Hiburan Untuk Anak Kini Digilai Orang Dewasa

Kamis, 17 Juli 2014 08:51 Penulis: Mahardi Eka
Hiburan Untuk Anak Kini Digilai Orang Dewasa dok. Paramount Pictures
Kapanlagi.com - Siapa di antara kamu yang sudah menonton film TRANSFORMERS: AGE OF EXTINCTION? Atau siapa di antara kamu yang begitu antusias menonton trailer TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES? Jika kamu melakukan salah satunya, berarti wajar jika kamu dipanggil kekanak-kanakan.

Namun jangan tersinggung terlebih dahulu. Sebab kekanak-kanakan dalam konteks ini lebih kepada kegemaranmu menikmati film yang sejatinya untuk anak-anak. Tak percaya? Dari banyak deretan film-film terlaris dunia seperti TRANSFORMERS, THE DARK KNIGHT, atau THE AVENGERS, semua bermula dari hiburan untuk anak-anak.

TRANSFORMERS dan TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES bermula dari serial kartun televisi yang booming di era 80-an. Keduanya dulu digarap dengan teknologi animasi yang sederhana dan menjadi tontonan wajib anak-anak. Sedangkan judul berikut seperti THE DARK KNIGHT dan THE AVENGERS berasal dari komik-komik DC dan juga Marvel.

Dari ratusan judul film yang diproduksi oleh Hollywood, nyatanya film-film yang diadaptasi dari serial untuk anak lah yang paling laris ditonton. Posisi 3 sampai 6 di 10 besar film terlaris dunia berisi dengan film TRANSFORMERS: DARK OF THE MOON, HARRY POTTER DEATHY HALLOWS PART 2, IRON MAN 3, dan THE DARK KNIGHT RISES. Masih mengelak bahwa kita semua adalah penyuka film anak?

Racikan Tepat Sineas Hollywood
Harus diakui bahwa sineas Hollywood begitu piawai dalam mengemas hiburan anak tersebut menjadi sebuah film layar lebar yang berlabel untuk dewasa. Mereka merombak total tampilan tokohnya (visualisasi) serta memberi sedikit kompleksitas pada jalan ceritanya. Dengan begitu penonton dewasa pun terbuai menikmati film yang notabene mulanya adalah konsumsi anak-anak.

Salah satu contoh sineas yang sukses menyulap serial anak-anak menjadi sebuah tontonan blockbuster Hollywood adalah Michael Bay dengan serial TRANSFORMERS-nya. Coba bandingkan kartun robot kaku dengan cerita penuh khayal tersebut disulapnya menjadi serealistis mungkin di empat film TRANSFORMERS.

Tak perlu hiraukan kritikan pedas yang ditujukan kepada keempat film TRANSFORMERS, pendapatannya yang selalu di atas US$ 700 juta sudah cukup membuat petinggi Paramount tersenyum senang dan lega. Salah satu faktor yang membuatnya begitu disukai tak lain adalah visualisasinya. Penonton dewasa tak akan merasa ditipu dengan visualisasi sederhana seperti dalam kartunnya. Yang mereka lihat adalah efek canggih yang seakan datang dari masa depan.

TRANSFORMERS dulu kala.TRANSFORMERS dulu kala.

TRANSFORMERS masa kini.TRANSFORMERS masa kini.

Yang lebih penting dari visualisasinya, tentu adalah jalan cerita yang dipaparkan. Para penulis naskah Hollywood punya pakem untuk membuat serial anak ini serealistis mungkin. Ingat, penonton dewasa tak suka dibodohi dengan hal-hal yang terlalu takhayul. Maka jadilah kisah-kisah seperti TRANSFORMERS, THE DARK KNIGHT, atau THE AVENGERS hadir dalam konten yang benar-benar berbeda. Persoalan yang dihadirkan tidak semata-mata perang antara si baik dan si jahat.

Sineas Hollywood menyuntikkan penokohan yang kompleks dan alur cerita dengan begitu banyak twist. Yang seperti ini tentunya lebih memuaskan para penonton dewasa bukan? Trilogi THE DARK KNIGHT bisa jadi contoh konkret betapa komik bisa dikemas dalam konteks yang serealistis mungkin.

THE DARK KNIGHT, saat kisah komik hadir dengan kompleksitas cerita.THE DARK KNIGHT, saat kisah komik hadir dengan kompleksitas cerita.

Terlepas dari pemaparan di atas, tak semua penonton suka melihat film-film blockbuster seperti TRANSFORMERS atau THE AVENGERS. Ada banyak penonton lain yang suka film dengan genre berbeda. Semua kembali lagi menyoal bahwa film adalah tentang selera. Kamu sendiri, termasuk yang mana?

(kpl/dka)

Editor:

Mahardi Eka


REKOMENDASI
TRENDING