Apa Arti Roasting: Memahami Istilah Populer dalam Dunia Komedi dan Bahasa Gaul
apa arti roasting
Kapanlagi.com - Istilah roasting telah menjadi bagian tak terpisahkan dari bahasa gaul modern dan dunia komedi Indonesia. Banyak orang menggunakan kata ini dalam percakapan sehari-hari, terutama di media sosial dan acara hiburan.
Roasting pada dasarnya adalah bentuk humor atau candaan yang bertujuan untuk mengkritik, menyindir, atau mengolok-olok seseorang secara jenaka dan menghibur. Praktik ini berbeda dengan bullying karena dilakukan dengan persetujuan dan dalam konteks hiburan yang positif.
Menurut Cambridge Dictionary, roasting diartikan sebagai tindakan memberikan kritik kepada seseorang, namun dalam konteks komedi modern, istilah ini memiliki makna yang lebih luas sebagai bentuk hiburan yang melibatkan sindiran cerdas dan humor tajam.
Advertisement
1. Pengertian dan Definisi Roasting
Roasting secara harfiah berasal dari kata bahasa Inggris "roast" yang berarti memanggang. Namun dalam konteks bahasa gaul dan dunia komedi, roasting memiliki arti yang jauh berbeda dari makna literalnya. Istilah ini mengacu pada bentuk humor di mana seseorang mengeluarkan lelucon yang dimaksudkan untuk menghibur khalayak yang lebih luas dengan cara mengolok-olok orang lain.
Dalam dunia stand up comedy, roasting dikenal sebagai cara seorang komedian untuk "menyerang" seseorang secara verbal menggunakan frase atau kata-kata yang unik dan menghibur. Serangan yang dimaksud bukan bersifat fisik melainkan verbal dengan tujuan menciptakan hiburan bagi penonton. Seorang komedian sengaja membuat lelucon dengan niat untuk menyerang kepribadian target secara langsung, namun tetap dalam batas-batas yang dapat diterima.
Karakteristik utama roasting meliputi penggunaan kata-kata yang tajam namun tetap dalam batas humor, menyoroti kelemahan atau kekurangan seseorang secara jenaka, dilakukan di depan umum dalam acara khusus, memiliki unsur timbal balik dimana sasaran roasting juga bisa membalas, dan bertujuan untuk menghibur penonton bukan semata-mata menyakiti perasaan.
Penting untuk dipahami bahwa roasting berbeda dengan bullying atau pelecehan. Dalam roasting yang benar, ada kesepakatan dan pemahaman bersama antara pelaku dan sasaran bahwa ini adalah bentuk hiburan, bukan serangan pribadi yang serius. Roasting juga sering digunakan sebagai sarana kritik sosial atau politik yang disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima masyarakat.
2. Sejarah dan Perkembangan Roasting
Praktik roasting sebenarnya telah ada sejak lama dalam berbagai bentuk di berbagai budaya. Namun, roasting sebagai format hiburan yang terstruktur mulai populer di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-20. Sejarah roasting modern dimulai dari tradisi New York Friars Club pada sekitar tahun 1920-an, dimana klub-klub komedi mulai mengadakan acara "roast" informal.
Tonggak penting dalam sejarah roasting terjadi pada tahun 1949 ketika Maurice Chevalier menjadi orang pertama yang membawakan komedi roasting di depan publik. Meskipun popularitasnya sempat menurun, Dean Martin kemudian menghidupkan kembali format ini dengan menjadi pembawa acara komedi roasting pada tahun 1974 di acara televisi "The Dean Martin Celebrity Roast" yang ditayangkan di NBC hingga tahun 1979.
Pada tahun 2000-an, Comedy Central mulai mempopulerkan kembali format roast di televisi dengan menghadirkan berbagai selebriti sebagai sasaran roasting. Comedy Central sekarang menampilkan satu hingga tiga selebriti yang di-roast setiap tahunnya, dengan fokus pada tokoh-tokoh terkenal Hollywood atau setidaknya figur publik yang bisa menarik perhatian massa.
Di Indonesia, roasting mulai dikenal luas seiring dengan berkembangnya stand up comedy pada awal 2010-an. Para komika seperti Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Pandji Pragiwaksono turut mempopulerkan format ini melalui pertunjukan mereka. Seiring waktu, roasting tidak lagi terbatas pada acara komedi formal, tetapi mulai merambah ke berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk dalam percakapan kasual di antara teman-teman atau di media sosial.
3. Cara Kerja dan Teknik Roasting dalam Komedi
Dalam praktiknya, acara roasting memiliki struktur yang terorganisir dengan baik. Acara untuk meroasting seseorang disebut "Roast", dimana orang yang akan di-roast disebut tamu kehormatan atau "roastee". Pembawa acaranya yang dijuluki "Roastmaster" bertugas melontarkan lelucon pembuka dan kemudian memperkenalkan setiap tamu yang akan tampil.
Orang yang melakukan roasting disebut "roaster" dan biasanya berdiri di platform atau panggung yang ditinggikan. Setelah itu, komedian yang melakukan roasting bergiliran melontarkan lelucon tentang tamu kehormatan dan komedian lainnya di atas panggung. Acara roasting biasanya diakhiri dengan tamu kehormatan diberi kesempatan untuk memberikan sanggahan terhadap jokes yang dilontarkan padanya pada malam tersebut.
- Buat dalam waktu singkat: Tidak disarankan untuk meroasting seseorang dalam waktu lama karena selain melelahkan, ada risiko komedian mengalami salah pengucapan kata yang dapat mengakibatkan kesalahpahaman dan kontroversi.
- Buat lelucon terstruktur: Seorang komedian harus membuat materi roasting secara terstruktur agar kelakar yang dibuat tidak melewati batas yang telah disepakati dengan tamu kehormatan.
- Ikuti batasan dalam melakukan roasting: Komedian harus memahami dan mengikuti batasan topik yang boleh dibahas di atas panggung, yang harus didiskusikan terlebih dahulu dengan tamu yang akan di-roast.
- Roasting beberapa orang sekaligus: Dalam beberapa format, roasting dapat melibatkan beberapa target sekaligus, namun tetap harus memperhatikan waktu dan kualitas materi.
- Kenali audiens dan sasaran: Pastikan memahami latar belakang dan kepribadian orang yang akan di-roast serta menghindari topik yang terlalu sensitif.
Melansir dari berbagai sumber komedi internasional, teknik roasting yang efektif membutuhkan kemampuan improvisasi yang baik, timing yang tepat, dan pemahaman mendalam tentang karakter target roasting. Komedian juga harus siap menerima balasan dari sasaran roasting sebagai bagian dari dinamika pertunjukan.
4. Etika dan Batasan dalam Roasting
Meskipun roasting memberikan kebebasan untuk mengkritik dan menyindir, tetap ada batasan etis yang perlu diperhatikan. Etika dalam roasting menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa praktik ini tetap berada dalam koridor hiburan yang sehat dan tidak merugikan pihak manapun.
Prinsip utama dalam roasting adalah mendapatkan persetujuan dari sasaran sebelum acara dimulai. Idealnya, sasaran roasting harus mengetahui dan menyetujui untuk di-roast dalam event tersebut. Hal ini mencegah terjadinya kesalahpahaman atau perasaan tersinggung yang tidak diinginkan. Para produser acara biasanya melakukan negosiasi di balik layar mengenai hal-hal apa saja yang akan dijadikan bahan lelucon.
Batasan privasi juga harus dihormati dalam roasting. Komedian harus menghindari membahas masalah pribadi yang sensitif atau rahasia yang tidak pantas diungkap di depan umum. Tokoh yang menjadi sasaran roasting juga berhak membatasi sejauh mana kehidupan pribadinya dapat diungkap atau didiskusikan, termasuk nama anggota keluarga atau ciri fisik tertentu.
Roasting juga harus menjauhkan diri dari diskriminasi dalam bentuk apapun. Lelucon yang merendahkan ras, agama, gender, atau kelompok tertentu tidak boleh dijadikan materi roasting. Konteks juga menjadi pertimbangan penting, dimana roasting mungkin tidak tepat dilakukan dalam situasi formal atau acara yang serius.
Yang tidak kalah penting adalah kemampuan untuk mengetahui kapan harus berhenti. Jika sasaran terlihat tidak nyaman atau tersinggung, komedian harus segera menghentikan roasting. Tujuan utama roasting adalah menghibur dan menciptakan suasana yang menyenangkan, bukan menyakiti perasaan orang lain atau menciptakan konflik yang tidak perlu.
5. Dampak Positif dan Negatif Roasting
Ketika dilakukan dengan benar, roasting dapat memberikan berbagai manfaat positif bagi semua pihak yang terlibat. Roasting dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis karena mendorong orang untuk melihat diri sendiri dan orang lain dari sudut pandang yang berbeda. Praktik ini juga membantu membangun ketahanan mental, dimana belajar menerima kritik dengan humor dapat meningkatkan kepercayaan diri dan ketahanan terhadap tekanan hidup.
Dalam konteks sosial, roasting yang dilakukan dalam suasana akrab dapat memperkuat ikatan pertemanan dan menciptakan kedekatan emosional antar individu. Roasting juga sering digunakan sebagai sarana kritik sosial yang efektif, dimana isu-isu politik atau sosial dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.
Dari segi pengembangan diri, melakukan roasting membutuhkan keterampilan komunikasi yang baik, kemampuan berbicara di depan umum, dan kemampuan improvisasi yang dapat berguna dalam berbagai aspek kehidupan. Roasting juga dapat menjadi katarsis emosional, dimana individu dapat melepaskan emosi negatif dalam bentuk yang lebih dapat diterima secara sosial.
Namun di sisi lain, roasting juga dapat membawa dampak negatif jika tidak dilakukan dengan hati-hati. Jika terlalu kasar atau menyentuh topik sensitif, roasting dapat melukai perasaan sasaran dan menurunkan kepercayaan diri mereka. Bagi orang yang tidak siap mental, menjadi sasaran roasting bisa berdampak pada penurunan harga diri dan kepercayaan diri.
Roasting yang salah dipahami atau dilakukan tanpa persetujuan dapat menciptakan konflik dan kesalahpahaman yang berkepanjangan. Jika terlalu sering dilakukan, roasting juga dapat menormalisasi perilaku negatif dan membuat orang terbiasa dengan kritik tajam atau hinaan. Dalam kasus yang ekstrem, roasting yang keterlaluan bahkan dapat berujung pada masalah hukum jika dianggap sebagai pencemaran nama baik.
6. FAQ (Frequently Asked Questions)
Apakah roasting sama dengan bullying?
Tidak, roasting berbeda dengan bullying. Roasting dilakukan dengan persetujuan dari sasaran dan dalam konteks hiburan yang positif, sedangkan bullying bersifat merendahkan, tidak diinginkan oleh korban, dan bertujuan untuk menyakiti secara sengaja.
Bagaimana cara melakukan roasting yang baik dan benar?
Roasting yang baik membutuhkan persetujuan dari sasaran, menggunakan humor cerdas tanpa menyinggung hal-hal sensitif, memperhatikan batasan yang telah disepakati, dan tetap menjaga rasa hormat terhadap sasaran roasting.
Apakah ada batasan hukum dalam melakukan roasting?
Ya, roasting yang mengandung unsur pencemaran nama baik, ujaran kebencian, atau diskriminasi dapat bermasalah secara hukum. Oleh karena itu, penting untuk memahami batasan etis dan hukum dalam melakukan roasting.
Siapa saja tokoh yang mempopulerkan roasting di Indonesia?
Beberapa komedian Indonesia yang dikenal sering melakukan roasting antara lain Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Pandji Pragiwaksono. Mereka membantu mempopulerkan format roasting dalam pertunjukan stand up comedy Indonesia.
Bagaimana cara menerima roasting dengan baik?
Untuk menerima roasting dengan baik, seseorang perlu memahami bahwa ini adalah bentuk hiburan, tidak terlalu serius, mampu menertawakan diri sendiri, dan jika memungkinkan menyiapkan balasan yang cerdas untuk menunjukkan sportivitas.
Apakah roasting bisa digunakan sebagai kritik sosial?
Ya, roasting sering digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial atau politik dengan cara yang lebih mudah diterima masyarakat. Banyak komedian menggunakan teknik roasting untuk mengkritik kebijakan publik atau isu-isu sosial yang sedang berkembang.
Apa perbedaan roasting dengan bentuk humor lainnya?
Roasting memiliki sasaran yang spesifik (individu tertentu), dilakukan dalam konteks acara khusus, dan memungkinkan respon langsung dari sasaran. Berbeda dengan stand up comedy biasa yang membahas topik umum atau satire yang mengkritik institusi secara tidak langsung.
(kpl/fds)
Advertisement