Franky Sahilatua: Rakyat Tinggal Punya Rasa Marah
Kapanlagi.com - Franky Sahilatua, musisi senior yang peduli masalah lingkungan mengatakan rakyat tinggal punya rasa marah dan tersinggung berkaitan privatisasi, komersialisasi air dan masalah lingkungan lainnya.
"Banyak sekali hak-hak rakyat yang dulunya diatur oleh Undang-Undang Dasar, hari ini mengalami penyempitan atau pengurangan hak melalui Undang-Undang Hak atas Tanah, Undang-Undang Air dan Undang-Undang Energi, maka yang tersisa dari rakyat hanya tersinggung dan marah," kata Franky disela-sela peringatan Hari Bumi 22 April di Kantor Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Jakarta, Jumat.
Hak tersinggung dan marah, kata pemusik balada itu, merupakan hak melekat di badan seseorang yang tersisa dan tidak bisa diambil oleh pemerintah.
"Kita membeli air untuk hidup, membeli udara untuk hidup, kita harus membeli tanah untuk berjalan. Mungkin kita pindah ke planet lain saja" kata Franky membayangkan bila nantinya masyarakat harus membayar semua hal untuk hidup.
Advertisement
Senada dengan Franky, basis Band NAIF, Emil dan artis sinetron Dini Aminarti, menolak privatisasi dan komersialisasi air lewat UU RI No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (UU SDA) yang disahkan pemerintah pada pertengahan 2004.
"Air merupakan kebutuhan dasar untuk hidup yang harus dapat diperoleh," tegas Emil, basis Band NAIF.
Dini Aminarti, pemain sinetron, mengingatkan, "pihak swasta hanya bertujuan mencari keuntungan, sehingga orang miskin akan makin sulit mendapatkan air."
Sementara Sumiati Ismail, pelanggan air PAM, warga Muara Baru, Jakarta Utara mengeluhkan mahal dan tidak lancarnya air PAM di Jakarta.
"Dulu waktu air masih dikelola PAM Jaya (milik Pemprov DKI Jakarta), air mengalir siang malam nonstop, setelah air dikelola oleh swasta asing, sangat sulit sekali. Sebagai pedagang kaki lima, pendapatan saya habis untuk membeli air," cerita Sumiati Ismail.
Menurut Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Walhi ada upaya yang sangat serius dari pemerintah lewat UU UU SDA untuk mengkomersialisasikan dan privatisasi sumber-sumber air, yang tidak memperhatikan kepentingan rakyat jelata.
"Sebentar lagi air menjadi komoditi, diperjualbelikan, dan bayangkan ketergantungan hidup orang dengan air, pasti orang akan membeli air," kata Chalid.
Padahal rakyat Indonesia, menurut Chalid, sedang dalam kondisi yang terhimpit oleh harga BBM yang tinggi dan masalah ekonomi lainnya.
Chalid menyayangkan pemerintah yang tidak dapat membuat akses air gratis bagi warganya, seperti yang dilakukan pemerintah Amerika atau Kanada.
"Ketika saya disana (Amerika dan Kanada) saya dapat secara gampang menemui sumber air yang disediakan oleh pemerintah secara gratis," katanya.
Dia mengatakan Walhi sengaja mengambil tema air sebagai tema Hari Bumi 22 April 2005, agar timbul kesadaran dari masyarakat bahwa sebenarnya sumber kehidupan berupa air sedang menjadi barang dagangan.
"Masalah utama yang sedang disoroti Walhi dan coba mengajak banyak pihak tidak hanya air, tetapi banyak sumber kehidupan yang menguasai hajat hidup orang banyak yang telah dikuasai oleh segelintir orang," kataya.
Celakanya, kata Chalid, segelintir orang tersebut merupakan pemilik modal atau perusahaan transnasional dengan dukungan yang cukup kuat dari negara-negara donor, pemberi hutang bagi Indonesia, dan yang memaksa pemerintah untuk membuat undang-undang yang pro liberalisasi ekonomi di Indonesia.
Walhi bersama PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia) dan 14 LSM Lingkungan lainnya telah mengajukan permohonan uji materi (judicial review) terhadap UU RI No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air kepada Mahkamah Konstitusi.
"Kita menunggu putusan uji materi tersebut oleh MK sekitar bulan Mei," demikian Chalid.
Walhi memperingati Hari Bumi yang ke-35 dengan mengusung tema nasional, yaitu "Serukan Suara Bumi: Air Untuk Semua!" Pemilihan tema ini merupakan upaya Walhi dalam menggalang dukungan publik untuk menghentikan upaya privatisasi air dan memastikan ketersediaan Air untuk Semua!
Peringatan yang digelar secara sederhana di Kantor Walhi dihadiri tokoh-tokoh publik seperti Franky Sahilatua (Musisi), Dini Aminarti (Mahasiswa dan bintang Sinetron), Emil (Musisi, personil NAIF), Sumartono (petani dan `ulu-ulu` dari Klaten, Jawa Tengah), Sumiati Ismail (pelanggan air PAM, warga Muara Baru, Jakarta Utara) dan Raja Siregar (Pengkampanye WALHI untuk Isu Air, Perdagangan dan Pangan).
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(*/erl)
Advertisement
