Kapanlagi.com - Setiap bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam kembali memperbincangkan hukum merayakan hari kelahiran Rasulullah. Di sinilah pandangan ulama tentang maulid nabi menjadi topik yang selalu menarik ditelusuri.
Sebagian ulama menilainya sebagai bentuk kecintaan yang berpahala, sebagian lain menganggapnya perkara yang tidak berdasar. Perbedaan ini bukan hal baru, melainkan diskusi panjang yang berakar pada penafsiran soal bid'ah.
Mengutip Kementerian Agama, maulid nabi merupakan peringatan yang jatuh pada 12 Rabiulawal sebagai wujud cinta umat Muslim kepada Nabi. Memahami pandangan ulama tentang maulid nabi membantu kita menyikapi perbedaan tersebut dengan lebih bijak dan dewasa.
Maulid Nabi Bidah atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para UlamaAdvertisement
Secara bahasa, kata maulid berasal dari akar kata dalam bahasa Arab yang berarti kelahiran atau hari lahir. Istilah ini kemudian merujuk khusus pada peringatan hari lahir Rasulullah SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal.
Sebagaimana dikutip dari Study.com, kata maulid bersumber dari kata Arab yang bermakna "melahirkan", sehingga Maulid Nabi diterjemahkan sebagai kelahiran Nabi. Nabi Muhammad SAW sendiri lahir di Makkah pada Tahun Gajah, sekitar 571 Masehi.
Dari sisi istilah, maulid dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira atas kelahiran manusia agung pembawa rahmat bagi semesta. Bagi yang ingin menelusuri kemuliaan nasab beliau, silsilah Nabi Muhammad SAW menjadi rujukan penting untuk dipelajari.
Maulid Nabi Bidah atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para UlamaBaca juga: asal usul peringatan Maulid Nabi dan perkembangannya di dunia Islam
Inti dari pandangan ulama tentang maulid nabi sebenarnya berpusat pada satu perdebatan klasik, yakni bagaimana mendudukkan status bid'ah dalam sebuah amalan. Dalam jurnal Revue des Mondes Musulmans et de la Mediterranee, Mehdi Berriah menuliskan bahwa perayaan ini dinilai sebagai "bid'ah yang tercela karena Nabi maupun para sahabatnya tidak merayakannya semasa hidup" bagi sebagian pihak, sementara pihak lain memandangnya sebagai bid'ah hasanah.
Perbedaan pandangan ini justru memperlihatkan kekayaan khazanah keilmuan Islam, bukan sumber perpecahan. Semuanya bermuara pada satu titik yang sama, yaitu kecintaan kepada Nabi Muhammad dan keinginan meneladani beliau.
Baca juga: kumpulan kata-kata Maulid Nabi untuk media sosial
Maulid Nabi Bidah atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para UlamaKelompok yang membolehkan maulid menyandarkan argumentasinya pada kaidah bid'ah hasanah, yakni perkara baru yang selaras dengan syariat. Ibn Hajar al-Asqalani, dikutip dari IslamQA, menuliskan bahwa "barangsiapa mengambil kebaikan dalam perayaan itu dan menjauhi lawannya, maka itu bid'ah hasanah; jika tidak, maka bukan". Ia mengaitkannya dengan analogi puasa Asyura, ketika Nabi mensyukuri peristiwa penyelamatan Nabi Musa.
Argumentasi lain bersumber dari kisah Abu Lahab yang diringankan siksanya setiap Senin karena bergembira atas kelahiran keponakannya, sebagaimana disebut dalam Fathul Bari. Diperkuat pula oleh hadis riwayat Muslim bahwa Nabi berpuasa pada hari Senin karena hari itu beliau dilahirkan. Karena itu, sebagian ulama menganjurkan meneladani beliau dengan puasa Senin Kamis sebagai bentuk syukur.
Selain landasan dalil, ulama pendukung menyoroti nilai pendidikan dari maulid. Abu al-Abbas al-Azafi, dikutip dari SeekersGuidance, menyatakan bahwa apa yang dirayakan orang banyak akan "tertanam di benak mereka bagaikan ukiran pada batu". Karena itu, momen ini dinilai efektif menanamkan cinta kepada Rasulullah, sejalan dengan besarnya keutamaan membaca sholawat.
Maulid Nabi Bidah atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para UlamaPoin terkuat dari kubu ini adalah bahwa isi acara maulid pada dasarnya berupa ibadah yang sudah disyariatkan, seperti membaca Al-Qur'an, sholawat, sedekah, dan tausiah. Dengan demikian, pandangan ulama tentang maulid nabi dalam kelompok ini menegaskan bahwa yang baru hanyalah kemasannya, bukan substansinya. Semangat serupa juga terlihat pada anjuran memperbanyak kebaikan di hari mulia lain, seperti puasa Asyura di bulan Muharram.
Di sisi lain, sejumlah ulama berpegang teguh bahwa perayaan maulid tidak memiliki dasar dari generasi terbaik umat ini. Sebagaimana dilaporkan SoundVision, Nabi Muhammad tidak memerintahkan para sahabat untuk merayakan hari kelahirannya, dan perayaan ini baru dibentuk beberapa abad setelah beliau wafat. Bagi kelompok ini, seandainya amalan tersebut baik, tentu para sahabat sudah lebih dahulu melakukannya.
Argumen kedua bertumpu pada hadis yang menyatakan bahwa setiap perkara baru dalam agama adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan. Mereka juga menukil ayat tentang telah sempurnanya agama Islam, sehingga tidak lagi diperlukan penambahan ibadah baru. Dari sudut pandang ini, menambah perayaan dianggap seolah menilai risalah belum tuntas.
Alasan berikutnya menyangkut akar historis. Kelompok penentang menilai perayaan maulid pertama kali dilembagakan oleh penguasa yang mereka anggap menyimpang, serta dinilai menyerupai tradisi hari besar umat lain. Kekhawatiran ini menjadi dasar mengapa mereka bersikap sangat hati-hati.
Maulid Nabi Bidah atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para UlamaYang paling ditekankan adalah bahaya sikap berlebihan (ghuluw) dan praktik maksiat yang kerap menyertai perayaan. Karena itu, pandangan ulama tentang maulid nabi dari kubu ini mengingatkan bahwa pembuktian cinta kepada Rasulullah semestinya melalui ketaatan dan kekaguman yang tulus kepada Nabi Muhammad, bukan seremoni semata. Semangat meneladani beliau juga bisa diwujudkan melalui amalan sunnah lain seperti puasa sunnah yang dicontohkan Rasulullah.
Untuk memahami perdebatan ini secara utuh, kita perlu meletakkannya dalam garis waktu sejarah. Perayaan maulid tidak muncul seketika, melainkan melalui beberapa fase penting sepanjang peradaban Islam.
Terkait adab, dalam kitab At-Tanbihat al-Wajibat, KH M. Hasyim Asy'ari menegaskan bahwa perayaan maulid tidak boleh bercampur dengan kemaksiatan, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan tanpa batas atau hiburan yang melalaikan. Inti peringatan ini adalah penghormatan kepada Rasulullah, sehingga acaranya wajib dijaga dari hal-hal yang justru menyakiti kehormatan beliau. Prinsip ini penting diperhatikan penyelenggara, mulai dari penyusunan teks MC Maulid di masjid hingga pemilihan ucapan Maulid Nabi yang penuh syukur.
Baca juga: kumpulan caption untuk Maulid Nabi penuh makna dan 40 kata-kata Maulid Nabi penuh makna
Maulid Nabi Bidah atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para UlamaPada akhirnya, perbedaan sikap para ulama seputar maulid adalah ruang ijtihad yang patut dihormati bersama. Yang terpenting, semangat mencintai Rasulullah tidak berhenti pada seremoni, tetapi berlanjut dalam keteladanan sehari-hari, memperbanyak bacaan sholawat, serta menyebarkan pesan kebaikan melalui kata mutiara Maulid Nabi dan kalimat untuk Maulid Nabi yang menyejukkan.
Para ulama berbeda pendapat. Banyak yang menggolongkannya sebagai bid'ah hasanah selama diisi amal kebaikan seperti sholawat, sedekah, dan pembacaan sirah, sementara sebagian lain menilainya bid'ah terlarang. Kuncinya terletak pada isi dan cara pelaksanaan acaranya.
Perayaan resmi mulai dikenal pada era Dinasti Fatimiyah di Mesir sekitar abad ke-10 hingga ke-12 Masehi, lalu digelar secara besar oleh Sultan al-Muzaffar di Irbil pada abad ke-13. Perayaan semacam ini tidak ada pada masa Nabi maupun para sahabat.
Mayoritas ulama, termasuk dari empat mazhab, membolehkannya selama diisi ibadah dan kebaikan serta bebas dari kemaksiatan. Yang harus dihindari adalah unsur berlebihan, campur baur tanpa batas, dan hiburan yang melalaikan.
Maulid Nabi Bidah atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para UlamaDaftar Referensi
(kpl/cel)