahal jalanan nggak sepi juga. Tiap menit terasa laju taksinya semakin cepat, sampai akhirnya alarm batas kecepatan di alat navigasi berbunyi. Aku mulai cemas.

Taksi di Korea yang jago ngebut © Dokumentasi Pribadi Irfan RuliantoTaksi di Korea yang jago ngebut © Dokumentasi Pribadi Irfan Rulianto

"Ajusshi, tolong pelan-pelan, saya nggak dikejar waktu kok," ujarku. Dia ketawa dengar paniknya suaraku.

"Tenang, udah biasa kok," jawabnya, meskipun aku lihat angka speedometer sedikit turun. "Kan enak kalau ppalli ppalli."

Ah, iya, ppalli ppalli. Ungkapan paling lazim di Korea yang artinya 'cepat cepat'. Bukan cuma jaringan internet, budaya cepat cepat ini ada di segala macam keseharian. Satu contohnya di jalan raya seperti ini. Taksi, bus, mobil pribadi, semua ngebut dan saling membalap. Belum lagi sepeda motor yang sering naik trotoar untuk hindari macet dan dengan pedenya paksa pejalan kaki untuk minggir. Meskipun aku maklumi pengendara sepeda motor, karena mereka kurir delivery makanan, tanggungannya berat. Aku ingat lihat kurir chinese food yang dibentak-bentak di depan satu apartemen karena "lewat 30 menit". Kasihan.

Yang buat heran, mereka ugal-ugalan dengan tenang. Nggak ada pelanggar lalu lintas atau bising klakson seperti di Jakarta. Seolah-olah ada pengertian antar pengguna jalan bahwa hal ini wajar.

"Sudah sampai," aku dengar ajusshi bilang di depanku.

Wah, rekor 10 menit perjalanan dari kampus, bakal nunggu lama di stasiun nih. Aku serahkan uang pas ke ajusshi, dan berjalan santai ke pintu masuk stasiun. Layar besar di atas mesin penjual tiket menunjukkan jadwal keberangkatan kereta. Ternyata ada kereta arah Daejeon yang berangkat 4 menit lagi. Naik itu aja, ku putuskan, sambil berlari ke arah mesin tiket. Setelah tiket di tanganku, aku segera naik eskalator ke peron kereta di lantai atas. Di anak tangga terakhir eskalator, terdengar suara pengumuman dari speaker di atas kepalaku.

"Kereta akan segera tiba, mohon jaga jarak."

Peron kereta di Stasiun Ulsan © Dokumentasi Pribadi Irfan RuliantoPeron kereta di Stasiun Ulsan © Dokumentasi Pribadi Irfan Rulianto

Aku santai jalan ke peron nomor 9, seperti tertulis di tiketku. Nggak perlu buru-buru, sudah ada kursi masing-masing. Orang-orang sudah antri rapi di barisan tiap peron. Dari ujung pandang sisi kiri mulai terlihat moncong depan kereta mendekat. Suara remnya memekakkan, aku tutup rapat telingaku dengan kedua tangan, sampai akhirnya gerbong nomor 9 berhenti di depan barisanku. Pintu otomatis terbuka, kru kereta dengan jas biru muda dan rok hitam turun ke peron, tuk, tuk, suara hak tingginya.

"Selamat datang," sapanya dengan senyum. Dia membungkuk, lalu persilahkan kita naik.

Aku ikuti penumpang lain di depanku dan segera naik kereta. Kulihat tiket lagi, 14A. Oke, kursi jendela, pikirku sambil terkekeh. Nikmat nomor satu naik kereta KTX ya pemandangannya. Karena laju kereta 300 kilometer per jam, yang terlihat dari kaca jendela selalu berubah dan nggak pernah membosankan. Dua belas, tiga belas, ah, ini dia. Sebelahku kosong ternyata. Aku duduk di kursiku dan sumbat telinga ku dengan earphone, music player di handphone menyala. Aku tutup mata, sambil berpikir cara menghabiskan waktu di stasiun Daejeon nanti sampai bertemu Anar.

"... Permisi, boleh lihat tiketnya?"

Aku buka mata dan cabut earphone dari telinga. Ketiduran. Kucari arah suara, ada staff KTX tersenyum ke arahku dengan handphone dan pulpen di tangannya. Setelah kutunjukkan tiketku, dia tersenyum lagi.

"Terima kasih," katanya, lalu memutar badan ke arah penumpang di sisi seberang.

Berapa lama aku tidur tadi? Aku lihat layar TV yang menggantung dari langit-langit gerbong. Iklan turisme Kota Daejeon sedang dimainkan, dengan tulisan "berikutnya stasiun Daejeon" di bawah layar. Hampir satu jam aku tidur ternyata, masih ngantuk mata. Kalau naik bus dari Ulsan biasanya butuh 3 jam untuk sampai Daejeon, tapi aku sudah kangen temanku, jadi tiket KTX yang harganya hampir dua kali lipat pun kubeli.

"Stasiun berikutnya stasiun Daejeon, stasiun Daejeon," muncul suara pengumuman dari speaker.

Di layar TV pun muncul tulisan besar 'stasiun Daejeon', dalam bahasa Korea, Mandarin, Jepang, dan Inggris. Pengumuman seperti ini ada sekitar 5 sampai 10 menit sebelum tiap stasiun pemberhentian, sekedar untuk menyiapkan penumpang. Aku duduk santai, pasang earphone lagi. Sementara beberapa penumpang mulai berdiri dan tenteng bawaan ke arah pintu keluar, ppalli ppalli buat antrian lagi.

Gerbong kereta KTX © Dokumentasi Pribadi Irfan RuliantoGerbong kereta KTX © Dokumentasi Pribadi Irfan Rulianto

Ppalli ppalli itu sudah tertanam di jiwa orang Korea, aku ingat cerita guru sejarah SMA-ku. Dulu Korea sempat terpuruk setelah perang di awal tahun 50-an, jadi bangsa Korea terpaksa untuk sama-sama membangun negaranya lagi dengan cepat. Melalui inovasi dan perkembangan teknologi muncul perusahaan raksasa seperti Samsung dan LG, yang akhirnya menjadikan Korea Selatan salah satu negara terkaya di dunia. Dan budaya ppalli ppalli ini masih dipelihara oleh Korea sampai sekarang, melalui delivery makanan maupun antri turun kereta.

Setelah kereta berhenti dan pintu keluar terbuka, aku segera bangkit dari kursi untuk ikut penumpang lain turun. Puluhan orang berbondong-bondong jalan dari peron ke dalam gedung stasiun, semua berjalan cepat tanpa semrawut. Aku ikuti mereka, masih bingung dengan sisa waktu.

"Irfan!", tiba-tiba ada yang teriak. Aku tengak-tengok, karena nggak mungkin ada orang lain yang namanya Irfan disini.

"Irfan! Lihat kesini!", suara itu lagi, makin jelas sekarang.

Di depan sana ada Anar, tangan kanannya diangkat tinggi sambil dilambaikan, senyumannya lebar. Lah, dia udah disini juga. Memang di Korea nggak ada istilah jam ngaret. Aku segera lari melewati rombongan orang-orang dan merangkul Anar erat-erat. Dia tertawa.

"Kok udah datang? Kan kita janjian masih nanti," tanyaku.

"Ah, enak datang cepet," jawabnya. "Kamu sendiri kenapa udah sampai?"

Aku senyum, ingat semua kejadian pagi ini. Ternyata aku yang selalu berusaha santai pun sudah terbiasa dengan hidup di Korea dan tanpa sadar ikuti arusnya.

"Ppalli ppalli," jawabku.

Ditulis Oleh: Irfan Rulianto (Instagram: @irfan_ruli)

(kpl/jje)


REKOMENDASI
TRENDING