HOME » KOREA

[KapanLagi Cerita Korea Ep 2] 'Jogeumman Juseyo', Belajar Bahasa Korea Demi Menolak Telur Mata Sapi saat Sekolah di Negeri Ginseng

Kamis, 05 November 2020 09:35
[KapanLagi Cerita Korea Ep 2] 'Jogeumman Juseyo', Belajar Bahasa Korea Demi Menolak Telur Mata Sapi saat Sekolah di Negeri Ginseng Irfan saat masa SMA di Korea © Dokumen Pribadi Irfan Rulianto

Kapanlagi.com - Barisan antri makan siang hari itu begitu panjang. “Menu hari ini enak berarti, mungkin daging,” komen kakak kelas di depanku. Aku mengiyakan saja, lagipula baru seminggu lalu aku diterima. Sambil pegang nampan makan logam, aku lihat isi baskom prasmanan ketiga. 

Benar, daging ternyata, kuahnya merah. Bersiap aku ambil dagingnya, tiba-tiba ada yang teriak di belakangku. Ibu staf kantin, berseragam putih dan celemek pink datang lari bawa baskom. Dia tunjuk ke daging kuah merah itu dan bentak-bentak sambil geleng kepala. “Jigogi, jigogi,” ngomong apa ibu ini. Lalu dia pindahkan setumpuk telur mata sapi dari baskom yang dibawanya ke nampan makanku. Aku terdiam. Nggak biasa makan lebih dari dua telur, tapi nggak tahu cara bilangnya.

Di sekolahku siswa asing wajib ikut empat jam kelas Bahasa Korea tiap minggu. Mata pelajaran favoritku, karena aku bisa ngoceh berkali-kali dan tanya apapun tanpa disuruh diam oleh Bu guru, Kim seonsaengnim. Dari delapan orang di kelasku, aku iri sama Thao. Thao siswa paling muda kedua di angkatanku, setelah aku. Anaknya baik, ngomongnya halus, matanya bulat besar, kulitnya putih. Calon menantu ideal ibu-ibu Korea lah, sempat beberapa kali diminta orang ketemu anaknya. “Izin ke ibuku dulu di Vietnam,” dia selalu jawab mereka. 

Yang buatku iri kelancarannya nulis hangeul. Halaman buku tulisnya penuh, walaupun aku nggak bisa baca yang tertulis. Halamanku juga hampir penuh, isinya ‘ga’, ‘na’, dan ‘da’, diulang-ulang. Namanya belum lancar, belajar bahasa yang penting tekadnya dulu. Aku terus tulis, ‘ga’, ‘na’, ‘da’, yakin nanti bisa lebih bagus dari tulisan Thao. Ah, ada huruf yang terbalik. Sambil menghapus, aku angkat tangan.

Seonsaengnim, Bahasa Koreanya daging babi apa?” tanyaku. Aku selalu begini ke Kim seonsaengnim, tanya apapun. Kesempatan lah, mumpung ada yang mahir bahasanya, ya harus tanya sebanyak mungkin, sejauh apapun dari topik kelas hari itu.

Dwaeji itu babi, gogi itu daging. Jadi dwaeji gogi,” jawabnya. Agak familiar di telingaku. Aku tirukan, dwaeji gogi, dwaeji gogi, sampai suaraku mirip seonsaengnim. Bisa kupakai di kantin nanti.

Menu kantin sekolahku model kalender, makanan spesial muncul sebulan sekali. Siang ini giliran daging kuah merah lagi. Aku berdiri menunggu di depan daging, dan benar juga, si ibu kantin datang lagi dengan baskom telurnya. Dia tunjuk sambil geleng-geleng. “Dwaeji gogi! Dwaeji gogi!” bentaknya. Oh, ternyata ini yang dia teriakkan sebulan lalu. Dia taruh setumpuk telur dari baskomnya ke nampanku. Banyaknya. Aku duduk di kursi sebelah Thao. Kupindahkan telurku ke sebelah daging kuah merah di nampannya, sisa dua di nampanku. Masih belum tahu juga aku cara menolak telur ibu itu. Harus digenjot belajarku.

Suasana kelas bahasa Korea saat masa SMA © Dokumen Pribadi Irfan RuliantoSuasana kelas bahasa Korea saat masa SMA © Dokumen Pribadi Irfan Rulianto

Cari sesuatu di buku paket kadang boring, apalagi yang isinya huruf asing. Berapa halaman harus aku balik untuk dapat satu istilah baru saja? Capeklah mataku baca hangeulnya satu per satu. Untung buatku, internet di asrama sekolahku cepat. Cocok buat streaming variety show di Youtube. Alih-alih buka halaman buku paket, aku buka halaman channel Soshi Subs, tempat nonton segala video SNSD lengkap dengan subtitle Bahasa Inggris. 

Aku siapkan secangkir es teh di sebelah laptop, aplikasi note di hp terbuka. Buat catat istilah baru, satu episode biasanya dapat lima atau enam, lumayan buat bahan tanya Kim seonsaengnim di kelas. Malam ini aku nonton Intimate Note SNSD, setelah kemarin nonton episode terakhir Hello Baby. Yoona pakai kostum cermin, sementara Sunny jadi ratu.

“Cermin, cermin, siapa yang paling cantik,” tanya Sunny. Dia elus pipi kirinya seolah bersolek depan ‘cermin’ ini.

“Pastinya Paduka Ratu yang tercantik,” jawaban Yoona yang buat Sunny senyum gembira. Yeowang-Nim, katanya, paduka ratu. Aku catat di handphone-ku.

Tiba-tiba Yoona berceloteh dengan suara meledek, “Jotanda!” dan semua orang terbahak. Aku tengok lagi laptopku, ke arah subtitle di bawah layar. “Senang banget tuh, dia,” begitu tulisannya. Candaan, ternyata, yang ini belum pernah dengar aku. Memang ampuh Youtube jadi senjataku belajar Bahasa Korea; di kelas mana pernah diajarkan ini, jotanda, jotanda.

Dengan niat pamer, esok harinya aku sebut kata ini di kelas, setelah Kim seonsaengnim puji pelafalan Thao yang perfect. Hah, kelihatan senang tuh dia. “Jotanda!” seruku, sambil tunjuk Thao yang lagi senyum-senyum. Nggak ada reaksi, nggak ada suara tawa. Thao lihat aku, ekspresinya kebingungan. Ah, harusnya nggak begini. Tapi bukan aku kalau malu, so what, biasa salah. Bermaksud ganti topik, ku angkat tanganku lagi. 

Seonsaengnim, gimana caraku minta sedikit saja?”, tanyaku. Buku tulisku terbuka, ujung pensil di barisan paling bawah halaman. Berakhirlah dilema kantin, pikirku bergairah.

Jogeumman juseyo”, jawabnya. “Juseyo artinya tolong berikan, jogeumman sedikit saja.” sambung seonsaengnim. Aku catat langsung. Nggak perlu dituliskan contoh, hangeul bukan masalah buatku sekarang.

Walaupun bisa tanya-tanya istilah seperti itu ke siswa lokal, jarang yang bergaul sama kita, foreigner. “Nggak pede English speaking,” kata Donghyeon. Donghyeon itu temanku seangkatan, rumahnya di Busan. Dia sudah dekat denganku sejak aku baru bisa bilang gamsahamnida, meskipun Bahasa Inggrisnya terbata-bata. Aku sering bantu dia belajar Bahasa Inggris, dan gantinya aku juga belajar banyak kata Korea darinya. 

“Kim Jeong Eun, bukan Jong Un,” jelasnya.

Sebelah kananku (cowok berkacamata) adalah Thao © Dokumen Pribadi Irfan RuliantoSebelah kananku (cowok berkacamata) adalah Thao © Dokumen Pribadi Irfan Rulianto

Tiap Jumat malam Donghyeon main ke kamarku. Maklum, selain hobi saling ngajarin bahasa kita juga sama-sama hobi gosip. Roommateku duduk di kasurnya, laptop hitam di pangkuan. Aku duduk di lantai, asyik ngobrol dengan Donghyeon. Dia cerita soal guru biologi yang jubah hitam panjangnya persis profesor Snape. 

“Rambutnya juga persis, hitam bergelombang sebahu,” katanya sambil mendorong naik kacamata bundar Harry Potter yang terpeleset di hidungnya. 

Tiba-tiba roommateku menghadapkan laptopnya ke arahku. Selfie terbarunya di Facebook, backgroundnya daun gugur kuning oranye. Pasti pamer ‘like’ lagi dia. Dia lihat Donghyeon, mata berbinar dan raut angkuh. 

“Baru sehari like-nya lewat enam puluh nih.” Ah, temanku yang satu ini, memang gampang ditebak.

“Wah keren ya,” dia kelihatan senang banget dengar pujian simpel Donghyeon. 

Teringat kejadian di kelas Bahasa Korea dua minggu lalu. Aku coba lempar lagi kata itu, kali ini lengkap dengan nada meledek khas Yoona. “Jotanda!” seruku. Ledakan suara tawa terdengar dari sampingku. Kaget, aku tengok ke samping. Donghyeon ngakak sambil pegangi perutnya, rambut jabrik bergoyang. 

“Dengar dari mana kamu itu?” dia tanya. Ah, puas aku, guyonan ku diterima. Memang nggak cukup tahu katanya, mesti tahu cara pakainya juga. Rasa bangga dari sukses kecilku ini buatku mau jago bercanda di Bahasa Korea. Jotanda jadi kata favoritku.

Antrian makan siang panjang. Di depanku Thao maju selangkah, tangannya sibuk ambil kimchi dari baskom prasmanan kedua. Dia kelihatan senang. Nilai tes Bahasa Koreanya tadi 80, kedua tertinggi di kelas. Yang paling tinggi 95. Nilaiku. 

Baskom ketiga isi daging kuah merah, lagi. Aku tengak tengok ke belakang, dan kelihatan ibu kantin keluar dari dapur, dengan baskom telur mata sapinya. Aku tunjuk ke daging, “Dwaeji gogi?”, si ibu mengangguk. Berseri, aku sodorkan nampan logamku dan bilang, “Jogeumman juseyo.” Dia ketawa, dan ditaruhlah empat telur di nampanku. Aku habiskan keempatnya. Lumayanlah, nggak setumpuk lagi, pikirku, sambil mengingat halaman buku tulis yang dihabiskan hangeul dan browser history yang dipenuhi variety show. Panjang dan berat usahaku untuk lancar Bahasa Korea, tapi setiap momennya menyenangkan.

Ditulis Oleh: Irfan Rulianto (Instagram: @irfan_ruli)

 

 

 

 

 

 

 

(kpl/mit)


REKOMENDASI
TRENDING