Cara Menghitung 40 Hari Orang Meninggal dalam Tradisi Jawa
cara menghitung 40 hari orang meninggal (image by AI)
Kapanlagi.com - Tradisi selamatan orang meninggal merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Jawa yang masih lestari hingga kini. Salah satu peringatan yang paling sering dilakukan adalah selamatan 40 hari atau yang dikenal dengan istilah matangpuluh dina. Cara menghitung 40 hari orang meninggal tidak menggunakan kalender Masehi biasa, melainkan sistem penanggalan Jawa yang menggabungkan hari dan pasaran.
Perhitungan ini memerlukan pemahaman khusus tentang siklus hari dan pasaran Jawa agar tidak salah dalam menentukan waktu pelaksanaan. Selamatan orang meninggal sebenarnya salah satu bentuk akulturasi antara agama Islam dan tradisi Jawa, di mana acara ini diisi dengan kegiatan tahlilan untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia.
Dalam tradisi ini, cara menghitung 40 hari orang meninggal menggunakan rumus khusus yang disebut "masarma" atau hari kelima dan pasaran kelima. Tradisi selamatan kematian di Jawa melibatkan perhitungan hari yang kompleks. Menurut Muhammad Solikhin dalam bukunya Tradisi Keagamaan Islam Jawa (2010), praktik ini bukan hanya bersifat spiritual, melainkan juga sosial.
Advertisement
1. Pengertian Selamatan 40 Hari Orang Meninggal
Selamatan hari ke-40 dalam tradisi Jawa disebut matangpuluh dina. Istilah "matangpuluh" berasal dari bahasa Jawa yang berarti "empat puluh", menandakan peringatan yang dilakukan pada hari ke-40 setelah seseorang meninggal dunia.
Tujuan dari peringatan ini adalah menyempurnakan anggota tubuh yang merupakan titipan dari kedua orang tua. Dalam kepercayaan Jawa, pada hari ke-40 ini diyakini bahwa unsur-unsur jasad seperti darah, daging, sumsum, tulang, dan otot yang merupakan titipan dari orang tua telah sempurna terurai.
Acara selamatan matangpuluh dina biasanya dihadiri oleh keluarga, tetangga, dan kerabat dekat. Mereka berkumpul untuk membaca doa bersama, tahlil, dan surat Yasin yang pahalanya dihadiahkan kepada arwah yang telah meninggal. Setelah pembacaan doa, biasanya disediakan hidangan atau berkat untuk para tamu yang hadir.
Tradisi ini memiliki makna filosofis yang mendalam dalam budaya Jawa. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada yang telah meninggal, selamatan 40 hari juga menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi antarkeluarga dan masyarakat. Melalui acara ini, keluarga yang berduka mendapat dukungan moral dan spiritual dari orang-orang terdekat.
2. Sistem Penanggalan Jawa: Hari dan Pasaran
Sebelum mempelajari cara menghitung 40 hari orang meninggal, penting untuk memahami sistem penanggalan Jawa terlebih dahulu. Masyarakat Jawa menggunakan perputaran ganda: pekan 7 hari dan pasaran 5 hari. Sistem unik inilah yang membedakan perhitungan Jawa dengan kalender Masehi.
Hari dalam penanggalan Jawa sama dengan hari dalam kalender Masehi, yaitu: Minggu (Ahad), Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat (Jum'at), dan Sabtu. Sementara itu, pasaran Jawa terdiri dari lima hari yang berputar terus-menerus, yaitu: Legi (Umanis), Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Gabungan inilah yang disebut Weton. Weton adalah kombinasi antara hari dan pasaran, misalnya Senin Legi, Jumat Kliwon, atau Sabtu Pahing. Kombinasi hari dan pasaran ini menghasilkan siklus 35 hari yang disebut selapan, karena 7 hari × 5 pasaran = 35 kombinasi unik.
Pemahaman tentang urutan hari dan pasaran sangat penting dalam menghitung selamatan orang meninggal. Urutan pasaran harus dihafalkan dengan benar: Legi - Pahing - Pon - Wage - Kliwon, kemudian kembali lagi ke Legi. Kesalahan dalam urutan ini akan menyebabkan perhitungan menjadi tidak akurat.
3. Rumus Cara Menghitung 40 Hari Orang Meninggal
Cara menghitung 40 hari orang meninggal menggunakan rumus khusus yang disebut "masarma" atau "mosarmo". Rumus menghitungnya menggunakan masarma, yaitu hari kelima dan pasaran kelima. Artinya, dari hari dan pasaran meninggal, kita menghitung 5 hari ke depan dan 5 pasaran ke depan.
Langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut:
- Tentukan hari dan pasaran meninggal - Catat dengan jelas hari dan pasaran saat seseorang meninggal dunia, misalnya Sabtu Pahing.
- Hitung hari kelima - Dari hari meninggal, hitung 5 hari ke depan. Hari meninggal dihitung sebagai hari pertama. Contoh: Sabtu (1), Minggu (2), Senin (3), Selasa (4), Rabu (5).
- Hitung pasaran kelima - Dari pasaran meninggal, hitung 5 pasaran ke depan. Pasaran meninggal dihitung sebagai pasaran pertama. Contoh: Pahing (1), Pon (2), Wage (3), Kliwon (4), Legi (5).
- Gabungkan hasil - Hasil perhitungan hari dan pasaran digabungkan menjadi weton selamatan 40 hari.
Penghitungannya dilakukan dengan mengambil satu siklus pasaran selama satu bulan, ditambah tiga hari. Misalnya, bila hari meninggal adalah Sabtu Pahing, maka selamatan matangpuluh dina jatuh pada Selasa Wage atau malam Rabu.
Perlu diperhatikan bahwa dalam tradisi Jawa, pergantian hari terjadi saat maghrib atau sekitar pukul 18.00. Jadi jika seseorang meninggal setelah maghrib, maka hari meninggalnya dihitung sebagai hari berikutnya. Hal ini penting untuk diperhatikan agar perhitungan tidak meleset.
4. Contoh Perhitungan 40 Hari Orang Meninggal
Untuk mempermudah pemahaman cara menghitung 40 hari orang meninggal, berikut beberapa contoh kasus perhitungan lengkap dengan penjelasannya:
Contoh 1: Meninggal Hari Jumat Kliwon
Pak Ahmad meninggal pada hari Jumat Kliwon. Untuk menghitung 40 harinya:
- Hari kelima: Jumat (1) → Sabtu (2) → Minggu (3) → Senin (4) → Selasa (5)
- Pasaran kelima: Kliwon (1) → Legi (2) → Pahing (3) → Pon (4) → Wage (5)
- Hasil: Selamatan 40 hari jatuh pada Selasa Wage atau malam Rabu Kliwon
Contoh 2: Meninggal Hari Senin Legi
Bu Siti meninggal pada hari Senin Legi. Perhitungan 40 harinya:
- Hari kelima: Senin (1) → Selasa (2) → Rabu (3) → Kamis (4) → Jumat (5)
- Pasaran kelima: Legi (1) → Pahing (2) → Pon (3) → Wage (4) → Kliwon (5)
- Hasil: Selamatan 40 hari jatuh pada Jumat Kliwon atau malam Sabtu Legi
Contoh 3: Meninggal Hari Rabu Pon
Pak Budi meninggal pada hari Rabu Pon. Cara menghitung 40 hari orang meninggal untuk kasus ini:
- Hari kelima: Rabu (1) → Kamis (2) → Jumat (3) → Sabtu (4) → Minggu (5)
- Pasaran kelima: Pon (1) → Wage (2) → Kliwon (3) → Legi (4) → Pahing (5)
- Hasil: Selamatan 40 hari jatuh pada Minggu Pahing atau malam Senin Pon
Dari contoh-contoh di atas, dapat dilihat bahwa cara menghitung 40 hari orang meninggal memerlukan ketelitian dalam menghitung urutan hari dan pasaran. Kesalahan sedikit saja dalam urutan dapat menyebabkan hasil yang berbeda.
5. Rangkaian Selamatan Orang Meninggal dalam Tradisi Jawa
Selamatan 40 hari merupakan bagian dari rangkaian peringatan kematian yang lebih panjang dalam tradisi Jawa. Dalam tradisi Jawa, selamatan untuk orang meninggal dilakukan beberapa kali setelah kematian, yaitu pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, mendhak (setahun), mendhak pindho (dua tahun), dan puncaknya pada hari ke-1000.
1. Geblag (Hari Pertama)
Hari ke-1 dilaksanakan pada hari itu juga tidak boleh ditunda. Geblag adalah selamatan yang dilakukan segera setelah pemakaman, biasanya pada sore atau malam hari setelah jenazah dikebumikan.
2. Nelung Dina (3 Hari)
Selamatan hari ke-3 disebut juga nelung dina. Tujuannya adalah untuk menyempurnakan nafsu pada jasad manusia yang asalnya dari air, angin, api, dan bumi. Nelung dina dilaksanakan pada hari ketiga serta pasaran yang ketiga.
3. Mitung Dina (7 Hari)
Selamatan hari ke-7 disebut metung dina. Sesuai namanya, ini dilaksanakan pada hari ketujuh. Dengan demikian, hari ke-7 jatuh pada Kamis Pahing atau malam Jumat. Tujuan metung dina adalah untuk menyempurnakan kulit serta rambut jasad.
4. Matangpuluh Dina (40 Hari)
Inilah selamatan yang menjadi fokus pembahasan artikel ini. Matangpuluh dina dihitung menggunakan rumus masarma (hari kelima dan pasaran kelima) dan bertujuan untuk menyempurnakan anggota badan yang merupakan titipan kedua orang tua.
5. Nyatus Dina (100 Hari)
Selamatan orang meninggal hari ke-100 dihitung dari bulan orang tersebut meninggal sampai 3 bulan setelahnya, kemudian ditambah 10 hari. Selamatan ini disebut juga nyetatus dina. Tujuannya untuk menyempurnakan jasad.
6. Pendhak Sepisan (1 Tahun)
Selamatan 1 tahun atau pendhak 1 bertujuan sebagai peringatan telah sempurnanya kulit daging dan semua isi perut. Cara menghitungnya menggunakan rumus patsarpa, yaitu hari keempat dan pasaran keempat. Misalnya, seseorang meninggal di bulan Sura, perhitungan dilakukan sampai 1 tahun di bulan Sura, kemudian dicocokkan hari kematiannya.
7. Pendhak Pindho (2 Tahun)
Selamatan 2 tahun atau pendhak 2 bertujuan sebagai peringatan telah sempurnanya semua anggota badan selain tulang. Rumus perhitungan untuk selamatan ini menggunakan rosarpat, yaitu hari kesatu dan pasaran ketiga.
8. Nyewu (1000 Hari)
Cara menghitung 1000 hari orang meninggal yakni dengan menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus nemsarma, yaitu hari keenam dan pasaran kelima. Nyewu merupakan peringatan terakhir dan terbesar dalam rangkaian selamatan orang meninggal.
6. Makna Filosofis Selamatan 40 Hari
Selamatan 40 hari atau matangpuluh dina memiliki makna filosofis yang mendalam dalam budaya Jawa. Angka 40 dipilih bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan kepercayaan tentang proses dekomposisi jasad manusia setelah meninggal.
Dalam kepercayaan Jawa, pada hari ke-40 setelah kematian, anggota tubuh yang merupakan titipan dari kedua orang tua seperti darah, daging, sumsum, tulang, dan otot telah sempurna terurai. Ini merupakan fase penting dalam perjalanan jasad kembali ke tanah, sesuai dengan konsep "saking siti bali siti" (dari tanah kembali ke tanah).
Peringatan 40 hari dalam hitungan hari kematian menurut primbon Jawa dianggap sebagai saat di mana roh mulai meninggalkan dunia. Ada juga kepercayaan bahwa setelah 40 hari, roh akan jarang mengunjungi rumah dan keluarganya.
Dari sisi sosial, selamatan 40 hari menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi. Keluarga yang berduka mendapat kesempatan untuk berkumpul kembali dengan kerabat dan tetangga, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Acara ini juga menjadi pengingat bagi yang masih hidup tentang kefanaan dunia dan pentingnya mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Selain itu, selamatan 40 hari juga memiliki fungsi edukatif, terutama bagi generasi muda. Melalui acara ini, nilai-nilai luhur seperti kepedulian sosial, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
7. Hukum Tahlilan dalam Islam
Terkait dengan hukum tahlilan dalam Islam, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Tahlilan adalah ritual/upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat Islam, khususnya suku Jawa yang berada di Indonesia, untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.
NU menyebutkan bahwa tahlilan bukanlah hal yang wajib dilakukan umat Islam, akan tetapi kritikan muncul terhadap lapisan bawah seperti warga NU sendiri menganggap tahlilan adalah suatu "kewajiban", sehingga hal ini dinilai memberatkan umat Islam. Namun demikian, tahlilan tetap diperbolehkan selama tidak mengandung unsur syirik dan dilakukan dengan niat yang benar.
Dapat disimpulkan bahwa Tahlilan diperbolehkan dalam Islam, sebab mayoritas ulama menegaskan kebolehan menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur'an dan kalimat thayyibah kepada mayit, sebagaimana mereka menyatakan kebolehan mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca Al-Qur'an dan kalimat thayyibah. Para ulama juga sepakat akan kebolehan bersedekah untuk mayit.
Dari perspektif hukum Islam, tahlilan dipahami sebagai 'urf shahih—kebiasaan baik yang diakui selama tidak melanggar prinsip syariat. Praktik keagamaan berbasis tradisi lokal dapat diterima jika mengandung maslahat dan tidak bertentangan dengan nash yang tegas. Tahlilan tidak diposisikan sebagai ibadah mahdhah yang mengikat, melainkan sebagai ibadah sosial yang memperkuat ikatan antarumat.
Yang terpenting dalam pelaksanaan tahlilan adalah niat yang ikhlas untuk mendoakan orang yang telah meninggal dan tidak menjadikannya sebagai beban yang memberatkan keluarga. Selamatan dapat dilakukan sesuai kemampuan masing-masing keluarga tanpa harus memaksakan diri atau berhutang.
8. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apakah cara menghitung 40 hari orang meninggal sama dengan menghitung 40 hari biasa?
Tidak sama. Cara menghitung 40 hari orang meninggal menggunakan sistem penanggalan Jawa yang menggabungkan hari dan pasaran dengan rumus masarma (hari kelima dan pasaran kelima), bukan sekadar menambahkan 40 hari dari tanggal meninggal dalam kalender Masehi.
2. Bagaimana jika seseorang meninggal setelah maghrib?
Jika seseorang meninggal setelah maghrib (sekitar pukul 18.00), maka dalam tradisi Jawa hari meninggalnya dihitung sebagai hari berikutnya. Hal ini karena pergantian hari dalam kalender Jawa dimulai saat matahari terbenam, mirip dengan kalender Hijriyah.
3. Apakah wajib melakukan selamatan 40 hari?
Selamatan 40 hari bukanlah kewajiban dalam Islam, melainkan tradisi budaya Jawa yang telah berakulturasi dengan Islam. Pelaksanaannya bersifat sunnah dan disesuaikan dengan kemampuan keluarga. Yang terpenting adalah mendoakan orang yang telah meninggal dengan ikhlas.
4. Apa yang harus disiapkan untuk selamatan 40 hari?
Persiapan selamatan 40 hari biasanya meliputi: undangan kepada keluarga dan tetangga, buku yasin untuk dibagikan, hidangan atau berkat untuk tamu, dan jika mampu dapat menyediakan nasi tumpeng atau makanan khas lainnya. Semua disesuaikan dengan kemampuan keluarga.
5. Bolehkah menggunakan kalkulator online untuk menghitung 40 hari orang meninggal?
Boleh dan sangat dianjurkan untuk memudahkan perhitungan. Saat ini banyak tersedia kalkulator selamatan online yang akurat dan dapat membantu menghitung semua tahapan selamatan dari 3 hari hingga 1000 hari. Namun, tetap disarankan untuk mengkonsultasikan hasilnya dengan sesepuh atau tokoh masyarakat setempat.
6. Apakah perhitungan 40 hari sama untuk semua daerah di Jawa?
Secara umum rumus perhitungannya sama, yaitu menggunakan masarma (hari kelima dan pasaran kelima). Namun, beberapa daerah mungkin memiliki tradisi lokal yang sedikit berbeda dalam pelaksanaannya. Sebaiknya mengikuti tradisi yang berlaku di daerah masing-masing.
7. Apa perbedaan antara selamatan 40 hari dengan selamatan lainnya?
Perbedaan utama terletak pada rumus perhitungan dan makna filosofisnya. Selamatan 40 hari menggunakan rumus masarma dan bertujuan untuk menyempurnakan anggota badan yang merupakan titipan orang tua. Sementara selamatan lain seperti 7 hari, 100 hari, atau 1000 hari memiliki rumus dan makna filosofis yang berbeda-beda sesuai dengan tahapan perjalanan roh dan jasad.
(kpl/mda)
Advertisement