Tak Ada Kontroversi Miss Indonesia dan Putri Indonesia

Minggu, 20 Februari 2005 08:41 Penulis: Rita Sugihardiyah
Kapanlagi.com - Stasiun televisi swasta Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) selaku penyelenggara pemilihan Miss Indonesia menilai tidak ada kontroversi antara kontes tersebut dengan ajang "pendahulunya" Putri Indonesia yang diadakan oleh Yayasan Putri Indonesia.

"Meski ada ajang Putri Indonesia, tidak tertutup kemungkinan digelarnya Miss Indonesia atau ajang serupa oleh pihak lain, semua bisa berjalan berdampingan," kata Managing Director RCTI, Sutanto Hartono seusai Malam Puncak Pemilihan Miss Indonesia 2005 di Balai Sarbini, Jakarta, Sabtu malam.

Ia mencontohkan persaingan penyelenggaraan kontes kecantikan di negara Filipina dan Thailand, yang menurutnya masing-masing memiliki empat ajang pemilihan wanita tercantik dari seluruh wilayahnya namun dapat terselenggara dengan baik.

RCTI yang bekerjasama dengan produsen produk kecantikan Sari Ayu itu memanggil perempuan Indonesia yang memiliki kualifikasi tiga B yaitu "Brain, Beauty and Behaviour" atau kecerdasan, wawasan dan kepribadian untuk dapat menjadi pencitraan wanita Indonesia seutuhnya dimata masyarakat internasional.

"Acara ini rencananya akan diadakan setiap tahun, dan diharapkan akan menjadi kontribusi positif bagi kemajuan perempuan Indonesia di era globalisasi ini," kata Sutanto lagi.

Tantowi Yahya yang menjadi Ketua Panitia Pelaksana Miss ASEAN 2005 menegaskan mengenai ajang pemilihan Miss Indonesia dan Putri Indonesia yang memiliki jalur yang berbeda, Putri Indonesia akan naik ke Miss World sementara Miss Indonesia akan ke Miss ASEAN.

Ia mengatakan lebih lanjut, Imelda Fransisca yang menjadi Miss Indonesia pertama yang terpilih melalui penjurian yang ketat itu akan menjadi wakil Indonesia pada ajang Miss ASEAN 2005 yang akan digelar 5-19 Maret mendatang di Jakarta.

Tantowi menyatakan, dibandingkan dengan kontes-kontes kecantikan serupa, Miss ASEAN menyandang tugas lebih berat karena dia harus mampu mempromosikan potensi dagang dan pariwisata di wilayah ASEAN kepada negara-negara di seluruh dunia.

"Miss World atau Miss Universe lebih banyak mengemban misi kemanusiaan dibanding misi lainnya. Karena itu menjadi Miss ASEAN harus memiliki kelebihan dibanding kontes serupa lainnya," kata dia.

Tantowi melanjutkan, hingga saat ini tujuh negara anggota ASEAN telah menggelar ajang pemilihan wakilnya untuk dikirim ke Miss ASEAN, antara lain Singapura, Myanmar, Malaysia, Filipina dan Indonesia.

Menurut Tantowi, Miss ASEAN digelar karena selama ini dunia tidak begitu banyak mengenal potensi dagang dan pariwisata di wilayah tersebut, dan hanya negara-negara tertentu yang dikenal seperti Singapura sebagai wisata belanja seperti halnya dunia yang mengenal Bali dan Pukhet untuk daerah wisata.

Mengawali penyelenggaraan Miss ASEAN, beberapa pekan silam Miss Singapore, Mindy Ng, berkunjung ke Indonesia dengan dengan misi kemanusiaan, yakni mengunjungi korban bencana gempa dan tsunami, baik yang dirawat di Jakarta maupun yang berada di pengungsian di Aceh, sementara Miss Phillipines 2005, Jhezarie Javier datang sebagai tamu kehortamatan dalam acara Malam Puncak Pemilihan Miss Indonesia 2005.

Usai menjalani karantina selama sembilan hari yang meliputi pembekalan dan penjurian, Imelda Fransisca dari Jawa Barat dinobatkan sebagai Miss Indonesia 2005 dan Miss Favorit Pilihan Pemirsa, sementara Runner Up I dan II diraih oleh Joice Triatman dari Jawa Tengah dan Kiki Agustina dari Sumatera Selatan.

Gelar Miss Pariwisata dan Kebudayaan jatuh ke tangan Deasy Harri Rachmawati dan Poppy Maretha dari Nusa Tenggara Barat dinobatkan sebagai Miss Congeniality atau Persahabatan.

(*/rit)


REKOMENDASI
TRENDING