Cara Menghitung Selamatan Orang Meninggal dalam Tradisi Jawa

Cara Menghitung Selamatan Orang Meninggal dalam Tradisi Jawa
cara menghitung selamatan orang meninggal (h)

Kapanlagi.com - Tradisi selamatan untuk orang yang meninggal dunia merupakan bagian penting dalam budaya masyarakat Jawa. Perhitungan hari selamatan memerlukan pemahaman khusus tentang sistem penanggalan Jawa yang berbeda dengan kalender Masehi. Cara menghitung selamatan orang meninggal menggunakan kombinasi hari dan pasaran yang memiliki rumus tersendiri.

Masyarakat Jawa memiliki ritual selamatan untuk orang meninggal dunia yang dimulai sejak hari kematian hingga 1000 hari, yang ditujukan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dunia. Selamatan orang meninggal biasanya diisi dengan tahlilan, tradisi Islam yang dilakukan untuk mendoakan orang yang meninggal.

Selamatan merupakan akulturasi dari ajaran Islam dan budaya yang ada di tanah Jawa, yaitu sebuah tradisi ritual sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah dari Sang Maha Kuasa atas nikmat yang diberikan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Memahami cara menghitung selamatan orang meninggal sangat penting agar pelaksanaan ritual dapat dilakukan pada waktu yang tepat sesuai tradisi.

1. Pengertian Selamatan Orang Meninggal

Selamatan orang meninggal adalah sebuah upacara berupa hadirnya pihak keluarga maupun kerabat dari orang yang sudah tiada, bukan sebuah peristiwa untuk menghaturkan ucapan selamat, melainkan sebuah acara untuk mendoakan orang yang sudah tiada. Di dalam budaya umat muslim, acara ini berisi kegiatan tahlilan yang identik dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dari buku yasin orang meninggal maupun berzikir.

Istilah selamatan berasal dari bahasa Arab "salamah" yang memiliki arti selamat atau bahagia, dan tradisi ini masih dilestarikan masyarakat Jawa sebagai upacara adat Jawa sebagai wujud rasa syukur atas anugerah dan karunia Tuhan. Selamatan dilakukan dengan mengundang kerabat dan tetangga untuk berdoa bersama.

Selamatan orang meninggal dalam tradisi masyarakat Jawa digunakan sebagai sarana untuk mengirim doa, dimana keluarga yang ditinggalkan meyakini bahwa selamatan ini dapat meringankan dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh orang tersebut selama hidupnya. Tujuan utama adalah agar pahala dari doa dan sedekah dapat sampai kepada almarhum.

2. Sistem Penanggalan Jawa untuk Menghitung Selamatan

Keunikan utama ada pada sistem waktu, dimana berbeda dengan kalender internasional, masyarakat Jawa menggunakan perputaran ganda yaitu pekan 7 hari dan pasaran 5 hari, dan gabungan inilah yang disebut Weton. Memahami sistem ini adalah kunci untuk mengetahui cara menghitung selamatan orang meninggal dengan benar.

Dalam penanggalan Jawa dikenal dua jenis siklus hari, kombinasi keduanya membentuk 35 kombinasi hari-pasaran (weton), dan dalam budaya Jawa siklus 35 hari ini disebut dengan 'selapan', dimana kombinasi ini berulang terus setiap 35 hari. Sistem ini menjadi dasar perhitungan semua selamatan.

Hari dalam penanggalan Jawa sama dengan hari biasa yaitu Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu (7 hari). Sedangkan pasaran terdiri dari 5 hari yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Kombinasi hari dan pasaran inilah yang digunakan dalam cara menghitung selamatan orang meninggal.

Menghitung hari kematian menggunakan rumus leluhur yang disebut "Neptu", rumus ini memadukan nilai hari dan nilai pasaran. Setiap tahapan selamatan memiliki rumus perhitungan yang berbeda-beda.

3. Rangkaian Selamatan Orang Meninggal

Rangkaian lengkap peringatan hari kematian dalam tradisi Jawa meliputi Geblag (selamatan yang dilakukan segera setelah pemakaman), Nelung Dina (peringatan 3 hari setelah kematian), Mitung Dina (peringatan 7 hari setelah kematian), Matang Puluh (peringatan 40 hari setelah kematian), Nyatus (peringatan 100 hari setelah kematian), Mendak Sepisan (peringatan 1 tahun setelah kematian), Mendak Pindho (peringatan 2 tahun setelah kematian), dan Nyewu (peringatan 1000 hari setelah kematian).

Setiap peringatan biasanya diisi dengan kegiatan doa bersama, pembacaan tahlil, dan pemberian sedekah kepada para tetangga dan kerabat yang hadir, namun tidak semua keluarga melaksanakan seluruh rangkaian peringatan ini, ada yang hanya melakukan beberapa tahap saja tergantung pada kemampuan dan keyakinan masing-masing keluarga.

Setiap tahapan memiliki makna filosofis tersendiri dalam kepercayaan Jawa. Pemahaman tentang cara menghitung selamatan orang meninggal untuk setiap tahapan sangat penting agar ritual dapat dilaksanakan pada waktu yang tepat.

4. Cara Menghitung Selamatan 3 Hari (Nelung Dina)

Dalam adat Jawa, selamatan hari ke-3 dikenal dengan sebutan nelung dina, upacara ini dilakukan untuk menyempurnakan unsur nafsu yang terdapat dalam jasad manusia yaitu air, angin, api, dan tanah, dengan perhitungan berdasarkan hari ketiga dan pasaran ketiga dari hari wafat.

Nelung dina adalah selamatan setelah tiga hari kematian, cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus lusarlu yaitu hari ketiga dan pasaran ketiga, dengan tujuan untuk menyempurnakan nafsu dalam jasad manusia yang berasal dari bumi, api, air, dan angin.

Misalnya jika seseorang meninggal pada Kamis Legi, maka perhitungan nelung dina jatuh pada Sabtu Kliwon, dan selamatan ini diyakini sebagai wujud penghormatan awal terhadap ruh dan jasad yang ditinggalkan. Cara menghitung selamatan orang meninggal untuk 3 hari ini relatif mudah dipahami.

Telung dina adalah acara selamatan yang dilakukan pada hari ke-3 setelah kematian seseorang, dan mayoritas selamatan ini dilakukan pada malam hari antara setelah maghrib atau isya. Keluarga biasanya sudah mempersiapkan segala keperluan selamatan sejak pagi hari.

5. Cara Menghitung Selamatan 7 Hari (Mitung Dina)

Selamatan hari ke-7 disebut metung dina dan tujuannya adalah untuk menyempurnakan bagian luar jasad seperti kulit dan rambut, tradisi ini dilakukan tepat tujuh hari sejak hari wafat termasuk hari meninggal sebagai hari pertama, jadi jika seseorang meninggal pada Sabtu Pahing maka hari ke-7 jatuh pada Kamis Pahing atau malam Jumat, dan momentum ini juga digunakan untuk mendoakan agar ruh diberi ketenangan dan dihindarkan dari siksa kubur.

Mitung dina adalah selamatan setelah tujuh hari kematian, cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus tusaro yaitu hari ketujuh dan pasaran kedua, dengan tujuan untuk menyempurnakan kulit dan rambut. Rumus ini menjadi kunci dalam cara menghitung selamatan orang meninggal untuk 7 hari.

Agar dapat menentukan tanggal mitung dina, Anda bisa menggunakan sistem rumus tusaro (hari ketujuh dan hari pasaran kedua). Contohnya, jika meninggal pada Senin Legi, maka 7 harinya jatuh pada Minggu Paing.

Beberapa daerah di Jawa melakukan selamatan ini selama seminggu hingga selamatan tujuh hari, orang Jawa menyebutnya selamatan atau tahlil pitung dinoan, dalam bahasa Indonesia artinya tahlil tujuh harian. Acara ini biasanya dihadiri oleh keluarga besar dan tetangga sekitar.

6. Cara Menghitung Selamatan 40 Hari, 100 Hari, dan Seterusnya

Selamatan 40 Hari (Matang Puluh)

Pada prosesi ini seseorang yang sudah meninggal akan didoakan lagi lewat ritual atau tradisi matang puluh dina, "Patang puluh" yang artinya "empat puluh" menandakan hari dari prosesi yakni 40 hari setelah hari meninggalnya seseorang, meski begitu perhitungan selamatan orang wafat menggunakan penanggalan Jawa tidak benar-benar menggambarkan 40 hari dan kadang bisa lebih atau kurang, pasalnya cara menghitung hari dari matang puluh dina ini adalah dengan menggunakan rumus masarma (hari kelima dan pasaran kelima).

Matangpuluh dina adalah selamatan setelah 40 hari kematian, cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus masarma yaitu hari kelima dan pasaran kelima. Ini adalah salah satu tahapan penting dalam cara menghitung selamatan orang meninggal.

Selamatan 100 Hari (Nyatus)

Nyatus dina adalah selamatan setelah 100 hari kematian, cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus perhitungan rosarma yaitu hari kedua dan pasaran kelima, dengan tujuan untuk menyempurnakan badan atau jasadnya. Cara menghitung selamatan orang meninggal untuk 100 hari menggunakan rumus yang berbeda dari sebelumnya.

Selamatan orang meninggal hari ke-100 dihitung dari bulan orang tersebut meninggal sampai 3 bulan setelahnya kemudian ditambah 10 hari, selamatan ini disebut juga nyetatus dina, dengan tujuannya untuk menyempurnakan jasad. Perhitungan ini memerlukan ketelitian dalam mencocokkan hari dan pasaran.

Selamatan 1 Tahun (Pendhak Pisan)

Medhak sepisan adalah selamatan setelah satu tahun kematian, cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus patsarpat yaitu hari keempat dan pasaran keempat, dengan tujuannya adalah peringatan telah sempurnanya kulit daging dan semua isi perut. Satu tahun dalam kalender Jawa adalah 354-355 hari.

Selamatan 2 Tahun (Pendhak Pindho)

Selamatan dua tahun atau pendhak loro dilaksanakan sebagai bentuk penyempurnaan seluruh anggota badan kecuali tulang, perhitungannya dilakukan dengan rumus rosarpat yaitu hari pertama dan pasaran ketiga dari hari meninggal, satu tahun dalam penanggalan Jawa adalah 354 hari sehingga dua tahun dihitung selama 708 hari, pada hari itulah keluarga kembali melaksanakan doa bersama untuk menyempurnakan penghormatan terakhir secara adat kepada orang yang telah meninggal.

7. Cara Menghitung Selamatan 1000 Hari (Nyewu)

Cara menghitung 1000 hari orang meninggal yakni dengan menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus nemsarma yaitu hari keenam dan pasaran kelima. Ini adalah perhitungan terakhir dan paling penting dalam cara menghitung selamatan orang meninggal.

Tantangan terbesar biasanya adalah menghitung Nyewu (1000 hari), rumus yang digunakan adalah "Nemsarm" (Dina Enem, Pasaran Lima), artinya selamatan 1000 hari jatuh pada hari ke-6 dan pasaran ke-5 dari hari wafat. Pemahaman rumus ini sangat penting untuk ketepatan perhitungan.

Contoh: Dihitung 35 bulan dimulai dari bulan meninggalnya si mayit, misal meninggalnya di bulan Sura sampai 35 bulan lalu dicocokkan hari meninggalnya, jika meninggalnya hari Sabtu Pahing dihitung 6 hari 5 pasaran maka 1000 harinya jatuh pada hari Rabu Legi malam Kamis, namun kalau meninggalnya di tanggal 1, 2, 3 pada bulan Jawa yang memiliki 30 hari hitungannya beda lagi yaitu dihitung 34 bulan.

1000 harian orang meninggal atau dikenal sebagai nyewu adalah selamatan terakhir dalam rangkaian tradisi kematian masyarakat Jawa, perhitungannya dilakukan sejak hari wafat dengan menambahkan 1000 hari ke depan, karena kalender Jawa bersifat lunar seperti Hijriah maka 1000 hari kurang lebih setara dengan 2 tahun 9 bulan 10 hari.

Selamatan nyewu dipercaya sebagai puncak masa transisi ruh menuju alam baka, dalam kepercayaan Jawa setelah 1000 hari ruh dianggap telah mencapai ketenangan sepenuhnya, oleh karena itu acara ini umumnya diadakan lebih besar dari selamatan lainnya sebagai bentuk penghormatan dan doa terakhir dari keluarga, dan perhitungan yang tepat diyakini membawa keberkahan baik bagi almarhum maupun keluarga yang ditinggalkan.

8. Contoh Praktis Perhitungan Selamatan

Untuk memudahkan pemahaman cara menghitung selamatan orang meninggal, berikut contoh lengkap perhitungan. Misalkan seseorang meninggal pada hari Jumat Kliwon tanggal 15 Januari 2024.

Perhitungan Selamatan:

  1. Geblag (Hari ke-1): Jumat Kliwon (hari meninggal, rumus jisarji - hari pertama pasaran pertama)
  2. Nelung Dina (3 hari): Minggu Pahing (rumus lusarlu - hari ketiga pasaran ketiga: Jumat-Sabtu-Minggu, Kliwon-Legi-Pahing)
  3. Mitung Dina (7 hari): Kamis Legi (rumus tusaro - hari ketujuh pasaran kedua: 7 hari dari Jumat = Kamis, 2 pasaran dari Kliwon = Legi)
  4. Matang Puluh (40 hari): Selasa Kliwon (rumus masarma - hari kelima pasaran kelima)
  5. Nyatus (100 hari): Sabtu Kliwon (rumus rosarma - hari kedua pasaran kelima)
  6. Pendhak Pisan (1 tahun): Senin Wage (rumus patsarpat - hari keempat pasaran keempat, dihitung 1 tahun Jawa = 354 hari)
  7. Pendhak Pindho (2 tahun): Minggu Pahing (rumus rosarpat - hari pertama pasaran ketiga, dihitung 2 tahun Jawa = 708 hari)
  8. Nyewu (1000 hari): Rabu Wage (rumus nemsarma - hari keenam pasaran kelima, dihitung 35 bulan dari bulan meninggal)

Urutan hari ini penting untuk Anda pahami karena berkaitan dengan rumus-rumus menghitung selamatan orang wafat yang sudah ada, sebagai contoh sebuah pelayanan pemakaman menguburkan jenazah pada hari Senin Legi, prosesi mitung dina dengan rumus tusaro (hari ketujuh dan hari pasaran kedua) memiliki arti bahwa perhitungan dilakukan 7 hari biasa setelah hari meninggal.

Perhitungan ini menunjukkan betapa pentingnya memahami sistem penanggalan Jawa dalam cara menghitung selamatan orang meninggal. Setiap rumus memiliki logika tersendiri yang telah diwariskan turun-temurun.

9. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apa itu selamatan orang meninggal?

Selamatan orang meninggal adalah tradisi dalam budaya Jawa berupa upacara doa bersama untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Acara ini diisi dengan tahlilan, pembacaan surat Yasin, dan pemberian sedekah kepada yang hadir. Tujuannya agar pahala sampai kepada almarhum dan keluarga mendapat kekuatan.

2. Berapa kali selamatan orang meninggal dilakukan?

Dalam tradisi Jawa lengkap, selamatan dilakukan 8 kali yaitu geblag (hari meninggal), 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun, dan 1000 hari. Namun tidak semua keluarga melaksanakan seluruh rangkaian ini, tergantung kemampuan dan keyakinan masing-masing.

3. Bagaimana cara menghitung selamatan orang meninggal yang benar?

Cara menghitung selamatan orang meninggal menggunakan sistem penanggalan Jawa yang menggabungkan hari (7 hari) dan pasaran (5 hari). Setiap tahapan selamatan memiliki rumus tersendiri, misalnya 3 hari menggunakan rumus lusarlu (hari ketiga pasaran ketiga), 7 hari menggunakan tusaro (hari ketujuh pasaran kedua), dan seterusnya.

4. Apa itu pasaran dalam penanggalan Jawa?

Pasaran adalah siklus 5 hari dalam penanggalan Jawa yang terdiri dari Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Pasaran ini dikombinasikan dengan hari biasa (Minggu-Sabtu) membentuk weton yang berulang setiap 35 hari. Sistem ini menjadi dasar perhitungan semua selamatan orang meninggal.

5. Bagaimana rumus menghitung selamatan 1000 hari?

Rumus menghitung selamatan 1000 hari atau nyewu adalah nemsarma, yaitu hari keenam dan pasaran kelima dari hari meninggal. Perhitungannya dihitung 35 bulan dari bulan meninggal, kemudian dicocokkan dengan hari dan pasaran. Misalnya meninggal Sabtu Pahing, maka 1000 harinya jatuh pada Rabu Legi.

6. Apakah selamatan orang meninggal wajib dilakukan?

Selamatan orang meninggal bukan kewajiban dalam Islam, melainkan tradisi budaya Jawa yang telah berakulturasi dengan nilai-nilai Islam. Esensinya adalah mendoakan almarhum dan bersedekah, yang merupakan amalan baik dalam Islam. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan keyakinan masing-masing keluarga.

7. Apa perbedaan kalender Jawa dengan kalender Masehi dalam perhitungan selamatan?

Kalender Jawa memiliki 354-355 hari dalam setahun, sedangkan kalender Masehi 365-366 hari. Kalender Jawa menggunakan sistem lunar seperti Hijriah dengan tambahan pasaran 5 hari. Perbedaan ini membuat perhitungan selamatan tidak bisa langsung menggunakan tanggal kalender Masehi, melainkan harus mengikuti sistem hari dan pasaran Jawa.

(kpl/fed)

Rekomendasi
Trending