6 Alasan yang Bikin 'GJLS: IBUKU IBU IBU' Dinobatkan Jadi KapanLagi #MovieOfTheMonth Juni 2025

6 Alasan yang Bikin 'GJLS: IBUKU IBU IBU' Dinobatkan Jadi KapanLagi #MovieOfTheMonth Juni 2025
© KapanLagi.com/Daniel Kampua & youtube.com/@cinema21

Kapanlagi.com - Sajian komedi keluarga Indonesia berjudul GJLS: IBUKU IBU-IBU meramaikan industri film Tanah Air pada pertengahan 2025 ini. Film yang menjadi langkah baru GJLS dari dunia podcast menuju industri film ini dibintangi oleh sederet nama beken. Mulai dari trio komedian GJLS: Rigen Rakelna, Hifdzi Khoir, dan Ananta Rispo; aktris kenamaan Nadya Arina, hingga para senior seperti Luna Maya & Bucek Depp.

Film ini bercerita seputar Rigen, Hifdzi, dan Rispo masing-masing menghadapi masalah hidup yang kompleks. Sudah dewasa, mereka masih jauh dari kemapanan dan masih mengandalkan ayah mereka, Tyo (Bucek Depp) yang bekerja sebagai pemilik kost.

Tyo merasakan kesepian dan kesedihan usai sang istri yang juga ibu dari ketiga anak laki-lakinya meninggal dunia. Singkat cerita, Tyo bertemu dengan Feni (Nadya Arina), gadis cantik yang tinggal di kost miliknya. Tyo yang jatuh hati kepada Feni lantas berencana menikahinya dalam waktu dekat sekaligus mewariskan usaha kost-kostannya kepada wanita SPG rokok tersebut.

Rigen, Hifdzi, dan Rispo kaget dengan keputusan ayah mereka. Tidak terima warisan akan jatuh ke tangan orang lain, ketiganya berusaha menggagalkan rencana pernikahan tersebut. Namun, permasalahan justru semakin rumit dengan kemunculan Sumi (Luna Maya), teman lama Tyo. Meski awalnya tidak menimbulkan kecurigaan, Sumi ternyata memiliki niat buruk dan diam-diam mencuri sertipikat rumah kost milik Tyo.

Sekilas, film ini hanya menawarkan story atau cerita yang terkesan datar, sederhana, dan cukup klise. Tetapi, di balik itu semua GJLS: IBUKU IBU IBU mendapat sejumlah poin dari pengamat film termasuk tim redaksi KapanLagi karena beberapa keunikannya. Simak selengkapnya di sini ya KLovers!

1. Bloopers yang Ditampilkan Secara Gamblang

Pada GJLS: IBUKU IBU-IBU, sejumlah bloopers ditampilkan secara gamblang di scene utama film ini. Buat yang belum tahu, bloopers merupakan klip pendek dari sebuah film, program televisi, atau produksi video yang berisi kesalahan yang dibuat oleh pemain atau kru. Biasanya bloopers ditampilkan di akhir film atau di post credit scene.

"Film kiri ya istilahnya karena emang, banyak, scene-scene yang di luar kaidah dalam perfilman gitu, kayak 'hah, kok begini ya gitu'. Jadi banyak-banyak yang ngagetin lah, seru seru banget asli dah di film ini," ujar Rigen dalam segmen KapanLagi Show beberapa waktu lalu.

2. Punya Pesan Moral Untuk Kehidupan Bermasyarakat

Rispo yang ketagihan main judi online hingga terjerat pinjaman online dan dikejar debt collector memberikan edukasi bagi masyarakat Indonesia agar menjauhi sumber utama masalah keuangan: judi online.

Tyo yang tanpa perhitungan membubuhkan tanda tangan di sebuah surat perjanjian yang telah diubah untuk kepentingan Sumi akhirnya harus merelakan sertipikat rumah kost miliknya jatuh ke tangan yang tidak semestinya. Hal ini memberi pelajaran bagi masyarakat agar hati-hati membuat perjanjian dengan pihak manapun agar tidak menjadi korban penipuan.

3. Relate Dengan Kehidupan Masyarakat

Sejumlah fenomena sosial-masyarakat yang disajikan di film ini begitu relate dan dekat dengan kehidupan rakyat Indonesia. Kehidupan yang terasa serba susah disajikan dalam bentuk Feni yang sebagai SPG rokok mendapat gaji ngepas buat hidup.

Sumi sang sosok yang manipulatif, kejam, dan memanfaatkan 'celah kecil' untuk melakukan tindak ilegal, jadi gambaran banyaknya oknum yang berusaha meraih keuntungan besar dari masyarakat yang tidak melek teknologi, melek hukum, dan tidak memvalidasi banyak berita hoax.

"Iya bener makanya sebenarnya ceritanya nih kalau secara sinopsis, secara pengkarakteran, secara background, ceritanya, itu tuh justru benar-benar sangat-sangat grassroot banget. Sangat, kehidupan normal banget gitu kayak contohnya misalnya kita bertiga, pekerjaannya tuh gua pawang hujan, Rispo orang yang suka yang jaga warnet yang akhirnya terlibat pinjol dan judi online. Hifdzi Host dangdut gitu, jadi dan alasan kita mengapa pekerjaannya seperti itu, itu juga karena bapak kita. Karena bapak kita itu juragan kosan, yang selama ini kosannya itu diurusin sama ibunya dan duit semua diatur sama ibunya. Pokoknya bokapnya tuh cuman baca koran, minum kopi gitu, ya kehidupan grassroot banget lah gitu kan," ujar Rigen.

4. Riset Sebelum Digarap

Rispo menyebut bahwa tim produksi dan trio GJLS sempat melakukan FGD ke beberapa orang tentang film ini. Mereka ingin mengetahui apa yang membuat para peserta FGD tertawa dan hal itu dijadikan pemilihan jokes di film ini.

"Disupport. Dari PH support dari sutradara udah oke gitu. Tapi uniknya kita, pernah melakukan FGD (Foccused grup discussion) gitu, kita coba tes film ini ke, berapa ratus orang yang emang, nggak kenal GJLS. FGD di kantor-kantor gitu, terus apa yang udah kita siapin, titik-titik tawa yang udah kita siapin, ternyata mereka pada ketawa gitu, dan ternyata emang ini film dinikmatin oleh orang, yang tahu GJLS akan sangat terhibur banget. Fungsinya Monty Tiwa di situ, ngejagain batas di mana ini masih film bioskop nih gitu, kalau lewat jadi film (yang ada di) reels," ujar Rispo.

5. Banyak Plot Twist

Rispo menyatakan bahwa plot twist di film ini terjadi setiap 15 menit sekali. Hal ini dapat dibuktikan oleh para penonton yang sangan clueless dengan apa yang terjadi di setiap segmen. Meski klaim tersebut dapat diperdebatkan, plot twist di film ini memang ada banyak dan berlangsung dari awal hingga akhir film.

"Tapi ini kenapa dibilang aneh, dalam satu film, 15 menit sekali plot twist. Bahkan nih baru mulai nih kalau kalian nonton nanti, film begitu mulai, satu menit langsung plot twist," ujar Rispo.

6. Film Eksperimental yang Menghibur

Dengan segala keunikannya dan bisa dibilang 'melawan' arus film komedi Indoneia, film ini diklaim sebagai salah satu bentuk eksperimen dari trio GJLS dan sejumlah pihak. Rispo sebagai anggota dari GJLS pun menyebut belum ada film Indonesia seperti GJLS: IBUKU IBU-IBU. Ia sampai menyebut film ini adalah sebuah film eksperimental. Meski begitu, secara umum film ini sukses menghibur para penontonnya.

"Belum pernah ada gitu film, di Indonesia ya komedi, tapi seperti GJLS: IBUKU IBU-IBU. Kayaknya ini film pertama gitu, dan kalau ini sukses gitu kayaknya goblok aja gitu. Kayak beneran ini kok sukses gitu," ujarnya.

(Di tengah kondisi kesehatan yang jadi sorotan, Fahmi Bo resmi nikah lagi dengan mantan istrinya.)

(kpl/ums)

Editor:

Umar Sjadjaah

Rekomendasi
Trending