HOME » KOREA

[KapanLagi Cerita Korea Ep 3] Korea yang Serba Mudah: Hidup Praktis di Negeri Ginseng

Jum'at, 13 November 2020 17:01
[KapanLagi Cerita Korea Ep 3] Korea yang Serba Mudah: Hidup Praktis di Negeri Ginseng Hidup Praktis di Korea © Dokumentasi Pribadi Irfan Rulianto

Kapanlagi.com - Ne, ne, gamsahamnida. Fan, ayamnya mau dateng tuh.”

Teman sekamarku, Pamul, memanggilku, handphone hitam menempel di telinganya. Dua atau tiga minggu sekali aku dan Pamul pesan delivery ayam goreng sebagai yashik, atau pengisi perut malam-malam. Praktis, tinggal telepon, ayam diantar ke depan komplek asrama. Sekali-kali menghibur diri dari penatnya kuliah, boros dikit bolehlah. Aku lihat layar handphone-ku, jam 9:35. Biasanya ayam datang 8 menit setelah ditelepon, tapi dengan jaket tebalku aku langsung keluar pintu kamar dan masuk lift. Lantai 1, ku tekan tombolnya.

Aku dan Pamul sering order ayam goreng sebagai yashik © Dokumentasi Pribadi Pamul via Irfan RuliantoAku dan Pamul sering order ayam goreng sebagai yashik © Dokumentasi Pribadi Pamul via Irfan Rulianto

Angin malam di komplek asrama kampus UNIST yang dikelilingi perbukitan tinggi memang bikin menggigil, tapi aku selalu mau jadi yang keluar kamar untuk ambil ayam. “Kamu yang telepon, aku yang ambil ayamnya,” usulku ke Pamul. Alasannya satu, beli nasi instan. Orang Indonesia, makan ayam ya harus pakai nasi. Kudorong pintu kaca convenience store depan asrama, lonceng kecil di atasnya bergerincing. 

Eoseo oseyo (selamat datang),” aku dengar sapaan selamat datang dari arah kasir, nadanya sama persis setiap hari. 

Di kampusku, pyeoneui-jeom, atau convenience store jadi sumber makanan yang penting, karena nggak semua siswa UNIST makan di kafeteria, dan asrama nggak menyediakan dapur. Dari pintu masuk terlihat beberapa rak besar, satu dipenuhi cup ramyeon, satu berisi jejeran biskuit dan keripik, satu lagi dikuasai burger siap makan dan doshirak, kotak makan komplit berisi nasi, sayur mayur dan daging, menu makan siang sehat yang murah.

Aku temukan yang kucari-cari di depan rak doshirak. Nasi instan, haetban, biasa disebut teman-temanku. Haetban ini satu convenience yang aku nggak pernah temui di Indonesia. Nasi matang didinginkan dan dibungkus mangkuk plastik, cukup di microwave 3 menit, siap makan. Harganya 1.900 won, atau sekitar 20 ribu rupiah. Memang, di Indonesia aku bisa dapat nasi uduk komplit dengan harga separuhnya, tapi di Korea harga ini masih sekaliber mie instan. Di hari-hari hemat uang dan hemat waktu, aku sering makan haetban dengan teman-teman praktisnya, mulai dari ramyeon sampai tuna kaleng yang juga siap makan, semua bisa dibeli di  Convenient memang, pyeoneui-jeom, buat hidup gampang.

Nasi instan yang jadi solusi makan praktis yang cepat, mudah, dan murah © Dokumentasi Pribadi Irfan RuliantoNasi instan yang jadi solusi makan praktis yang cepat, mudah, dan murah © Dokumentasi Pribadi Irfan Rulianto

Malam ini haetban ada promosi dua gratis satu, jadi kuambil 3 sekaligus dan kubawa ke meja kasir. Dari dompet kukeluarkan kartu pelajarku, yang juga merangkap kartu debit bank, kunci masuk asrama, dan akses ke laboratorium. All-in-one. Dulu bahkan absen kuliah juga dengan menempelkan kartu ini di pintu masuk kelas, tapi karena banyak kejadian siswa “tempel dan kabur”, UNIST ganti ke sistem bluetooth dari handphone.

“Totalnya 3.800 won,” sebut si mbak kasir, lagi-lagi dengan nada standar itu, walaupun ekspresinya terlihat capek. Aku serahkan kartuku. Meskipun di dompetku selalu ada cash, hampir nggak pernah kupakai karena semua orang transaksi dengan uang elektronik. Nggak ribet hitung receh. Lebih aman juga, kalau hilang bisa langsung dilacak. 

Sambil menunggu transaksi, aku lihat buku paket mikrobiologi yang terbuka di samping mesin kasir. Hehe, aku dapat A di kelas itu tahun lalu, pikirku. Banyak siswa UNIST yang kerja paruh waktu di pyeoneui-jeom, dan mereka biasanya belajar saat nggak banyak pelanggan. Kalau minggu ujian ada pelanggan pun mereka masih belajar. Orang Korea benar-benar menghargai waktu, bekerja sekeras dan secepat mungkin. Mungkin juga karena itu semuanya dibuat praktis disini, jadi bisa fokus ke pekerjaan tanpa terganggu oleh hal-hal sepele.

“Transaksinya berhasil, terimakasih,” kata si mbak kasir, kartuku di tangannya yang terjulur. Tanpa ambil kartu, aku cek waktu di handphoneku. Jam 9:40, masih ada beberapa menit.

“Boleh isi saldo ‘my bee’? Man won saja,” ujarku sambil menyerahkan selembar uang 10 ribu won. Inilah guna cash di dompetku, untuk saldo ‘my bee’, uang elektronik untuk naik bus dan subway. Saldonya disimpan di kartu pelajarku, yang juga berfungsi sebagai kartu transportasi, dan aku yang sering naik bus keluar kampus rajin isi ulang. 

Bus kota Ulsan yang sistemnya teratur dan penumpangnya tertib © Dokumentasi Pribadi Irfan Rulianto Bus kota Ulsan yang sistemnya teratur dan penumpangnya tertib © Dokumentasi Pribadi Irfan Rulianto

Menurutku transportasi umum memang convenience nomor satu di Korea yang aku jarang rasakan di Indonesia. Di Kota Ulsan, tempat UNIST berada, walaupun belum ada jaringan subway, fasilitas bus tertata sangat rapi. Aku ingat suatu malam selesai nonton film di tengah kota, hari itu hujan cukup deras dan cuaca awal musim semi masih dingin. Aku yang kedinginan berlarian cari tempat berteduh, dan terlihat halte bus. Setelah membuka tirai plastik penghalang hujan suasana langsung berubah. Haltenya dilengkapi penghangat ruangan, bahkan bangku yang aku duduki terasa hangat. Di tembok samping bangku ada layar monitor, menunjukkan jadwal bus real time, mulai dari bus dalam kota, bus antar kota, sampai bus ekspres stasiun dan bandara. Dan fasilitas ini dimanfaatkan oleh penumpang dengan benar, nggak ada yang naik turun selain di halte, ataupun rebutan masuk keluar bus.

Layar monitor yang menunjukkan jadwal real-time kedatangan bus ada di semua halte © Dokumentasi Pribadi Irfan RuliantoLayar monitor yang menunjukkan jadwal real-time kedatangan bus ada di semua halte © Dokumentasi Pribadi Irfan Rulianto

“Saldonya sudah terisi sepuluh ribu won. Terimakasih,”

Ah, benar, aku masih di pyeoneui-jeom. Cek layar handphone, jam 9:42. Ayam-nya hampir datang. Kuterima kartuku dari si mbak kasir.

“Terimakasih. Semangat belajarnya, ujiannya gampang kok,” kataku tersenyum, sambil menunjuk ke buku paket di sampingnya. Dia kaget dan tertawa, melambaikan tangannya ke arahku yang sedang mendorong pintu keluar convenience store itu. Lonceng bergerincing di atas kepalaku.

Berjalan ke depan komplek asrama untuk jemput sang ayam goreng, handphone-ku bergetar. Chat dari Pamul. Kok lama, mana ayamnya? tertulis. Aku balas, Sabar dikitlah, tadi beli nasi dulu, dan masukkan lagi handphone ke saku celana. Aku senyum sendiri. Ternyata begini kalau hidup serba praktis dan nyaman, perlu latihan sabar.

Ditulis Oleh: Irfan Rulianto (Instagram: @irfan_ruli)

 

 

(kpl/mit)


REKOMENDASI
TRENDING