Film Digital Berhak Menjadi Peserta FFI 2004
Kapanlagi.com - Para sineas independen bolehlah menarik napas lega, setelah panitia Festival Film Indonesia 2004 (FFI 2004) akhirnya menyatakan bahwa film-film dengan format digital berhak menjadi peserta festival tersebut.
"Kenyataannya, sekarang yang beredar memang tidak hanya film-film seluloid, tapi malah kebanyakan film digital yang di-blow-up ke format 35mm. Jadi, tidak ada salahnya melibatkan mereka untuk ikut serta," demikian kata Ketua Humas FFI 2004, Akhlis Suryapati, di Jakarta, Jumat (29/10).
Hal tersebut, kata Akhlis lagi, merupakan respon atas keluhan yang sempat dilontarkan oleh sejumlah sineas muda yang tak bisa berpartisipasi lantaran film-film mereka berformat 16mm.
Diterangkan oleh Akhlis, mulai hari ini (Jumat, 29/10) informasi baru itu akan segera disebarluaskan kepada para sineas di Tanah Air. "Kami tegaskan, mereka bisa terlibat selama memiliki surat tanda lolos sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF) untuk pemutaran film-film mereka di gedung-gedung bioskop," sambungnya.
Advertisement
Sebelumnya, Panitia Pelaksana FFI 2004 memberlakukan persyaratan bahwa yang boleh ikut adalah film-film yang diproduksi dengan pita seluloid 35mm. Keputusan itu menyebabkan sejumlah sineas muda urung untuk mengirim film-film mereka ke ajang penganugerahan bergengsi bagi insan film di Tanah Air tersebut.
Sebut saja, bintang film Lola Amaria. Produser film Beth dan film Novel Tanpa Huruf R itu terpaksa membatalkan niatnya lantaran alasan tadi. Padahal, ia begitu berharap bisa berpartisipasi. Apalagi, kegiatan tersebut merupakan yang pertama setelah tak digelar selama hampir 12 tahun.
"Sebetulnya, saya sangat ingin menyertakan film-film saya di FFI. Tetapi, film-film saya tidak bisa diputar di gedung-gedung bioskop, karena belum diformat ke seluloid," ungkap Lola.
Padahal, dua filmnya tersebut sudah mengantongi surat tanda lolos sensor dari LSF untuk kategori film bioskop.
Selain Lola, yang terbentur masalah yang sama adalah Rudi Sudjarwo. Dua filmnya, Bintang Jatuh dan Tragedi, digarap dalam format digital.
Sutradara dan produser Harry Dagoe Suharyadi, dengan filmnya yang berjudul Pachinko, juga berharap bisa berpartisipasi dalam FFI 2004.
Nasib yang sama menimpa sekelompok sineas dari Yogyakarta, yang tergabung dalam Nugros Film. Mereka membuat film berjudul Sangat Lelaki, yang berdurasi lebih dari 75 menit, namun masih dalam format digital.
Menanggapi keluhan itu, Ketua Pelaksana FFI 2004, Adi Soerya Abdy, menyatakan akan memberi kesempatan untuk film-film berformat digital dalam FFI 2004. "Kami harus mengakui, salah satu yang membuka jalan bagi kebangkitan film kita sekarang ini adalah film-film independen yang berformat digital," ucap Adi.
Ditambahkan oleh Adi, pihaknya akan segera membuat ketentuan baru bagi film-film yang akan menjadi peserta FFI. "Hari ini, ketentuan mengenai kepesertaan film digital ini sudah disosialisasikan kepada seluruh masyarakat," terangnya.
Beaya mentransfer format film tersebut memang cukup mahal, mencapai ratusan juta rupiah. Itu menjadi masalah bagi para sineas yang tidak mendapat dukungan finansial yang cukup kuat.
(kmp/dar)
Advertisement
D Academy 8
- Dangdut AcademyMimpi Sederhana Peserta DA, Pingin Fotonya Diedit Netizen












































