Cara Merawat Kura-Kura Brazil yang Benar agar Sehat dan Berumur Panjang

Cara Merawat Kura-Kura Brazil yang Benar agar Sehat dan Berumur Panjang
cara merawat kura-kura brazil (h)

Kapanlagi.com - Kura-kura brazil atau red-eared slider (Trachemys scripta elegans) adalah salah satu reptil peliharaan paling populer di Indonesia. Cara merawat kura-kura brazil yang benar perlu dipahami sejak awal, karena perawatannya tidaklah mudah atau murah dan membutuhkan banyak persiapan serta pemeliharaan berkelanjutan.

Kura-kura brazil bisa hidup selama puluhan tahun, bahkan antara 30 hingga 77 tahun jika dirawat dengan benar. Memahami cara merawat kura-kura brazil sejak dini menjadi langkah penting agar hewan peliharaan ini tumbuh sehat dan aktif di lingkungan rumah.

Kura-kura brazil adalah reptil diurnal dan semi-akuatik air tawar yang berasal dari wilayah Amerika Serikat, menghuni kolam, danau, rawa, sungai, dan perairan tenang lainnya. Sebagai hewan semi-akuatik, mereka membutuhkan banyak air di habitatnya sekaligus area kering untuk berjemur. Mariah Healey, peneliti perawatan reptil profesional, dikutip dari ReptiFiles menyatakan, "Perawatan kura-kura brazil tidaklah mudah atau murah—mereka membutuhkan banyak persiapan dan pemeliharaan berkelanjutan untuk dipelihara dengan sukses."

1. 1. Cara Menyiapkan Habitat dan Akuarium Kura-Kura Brazil

(c)Ilustrasi AILangkah pertama dalam cara merawat kura-kura brazil adalah menyiapkan habitat yang tepat. Lingkungan yang tidak sesuai dan nutrisi yang buruk merupakan penyebab paling umum masalah kesehatan pada reptil. Maka, persiapan akuarium harus dilakukan secara cermat sebelum membawa kura-kura pulang ke rumah.

Dilansir dari VCA Animal Hospitals, kura-kura akuatik sebaiknya dipelihara dalam akuarium yang sebesar mungkin, dan seiring pertumbuhannya, kebutuhan akan kandang yang lebih besar juga meningkat sehingga lebih baik memulai dari tangki besar sejak awal.

  1. Tentukan ukuran akuarium yang sesuai: Aturan umum untuk ukuran akuarium adalah 10 galon air per inci panjang karapas (bagian atas cangkang kura-kura). Untuk kura-kura dewasa dengan panjang cangkang 25–30 cm, siapkan akuarium berkapasitas minimal 100–150 liter. Semakin besar akuarium, semakin baik kualitas hidup kura-kura.

  2. Bagi area air dan daratan: Kura-kura brazil membutuhkan banyak air untuk berenang sekaligus area kering untuk berjemur, seperti batu, kayu, atau permukaan lain di atas air. Idealnya, sekitar dua per tiga area untuk berenang dan sepertiga untuk basking atau berjemur.

  3. Atur kedalaman air dengan tepat: Kedalaman air minimal dalam habitat kura-kura brazil adalah dua kali panjang cangkangnya, sehingga jika cangkang sepanjang 18 cm maka air minimal sedalam 36 cm agar kura-kura mampu membalikkan tubuhnya dengan aman di dalam air.

  4. Pasang sistem filtrasi yang kuat: Kura-kura brazil sering mengalami masalah dalam penangkaran karena tidak memiliki sistem filtrasi yang memadai, sehingga sangat penting untuk menyediakan filter air atau siap mengganti air secara mingguan. Gunakan filter canister atau filter eksternal yang mampu menyaring minimal dua kali volume air akuarium.

  5. Pilih substrat yang aman: Jika menggunakan batu, pastikan permukaannya halus dan berukuran terlalu besar untuk ditelan, karena kura-kura diketahui bisa menelan batu kecil yang menyebabkan peradangan usus serius. Hindari pasir atau kerikil kecil karena sering tertelan dan menyebabkan penyumbatan saluran pencernaan.

  6. Sediakan platform basking yang kokoh: Platform basking yang berada di atas garis air sangat penting, dan harus memungkinkan kura-kura dengan mudah naik dari air atau berpegangan di tepinya. Kulit kayu, kayu apung, dan batu yang disusun kokoh menjadi pilihan tepat.

Baca juga: Cara Menggunakan Bakteri Starter untuk Akuarium

2. 2. Cara Mengatur Pencahayaan UVB dan Suhu yang Tepat

(c)Ilustrasi AISalah satu aspek krusial dalam cara merawat kura-kura brazil adalah menyediakan pencahayaan dan suhu yang sesuai. Kura-kura bersifat ektoterm, artinya suhu tubuhnya diatur oleh suhu lingkungan, dan suhu lingkungan memengaruhi tingkat aktivitas serta fungsi sistem imun dan kemampuan mencerna makanan.

  1. Pasang lampu UVB berkualitas: Sumber UVB terbaik adalah sinar matahari langsung, tetapi jika kura-kura dipelihara di dalam ruangan maka diperlukan lampu khusus. Perlu diperhatikan bahwa sebagian besar lampu UVB hanya memancarkan UVB selama kurang lebih 6 bulan meskipun cahaya fluoresen tetap terlihat menyala. Ganti lampu UVB secara berkala sesuai rekomendasi pabrik.

  2. Pastikan UVB tidak terhalang kaca: Sinar UVB tidak dapat menembus kaca atau plastik, dan lampu harus berada dalam jarak sekitar 45 cm dari area basking kura-kura. Jika ingin menjemur secara alami, bawa kura-kura keluar ruangan agar mendapat sinar matahari langsung selama 30–60 menit pada pagi hari.

  3. Atur suhu air secara konsisten: Suhu air ideal untuk kura-kura brazil berkisar 24–27°C. Pastikan air dihangatkan terlebih dahulu sebelum memasukkan kura-kura kembali ke tangki yang baru dibersihkan, karena perubahan suhu air yang mendadak dapat memengaruhi fungsi sistem imun dan kemampuan mencerna makanan serta memicu penyakit.

  4. Jaga suhu area basking: Area basking perlu memiliki suhu antara 32–35°C untuk mendukung proses termoregulasi. Lampu pemanas bisa digunakan untuk menghangatkan area basking, namun harus diletakkan sedemikian rupa agar kura-kura tidak bisa menjangkaunya secara langsung.

  5. Atur siklus pencahayaan harian: Untuk mencegah kura-kura mencoba brumasi di dalam akuarium, lampu harus dinyalakan selama 12–14 jam per hari dan suhu air harus dijaga antara 24–27°C. Gunakan timer otomatis untuk memudahkan pengaturan jadwal pencahayaan.

Baca juga: Jenis Tanaman Aquascape untuk Dekorasi Akuarium

3. 3. Cara Memberikan Pakan dan Nutrisi Seimbang untuk Kura-Kura Brazil

(c)Ilustrasi AIAspek penting berikutnya dalam cara merawat kura-kura brazil adalah memahami kebutuhan nutrisinya. Red-eared slider terkenal sebagai pemakan yang lahap dan diklasifikasikan sebagai omnivora, memakan protein hewani maupun nabati. Saat masih muda, mereka lebih banyak memakan protein hewani dan menjadi lebih omnivora seiring bertambahnya usia.

Mengutip PetSmart, red-eared slider terkenal sebagai pemakan yang sangat berantakan, sehingga kamu bisa mempertimbangkan untuk membuat area pemberian makan terpisah atau bahkan tangki terpisah agar kotoran tidak menumpuk di akuarium utama.

  1. Sediakan pelet berkualitas sebagai pakan utama: Pakan komersial memang umum dan praktis, tetapi sebaiknya hanya menjadi 25% dari total diet kura-kura. Pilih pelet kura-kura dari merek yang direkomendasikan dokter hewan agar nutrisi dasar terpenuhi.

  2. Berikan protein hewani secara bervariasi: Cacing tanah, siput, kumbang, belalang, ngengat, jangkrik, ulat hongkong, ulat lilin, dan serangga lainnya menyediakan kandungan nutrisi yang baik. Untuk pakan hidup seperti jangkrik, pastikan ukurannya sesuai dengan mulut kura-kura.

  3. Perbanyak sayuran untuk kura-kura dewasa: Sekitar 60% dari total pakan kura-kura dewasa sebaiknya berupa sayuran segar, seperti selada, sawi hijau, pucuk wortel, dan buah-buahan. Kangkung dan bayam juga bisa diberikan, namun bayam sebaiknya dalam porsi sedikit karena mengandung oksalat.

  4. Terapkan teknik gut-loading serangga pakan: Penting untuk melakukan gut-loading pada serangga dan ikan pakan, yaitu memberi mereka diet berkualitas tinggi selama 24–48 jam sebelum diberikan kepada kura-kura agar mendukung kesehatan hewan peliharaan.

  5. Tambahkan suplemen kalsium dan vitamin: Kura-kura brazil bisa diberi kombinasi pelet komersial, ikan kecil, dan aneka sayuran, tetapi juga harus menerima suplemen kalsium dan multivitamin. Tulang sotong (cuttlebone) bisa diletakkan di akuarium sebagai sumber kalsium tambahan.

  6. Sesuaikan jadwal makan dengan usia: Kura-kura muda menikmati pakan setiap hari, sedangkan kura-kura dewasa hanya perlu makan setiap 2–3 hari. Hindari overfeeding karena dapat menyebabkan obesitas dan masalah cangkang.

  7. Hindari makanan berbahaya: Pemberian ikan dan amfibi liar tidak direkomendasikan karena dapat mengandung parasit dan organisme menular. Daging mentah dari toko bahan makanan juga tidak disarankan karena tidak memiliki keseimbangan kalsium dan fosfor yang baik. Makanan olahan seperti hotdog, daging deli, dan roti tidak boleh diberikan kepada kura-kura.

Baca juga: Budidaya Maggot sebagai Pakan Alternatif Hewan Peliharaan

4. 4. Cara Menjaga Kebersihan Habitat dan Mencegah Penyakit

(c)Ilustrasi AIMenjaga kebersihan lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari cara merawat kura-kura brazil yang benar. Josh Halter, dikutip dari The Bio Dude menyatakan, "Perawatan red-eared slider tergolong sulit dan sangat mahal jika diatur dengan benar, dan kura-kura dewasa idealnya membutuhkan kolam luar ruangan." Merawat kura-kura brazil memang harus mencakup perhatian harian terhadap sanitasi.

  1. Ganti air secara rutin: Ganti 50% air setiap minggu, dan penggantian lebih besar (75–90%) mungkin diperlukan untuk menjaga kualitas air yang memadai. Gunakan water conditioner setiap kali mengganti air untuk menetralkan klorin.

  2. Bersihkan sisa makanan dan kotoran setiap hari: Sisa makanan yang tidak dimakan dan kotoran harus dibersihkan setiap hari. Penumpukan limbah di dalam akuarium akan mempercepat pertumbuhan bakteri patogen yang berbahaya.

  3. Pantau parameter kualitas air: Uji kualitas air setiap minggu untuk melacak parameter dan memastikan kondisi air tetap prima. Periksa kadar amonia, nitrit, dan nitrat secara berkala menggunakan test kit akuarium.

  4. Sikat cangkang kura-kura secara berkala: Gunakan sikat gigi berbulu lembut untuk membersihkan cangkang dari lumut dan kotoran yang menempel minimal dua minggu sekali. Lakukan dengan hati-hati karena terdapat ujung saraf pada cangkang kura-kura.

  5. Karantina kura-kura baru: Untuk melindungi kura-kura yang sudah ada, karantina kura-kura baru selama 30 hari di wadah terpisah yang sudah di-cycling. Hal ini mencegah penyebaran penyakit ke penghuni lama akuarium.

  6. Cuci tangan setelah menangani kura-kura: Saat merawat kura-kura brazil, sangat penting untuk selalu mencuci tangan setelah memegangnya karena mereka dapat membawa bakteri Salmonella yang berisiko bagi anak kecil, lansia, ibu hamil, dan individu dengan daya tahan tubuh lemah.

  7. Bawa ke dokter hewan secara berkala: Seperti semua hewan peliharaan, kura-kura akuatik sebaiknya diperiksa minimal setahun sekali dan diperiksa fesesnya untuk parasit pada setiap kunjungan. Segera bawa ke dokter hewan jika muncul tanda-tanda sakit seperti mata bengkak, berenang miring, atau cangkang yang berubah warna.

Baca juga: Cara Mengurus Hamster untuk Pemula

5. Mengenali Tanda-Tanda Penyakit dan Tips Interaksi dengan Kura-Kura Brazil

(c)Ilustrasi AIMemahami tanda-tanda penyakit adalah bagian penting dari cara merawat kura-kura brazil secara menyeluruh. Kondisi umum pada kura-kura akuatik peliharaan meliputi penyakit tulang metabolik, defisiensi vitamin A, penyakit pernapasan, abses, infeksi cangkang, fraktur cangkang, dan parasit.

Sebagaimana dikutip dari VCA Animal Hospitals, penyakit tulang metabolik (MBD) terjadi akibat ketidakseimbangan kalsium dan fosfor karena pola makan yang tidak tepat, kurangnya sinar UV, atau kombinasi keduanya. Tanda MBD pada kura-kura akuatik biasanya berupa cangkang cacat atau tulang bengkok pada kaki, dan kura-kura yang terkena akan tumbuh lambat serta tidak pernah mencapai ukuran dewasa penuh.

Berikut adalah daftar penyakit umum beserta gejalanya yang perlu diwaspadai:

  • Metabolic Bone Disease (MBD): Ditandai cangkang lunak, rahang bengkak, dan kelemahan pada kaki. Penyebab utamanya adalah kurangnya paparan UVB dan defisiensi kalsium. Pencegahan terbaik adalah memastikan lampu UVB berfungsi dengan baik dan memberikan suplemen kalsium secara rutin.

  • Infeksi pernapasan: Pada kura-kura, sebagian besar infeksi saluran pernapasan disebabkan oleh bakteri dan sering kali merupakan masalah sekunder dari defisiensi vitamin A. Kura-kura akuatik juga rentan terkena infeksi pernapasan jika tangkinya tidak memiliki filtrasi air yang memadai. Gejalanya meliputi bernapas melalui mulut, lendir dari hidung, dan berenang miring.

  • Infeksi cangkang (shell rot): Infeksi cangkang sering terjadi pada kura-kura dan disebabkan oleh bakteri, jamur, atau parasit, biasanya sekunder akibat trauma, luka bakar, atau gigitan. Beberapa infeksi dapat menembus jauh ke dalam lapisan cangkang dan menyebabkan ulkus serta kerusakan tulang di bawahnya.

  • Defisiensi vitamin A: Defisiensi vitamin A terjadi ketika kura-kura diberi diet yang tidak tepat, terutama yang hanya diberi selada iceberg, diet daging saja, atau pakan komersial berkualitas rendah. Gejalanya meliputi hilangnya nafsu makan, lesu, pembengkakan kelopak mata, pembengkakan telinga, gagal ginjal, dan infeksi pernapasan kronis.

  • Batu kandung kemih (cystic calculi): Batu kandung kemih terjadi ketika mineral dari pakan membentuk kristal dalam urin yang kemudian saling menempel dan membentuk batu. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh nutrisi yang tidak tepat dan/atau dehidrasi, dengan gejala berupa darah dalam kotoran atau mengejan saat buang air.

  • Parasit internal dan eksternal: Parasit saluran pencernaan seperti cacing gelang dan protozoa umum ditemukan pada kura-kura peliharaan. Dalam banyak kasus, infeksi parasit tidak menimbulkan gejala klinis namun dapat terdeteksi melalui pemeriksaan feses rutin oleh dokter hewan.

Selain memahami penyakit, penting juga untuk mengetahui cara berinteraksi yang tepat. Kegiatan pengayaan (enrichment) merupakan cara baik untuk menjalin ikatan dengan kura-kura dan meningkatkan kualitas hidupnya, namun memelihara beberapa kura-kura sekaligus bisa memicu perilaku bullying dan sebaiknya dihindari jika tidak memiliki kolam besar.

Saat harus mengangkat kura-kura, raih dari bawah dengan telapak tangan daripada mencengkeram dari atas agar kura-kura tidak panik. Pegang cangkang dengan kedua tangan dan sangga tubuh beserta kakinya. Jaga pegangan yang kuat namun lembut—jatuh dapat menyebabkan kerusakan serius pada kura-kura dan bahkan bisa berakibat fatal. Anak-anak di bawah usia 5 tahun sebaiknya tidak diizinkan memegang kura-kura, bahkan saat diawasi.

Perlu diketahui bahwa kura-kura brazil terdaftar dalam 100 spesies invasif terburuk di dunia oleh IUCN. Jangan pernah melepaskan kura-kura brazil ke alam liar karena dapat merusak ekosistem lokal. Jika berencana memelihara kura-kura brazil, sangat dianjurkan untuk mengadopsi dari tempat penampungan atau pemilik sebelumnya karena sudah banyak kura-kura yang ditinggalkan dan membutuhkan rumah tetap, dan dengan mengadopsi kamu turut mengurangi pembiakan dan penjualan kura-kura yang tidak diinginkan.

Baca juga: 10 Hewan Liar Paling Bersahabat di Dunia

Mengenai fenomena brumasi, kura-kura brazil hampir sepenuhnya akuatik dan sebagai hewan berdarah dingin mereka keluar dari air untuk berjemur guna mengatur suhu tubuh. Kura-kura brazil tidak berhibernasi tetapi mengalami brumasi, di mana mereka menjadi kurang aktif namun sesekali naik ke permukaan untuk makan atau mengambil udara, dan brumasi dapat terjadi dalam berbagai derajat. Kura-kura brazil yang dipelihara di dalam ruangan sebaiknya tidak melakukan brumasi.

Baca juga: Jenis Hewan Peliharaan yang Aman di Indonesia

Khusus di Indonesia yang beriklim tropis, beberapa tips tambahan perlu diperhatikan. Saat musim hujan, suhu air bisa turun drastis sehingga water heater mungkin diperlukan dan lampu UVB menjadi lebih penting karena sinar matahari jarang. Saat musim kemarau, air akan menguap lebih cepat sehingga perlu ditambah lebih sering dan suhu harus dipantau agar tidak kepanasan. Manfaatkan pagi hari untuk menjemur kura-kura secara langsung di bawah sinar matahari antara pukul 08.00–10.00.

Sumber pakan lokal yang murah dan mudah didapat antara lain ikan cere dari pasar, kangkung yang kaya serat, jangkrik dari peternak lokal, serta cacing tanah yang bisa dicari sendiri. Variasi pakan lokal ini justru lebih baik secara nutrisi dibandingkan hanya mengandalkan pelet komersial.

Pemilik juga perlu memahami perbedaan antara kura-kura jantan dan betina untuk memberikan perawatan yang sesuai. Kura-kura jantan lebih kecil dibandingkan betina namun memiliki ekor dan kuku yang lebih panjang. Kura-kura betina yang telah dewasa bisa bertelur meskipun tanpa kehadiran jantan, dan membutuhkan area khusus untuk proses bertelur.

Memelihara kura-kura brazil adalah komitmen jangka panjang yang membutuhkan dedikasi serius. Memberi makan ikan hidup juga dapat memberikan stimulasi mental dan latihan yang dibutuhkan kura-kura karena tantangan mengejar dan menangkap makanannya sendiri. Dengan menerapkan seluruh langkah cara merawat kura-kura brazil di atas secara konsisten, hewan peliharaan ini bisa menjadi sahabat setia yang menemani selama puluhan tahun.

Baca juga: Panduan Merawat dan Menjual Ikan Hias

6. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kura-Kura Brazil

Apakah kura-kura brazil bisa dipelihara tanpa air?

Tidak, kura-kura brazil adalah hewan semi-akuatik yang sangat membutuhkan air untuk berenang, makan, dan menjaga hidrasi tubuhnya. Semua kura-kura akuatik makan dan menelan dengan kepala terendam di dalam air dan tidak akan makan di luar air. Pastikan selalu menyediakan area air yang cukup dalam bersama area kering untuk berjemur.

Berapa lama kura-kura brazil bisa bertahan tanpa makan?

Kura-kura brazil dewasa yang sehat secara teori bisa bertahan hingga 1–2 minggu tanpa makan, namun hal ini sangat tidak direkomendasikan karena berisiko menurunkan daya tahan tubuh dan memperburuk kesehatannya. Anak kura-kura lebih rentan dan sebaiknya diberi makan setiap hari sesuai kebutuhannya.

Bolehkah menggunakan air keran langsung untuk akuarium kura-kura brazil?

Air keran bisa digunakan, namun perlu didiamkan selama 24 jam terlebih dahulu atau ditambahkan water conditioner untuk menghilangkan klorin. Ada banyak produk water conditioner yang dijual untuk kura-kura air, tetapi air keran yang telah didiamkan sebenarnya sudah cukup baik untuk kura-kura brazil. Hindari penggunaan air yang mengandung bahan kimia tinggi karena dapat mengiritasi kulit dan mata kura-kura.

Daftar Referensi

  1. ReptiFiles. The Ultimate Red-Eared Slider Care Guide. Diakses pada 26 Juni 2026, dari https://reptifiles.com/red-eared-slider-care/
  2. VCA Animal Hospitals. Common Diseases of Aquatic Turtles. Diakses pada 26 Juni 2026, dari https://vcahospitals.com/know-your-pet/turtles-aquatic-diseases
  3. PetSmart. Red-Eared Slider Turtle Care Guide. Diakses pada 26 Juni 2026, dari https://www.petsmart.com/learning-center/reptile-care/red-eared-slider-turtle-care-guide
  4. Petco. Red-Eared Slider Care: Essential Guide for a Healthy Pet Turtle. Diakses pada 26 Juni 2026, dari https://www.petco.com/content/content-hub/home/articlePages/caresheets/red-eared-slider-care-sheet.html
  5. Wikipedia. Red-eared slider. Diakses pada 26 Juni 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Red-eared_slider

(kpl/fed)

Rekomendasi

Trending