Rieke Dyah Pitaloka Kritik Relasi Gender
Kapanlagi.com - Penampilan Rieke Dyah Pitaloka semakin hari semakin menakjubkan. Lihat saja ketika Rieke menjadi pembicara dalam sebuah diskusi publik yang mengambil tema, 'Perempuan dalam Roman' karya Pramoedya Ananta Toer, yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Jumat lalu (16/02).
"Saya kurang setuju dengan pendapat Pram. Dia banyak mengangkat cerita wanita sebagai pembantu laki-laki. Menurut saya kondisi semacam itu sudah usang," jelas Rieke.
Menurut Rieke, perempuan sekarang sudah lebih maju dan lebih modern. Sebagai bukti politik, wanita telah menjadi presiden di negeri ini. Tetapi, kondisi ini bisa berubah karena kekuatan tradisonal masih berlaku di negeri ini.
"Kita tidak bisa pungkiri bahwa budaya keratin Jawa masih mendominasi dalam prilaku masyarakat Indonesia. Contohnya, Kendedes yang menikah dengan pria lebih dari satu. Begitu juga dengan raja-raja yang menikahi selir," tegasnya.
Advertisement
Rieke menambahkan, bukun roman karya Pram masih berisi seputar kekuatan raja Jawa. Seharusnya, kata Rieke kisah kerajaan Jawa sudah bisa dihilangkan dalam tulisan ini.
Karena, masyarakat Indonesia banyak memilih budaya barat dari pada budaya timur, ala jawa.
"Mungkin budaya prilaku masih jawa, tetapi cara berpakaian menganut Barat," pungkasnya.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
(kl/iin)
Advertisement















































