Kapanlagi.com - Trekking pole adalah alat bantu berbentuk tongkat yang dirancang untuk memberikan stabilitas dan dukungan ekstra saat mendaki gunung atau berjalan di alam terbuka. Memahami cara menggunakan trekking pole yang tepat menjadi kunci agar manfaat alat ini benar-benar terasa selama perjalanan.
Banyak pendaki pemula menganggap tongkat hiking hanya sebagai beban bawaan tambahan. Padahal, dengan teknik penggunaan yang benar, trekking pole mampu mengurangi tekanan pada lutut, meningkatkan keseimbangan, dan menjaga ritme langkah saat melintasi medan yang menantang.
Panduan cara menggunakan trekking pole berikut ini disusun berdasarkan teknik yang direkomendasikan para ahli aktivitas pendakian gunung. Mulai dari penyesuaian panjang hingga teknik berjalan di berbagai medan, semuanya akan dibahas secara lengkap di sini.
Advertisement
Dilansir dari REI Expert Advice, trekking pole merupakan perlengkapan standar bagi banyak pendaki, pejalan kaki, dan pecinta alam di seluruh dunia karena kemampuannya meningkatkan stabilitas serta memberikan dukungan di segala jenis medan. Syren Nagakyrie, pendiri Disabled Hikers, pernah berkata, "Meskipun penting untuk melatih teknik yang benar dengan trekking pole, hal terpenting adalah menggunakannya sesuai dengan tubuh kamu, yang mungkin berarti mengadaptasi cara penggunaannya."
Langkah paling mendasar dalam cara menggunakan trekking pole adalah menyesuaikan panjangnya dengan proporsi tubuh. Panjang pole yang tidak tepat justru bisa menyebabkan ketidaknyamanan pada bahu, punggung, atau pergelangan tangan.
Berdiri tegak di permukaan datar: Pegang trekking pole secara vertikal dengan ujung menyentuh tanah di samping kaki. Pastikan posisi tubuh rileks dan tidak membungkuk.
Periksa sudut siku: Sesuaikan panjang pole sehingga siku membentuk sudut 90 derajat saat tangan menggenggam pegangan. Berdasarkan panduan dari Outdoor Life, sudut ini memungkinkan genggaman rileks saat ujung trekking pole menyentuh tanah secara alami mengikuti ayunan lengan.
Catat angka pada penanda ukuran: Sebagian besar trekking pole memiliki tanda pengukuran di batangnya. Catat angka yang sesuai agar bisa langsung mengatur ke panjang yang sama setiap kali digunakan.
Sesuaikan dengan medan: Untuk jalur menanjak, pendekkan pole sekitar 5-10 cm agar dorongan ke atas lebih efektif. Untuk turunan, panjangkan sekitar 5-10 cm agar tubuh tetap tegak dan beban terdistribusi ke pole.
Baca juga: Perlengkapan Pendakian yang Perlu Disiapkan Sebelum Mendaki Gunung
Banyak pendaki mengabaikan penggunaan wrist strap, padahal komponen ini memainkan peran penting saat menerapkan cara menggunakan trekking pole yang optimal. Strap membantu mendistribusikan tekanan dan mengurangi kelelahan pada tangan selama perjalanan panjang.
Masukkan tangan dari bawah strap: Arahkan tangan ke atas melalui bagian bawah loop strap, lalu tarik ke bawah dan genggam pegangan pole. Teknik ini menopang pergelangan tangan dan telapak tangan bagian bawah.
Sesuaikan panjang strap: Atur panjang strap sehingga saat tangan menekan ke bawah, posisinya tepat di tempat yang nyaman pada pegangan. Penyesuaian yang tepat memungkinkan melepas dan menggenggam kembali pole dengan mudah.
Jangan lilitkan terlalu kencang: Hindari melilitkan strap terlalu erat di pergelangan tangan. Jika terjatuh, lilitan yang terlalu kencang justru bisa menyebabkan cedera pada pergelangan tangan.
Perhatikan strap kiri dan kanan: Beberapa trekking pole memiliki strap khusus untuk tangan kiri dan kanan. Pastikan memasangnya pada sisi yang tepat agar genggaman terasa natural.
Teknik menggenggam pole yang salah bisa menyebabkan tangan cepat pegal dan pergelangan lengan terasa sakit. Memahami cara menggunakan trekking pole dengan genggaman yang rileks akan membuat perjalanan jauh lebih nyaman.
Genggam dengan rileks: Pegang trekking pole di antara ibu jari dan telunjuk tanpa menggunakan tenaga berlebihan. Genggaman yang rileks hanya membutuhkan sedikit usaha untuk menggerakkan pole ke depan setiap langkah.
Hindari mencengkeram terlalu kuat: Cengkeraman yang terlalu erat akan membuat tangan dan pergelangan lengan cepat lelah. Biarkan strap melakukan sebagian pekerjaan menahan pole.
Posisikan pegangan di bagian atas: Pastikan tangan selalu menggenggam bagian pegangan utama yang dirancang ergonomis, bukan di bagian batang pole. Pegangan biasanya dibuat miring untuk membantu kenyamanan penggunaan.
Fleksibel dalam menggenggam: Saat berjalan di jalur yang lebih mudah, sesekali longgarkan genggaman untuk memberikan istirahat pada otot tangan. Gunakan strap sebagai penopang utama saat genggaman dilonggarkan.
Baca juga: Inspirasi Kata-Kata untuk Perjalanan Mendaki Gunung
Di jalur datar, cara menggunakan trekking pole fokus pada membangun ritme langkah yang natural. Teknik yang benar di medan datar menjadi fondasi sebelum menghadapi medan yang lebih menantang.
Gunakan pola langkah silang: Ayunkan trekking pole secara berlawanan dengan langkah kaki. Saat kaki kanan melangkah maju, tancapkan pole kiri ke depan, dan sebaliknya. Pola ini mengikuti ayunan lengan alami saat berjalan.
Jangan terlalu memikirkannya: Sebagaimana dikutip dari Cool of the Wild, berjalanlah seolah-olah tidak memegang pole di tangan. Kebanyakan pendaki akan secara natural menemukan ritme yang tepat setelah beberapa menit berjalan.
Tancapkan pole sedikit miring ke belakang: Saat berjalan di permukaan datar, posisikan ujung pole sedikit miring ke belakang sejajar dengan tubuh, lalu berikan dorongan ringan saat melangkah maju.
Jaga postur tetap tegak: Pertahankan punggung lurus dan pandangan ke depan, bukan ke tanah. Postur tegak membantu pernapasan lebih lancar dan mengurangi risiko nyeri punggung bawah.
Ever Meister, editor hiking untuk REI Co-op, pernah mengatakan, "Trekking pole membantu saya merasa bisa melihat ke depan dan mempercayai kaki saya untuk tetap berpijak dengan mantap." Ungkapan ini menunjukkan bahwa pole memungkinkan pendaki lebih menikmati pemandangan alih-alih terus menatap jalur.
Jalur menanjak membutuhkan teknik khusus agar cara menggunakan trekking pole benar-benar memberikan dorongan ekstra. Penyesuaian panjang dan posisi pole menjadi kunci efektivitas di medan pendakian yang menantang.
Pendekkan trekking pole: Kurangi panjang pole sekitar 5-10 cm dari pengaturan standar. Pole yang lebih pendek memberikan daya ungkit lebih baik untuk menancapkan pole ke permukaan lereng.
Tancapkan pole sejajar atau sedikit di depan tubuh: Tempatkan ujung pole di permukaan yang sejajar dengan tubuh, lalu gunakan kekuatan lengan untuk membantu mendorong tubuh ke atas.
Gunakan teknik double pole di bagian curam: Untuk tanjakan yang sangat curam, tancapkan kedua pole secara bersamaan di depan, lalu langkahkan kaki di antara kedua pole sambil mendorong tubuh ke atas.
Libatkan otot tubuh bagian atas: Manfaatkan kekuatan bahu dan lengan untuk membantu mendorong tubuh naik. Teknik ini mendistribusikan beban kerja sehingga kaki tidak cepat kelelahan.
Turunan sering kali lebih berbahaya bagi lutut dan sendi dibandingkan tanjakan. Mengacu pada riset dari OutdoorGearLab, trekking pole mampu mengurangi tekanan kompresif pada lutut hingga 25 persen saat turun, sehingga sangat penting memahami cara menggunakan trekking pole di jalur turunan.
Panjangkan trekking pole: Tambahkan panjang sekitar 5-10 cm dari pengaturan standar. Posisi ini mengangkat tangan sehingga tubuh tetap tegak dan tidak condong ke depan.
Tancapkan pole di depan sebelum melangkah: Selalu tancapkan pole terlebih dahulu pada pijakan berikutnya, pastikan pole stabil, baru kemudian langkahkan kaki ke bawah.
Gunakan teknik "step-slide-plant": Tancapkan kedua pole satu langkah ke depan, turunkan satu kaki, geser kaki lainnya ke depan, lalu ulangi dengan ritme yang mulus. Teknik ini membantu mengendalikan kecepatan turun.
Jaga lutut tetap sedikit tertekuk: Hindari mengunci lutut saat turun. Lutut yang sedikit tertekuk memungkinkan otot menyerap goncangan, bukan sendi.
Dr. Benjamin Saltzman, spesialis kedokteran olahraga dari University of Colorado, menjelaskan, "Trekking pole melibatkan tubuh bagian atas dalam mendorong dan mengerem, yang mengurangi tuntutan kontraksi eksentrik pada quadriceps saat turun. Ini langsung mengurangi tekanan pada tempurung lutut dan struktur di sekitarnya."
Baca juga: Caption Bermakna untuk Pendaki Gunung
Medan tidak rata adalah saat trekking pole benar-benar menunjukkan kegunaannya. Pendaki yang mengetahui cara menggunakan trekking pole dengan tepat di berbagai medan akan lebih percaya diri menavigasi rintangan.
Gunakan teknik double pole plant: Tancapkan kedua pole secara bersamaan untuk mendapatkan stabilitas maksimum saat menghadapi batu besar, tangga alami, atau permukaan yang tidak stabil.
Lebarkan posisi pole untuk basis stabil: Tancapkan pole lebih lebar dari bahu untuk menciptakan basis yang lebih lebar, mirip prinsip tripod yang memberikan stabilitas lebih baik.
Pastikan pole menancap di permukaan stabil: Sebelum memindahkan berat badan ke pole, pastikan ujungnya sudah menancap dengan kokoh. Hati-hati saat menancapkan di celah batu karena pole bisa terjepit dan patah.
Probing tanah di depan: Gunakan pole untuk memeriksa stabilitas permukaan sebelum melangkah. Teknik ini sangat berguna di jalur berlumpur atau bersalju di mana kedalaman sulit diperkirakan hanya dengan mata.
Bergerak perlahan dan mantap: Di medan sulit, jaga pusat gravitasi tetap rendah dan bergerak dengan tenang. Hindari gerakan terburu-buru yang bisa menyebabkan kehilangan keseimbangan.
Menyeberangi sungai atau aliran air adalah salah satu situasi paling berisiko dalam pendakian. Berikut cara menggunakan trekking pole yang aman saat menghadapi penyeberangan air.
Ukur kedalaman air terlebih dahulu: Sebelum melangkah masuk, celupkan pole ke dalam air untuk mengukur kedalaman dan merasakan kondisi dasar sungai. Langkah ini jauh lebih aman daripada langsung menginjakkan kaki.
Tancapkan pole ke dasar sungai: Pastikan ujung pole menyentuh dasar sungai dengan kokoh sebelum memindahkan berat badan. Gunakan kedua pole secara bersamaan untuk menambah titik keseimbangan.
Hadapkan tubuh melawan arus: Posisikan tubuh menyamping atau menghadap sedikit ke arah arus agar tidak mudah terdorong. Pole berfungsi sebagai penyangga untuk melawan tekanan arus air.
Langkah pendek dan hati-hati: Ambil langkah-langkah pendek dan pastikan setiap pijakan stabil sebelum memindahkan kaki berikutnya. Jangan pernah mengangkat kedua kaki bersamaan.
Selama pendakian, medan akan terus berubah sehingga kamu perlu menyesuaikan panjang pole secara dinamis. Kemampuan mengunci dan mengatur panjang pole dengan cepat merupakan bagian penting dari cara menggunakan trekking pole secara efisien.
Kenali jenis mekanisme penguncian: Trekking pole umumnya menggunakan kunci tuas (lever lock) atau kunci putar (twist lock). Mengutip Outdoor Life, kunci tuas lebih mudah dioperasikan dan stabil, sementara kunci putar lebih ringan namun perlu pengecekan rutin karena bisa mengendur akibat getaran.
Kencangkan kunci sebelum memulai perjalanan: Periksa semua titik penguncian sebelum berangkat. Jika pole terasa sedikit goyang, kencangkan kembali mekanisme penguncinya.
Sesuaikan secara dinamis di perjalanan: Jangan ragu menyesuaikan panjang pole saat medan berubah. Untuk tanjakan panjang, pendekkan pole sebelum mulai menanjak, dan panjangkan saat mulai turun.
Atur satu pole lebih pendek di lereng miring: Saat berjalan menyamping di lereng, atur pole sisi gunung lebih pendek dan pole sisi lembah lebih panjang. Teknik ini menjaga keseimbangan tanpa perlu menyesuaikan ulang di setiap belokan.
Baca juga: Keseruan Hiking ke Gunung untuk Pertama Kali
Sebelum mempraktikkan cara menggunakan trekking pole, memahami manfaat ilmiahnya bisa menjadi motivasi tambahan. Sebagaimana dikutip dari studi yang dipublikasikan di PubMed Central, penggunaan trekking pole saat berjalan di turunan terbukti mengurangi kerusakan otot dan tulang rawan secara temporer.
Mengurangi tekanan pada lutut hingga 25%: Berdasarkan riset yang dipublikasikan di The Journal of Sports Medicine, trekking pole dapat mengurangi gaya kompresif pada lutut sebesar 25 persen, terutama saat turun. Pengurangan ini setara dengan menghilangkan beban sekitar 13 kg per langkah saat berjalan menuruni lereng.
Meningkatkan keseimbangan: Heather Balogh Rochfort, penulis buku Backpacking 101, menyatakan bahwa manfaat terbesar trekking pole adalah keseimbangan dan stabilitas. Pole menciptakan empat titik kontak dengan tanah, mengurangi risiko terpeleset.
Membakar lebih banyak kalori: Sebagaimana dilaporkan Outside Online, penggunaan trekking pole bisa meningkatkan pembakaran kalori sekitar 20 persen karena melibatkan otot tubuh bagian atas yang biasanya tidak aktif saat berjalan.
Meningkatkan kecepatan berjalan: Enam studi yang dirangkum dalam jurnal Wilderness and Environmental Medicine menunjukkan bahwa pendaki cenderung berjalan lebih cepat dengan pole karena pola langkah menjadi lebih natural dan langkah lebih panjang.
Mengurangi risiko cedera dan tendonitis: Merujuk Treeline Review, Michael Torry, direktur riset biomekanika di Steadman-Hawkins Sports Medicine Foundation, menemukan bahwa trekking pole mengurangi risiko cedera dan tendonitis pada lutut, betis, paha, dan pinggul.
Melancarkan sirkulasi darah di tangan: Seperti yang disampaikan Gossamer Gear, trekking pole menjaga lengan tetap bergerak dan tangan menggenggam secara bergantian, yang membantu sirkulasi darah dan mencegah pembengkakan jari saat hiking panjang.
Mengurangi persepsi usaha: Menariknya, meskipun membakar lebih banyak kalori, pole justru mengurangi persepsi tingkat usaha saat mendaki dengan beban bawaan. Hal ini signifikan karena persepsi usaha menentukan kecepatan dan kemauan untuk melanjutkan perjalanan.
Memilih trekking pole yang tepat sama pentingnya dengan menguasai cara menggunakan trekking pole. Setiap jenis pole memiliki karakteristik yang cocok untuk kebutuhan berbeda, mulai dari bahan, mekanisme, hingga bentuk pegangan yang memengaruhi kenyamanan selama petualangan alam.
Dari segi bahan, trekking pole umumnya tersedia dalam dua pilihan utama. Pole aluminium dikenal karena daya tahan dan kekuatannya yang mampu bertahan pada penggunaan kasar, meskipun cenderung lebih berat. Sementara pole serat karbon lebih ringan dan mampu menyerap guncangan dengan baik, namun bisa lebih rentan patah di bawah tekanan ekstrem. Untuk pendaki yang mengutamakan bobot ringan dan sering melakukan perjalanan jarak jauh, serat karbon menjadi pilihan ideal.
Bahan pegangan juga sangat memengaruhi kenyamanan. Pegangan dari kork (gabus) mampu menyerap kelembapan dan menyesuaikan bentuk tangan seiring waktu, menjadikannya favorit untuk hiking panjang. Pegangan busa EVA menawarkan kenyamanan yang baik dengan harga lebih terjangkau. Sedangkan pegangan karet lebih tahan lama tetapi bisa terasa licin saat basah, sehingga kurang direkomendasikan untuk pendakian berdurasi panjang.
Dalam hal bentuk pegangan, terdapat dua tipe utama. Bentuk I-Shape menyerupai tongkat ski dan cocok untuk jalur datar atau permukaan keras. Sedangkan bentuk T-Shape lebih cocok untuk jalur turunan karena lebih mudah dipegang dan tidak cepat melelahkan tangan. Sebagaimana diungkapkan CleverHiker, trekking pole bukan perlengkapan yang wajib, tetapi banyak pendaki memilih menggunakannya karena berbagai manfaat yang ditawarkan.
Untuk mekanisme penguncian, pole teleskopik dengan kunci tuas (lever lock) umumnya lebih mudah dan cepat dioperasikan di lapangan. Sedangkan pole lipat (folding) dengan mekanisme pin lebih ringkas saat disimpan dan cocok untuk pendaki yang mengutamakan portabilitas. Pole yang bisa disesuaikan panjangnya sangat direkomendasikan karena memberikan fleksibilitas di berbagai kondisi medan.
Menguasai cara menggunakan trekking pole juga berarti memahami kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan. Mengacu pada panduan dari Salkantay Trekking, bahkan pendaki berpengalaman pun bisa melakukan kesalahan saat menggunakan trekking pole. Berikut beberapa yang paling umum beserta cara menghindarinya.
Panjang pole tidak sesuai: Pole terlalu panjang membuat postur condong ke belakang dan menyebabkan ketidaknyamanan pada bahu. Pole terlalu pendek membuat tubuh membungkuk dan membebani punggung. Selalu pastikan siku membentuk sudut 90 derajat di medan datar.
Tidak menggunakan wrist strap: Strap bukan aksesori dekoratif. Strap mendistribusikan beban dan mengurangi tekanan pada tangan. Tanpa strap, tangan harus bekerja lebih keras untuk menahan pole, menyebabkan kelelahan lebih cepat.
Mencengkeram pole terlalu kuat: Genggaman yang terlalu erat menyebabkan kelelahan pada tangan dan pergelangan. Gunakan genggaman rileks dan biarkan strap membantu menopang pole.
Menancapkan pole terlalu jauh di depan: Ujung pole sebaiknya tidak melampaui kaki depan saat berjalan. Posisikan pole dekat dengan tubuh untuk mendapatkan dukungan optimal.
Terlalu bergantung pada pole: Trekking pole adalah alat bantu, bukan penopang utama. Pole hanya menanggung sebagian berat badan, bukan seluruhnya. Tetap gunakan kekuatan kaki sebagai penggerak utama.
Tidak menyesuaikan panjang saat medan berubah: Malas mengubah panjang pole saat transisi dari datar ke tanjakan atau turunan membuat penggunaan pole tidak efektif dan bisa menambah ketidaknyamanan.
Lupa melepas penutup ujung pole: Sebelum mulai hiking, lepas penutup karet dari ujung pole jika medan membutuhkan ujung logam untuk menancap. Jika dibiarkan terpasang terlalu lama saat digunakan, penutup bisa sulit dilepas.
Baca juga: Menjaga Keselamatan dan Kebersihan Saat Berwisata Alam
Perawatan yang baik akan memperpanjang usia pakai trekking pole dan memastikan performa optimalnya setiap kali digunakan. Jangan sampai sudah menguasai cara menggunakan trekking pole tetapi mengabaikan aspek perawatan peralatan yang satu ini.
Bersihkan setelah setiap penggunaan: Lap seluruh permukaan pole dengan kain lembap untuk menghilangkan lumpur, debu, atau pasir. Perhatikan terutama bagian sambungan teleskopik tempat partikel bisa menumpuk dan menyebabkan keausan.
Keringkan sepenuhnya sebelum menyimpan: Setelah dibersihkan, biarkan pole mengering sempurna untuk mencegah karat pada komponen logam. Jika pole pernah terendam air, lepas bagian teleskopiknya dan keringkan secara terpisah.
Lumasi mekanisme penguncian secara berkala: Gunakan pelumas ringan seperti minyak silikon pada bagian mekanisme penguncian agar tetap berfungsi mulus. Pelumasan rutin mencegah mekanisme macet atau aus akibat penggunaan terus-menerus.
Periksa keausan ujung pole: Ujung karbida akan aus seiring penggunaan. Ganti ujung yang sudah tumpul untuk memastikan pole tetap menancap dengan baik di berbagai permukaan.
Simpan dalam posisi terbuka atau longgar: Jangan menyimpan pole dalam keadaan terkunci penuh karena bisa membebani mekanisme penguncian. Longgarkan sedikit penguncian saat menyimpan untuk menjaga ketahanan komponen.
Periksa kondisi strap dan pegangan: Strap yang sudah mulai aus atau robek harus segera diganti. Pegangan yang sudah licin bisa dibersihkan dengan sabun lembut.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari cara menggunakan trekking pole, memperkuat otot-otot yang terlibat dalam penggunaannya sangat dianjurkan. Latihan berikut membantu meningkatkan daya tahan dan teknik selama pendakian.
Penguatan lengan: Latihan push-up atau angkat beban ringan (1-2 kg) untuk memperkuat bisep dan trisep. Otot lengan yang kuat membantu menopang beban pole selama hiking panjang tanpa cepat kelelahan.
Penguatan otot inti: Plank, crunch, dan latihan "Superman" sangat baik untuk memperkuat otot perut dan punggung bawah. Otot inti yang kuat menjaga postur tegak saat menggunakan trekking pole.
Latihan kaki: Squat, lunge, dan lateral jump memperkuat paha dan bokong. Kaki yang kuat membantu mengatasi medan curam dengan lebih efisien meski sudah menggunakan pole.
Latihan kardiovaskular: Praktikkan jalan pendek atau lari ringan dengan pole di medan yang bervariasi. Latihan ini membiasakan tubuh dengan gerakan terkoordinasi antara tangan dan kaki sambil meningkatkan daya tahan aerobik.
Latihan keseimbangan: Berdiri dengan satu kaki atau menggunakan balance board dapat meningkatkan propriosepsi, yaitu kesadaran tubuh terhadap posisinya dalam ruang. Kemampuan ini sangat berguna saat menggunakan trekking pole di medan tidak rata.
Baca juga: Kata-Kata Pendaki Gunung yang Menghibur Saat Mendaki
Meskipun manfaatnya banyak, ada situasi di mana cara menggunakan trekking pole justru menjadi kurang efektif atau bahkan menghambat. Mengetahui kapan harus menyimpan pole sama pentingnya dengan mengetahui kapan harus menggunakannya.
Saat melewati medan yang membutuhkan penggunaan kedua tangan untuk berpegangan pada batu atau tebing, segera simpan trekking pole ke dalam tas. Pada jalur yang sangat sempit dengan vegetasi lebat, pole bisa tersangkut dan mengganggu keseimbangan. Pendaki yang fokus pada kecepatan berlari di trail running juga perlu mempertimbangkan apakah pole justru menjadi beban tambahan yang mengurangi kelincahan.
Perlu diingat pula bahwa trekking pole bukan pengganti alat bantu mobilitas medis. Jika dokter merekomendasikan tongkat jalan atau kruk, trekking pole tidak seharusnya digunakan sebagai alternatif. Selain itu, saat bepergian dengan pesawat, trekking pole tidak diperbolehkan masuk ke kabin dan harus dimasukkan ke bagasi karena ujungnya yang tajam.
Pada jalur hiking di area konservasi dengan permukaan tanah yang rapuh, pertimbangkan untuk memasang pelindung karet pada ujung pole agar tidak merusak permukaan tanah dan batuan. Kesadaran terhadap dampak lingkungan merupakan bagian dari etika pendakian yang bertanggung jawab.
Mempelajari cara menggunakan trekking pole memang membutuhkan latihan, namun hasilnya sepadan. Setelah terbiasa, pole akan terasa seperti perpanjangan alami dari tubuh, memberikan kepercayaan diri ekstra di setiap langkah pendakian. Seperti yang dikatakan banyak pendaki berpengalaman, begitu terbiasa menggunakan pole, rasanya justru aneh jika berjalan tanpa tongkat ini. Selamat mendaki dan menikmati keindahan alam Indonesia dengan lebih aman dan nyaman.
Baca juga: Makna dan Simbol di Balik Petualangan Mendaki Gunung
Sangat disarankan. Cara menggunakan trekking pole mudah dipelajari, dan alat ini memberikan stabilitas ekstra yang sangat membantu pemula yang belum terbiasa dengan medan pendakian. Pole membantu menjaga keseimbangan dan mengurangi risiko cedera pada lutut dan sendi.
Untuk mendapatkan keseimbangan optimal, disarankan menggunakan sepasang trekking pole. Dua pole mendistribusikan beban secara merata ke kedua sisi tubuh dan melibatkan lebih banyak otot tubuh bagian atas. Namun, satu pole pun tetap bermanfaat untuk perjalanan pendakian di medan yang relatif mudah.
Berdiri tegak di permukaan datar, genggam pole dengan ujung menyentuh tanah di samping kaki. Panjang yang tepat tercapai saat siku membentuk sudut 90 derajat. Sebagian besar pole adjustable menyediakan tanda ukuran pada batangnya untuk memudahkan penyesuaian.
Tentu saja. Meskipun manfaat trekking pole lebih terasa di tanjakan dan turunan, cara menggunakan trekking pole di medan datar tetap berguna untuk menjaga ritme langkah, mengurangi kelelahan kaki, dan meningkatkan stabilitas saat perjalanan panjang.
Kebanyakan pendaki bisa menemukan ritme yang nyaman dalam waktu 15-30 menit pertama berjalan dengan pole. Latih di jalur datar dan lebar terlebih dahulu sebelum menggunakannya di medan pendakian yang lebih menantang.
Ujung logam karbida cocok untuk jalur tanah dan berbatu karena menancap dengan baik. Ujung karet digunakan di permukaan keras seperti aspal atau batu licin untuk mencegah tergelincir. Keranjang (basket) dipasang untuk medan bersalju atau berpasir agar pole tidak tenggelam terlalu dalam.
Lipat atau pendekkan pole hingga ukuran terkecil, lalu selipkan di sisi luar tas ransel menggunakan tali pengikat atau loop yang tersedia. Beberapa tas carrier memiliki kompartemen khusus untuk menyimpan trekking pole agar tidak mengganggu keseimbangan saat dibawa berjalan.
Daftar Referensi
(kpl/fed)