63 Pepatah Jawa tentang Kehidupan, Arti dan Makna untuk Hidup Tenang
pepatah jawa tentang kehidupan (©Ilustrasi dibuat AI)
Kapanlagi.com - Pepatah Jawa tentang kehidupan tidak pernah benar-benar ketinggalan zaman. Banyak anak muda sekarang mencari ketenangan lewat tren slow living, jurnal syukur, sampai rehat dari media sosial. Tanpa disadari, semua itu sudah lama dirangkum leluhur Jawa dalam kalimat-kalimat pendek seperti alon-alon waton kelakon atau nrimo ing pandum.
Paribasan, unen-unen, dan sesanti Jawa adalah warisan budaya penuh nasihat yang masih terasa dekat dengan keseharian. Penggunaan unen-unen di media sosial bahkan dianggap sebagai sarana penting untuk melestarikan nilai dan budaya Jawa. Tak heran banyak warganet memakainya sebagai caption, bio Instagram, sampai motto hidup.
Di bawah ini ada 63 pepatah dan kata bijak bernuansa Jawa yang dikelompokkan berdasarkan kebutuhan hidup sehari-hari: dari soal kerja, keluarga, dan sahabat, sampai yang lucu dan spiritual. Setiap pepatah dilengkapi terjemahan, teks asli, dan konteks singkat supaya maknanya tidak cuma dihafal, tapi juga bisa dipraktikkan.
Advertisement
1. Falsafah Hidup Jawa yang Menjadi Akar Banyak Pepatah
Sebelum masuk ke pepatah yang lebih spesifik, ada baiknya mengenal dulu falsafah dasarnya. Ungkapan-ungkapan inilah yang menjadi "akar" dari banyak petuah Jawa lain, karena isinya menjawab pertanyaan paling dasar: untuk apa manusia hidup?
Tentang Hidup yang Menyala dan Bermanfaat
1. "Hidup itu menyala, maka hiduplah untuk memberi terang bagi orang-orang di sekitar." - Falsafah Jawa
Teks asli: Urip iku urup.
Merujuk ebook The Wisdom of Java, ungkapan ini menempati urutan pertama dari dua belas falsafah hidup Jawa dengan makna hidup adalah nyala, hiduplah untuk memberi manfaat bagi orang di sekitar kita. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di ResearchGate, urip iku urup juga menjadi salah satu falsafah yang tetap dipegang orang Jawa di perantauan luar negeri, yang artinya hidup harus banyak memberi manfaat sehingga tidak perlu memancing perpecahan atau mencari musuh.
2. "Upayakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dunia, sambil memberantas sifat serakah dan angkara murka." - Falsafah Jawa
Teks asli: Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara.
Versi lengkap ini jarang muncul di daftar pepatah yang beredar, padahal bagian keduanya penting. Maknanya, kita diajak mengupayakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan sambil menghapus sifat serakah, amarah, dan iri hati.
3. "Berbuat baiklah bagi diri sendiri, keluarga, sesama manusia, dan seluruh dunia." - Pitutur Jawa
Teks asli: Memayu hayuning pribadi, memayu hayuning kulawarga, memayu hayuning sesama, memayu hayuning bawana.
Urutannya menarik: kebaikan dimulai dari diri sendiri dulu, baru meluas. Pesan ini sangat dekat dengan konsep self-care yang sedang ramai dibicarakan, yaitu merawat diri bukan untuk egois, tetapi supaya punya tenaga untuk merawat orang lain.
4. "Bekerja keras tanpa pamrih, cepat tanpa mendahului, tinggi tanpa merendahkan yang lain." - Paribasan Jawa
Teks asli: Sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan mblancangi, dhuwur tan nungkuli.
Kebanyakan orang hanya mengenal bagian awalnya. Versi panjang ini mengingatkan bahwa sukses tidak perlu dibarengi sikap menyalip atau merendahkan rekan sendiri.
5. "Sebaik-baiknya orang adalah yang memberi pertolongan secara diam-diam." - Pitutur Jawa
Teks asli: Sak apik-apike wong yen awehi pitulung kanthi cara dedemitan.
Di zaman ketika kebaikan sering direkam lalu diunggah, pepatah ini terasa seperti sentilan halus. Bantuan yang paling tulus sering kali justru tak diketahui siapa pun.
Tentang Menerima tanpa Menyerah
6. "Terimalah pemberian dengan ikhlas, dan bekerjalah secara nyata." - Sesanti Jawa
Teks asli: Nrimo ing pandum, makaryo ing nyoto.
Inilah versi utuh yang sering terpotong. Falsafah nrimo populer dalam sesanti nrimo ing pandum, makaryo ing nyoto, dan dua kalimat ini merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan karena akan memengaruhi arti serta makna aslinya. Sebagaimana dikutip dari jurnal Nrimo Ing Pandum dan Etos Kerja Orang Jawa terbitan Universitas Gadjah Mada, Koentjaraningrat memaknai nrimo ing pandum sebagai sikap penerimaan penuh terhadap berbagai kejadian di masa lalu, masa sekarang, serta segala kemungkinan di masa depan.
7. "Sebesar apa pun kesengsaraan, jika diterima dengan lapang, ia hanya akan menjadi ujian." - Pitutur Jawa
Teks asli: Sepira gedhene sengsara yen tinampa amung dadi coba.
Pepatah ini cocok untuk siapa pun yang sedang berada di fase sulit. Cara pandang terhadap masalah sering kali menentukan seberapa berat masalah itu terasa.
8. "Jangan mudah sakit hati saat musibah datang, jangan bersedih saat kehilangan sesuatu." - Pitutur Jawa
Teks asli: Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan.
Ini semacam latihan emotional resilience versi leluhur. Bukan berarti tak boleh sedih, tetapi jangan sampai kesedihan menguasai seluruh hidup.
9. "Kalau sudah punya, syukuri. Kalau belum datang, nantikan. Kalau sudah pergi, lupakan. Kalau hilang, ikhlaskan." - Kata bijak Jawa
Teks asli: Nek wes onok sukurono, nek durung teko entenono, nek wes lungo lalekno, nek ilang iklasno.
Empat kalimat sederhana ini sering dibagikan di status WhatsApp. Isinya merangkum seluruh siklus hidup: punya, menunggu, kehilangan, lalu merelakan.
10. "Kesabaran adalah permata dalam setiap langkah hidup." - Pepatah Jawa
Teks asli: Sabar iku ingaran mustikaning laku.
Kata mustika berarti permata. Sabar di sini bukan pasif, melainkan perhiasan yang membuat setiap tindakan terlihat lebih berharga.
11. "Yang sabar ya, Nak, jalan hidupmu memang sedang diminta seperti ini." - Pitutur Jawa
Teks asli: Seng sabar yo ngger, dalan uripmu pancen gek kon ngene.
Kata ngger adalah panggilan sayang orang tua kepada anak. Kalimat ini terasa seperti pelukan dari ibu atau nenek ketika hidup sedang tidak berpihak.
2. Pepatah Jawa tentang Kehidupan untuk Pekerja dan Pejuang Rezeki
Bagi para pekerja, freelancer, sampai pebisnis kecil, budaya hustle sering membuat lelah. Pepatah Jawa tentang kehidupan di bagian ini menawarkan cara pandang lain soal kerja keras dan rezeki: tekun boleh, tergesa-gesa jangan.
Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil
12. "Pelan-pelan saja, yang penting sampai tujuan." - Pepatah Jawa
Teks asli: Alon-alon waton kelakon.
Pepatah ini bahkan dibahas penulis asing sebagai penyeimbang gaya hidup modern. Di tengah budaya hustle, alon-alon waton kelakon disebut sebagai pengingat bahwa ritme yang stabil lebih penting daripada kecepatan sesaat.
13. "Bertindak perlahan dan tenang, akhirnya tujuan pun tercapai." - Paribasan Jawa
Teks asli: Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh.
Saudara dekat dari alon-alon waton kelakon. Kata sareh berarti tenang, menunjukkan bahwa ketenangan adalah bagian dari strategi, bukan kelemahan.
14. "Ada hari, ada nasi. Setiap perjuangan selalu ada hasilnya." - Paribasan Jawa
Teks asli: Ana dina, ana upa.
Pepatah ini sering jadi penguat bagi yang sedang khawatir soal rezeki. Selama mau bergerak, selalu ada jalan untuk makan hari itu.
15. "Siapa yang bersungguh-sungguh akan menemukan keberuntungan." - Pepatah Jawa
Teks asli: Sapa temen bakal tinemu kabegjan.
Pepatah ini jarang masuk daftar populer. Maknanya, siapa yang sungguh-sungguh akan mendapatkan keberuntungan , mirip semangat "man jadda wajada" dalam versi Jawa.
16. "Cinta tumbuh karena terbiasa, kemuliaan tumbuh karena berani bersusah payah." - Pitutur Jawa
Teks asli: Witing tresna jalaran saka kulina, witing mulya jalaran wani rekasa.
Kebanyakan orang hanya hafal bagian cintanya. Padahal bagian kedua adalah nasihat karier yang kuat: kemuliaan tidak datang tanpa keberanian untuk lelah.
17. "Siapa yang mau hidup prihatin, kelak akan memimpin." - Pitutur Jawa
Teks asli: Sing prihatin bakal memimpin.
Prihatin dalam budaya Jawa berarti menahan diri dan hidup sederhana demi tujuan yang lebih besar. Ada kemiripan dengan konsep delayed gratification yang sering dibahas dalam pengembangan diri.
18. "Terlalu banyak memilih tebu, malah mendapat yang busuk." - Paribasan Jawa
Teks asli: Milih-milih tebu oleh boleng.
Maknanya, terlalu banyak pilihan malah membuat salah pilih. Pepatah ini relevan untuk siapa saja yang terlalu lama menimbang tawaran kerja, peluang bisnis, sampai calon pasangan.
19. "Yang terburu-buru akan terlewat, yang tergesa-gesa akan pincang." - Paribasan Jawa
Teks asli: Kebat kliwat, gancang pincang.
Tindakan yang tergesa-gesa hampir selalu menghasilkan sesuatu yang tidak sempurna. Cocok ditempel di meja kerja menjelang tenggat.
20. "Rendah di awal, tinggi di akhir." - Paribasan Jawa
Teks asli: Dhuwur wekasane, endhek wiwitane.
Pepatah ini bermakna kesengsaraan yang membuahkan kemuliaan. Semua orang sukses pernah berada di titik nol.
Dua puluh pepatah pertama sudah memperlihatkan satu benang merah: falsafah Jawa tidak pernah memisahkan kerja keras dari ketenangan batin. Keduanya berjalan bersama. Bagian berikutnya bergeser ke soal sikap, terutama bagaimana bersikap ketika sudah punya kekuatan, jabatan, atau pengaruh.
Rendah Hati di Puncak, Bijak dalam Memimpin
21. "Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan." - Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional
Teks asli: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Semboyan berbahasa Jawa ini lahir dari dunia pendidikan, tapi sangat relevan untuk siapa pun yang menjadi kakak, orang tua, atau atasan. Semboyan ini kini menjadi semboyan pendidikan di Indonesia dan tercantum dalam logo Kementerian Pendidikan.
22. "Kalau kamu sakti, jangan membunuh." - Unen-unen Jawa
Teks asli: Lamun siro sekti, ojo mateni.
Mengacu pada riset yang diterbitkan Atlantis Press, ungkapan ini pernah dijadikan judul oleh Eko Sulistyo, dan makna falsafah Jawa di dalamnya adalah bahwa kekuasaan memiliki batas dan tidak mutlak.
23. "Kekejaman, kepicikan, dan keserakahan hanya bisa luluh oleh kebijaksanaan, kebaikan, dan kesabaran." - Falsafah Jawa
Teks asli: Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti.
Pepatah ini mengajarkan bahwa melawan kekerasan tidak harus dengan kekerasan. Ada tafsir yang menyebut amarah dan kekuasaan akan runtuh di hadapan kesabaran dan welas asih; kekerasan patah, kelembutan bertahan.
24. "Jangan sok pintar nanti tersesat, jangan curang nanti celaka." - Pepatah Jawa
Teks asli: Aja keminter mundhak keblinger, aja cidra mundak cilaka.
Dua nasihat dalam satu tarikan napas. Merasa paling tahu sering kali justru membuat seseorang berhenti belajar.
25. "Berjuang tanpa membawa massa, menang tanpa merendahkan, berwibawa tanpa kesaktian, kaya tanpa harta." - Paribasan Jawa
Teks asli: Ngeluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha.
Pepatah ini menggambarkan sifat kesatria yang sesungguhnya. Kemenangan sejati adalah ketika lawan tidak merasa dipermalukan.
26. "Jangan tergiur hal yang tampak mewah dan berkilau, dan jangan ragu-ragu agar semangat tidak kendur." - Falsafah Jawa
Teks asli: Aja milik barang kang melok, aja mangro mundak kendho.
Daftar populer biasanya hanya memuat separuh pertama. Versi lengkapnya terasa pas dengan tren gaya hidup minimalis dan belanja secukupnya yang sedang digemari banyak perempuan muda.
27. "Jangan jadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar, tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa." - Pitutur Jawa
Teks asli: Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter, nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa.
Permainan kata ini jenius. "Pintar merasa" berarti peka terhadap perasaan orang lain, sebuah bentuk kecerdasan emosional.
3. Pepatah Jawa tentang Keluarga, Sahabat, dan Cinta
Hidup tidak dijalani sendirian. Orang Jawa sangat menjunjung kerukunan, dan itu tercermin dalam banyak petuah tentang orang tua, persaudaraan, dan hubungan dengan sesama. Bagian ini cocok dibagikan ke grup keluarga atau dikirim ke sahabat yang sudah lama tidak disapa.
Untuk Orang Tua dan Keluarga
28. "Junjung tinggi kehormatan orang tua, kubur dalam-dalam kekurangannya." - Pepatah Jawa
Teks asli: Mikul dhuwur mendhem jero.
Pepatah ini menggambarkan anak yang menjunjung tinggi derajat orang tua. Di era serba konten, maknanya makin relevan: tidak semua cerita keluarga perlu diumbar ke publik.
29. "Makan atau tidak makan, yang penting berkumpul." - Pepatah Jawa
Teks asli: Mangan ora mangan sing penting ngumpul.
Pepatah ini sering dibahas dalam konteks budaya merantau. Bagi banyak keluarga Jawa, kebersamaan lebih berharga daripada kelimpahan materi.
30. "Didiklah anak cucumu ke arah keutamaan dan tata susila, agar menjadi cahaya bagi keluarga." - Pitutur Jawa
Teks asli: Wayah wulangen marang kautaman, predinen susileng tata supata gawe pepadhaning kaluwarga.
Ini nasihat parenting dari masa lalu. Pendidikan karakter dipandang sebagai warisan yang lebih awet daripada harta.
31. "Kacang tidak meninggalkan tiang rambatnya." - Paribasan Jawa
Teks asli: Kacang ora ninggal lanjaran.
Maknanya, kebiasaan anak selalu meniru orang tuanya. Pengingat lembut bagi para orang tua muda bahwa anak belajar dari contoh, bukan dari omongan.
Untuk Sahabat dan Hidup Bermasyarakat
32. "Rugi sedikit harta, tetapi untung mendapat saudara." - Paribasan Jawa
Teks asli: Tuna sathak bathi sanak.
Pepatah ini sangat cocok untuk pebisnis kecil. Pelanggan setia dan relasi baik sering kali lebih berharga daripada untung sesaat.
33. "Bukan saudara, bukan kerabat, tetapi kalau meninggal ikut merasa kehilangan." - Paribasan Jawa
Teks asli: Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan.
Pepatah ini menggambarkan ikatan yang lebih kuat dari hubungan darah. Banyak orang menyebutnya definisi sahabat sejati.
34. "Rukun membuat sentosa, bertikai membuat hancur." - Paribasan Jawa
Teks asli: Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.
Pepatah klasik yang tetap relevan untuk keluarga, kantor, maupun lingkaran pertemanan. Damai bukan berarti tak pernah berbeda pendapat, tetapi tahu cara menyelesaikannya.
Untuk yang Sedang Jatuh Cinta
35. "Cinta bukan soal seberapa sering kamu mengucapkannya, tetapi seberapa banyak kamu membuktikannya." - Kata bijak Jawa
Teks asli: Cinta dudu perkoro sepiro kerepe kowe ngucapke, tapi sepiro akehe seng mbok buktike.
Kalimat ini sering muncul di caption pasangan. Pesannya sederhana: cinta adalah kata kerja, bukan sekadar kata-kata.
4. Pepatah Jawa Lucu dan Nyentil yang Bikin Senyum
Tidak semua petuah Jawa disampaikan dengan nada serius. Banyak yang justru menyentil lewat humor dan perumpamaan sehari-hari. Bagian ini pas untuk yang butuh tawa ringan, sekaligus bahan renungan yang tidak terasa menggurui.
36. "Diam belum tentu bisu." - Pepatah Jawa
Teks asli: Meneng wae ora mesthi bisu.
Maknanya, diam tidak berarti bodoh atau tidak tahu. Cocok untuk para introvert yang sering disangka tidak punya pendapat.
37. "Kebanyakan guntur, kurang hujan." - Paribasan Jawa
Teks asli: Kakehan gludhug kurang udan.
Sindiran halus bagi orang yang banyak bicara tapi minim bukti. Versi Jawa dari istilah "omdo" alias omong doang.
38. "Mengajari bebek berenang." - Paribasan Jawa
Teks asli: Ngajari bebek nglangi.
Pepatah ini menggambarkan pekerjaan yang tidak ada manfaatnya. Biasanya dilontarkan sambil tersenyum ketika seseorang menggurui ahlinya.
39. "Belum becus, sudah keburu merasa hebat." - Paribasan Jawa
Teks asli: Durung pecus keselak besus.
Rimanya enak diucapkan, isinya tajam. Pengingat untuk terus belajar sebelum merasa paling bisa.
40. "Hidupmu seperti pohon pisang, punya jantung tapi tak punya hati." - Sindiran Jawa
Teks asli: Uripmu koyo wit gedhang, duwe jantung tapi ora duwe ati.
Permainan kata dari "jantung pisang" ini lucu sekaligus menyentil. Ditujukan untuk orang yang kurang peka terhadap perasaan sekitarnya.
Empat puluh pepatah sudah dijelajahi, dari falsafah hidup sampai sindiran jenaka. Bagian berikutnya membawa pembaca ke lapisan paling dalam dari pepatah Jawa tentang kehidupan: hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan perjalanan pulang yang pasti dialami setiap orang.
5. Pepatah Jawa tentang Kehidupan dan Perjalanan Pulang
Masyarakat Jawa memandang hidup sebagai perjalanan singkat yang punya asal dan tujuan. Kesadaran ini membuat banyak petuah spiritual Jawa terasa menenangkan, bukan menakutkan.
41. "Hidup hanya singgah untuk minum." - Pepatah Jawa
Teks asli: Urip mung mampir ngombe.
Pepatah ini mengingatkan bahwa hidup hanya sesaat, dan singgah untuk minum diibaratkan seperti berhenti sejenak. Karena singkat, setiap momen layak dijalani dengan sadar.
42. "Ingatlah dari mana kita berasal, agar tahu ke mana kita akan pulang." - Falsafah Jawa
Teks asli: Eling dhumateng sangkan paraning dumadi.
Konsep sangkan paraning dumadi adalah salah satu inti spiritualitas Jawa. Mengenal asal-usul membuat seseorang lebih rendah hati dalam menjalani hidup.
43. "Manusia hanya berwenang berusaha, keputusan akhir ada di tangan Tuhan." - Pitutur Jawa
Teks asli: Manungsa wenang ngudi, purba wasesa ing astane Gusti.
Pepatah ini menjadi pasangan sempurna dari nrimo ing pandum. Berusaha sekuat tenaga, lalu berserah dengan tenang.
44. "Tuhan ada di mana-mana, di dalam dirimu pun ada Tuhan, tetapi jangan sekali-kali berani mengaku Tuhan." - Pitutur Jawa
Teks asli: Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng sira uga ana Pangeran, nanging aja sira wani ngaku Pangeran.
Petuah ini mengandung keseimbangan halus antara kedekatan dengan Tuhan dan kerendahan hati. Merasa dekat dengan Yang Maha Kuasa tidak boleh membuat seseorang merasa paling suci.
45. "Kebaikan akan dikenali, keburukan akan tampak." - Paribasan Jawa
Teks asli: Becik ketitik, ala ketara.
Pepatah penutup bagian ini terasa seperti janji semesta. Kebaikan yang dikerjakan diam-diam suatu saat akan menemukan jalannya untuk dikenali.
6. Untaian Kata Bijak Bernuansa Jawa Karya Redaksi
Selain pepatah warisan leluhur, berikut kumpulan kata-kata orisinal yang terinspirasi dari falsafah Jawa. Gayanya lebih kekinian, cocok untuk caption Instagram, status WhatsApp, atau sekadar pengingat di layar ponsel. Kata-kata di bawah ini ditulis redaksi, bukan kutipan dari tokoh mana pun.
Singkat untuk Caption dan Status
- 46. "Pelan bukan berarti tertinggal. Padi pun menguning tanpa pernah tergesa."
- 47. "Urip iku urup, tapi tak perlu jadi matahari. Cukup jadi lampu teplok yang setia menyala di sudut rumah seseorang."
- 48. "Hari ini cukup. Besok biar Gusti yang maringi."
- 49. "Dompet boleh tipis, asal hati tetap legawa."
- 50. "Sedaya ada musimnya. Mangga yang dipetik terlalu muda hanya akan terasa masam."
- 51. "Jangan sibuk jadi yang paling terang di unggahan, kalau di dapur ibumu kamu jarang hadir."
Panjang untuk Renungan Pagi
52. "Hidup itu seperti menanak nasi di tungku. Api yang terlalu besar membuat gosong, api yang terlalu kecil membuat mentah. Orang Jawa menyebutnya sareh, dan ternyata itulah rahasia matangnya banyak hal."
53. "Setiap luka adalah tamu. Persilakan duduk, suguhkan teh hangat, dengarkan ceritanya. Lalu antarkan ia ke pintu dengan sopan, karena hatimu bukan penginapan selamanya."
54. "Ada hari ketika yang sanggup dilakukan hanyalah bangun, mandi, dan menyapu halaman. Itu bukan kekalahan. Itu laku."
55. "Nrima bukan berarti berhenti mendayung. Nrima adalah tahu kapan harus mendayung sekuat tenaga, dan kapan membiarkan arus dari Gusti Ingkang Maha Kuasa membawa perahu ke tepian."
56. "Angin tidak pernah pamer, padahal tanpa dia layang-layang tak akan terbang. Jadilah seperti angin: rame ing gawe, sepi ing pamer."
Hangat untuk Keluarga dan Sahabat
57. "Rumah yang paling hangat bukan yang lantainya marmer, tapi yang penghuninya masih mau tulung-tinulung saat galon habis."
58. "Sahabat sejati itu seperti sambal di meja makan. Tak selalu manis, kadang bikin mata berair, tapi tanpa dia semuanya terasa hambar."
59. "Mikul dhuwur mendhem jero versi sekarang: ceritakan kebaikan orang tuamu, simpan rapat kekurangannya, dan jangan pernah jadikan konten."
60. "Kalau suatu hari kamu sampai di puncak, ingat siapa yang dulu rela berbagi sepiring nasi berdua denganmu."
Jenaka tapi Tetap Bermakna
61. "Rezeki memang sudah ada yang mengatur. Tapi kalau rebahan terus, kurirnya bingung mau mengantar ke mana."
62. "Aja dumeh punya banyak pengikut. Di depan antrean bakso langganan, sedaya manusia sama derajatnya."
63. "Kita ini cuma mampir ngombe. Maka minumlah dengan syukur, cuci gelasnya sampai bersih, dan tinggalkan meja dalam keadaan lebih rapi daripada saat kita datang."
7. Fakta Menarik di Balik Pepatah Jawa
Supaya makin dekat dengan warisan budaya ini, ada beberapa fakta menarik yang jarang dibahas tentang tokoh dan pepatah di atas.
- Ki Hajar Dewantara sengaja memakai bahasa Jawa. Ki Hajar Dewantara yang lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 menggunakan bahasa Jawa untuk membuat tiga semboyan bagi para pengajar dalam dunia pendidikan Indonesia. Ia juga pendiri perguruan Tamansiswa, lembaga pendidikan untuk kaum pribumi.
- Nrimo ing pandum bukan ajaran pasrah. Nrimo merupakan jalan terakhir dari sebuah kerja keras; hanya setelah segala bentuk usaha dikerahkan, nrimo ing pandum dapat dilaksanakan. Jadi anggapan bahwa falsafah ini membuat orang malas sebenarnya kurang tepat.
- Pepatah Jawa kini jadi penanda identitas di media sosial. Unen-unen tertentu biasanya ditulis ulang dan dipakai sebagai simbol identitas atau status pribadi, disandingkan dengan makna dan pesannya dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya banyak pepatah lama terasa segar lagi di linimasa.
Daftar Referensi
- ResearchGate. Filosofi Jawa Nrimo Ditinjau dari Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Diakses pada 23 Oktober 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/322892366_FILOSOFI_JAWA_NRIMO_DITINJAU_DARI_SILA_KETUHANAN_YANG_MAHA_ESA
- Atlantis Press. Unen-Unen as a Javanese Proverb on Social Media. Diakses pada 23 Oktober 2026, dari https://www.atlantis-press.com/article/125967734.pdf
- Google Groups. The Wisdom of Java - 12 Wiseful Javanese Way of Life. Diakses pada 23 Oktober 2026, dari https://groups.google.com/g/wisdom-discuss/c/_PL8MRPF8QI
- Universitas Gadjah Mada. Nrimo Ing Pandum dan Etos Kerja Orang Jawa. Diakses pada 23 Oktober 2026, dari https://journal.ugm.ac.id/pancasila/article/download/70568/pdf_1
(kpl/ums)
Advertisement
