Maulid Nabi menjadi salah satu momentum paling dinanti umat Islam untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW pada 12 Rabiul Awal. Salah satu tradisi utamanya adalah melantunkan bacaan maulid nabi lengkap yang berisi rangkaian shalawat, pujian, serta kisah perjalanan hidup beliau.
Bacaan tersebut umumnya bersumber dari kitab-kitab maulid populer, seperti Barzanji, Ad-Diba'i, hingga Simtudduror. Majelis pembacaannya kerap ditutup dengan mahalul qiyam, yaitu bagian yang dibaca sambil berdiri sebagai bentuk penghormatan.
Mengenal bacaan maulid nabi lengkap beserta artinya membuat lantunan terasa lebih bermakna, bukan sekadar rutinitas tahunan. Karena itu, penting memahami ragam bacaannya sekaligus sejarah dan keutamaan di baliknya.
Advertisement
Sebagaimana diungkapkan Dr. Attia Youseif dari Indiana University, peringatan Maulid Nabi adalah hari yang sangat bermakna bagi umat Islam di seluruh dunia sebagai waktu untuk merefleksikan diri, merayakan, dan memperbarui keimanan, sekaligus mengingat dampak abadi dari kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Secara bahasa, kata maulid berasal dari bahasa Arab walada yang berarti melahirkan atau kelahiran. Dalam konteks keislaman, Maulid Nabi merujuk pada peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang secara umum diyakini jatuh pada 12 Rabiul Awal, bulan ketiga dalam kalender Hijriah.
Adapun yang dimaksud dengan bacaan maulid adalah kumpulan teks yang dibaca dalam majelis peringatan tersebut. Isinya memadukan tiga unsur utama, yaitu shalawat, pujian atau madaih kepada Rasulullah, serta ringkasan sirah nabawiyah yang menceritakan kelahiran dan keteladanan beliau.
Karena inti bacaannya menceritakan sosok Rasulullah, banyak jemaah yang turut mendalami silsilah Nabi Muhammad SAW agar lebih memahami konteks kisahnya. Pemahaman ini membantu jemaah menangkap makna setiap bait yang dilantunkan, bukan sekadar mengikuti irama.
Puncak dari banyak majelis maulid adalah mahalul qiyam, momen ketika hadirin berdiri bersama untuk melantunkan pujian. Selain melantunkan pujian, umat juga dianjurkan melakukan amalan baik saat Maulid Nabi serta meneladani akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Maulid Nabi tidak dikenal pada masa Rasulullah masih hidup maupun pada masa para sahabat. Tradisi ini baru muncul beberapa abad setelahnya dan berkembang mengikuti dinamika sejarah dunia Islam, sehingga memahami akar sejarahnya penting agar tidak keliru menempatkannya.
Dilansir dari Britannica, Maulid Nabi belum dirayakan secara luas oleh masyarakat Muslim hingga abad ke-13, meskipun Dinasti Fatimiyah di Mesir telah memperingatinya sejak akhir abad ke-11, dan tradisi ini menyebar dengan cepat seiring berkembangnya tasawuf pada masa Ayyubiyah. Sumber yang sama menyebutkan bahwa perayaan Maulid yang digelar pada tahun 1207, yang dikaitkan dengan Sultan al-Muzaffar di Irbil, kerap dianggap sebagai festival Maulid pertama di kalangan Sunni.
Dari titik itu, tradisi pembacaan maulid terus meluas ke berbagai penjuru dunia Islam, termasuk pada masa Kesultanan Utsmaniyah, hingga kini menjadi hari peringatan yang dirayakan di banyak negara. Para penyair dan ulama menyusun syair serta kisah tentang Rasulullah sebagai media untuk mengenang dan mengagungkan beliau, dan dari sinilah lahir beragam kitab maulid yang kita kenal sekarang.
Di Indonesia, tradisi ini berkembang kaya dengan warna budaya lokal, mulai dari pembacaan barzanji di mushala hingga tradisi Garebeg di Yogyakarta. Bagi yang ingin menelusuri lebih jauh, ulasan tentang asal usul peringatan Maulid Nabi dapat memperkaya pemahaman. Baca juga: contoh teks MC maulid di masjid sebagai panduan penyelenggaraan acaranya.
Bacaan maulid yang beredar di masyarakat tidak berasal dari satu kitab saja. Setiap daerah dan majelis kerap memiliki kitab favorit yang menjadi rujukan utama pembacaan, sehingga penting mengenal ragamnya.
Merujuk NU Online, Maulid Simtudduror disusun oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi dengan judul asli Simthud Durar fi Akhbar Maulidi Khairil Basyar, yang berarti untaian mutiara kisah kelahiran manusia utama beserta akhlak, sifat, dan riwayat hidupnya. Berikut beberapa kitab bacaan maulid yang paling sering dilantunkan.
Karena inti dari kitab-kitab tersebut adalah shalawat, memahami bacaan sholawat nabi beserta artinya akan sangat membantu ketika mengikuti pembacaan maulid.
Susunan pembacaan maulid umumnya mengalir dari shalawat pembuka, kisah kelahiran Nabi, mahalul qiyam, hingga doa penutup. Berikut rangkaian bacaan maulid nabi lengkap dalam teks latin beserta artinya yang paling sering dilantunkan dalam majelis.
Dari berbagai kitab maulid yang dihimpun redaksi, susunan bacaan bisa berbeda antar-daerah, tetapi unsur intinya relatif serupa. Landasan utamanya adalah firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 56 yang artinya, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
Baca juga: lirik dan terjemahan Shalawat Nariyah, makna Sholawat Asyghil, lirik Isyfa'lana, serta sholawat di bulan Dzulhijjah yang bisa menambah koleksi bacaan shalawat kalian. Untuk teks lirik lainnya, tersedia pula lirik Sholawat Nariyah.
Inti dari bacaan maulid adalah shalawat, dan bershalawat merupakan perintah langsung dari Al-Quran. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa siapa yang bershalawat satu kali, Allah akan membalasnya dengan sepuluh rahmat, sehingga majelis maulid menjadi ladang pahala sekaligus sarana menumbuhkan cinta kepada Rasulullah. Semangat ini pula yang tercermin dalam beragam ucapan Maulid Nabi dan kata mutiara Maulid Nabi yang beredar setiap tahun.
Terkait hukumnya, Ibn Hajar al-Asqalani, dikutip dari islamqa.info, menyatakan, "Asal dari perayaan Maulid adalah bidah yang tidak diriwayatkan dari seorang pun generasi saleh terdahulu pada tiga abad pertama. Meski demikian, di dalamnya terkandung kebaikan sekaligus lawannya; siapa yang mengupayakan kebaikan dalam pelaksanaannya dan menjauhi lawannya, maka itu adalah bidah hasanah."
Pandangan yang membolehkan menekankan bahwa maulid mesti diisi amalan terpuji, seperti pembacaan Al-Quran, shalawat, sedekah, dan kajian sirah. Hussein Rashid, akademisi kajian Islam, dikutip dari The On Being Project, menyatakan, "Bagi umat Islam yang memuliakan Maulid Nabi, cinta yang mendalam kepada Muhammad itulah yang mendekatkan mereka kepada Tuhan."
Terlepas dari adanya perbedaan pandangan, momentum maulid dapat dijadikan sarana memperkuat kecintaan dan meneladani akhlak mulia Rasulullah. Nilai-nilai keteladanan ini dapat kita sebarkan melalui kata-kata Maulid Nabi, caption untuk Maulid Nabi, kata mutiara untuk Nabi Muhammad, maupun 40 kata-kata Maulid Nabi yang penuh makna. Baca juga: kata mutiara kalimat untuk Maulid Nabi dan caption IG tentang Maulid Nabi untuk media sosial.
Bacaan yang umum meliputi shalawat pembuka, Shalawat Al-Fatih, Nariyah, Ibrahimiyah, dan Munjiyat, ditambah kisah ringkas kelahiran Nabi, mahalul qiyam seperti Ya Nabi Salam 'Alaika dan Asyraqal Kaunu, lalu ditutup dengan doa. Susunannya bisa berbeda tergantung kitab maulid yang dipakai, seperti Barzanji, Ad-Diba'i, atau Simtudduror.
Mahalul qiyam adalah bagian pembacaan maulid ketika hadirin berdiri bersama untuk melantunkan pujian kepada Rasulullah, biasanya diawali bait Ya Nabi Salam 'Alaika. Berdiri di sini dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan kecintaan yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW.
Mayoritas ulama, khususnya dari kalangan tradisional, membolehkannya selama isinya berupa amalan baik seperti shalawat, sedekah, dan pembacaan sirah. Sebagian ulama lain memandangnya sebagai perkara yang tidak dicontohkan pada masa awal Islam, sehingga terdapat perbedaan pandangan yang sebaiknya disikapi dengan bijak dan saling menghormati.
Daftar Referensi
(kpl/phi)